
...Percayalah orang yang berniat buruk pasti akan ada niat buruk juga yang sedang menghampirinya....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Malam itu, Humaira berusaha tak memikirkan tentang Syakir. Perempuan itu berusaha berpikir positif. Dia juga yakin jika suaminya tak akan melakukan hal serendah itu. Apalagi tidur dengan wanita yang menurutnya tidak ada ikatan apapun.Â
Sebuah foto yang isinya hanya berpelukan dengan Syakir yang memejamkan mata tak membuktikan apapun. Bisa saja suaminya sedang tidur dan Rachel menjebaknya. Ingatlah, Humaira sudah banyak diperlakukan buruk oleh Rachel. Maka dari itu dia sangat tahu bagaimana sikap wanita itu.
Melakukan segala cara agar apa yang dia inginkan tercapai.Â
Hingga akhirnya malam itu, Humaira bisa tidur dengan nyenyak setelah mencari posisi yang nyaman. Dia selalu merasa tak bisa tidur dengan nyenyak selama kehamilannya membesar.Â
Humaira harus terbangun ditengah malam karena dia yang selalu ingin buang air kecil. Mau tak mau hal itu membuat jam tidurnya selalu berantakan.Â
"Mai…Humai!" panggil suara perempuan yang tak lain adalah Sefira dari balik kamar.Â
Perempuan itu terus mengetuk dan membuat Humai lekas beranjak duduk.
"Ya. Masuk, Fir!" sahut Humaira yang merasa pusing karena dia hanya tidur sebentar.Â
Tak lama, Sefira datang dengan ponsel di tangannya. Dia segera menunjukkan sesuatu yang dikirim oleh Mama Ayna.
"Ini beneran, 'kan, Fir? Ini beneran Rein, 'kan?" tanya Humai dengan pandangan tak percaya.Â
Dia layar hp itu, terlihat Rein yang sedang berusaha berjalan dengan menggunakan alat di samping kanan dan kirinya dibantu oleh seorang dokter. Air mata Humai menetes saat dia melihat bagaimana Rein berjuang agar bisa jalan.
Lihatlah wajah adiknya itu menahan sakit tapi ia bisa melangkah dua sampai tiga langkah ke depan tanpa dibantu.Â
"Dia berjuang untuk segera pulang, Mai. Rein bisa jalan," kata Sefira dengan wajah yang juga merasa bahagia.
Humai mengangguk. Dia juga bisa melihat perjuangan itu pada adiknya. Ia mengerti Rein pasti ingin segera berkumpul dengannya. Keduanya sejak dulu tak bisa dipisahkan meski Shadiva tak mengizinkan keduanya bermain bersama.Â
Hingga sebuah pesan baru terkirim dan membuat kedua gadis itu segera membaca.
__ADS_1
Mom.
Kata Dokter, jika kondisi Rein terus membaik, tak sampai satu minggu, Mama, Papa dan Rein akan pulang.
"Aku tak sabar menyambut mereka," ujar Humaira dengan bahagia.Â
Sefira menatap sedih ke arah sahabatnya. Dia tahu waktunya dengan Humai tinggal sedikit lagi. Adik Syakir itu tahu jika Humai akan pergi saat Rein ada disini.
Dia tak mau mencegah. Dia tak mau memaksa Humai bertahan. Dirinya sangat menyayangi sahabatnya itu. Sefira hanya ingin agar Humai bisa mencari kebahagiaannya sendiri tanpa kakaknya.Â
"Aku hari ini ke kampus, Mai. Kamu mau ikut atau tidak? Kalau ikut aku akan mengantarmu ke rumahku agar ada temannya disana," kata Sefira yang tak mau meninggalkan Humai sendiri di rumah.Â
"Aku ikut denganmu tapi nanti turunkan aku yah di sebuah tempat senam. Aku sudah mendaftar untuk ikut senam hamil," kata Humai yang langsung mendapatkan acungan jempol dari Sefira.
"Ayo bersiap. Jadwal pagi benar-benar membuatku mengantuk!"Â
...🌴🌴🌴...
Di apartemen Rachel. Sejak pagi terlihat gadis itu sudah bersiap. Dia bahkan sudah pergi dan meninggalkan Syakir seorang diri. Dirinya ingin menemui seseorang untuk melenyapkan sosok yang mengancam keberadaannya.Â
Hingga disinilah dia. Di dalam mobil yang berhenti di depan sebuah gang. Kendaraan ini berjarak beberapa meter menunggu keluarnya dua wanita yang sangat dibencinya.
"Yang pasti, kau harus membuatnya seperti kecelakaan. Aku tak mau tahu, mereka harus mati di dalam sana. Kau mengerti?" seru Rachel menodongkan sebuah pisau lipat di depan pria itu.
Ah lihatlah gadis gila ini. Dia mengancam agar urusannya bisa berjalan dengan lancar. Cara licik lagi kini ia lakukan untuk menyingkirkan Humai dan Sefira secara bersamaan.
Rachel sudah percaya jika Sefira tak main dengan ancamannya. Wanita itu sudah berdiskusi dengan kekasihnya kemarin, bahwa siapapun yang mengancam atau menjadi penghalang, maka harus disingkirkan.Â
"Baik, Nona," ujarnya lalu menengadahkan tangannya.
Pria itu tersenyum miring. Rachel yang melihat hanya bisa memutar matanya malas. Dia segera membuka dashboard mobil dan mengambil amplop coklat yang sudah ia letakkan di sana.
"Ini lima puluh persen dari perjanjian kita. Kalau kau berhasil, maka setengahnya lagi aku berikan setelah semuanya beres. Oke?"Â
Jabat tangan itu akhirnya berakhir dengan deal. Dua manusia gila dunia yang sama-sama dibutakan oleh uang. Pria suruhannya itu lekas keluar dari mobil Rachel dan memasuki mobilnya sendiri. Sedangkan Rachel, wanita itu meletakkan pisau itu di tempat aman lalu duduk dengan tenang. Dia yakin sebentar lagi mobil Sefira akan keluar dari gang ini.Â
__ADS_1
"Kena kau!"Â
Nasib ternyata berpihak pada Rachel. Mobil yang dia tunggu mulai keluar dengan sosok Humai ada disana. Rachel bisa tahu karena kaca mobil depan dibuka.Â
"Ah sekali tepuk, maka dua nyamuk langsung mati," ujarnya dengan mulai mengikuti mobil suruhannya dan mobil Sefira.
Ketiga mobil itu mulai berjalan dengan berbaris ke belakang. Rachel melihat suasana jalan trabasan menuju ke arah kota dari Tumpang lumayan sepi. Mungkin waktu yang masih pagi membuat orang-orang masih malas untuk keluar.
Rachel mampu melihat bagaimana mobil suruhannya itu mulai melakukan aksinya. Saat Sefira hendak menyalip, klakson berbunyi keras dan dia yakin jika dua wanita itu mulai ketakutan.
"Mati kau di dalam sana! Aku yakin kalian berdua telah ditunggu malaikat di alam lain," katanya dengan jahat.
Aksi seperti kejar-kejaran itu mulai terlihat. Bahkan beberapa kali Rachel melihat kendaraan Sefira yang hampir oleng ke kiri karena mobil suruhannya mengganggu.Â
Hingga akhirnya ketiga mobil itu mulai melalui jalan beraspal. Kendaraan mereka mulai berada di jalan utama menuju Malang Kota.Â
Tak ada yang mau mengalah. Rachel bisa melihat bagaimana mobil Sefira menghindar dari kejaran mobil di belakangnya. Hingga tiba-tiba terjadi sesuatu yang mengejutkan dan membuat Rachel tertawa.
"Waww!" ujarnya saat mobil suruhannya menabrak mobil Sefira dari belakang.Â
Dia yakin jika aksi ini akan berhasil. Akhirnya tanpa menunggu Rachel lekas melajukan mobilnya dengan cepat saat melihat jam di pergelangan tangannya.
"Lebih baik aku ke kampus dan duduk tenang menunggu kabar," katanya dengan tersenyum miring.Â
Rachel lekas mengemudikan kendaraannya dengan kencang. Dia bahkan sudah tak sabar untuk menceritakan ini pada kekasihnya. Hingga saat di lampu merah, Rachel menerobos lampu lalu lintas untuk berbelok ke kiri.
Namun, tanpa diduga, di depan sana ada mobil tangki yang sedang berhenti dan membuatnya terkejut bukan main. Dia yang sedang melajukan mobilnya dengan kencang tak bisa melakukan apapun lagi.Â
"Aghjj!" teriak Rachel saat dia tak cukup untuk menghindar.
Brakkk.
~Bersambung
Lalalalala gimana keadaan Humai, Sefira sama si pecel yah? hayoo?
__ADS_1
Ah tenang aja gak ada drama lagi, entar lagi Rein tak suruh pulang, Humai go gogo dan tamat, hahaha.
Kaburr.