
...Aku yang tak pernah dekat dengan pria lain selain ayah dan kakak lelakiku membuatku merasa kondisi seperti ini begitu membuatku gugup dan terpanah. ...
...~Sefira Giska Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
Langkah kaki keduanya berjalan bersama. Dengan Sefira yang berjalan di belakang tubuh Jeno. Jujur Sefira merasa tak kuasa berdiri di samping pria itu. Seakan sosok pria itu seperti memiliki pesona yang begitu kuat.
"Kenapa kamu berjalan di belakang saya?" Tanya Jeno yang tiba-tiba menghentikan gerakan langkah kakinya.
Pria itu berbalik. Dia menatap sosok Sefira yang ikut berhenti dengan kepala menunduk.
Adik Syakir merasa tangannya berkeringat dingin. Ah kemana sikap bar-bar dirinya. Kemana sikap berani dirinya yang biasanya cerewet kini tenggelam di telan bumi.
"Emmm… "
"Ayo!" Tanpa diduga Jeno menarik tangan Sefira agar berjalan di sampingnya.
Sefira sampai menahan nafas. Dia seakan hampir pingsan saat kulit itu menyentuh kulit tangannya.
"Ayo!"
Sefira hanya mampu mengangguk. Dia perlahan mulai mengikuti langkah kaki Jeno. Keduanya segera turun ke lantai pertama. Ke tempat parkir dimana mobil milik dosen killer itu berada.
"Letakkan disini!" Kata Jeno saat dia membuka pintu bagasi.
Dengan pelan, adik kandung Syakir itu mulai meletakkan buku yang dia bawa ke bagasi dengan pelan. Dia takut buku-buku itu rusak jika terlalu keras. Begitupun Jeno, dia menyusul ikut meletakkan tepat di sebelah buku yang Sefira letakkan. Kemudian setelah rapi dia lekas menutup pintu bagasi dengan pelan.
"Terima kasih banyak, Sefira. Bantuan kamu sangat membantu saya," Ujar Jeno dengan tulus.
"Sama-sama."
"Ayo kita kembali ke atas. Jay pasti sudah menunggu kita!"
Ah kita? Ya Tuhan kenapa mendengar kata kIta saja membuatnya tak karuan. Kenapa seakan suara berat itu menusuk gendang telinganya dan menggetarkan hatinya.
Apa karena baru kali ini dia dekat dengan seorang pria. Apa karena baru kali ini dia bisa bersama dengan pria lain kecuali papa dan kakak kandungnya sendiri.
Selama ini Sefira adalah wanita yang fokus akan kuliahnya. Dia tak pernah mendekati pria manapun. Dirinya dan Humaira adalah dua wanita yang fokus akan kuliahnya. Jika tak ada insiden menakutkan itu, insiden perkosa itu mungkin sekarang Humaira sudah fokus akan kuliahnya.
Fokus akan karya dan bakatnya sendiri. Namun, Sefira tak menyesali semuanya. Dia juga tek menyesal telah berteman dengan Humaira. Dia bahkan tak kecewa karena selama ini tak mendekati pria satu pun. Dirinya sejak dulu selalu yakin bahwa jodoh akan datang di saat waktu yang sudah tepat.
__ADS_1
"Sefira!"
"Ya?" Sahut Sefira yang terputus dengan lamunannya.
"Kenapa kamu diam saja. Ayo masuk!"
Sefira hampir saja memukul kepalanya sendiri. Terlalu fokus akan lamunannya dia tak sadar bahwa dirinya berdiri di depan pintu lift. Sefira segera masuk menyusul Jeno yang sudah masuk lebih dulu. Dia benar-benar merasa gila jika terus berada di samping Jeno.
...🌴🌴🌴...
Sedangkan di tempat lain, terlihat sepasang keluarga kecil yang begitu bahagia. Lebih tepatnya seorang ibu satu anak melihat kebahagiaan putranya yang sangat menikmati waktunya bersama ayah kandungnya.
Sejak kedatangan mereka di tempat makan ramen ini. Jay dan Syakir terus mengobrol. Pria itu benar-benar melakukan proses pendekatan dengan putranya.
Setiap ada waktu mereka berdekatan. Syakir selalu mengutamakan putra mereka. Hal itu tentu membuat hati ibu satu anak itu perlahan mulai luluh.
Humaira merasa keputusannya memberikan kesempatan untuk Syakir adalah keputusan yang tepat. Putranya bisa merasakan kasih sayang dari ayah kandungnya. Putranya bisa merasakan keluarga bahagia. Keluarga lengkap seperti permintaan Jay kepadanya.
"Ibu," Panggil Jay yang membuat lamunan Humai buyar.
"Ya, Sayang?" Jawab Humai mengusap pipi putranya dengan sayang.
Ya bocah kecil itu memang dekat dengan adik kandung Syakir. Sefira yang tak pernah marah. Dia yang selalu sabar dengan tingkah laku Jay membuat anak itu merasa nyaman setiap ada di dekat Sefira.
"Ntar lagi Tante pasti dateng. Tante masih bantuan Om Jeno bawa buku," Kata Humai memberikan pengertian.
Mau tak mau kepala Jay mengangguk. Kemudian dia mendongak menatap ke arah ayahnya yang sedang menatap ke arah ibunya terus.
"Ibu cantik ya, Yah?" Tanya Jay pada Syakir yang sejak tadi tak mengalihkan tatapannya.
Meski berbicara dengan Jay. Ayah satu anak itu terus mencuri pandang ke arah mantan istrinya. Entah pesona Humai begitu kuat sekali. Bahkan sampai Syakir merasa tak ada pemandangan paling indah selain Humaira, pujaan hatinya.
"Ya. Ibu cantik," Balas Syakir tanpa sadar.
Jawaban itu membuat Humaira menatap Syakir. Dia merasa jantungnya kembali tak karuan. Baru saja dia tenang tanpa ada gombalan dan gangguan dari mantan suaminya itu. Namun, sekarang pria itu lagi-lagi mengeluarkan jurus mautnya.
"Ayah cinta sama Ibu?"
"Iya. Ayah cinta sama ibu," Balas Syakir yang belum menyadari akan dirinya.
Humai yang tak mau membuat Syakir semakin menjawab hal aneh. Dia menepuk tangan pria itu dan membuat Syakir tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Wah. Ayah cinta sama Ibu. Kata Ante Fira, juga begitu!" Kata anak itu dengan cekikikan.
Hal itu membuat pipi Humai bersemu merah. Apalagi pelaku utama, Syakir juga menggaruk tengkuknya yang tak gatal saat menyadari jika dirinya terlalu terpana akan kecantikan Humai membuatnya menjawab semuanya tanpa berpikir.
Tapi apa yang dia katakan semuanya jujur. Apa yang Syakir jawab tulus dari hatinya. Pria itu mencintai Humaira. Dia mencintai wanita itu begitu tulus dan nyata.
"Udah. Jay masih kecil. Gak boleh cinta-cintaan," Kata Humai menasehati.
Tak lama, biang utama. Pelaku pencemaran otak Jay kecil muncul dari pintu masuk. Wanita yang berjalan dengan pelan itu terlihat begitu frustasi dan hal itu membuat Humaira menahan senyum.
Dia tahu sahabatnya jika mode begini. Mode diam malu-malu ketika Sefira gugup. Humai yakin, kegugupan itu muncul karena sosok Jeno di dekat sahabatnya.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Humai saat Sefira dan Jeno mulai duduk di depan mereka bertiga.
"Aku masih ke kamar mandi, Mai."
"Oh." Humai menganggukkan kepalanya. "Yakin ke kamar mandi aja?"
Humai memiliki senjata utama sekarang. Dia bisa menggoda sahabatnya itu dengan ini.
"Kamu kira?" Balas Sefira dengan setengah berbisik sambil mendelikkan matanya.
Humai menahan tawa. Namun, dia menatap ke arah Syakir dan Jeno yang saling berbincang sebelum mendekatkan bibirnya di telinga Sefira.
"Aku kira kalian PDKT di jalan," Ungkap Humai dengan mengedipkan sebelah matanya menggoda.
"PDKT, hah?" Seru Sefira spontan yang membuat Jeno dan Syakir menoleh.
Sefira lekas menutup mulutnya. Dia yang spontanitas ternyata membuatnya harus menahan malu saat Jeno menatapnya dengan lekat.
Ahh kenapa aku ceroboh sekali sih? Gumam Sefira dalam hati.
"Maaf maaf," Ucap Sefira dengan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Dia lalu menoleh dan menatap Humai yang cengengesan.
"Awas Lu yah! Image ku jadi buruk begini kan," Keluh Sefira pada Humaira dengan perasaannya yang kesal.
~Bersambung
Hahaha si bar bar, gak mau imagenya buruk eh. Lawak banget sih, Fir. Suka godain tapi gak mau digoda balik.
__ADS_1