Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Saling Memaafkan


__ADS_3

...Terkadang bibir mengatakan membenci tapi hati tak munafik bahwa telah memberikan kata maaf. ...


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Perlahan pelukan itu terlepas. Mama Ayna menangkup kedua wajah putranya. Meneliti setiap detail yang ada dalam diri anak pertamanya itu


Dia merindukan Syakir. Dirinya khawatir dengan keadaan anaknya yang ada di Jakarta. Maka dari itu mereka pergi mengunjungi cucunya sekaligus ingin melihat Syakir dari jauh. 


Namun, ternyata takdir Tuhan lebih indah dari yang lain. Rencana Tuhan lebih baik dari yang direncanakan manusia. Ternyata Allah telah mempertemukan mereka. Di waktu yang tak terduga dan di momen yang tak terbayangkan. 


"Kenapa kamu makin kurus?" Tanya Mama Ayna yang menyadari jika tubuh putranya tak sekekar dulu. 


Atau lebih tepatnya ototnya tak sebesar terakhir kali mereka bertemu. Wajah Syakir memang sedikit kurus. Terlihat dari rahang dan pipinya bahwa pria itu memang kehilangan berat badannya. 


Syakir tersenyum. Akhirnya mamanya yang super protektif kini bisa ia lihat. Mama yang mudah khawatir padanya. Paling panik dengan keadaannya dan juga paling surprise cerewet jika masalah kesehatan. 


Akhirnya dia bisa merasakan semua itu lagi. Semua yang dulu dia rindukan. Kini Allah kembalikan lagi kepadanya. 


Nikmat mana lagi yang harus didustakan. Jika semua yang ia untai dalam doa ternyata Allah kabulkan. 


Hanya rasa syukur yang bercokol dalam hatinya. Rasa penuh ingin sujud syukur karena  Allah masih mendengar doa pria yang memiliki banyak dosa di masa lalu. 


"Syakir kerja, Ma. Syakir kurus juga karena memang banyak pekerjaan yang Syakir lakukan," Ucap Syakir setengah jujur dan berbohong. 


Dirinya memang jarang makan ketika tinggal sendiri. Waktunya hanya untuk bekerja dan menyesal membayangkan kedua anaknya. Uangnya juga banyak Syakir tabung untuk kebutuhan dan untuk kebutuhan anak dan mantan istrinya ketika mereka bertemu. 


"Tapi kamu kerja, gak harus sekurus ini, Nak!" Ucap Mama Ayna yang khawatir pada putranya. 


Syakir tersenyum. Dia memegang kedua pipi mamanya lalu mendaratkan ciuman di dahi wanita paruh baya yang sangat dia cintai segenap hati. 


"Gapapa, Ma. Nanti Syakir janji buat gemukin lagi," Ucap Syakir berniat menenangkan mamanya. 


Dia beralih memegang kedua tangan mamanya. Menciumnya dengan lembut lalu meletakkan di kedua pipinya. Kehangatan kulit mamanya yang sangat membuatnya candu kini bisa menyentuh kulitnya lagi. 

__ADS_1


Mama Ayna perlahan mengusap kepala putranya. Dia merasa senang sekaligus bahagia. Akhirnya semua permasalahan ini bisa diatasi. Akhirnya rasa kecewa dan marah dibayarkan dengan perubahan sikap Syakir yang sangat luar biasa. 


"Syakir sungguh-sungguh minta maaf sama Mama yah. Syakir sadar kesalahan Syakir banyak," Lirihnya dengan menatap kedua mata mamanya dengan lekat. 


"Mama sudah memaafkanmu, Syakir. Selama ini mama selalu berdoa semoga kamu bisa bertemu anak, istrimu. Mama gak bisa mengatakan karena mama ingin melihat perjuanganmu. Mama ingin lihat takdir mana yang akan membuat kalian kembali bertemu lagi," Ujar Mama Ayna dengan menangis. 


Mereka sejujurnya bukan ingin menutup keberadaan Humai. Namun, mereka ingin Syakir menemukan mantan istri dan anaknya lagi. Mereka percaya bahwa sejauh apapun sepasang jodoh dijauhkan. Pasti ada jalan untuk keduanya kembali bersama. 


"Syakir tau, Ma," Kata Syakir dengan serius. "Apa yang Mama lakukan, semua membuat Syakir sadar bahwa keluarga adalah poin penting kehidupan." 


"Dengan kejadian kemarin yang terjadi, membuat Syakir sadar bahwa semua kesalahan, tingkah laku Syakir dan semua perilaku Syakir adalah buruk."


"Syakir bahagia bisa sadar terlebih dahulu. Jadi Syakir tak terlalu jauh untuk berubah. Syakir bisa memperbaiki diri demi bisa berkumpul dengan Mama, Papa dan Giska lagi," Jeda Syakir dengan air mata yang sama-sama menetes. "Syakir juga ingin kembali bersama Humai dan Jay. Maka dari itu, Syakir memantaskan diri, Ma. Syakir ingin mengatakan pada Humai bahwa Syakir bisa berdiri di kedua kaki Syakir sendiri untuk mereka berdua."


Mama Ayna terharu dengan perkataan anaknya itu. Dia menganggukkan kepalanya. Mendoakan semoga harapan anaknya ini bisa terwujud. 


"Mama hanya bisa berdoa semoga keinginan kamu segera terwujud, Nak. Mama merestui kamu."


Syakir bahagia. Dia memeluk mamanya dengan erat. Mencium kedua pipinya karena akhir ya restu mama ia dapatkan lagi. Syakir percaya bahwa apa yang dilakukan oleh seorang anak, jika mendapat restu dari Tuhan. Maka semuanya akan dipermudah. 


Syakir bahkan yakin jika semua yang orang tua harapkan pada anaknya. Yang orang tua doakan untuk anak mereka. Pasti ada salah satu doa yang bisa tembus jalur langit dan dikabulkan oleh Tuhan. 


Wanita kesayangannya. Adik yang begitu dicintai dan sayangi itu kini ada di dekatnya. Syakir perlahan beranjak. Dia membuka kedua tangannya dengan menatap penuh kerinduan pada sosok Sefira. 


Canda tawa, kebahagiaan, tingkah Sefira semua dirindukan oleh Syakir. Pria itu bahkan ingin mendengar kecerewetan adiknya lagi. 


"Kakak!" Pekik Sefira sambil berlari. 


Dia benar-benar rindu pada kakak kandungnya ini. Rindu akan kebersamaan mereka yang dulu sering terjalin. Kedua adik kakak itu akhirnya bisa melepaskan siksa yang menyiksa batin. 


Akhirnya kini mereka mampu bertemu lagi, berjumpa dan melepaskan segala sesak di dada. Kini dua tubuh yang dulunya dekat, satu rahim pada wanita yang sama mulai berpelukan lagi. 


Tak ada yang mampu merusak ikatan adik dan kakak. Sejauh apapun pertengkaran keduanya. Sebesar apapun masalahnya. Mereka tetaplah saudara kandung. 


Mereka tetap satu darah, satu ikatan dan yang pasti saling menyayangi satu dengan yang lain. 

__ADS_1


"Aku kangen, Kak Syakir," Lirih Sefira dengan menangis. 


Dia memeluk kakak kandungnya itu dengan erat. Menghirup aroma tubuh yang dulu bisa membuatnya tenang dan nyaman. 


Pelukan yang sangat ia rindukan. Pelukan yang membuatnya bisa melupakan segala masalah yang ia hadapi kini bisa ia rasakan lagi. 


"Kakak juga kangen kamu, Giska," Balas Syakir dengan tak kalah erat memeluk adiknya. 


Tangannya juga mengusap kepala Humai. Mengusapnya dengan pelan dan penuh kerinduan. Dia juga mencium kepala adiknya. 


Perilaku yang dulu sering ia lakukan. Perilaku yang dulu sering mereka kerjakan kini bisa mereka lakukan lagi. 


Pelukan itu perlahan lepas. Syakir meneliti kondisi adiknya itu. Menatap wajah dan tubuh adiknya yang benar-benar masih tetap sama. Hanya saja bedanya, kini wajah adiknya semakin terlihat dewasa yang menandakan bahwa dirinya juga semakin tua. 


"Ternyata cerewetku nggak berubah sama sekali. Kamu tetap Giska yang kakak tahu sebelum hubungan jauh ini berada di antara kita."


Giska tersenyum dengan air mata yang ia usap dari kedua matanya. Dia menepuk lengan kakaknya lagi saat kata keramat itu keluar. 


"Cerewet gini. Aku yakin Kakak kangen sama aku, 'kan?" Tebak Sefira dengan mendelik sebal. 


Syakir terkekeh. Namun, ia juga tak munafik bahwa dirinya juga sangat merindukan adiknya itu. 


Akhirnya kedua adik kakak itu kembali berpelukan lagi. Melampiaskan segala sakit dan rindu itu agar terobati dengan baik. 


"Jangan tinggalin Kakak lagi, Giska. Kakak melewati hal berat tanpa kamu, Mama dan Papa."


Hati Mama Ayna dan Sefira yang mendengar sama-sama sakit. Pelukan yang baru saja terlepas kini akhirnya kembali direngkuh. Dua wanita yang sangat berarti untuk Syakir memeluk tubuh pria itu lagi. 


Mereka menangis bersama dengan sebuah kerinduan yang kini mampu mereka hadapi. 


"Mama gak bakal ninggalin kamu lagi, Nak. Mama bakalan ada di sampingmu," Kata mama Ayna dalam pelukan putranya. 


"Giska juga. Giska janji akan ada di samping Kak Syakir. Kita akan melawan semua masalah dengan bergandengan tangan."


~Bersambung

__ADS_1


Akhirnya mulai berdamai semuanya. Mulai akur lagi antara mama dan anak. Kini tinggal lihat apakah Bang Syakir bisa kembali bersatu dengan Humai atau nggak.


Nanti kayaknya bakalan ada chapter si pecel yuhuu.


__ADS_2