Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Diantar Pak Jeno


__ADS_3

...Semua orang memang pandai menutupi perasaannya tapi dia tak bisa berbohong jika hatinya masih menunggu orang lama....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Suara tawa dan ocehan Jay mulai memenuhi rumah besar Keluarga Alkitir setiap paginya. Bocah kecil itu selalu dengan semangat ikut bangun jika ibunya ada jadwal kuliah pagi hari.


Tak jarang, putra pasangan Humaira dan Syakir itu sering ikut mengantar ibunya ke kampus. Dia akan memberikan kecupan semangat dan lambaian tangan pada ibunya sebelum keluar dari mobil. 


"Ibu bilang hari ini Ibu masuk siang. Terus kenapa sekarang sekolahnya pagi?" tanya Jay dengan mengangkat kedua tangannya ketika Humaira membantunya memakai kaos dalam.


"Iya. Ada perubahan jadwal, Sayang. Dosennya Ibu kasih kabar kalau jamnya diganti sekarang," ujar Humaira memberikan penjelasan dengan hati-hati.


"Berarti nanti Jay sama Opa mainnya?" tanya Jay menatap Humai dengan pandangan sendu.


Hal seperti inilah yang terkadang membuat Humaira seperti jahat pada putranya. Dia tak bisa memberikan kehidupan yang adil pada putranya.


Masa yang seharusnya dipenuhi oleh ibu dan ayahnya akhirnya hanya bisa ditemani oleh dirinya saja. Masa pertumbuhan yang seharusnya ada sosok ayah yang ikut membersamainya, ternyata hanyalah mimpi kecil yang tak akan bisa dicapai oleh Jay. 


"Ibu minta maaf, 'yah. Ibu gak bisa selalu ada buat, Jay!" ucap Humai dengan perasaan sensitifnya.


Jay yang masih memakai celana dan kaos dalam mendongak. Dia menatap ibunya yang memalingkan wajahnya berusaha menyembunyikan air mata yang hendak menetes.


"Ibu menangis?" tanya Jay yang langsung memeluk leher Humai dengan erat. "Maafin Jay." 


Humaira mengangguk. Dia balas memeluk tubuh mungil putranya itu dengan erat. Perempuan itu hanya bisa merasakan ketenangan dengan memeluk anak tunggalnya ini.


"Jay gak salah kok. Ibu cuma sedih karena gak bisa nepatin janji sama Jay buat nemenin Jay main." 


Jay melepas pelukannya. Dia dengan manisnya menarik kedua sudut bibirnya ke atas dan menampilkan senyuman terbaik. 


"Opa bilang, kalau Ibu sekolah biar pintar," kata Jay yang menirukan perkataan Hermansyah. 


Humaira mengangguk. Dia benar-benar merasa bangga pada Jay. Bocah kecil itu bertumbuh dengan cepat. Umur 10 bulan, Jay sudah pandai berjalan dan berbicara. 


Anak itu benar-benar tak pernah rewel sedikitpun. Ketika sakit, dia akan meminta tidur sepanjang harinya. Ketika Jay ingin sesuatu, dia juga akan meminta tanpa memaksa.


"Ayo sekarang pakai baju terus kita turun!" 


Akhirnya setelah keduanya mulai rapi dengan penampilannya. Anak dan ibu itu mulai berjalan dengan bergandengan tangan ke lantai pertama. Keduanya terlihat begitu serasi dengan warna senada.


"Selamat pagi, Opa, Oma!" sapa Jay dan Humaira bersama.


Satu kebiasaan yang diterapkan oleh Humai. Dia akan menyapa kedua orang tuanya dan membuat Jay mengikuti kebiasaannya. 


Pembelajaran anak-anak itu tak perlu teori banyak. Mereka butuh action yang langsung bisa dilihat dan dicontoh oleh mereka. Maka dari itu, Humai selalu memberikan contoh secara langsung untuk anaknya.


"Papa jadi anter Humai, 'kan?" .

__ADS_1


"Tentu, Sayang," balas Hermansyah yang menerima piring dari istrinya. "Cucu Opa ikut?" 


Jay yang duduk di samping Humaira mengangguk.


"Ikut, Opa!" balasnya dengan begitu semangat.


"Kalau mau ikut. Kalian harus sarapan dulu lalu kita berangkat!" 


...🌴🌴🌴...


Akhirnya acara sarapan pagi itu selesai. Mereka mulai berjalan keluar rumah secara bersama-sama.


"Humai pamit ya, Ma," ujar Humai dengan mencium tangan Emili.


"Iya, Sayang. Semoga hari ini kuliah Ema lancar." 


Humaira mengangguk. Dia lekas memeluk mamanya sebentar dan memberikan ciuman di kedua pipinya.


Setelahnya Humaira, Papa Hermansyah dan Jay yang hendak masuk ke dalam mobil. Tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di depan rumah dan membuat mereka semua menatap ke depan rumah.


Jay, anak yang sangat pandai mengingat sesuatu tiba-tiba meneriakkan sebuah nama yang membuat Humaira menatap tak percaya. 


"Om Jeno!" 


Dan benar saja. Saat pintu mobil itu terbuka, perlahan muncullah Jeno yang keluar dengan baju santainya. Pria itu tersenyum dan berjalan memasuki halaman rumah Humaira menuju ke arah mereka.


"Om Jeno. Om mau main sama Jay, 'yah?" tanya Jay dengan wajah bahagianya.


"Selamat pagi, Om, Tante," sapa Jeno dengan sopan.


Dosen muda itu mencium punggung tangan Papa Hermansyah dan Mama Emili bergantian.


"Pagi," sahut keduanya bersamaan.


"Anda dosennya putri saya, 'kan, Pak?"


Jeno tersenyum.


"Jangan panggil pak, Om. Saya disini ingin berpamitan mengajak Jay keluar!" kata Jeno dengan sopan yang membuat Humaira semakin menahan nafasnya. 


Dia seakan melihat orang baru dalam diri dosennya. Dia seakan bukan melihat Pak Jeno yang terkenal killer dan dingin di kampusnya. 


"Kalau itu, bisa Anda tanyakan pada putri saya," ucap Hermansyah yang membuat Humaira sadar dari lamunannya.


"Itu, Pak…" jeda Humai yang seakan bingung harus mengatakan apa. 


"Boleh ya, Bu? Jay pengen main sama Om Jeno," kata Jay penuh harap.


Humai bisa melihat tatapan anaknya yang penuh permohonan. Jika sudah begini dia tak bisa menolak permintaan putranya. Kelemahan Humaira adalah melihat anaknya yang memohon kepadanya meski itu hal kecil sekalipun. 

__ADS_1


"Baiklah tapi…" Humai menjeda ucapannya.


Dia menatap anaknya dengan lekat dan mensejajarkan tinggi tubuhnya.


"Jangan merepotkan, Om Jeno, 'yah?" kata Humai pada anaknya. 


"Iya, Bu."


Humaira lekas mencium kedua sisi pipi putranya. Setelah itu dia lekas beranjak berdiri dan menatap Jeno sebentar sebelum menundukkan kepalanya.


"Saya pinjam Jay dulu yah," pamit Jeno pada Humai.


"Iya, Pak. Saya percaya Bapak bisa menjaga putra saya," ujar Humai dengan yakin.


"Ayo, Papa antar!" kata Hermansyah pada putrinya.


"Biar saya saja, Om. Sekalian keluar bersama Jay," kata Jeno yang membuat Humai menatap Papanya seakan meminta bantuan.


"Baiklah. Hati-hati yah!" kata Papa Hermansyah yang semakin membuat Humaira menganga tak percaya.


Kenapa papanya malah menyetujui permintaan dosen killernya itu. Namun, mau menolak pun, Humai juga tak bisa.


Akhirnya perlahan mobil itu mulai meninggalkan pekarangan rumah Humaira. Mobil Jeno mulai membelah jalanan Kota Jakarta. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia dengan Jeno yang mengemudi lalu Humai duduk di kursi samping kemudi dengan Jay yang ada di pangkuannya.


Saat mobil Jeno mulai memasuki halaman kampus. Tentu beberapa mahasiswa yang ada disana spontan menatap ke arah kendaraan itu. Mereka semua tentu tahu, siapa pemilik kendaraan itu. 


Namun, berbeda dengan Humai. Wanita itu menelan ludahnya paksa saat melihat banyak mahasiswa dan mahasiswi disana. 


"Ayo, Ma!" kata Jay memecahkan tatapan Humai. 


Humai menunduk. Meski terasa berat tapi akhirnya mau tak mau, dia harus turun dari sana.


"Jay hati-hati ya, Sayang!"


"Iya, Ma." 


"Terima kasih buat tumpangannya, Pak Jeno!" kata Humai sebelum turun.


Perlahan ibu satu anak itu membuka pintu mobil dan mulai keluar dari sana. Tentu pemandangan itu membuat semua yang melihat berteriak histeris. Ditambah, saat kaca mobil diturunkan dan muncullah sosok anak kecil yang semakin membuat heboh. 


"Bye, Mama. Semangat!"


~Bersambung


Nah kan, gimana? makin gaspol yekan?


BTW gimana kalau Syakir ketemu sama Jeno dan Jay yah?


Setuju gak kalian?

__ADS_1


Oh iya. karakter Jay disini aku ambil dari anaknya tetanggaku. Dia umur dua tahun lebih tapi sikapnya sama kayak Jay. Dewasa sebelum waktunya. Salah satu hal yang bikin dia dewasa karena kumpulannya orang gedhe, terus parenting orang tuanya juga.


Jadi jangan bilang ini dunia novel pas nulisnya halu tinggi. Anak itu perkembangan sama kepintarannya beda. Penulis juga sebelum nulis juga riset.


__ADS_2