
...Lihatlah hatiku tak pernah salah untuk mencintainya dulu, sekarang ataupun di masa depan. Dia benar-benar wanita terbaik yang aku kenal selama aku hidup di dunia....
...~Guntur Syakir Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
"Kenapa kamu sedih, hmm?" tanya Syakir sambil mengusap air mata yang mengalir di sudut mata Humaira.
Sepertinya wanita itu tak sadar jika dirinya menangis. Humaira bahkan hanya diam sejak tadi dan dirinya seperti sedang melamun.Â
"Aku kasihan sama Rachel, Kak. Dia…"Â
"Dia telah menyakitimu," ujar Syakir menyela.
Hal yang paling tak ia suka pada mantan istrinya ini. Humaira terlalu baik pada orang. Jujur untuk dirinya saja, Syakir tak bisa mengatakan apapun.Â
Mungkin jima yang menjadi mantan istrinya bukan Humai. Dia tak akan bisa ada di titik ini. Dia tak akan bisa menemui putranya, meminta kesempatan untuk kembali bersama dan merajut cinta keduanya kembali.Â
Namun, pada nyatanya. Mantan istrinya yaitu Humaira Khema Shireen. Wanita cantik yang telah menerima segala kesalahannya di masa lalu. Wanita yang mau menerima perubahannya bahkan sekarang telah menerima dirinya dengan begitu ikhlas.Â
Tak ada halangan untuk mereka sekarang. Tak ada batasan lagi. Seakan tembok besar yang menghalangi itu kini runtuh dan membuat Humai ataupun Syakir tak malu-malu untuk saling menyentuh tangan ataupun berdekatan.Â
"Aku yakin setiap orang memiliki alasan untuk menyakiti manusia yang lain, Kak. Mereka akan mengusik jika hidupnya diusik. Hanya saja aku belum tau apa yang sudah aku usik dari hidup Rachel," lirih Humaira melepaskan genggaman mereka dan dia mengusap wajahnya.Â
Humaira adalah tipikal wanita yang tak langsung menyimpulkan sebuah masalah. Dia akan menganalisa dan memikirkan semuanya. Pikirannya yang selalu positif membuatnya selalu bisa memaafkan orang dengan ikhlas. Â
"Jangan pikirkan dia lagi. Apa kamu ingin momen kita untuk membahasnya terus?" tanya Syakir dengan mengerucutkan bibirnya.
Humaira terkekeh. Dia menganggukkan kepalanya sambil menangkup kedua sisi wajah Syakir dan menggerakkannya karena gemas.Â
"Maafkan aku," kata Humai yang sudah mulai bebas dengan skinship keduanya.
"Dimaafkan tapi dengan syarat…"Â
"Apa?" tanya Humai yang sangat penasaran.
Gadis itu mengerutkan keningnya. Apalagi saat ekspresi wajah Syakir mencurigakan. Mantan suaminya itu sedang menatap sekeliling dengan pandangan seakan sedang mencari sesuatu yang tak dirinya tahu.Â
"Kamu cari apa sih, Kak?"Â
"Lagi lihat ada orang apa nggak," jawab Syakir lalu menatap Humaira kembali.
"Kak Syakir mau apa?"Â
"Mau minta syarat agar aku maafin kamu," ujar Syakir yang membuat Humai menegang.
Wanita itu seperti kehilangan nafasnya. Pasokan oksigen di dadanya seakan habis. Apalagi saat hidungnya mencium aroma tubuh Syakir yang selalu menjadi candu untuknya.Â
__ADS_1
"Kak, jangan aneh-aneh. Ini …"Â
Syakir yang mulanya mendekatkan wajahnya di wajah Humai lekad berpaling. Ternyata pria itu hendak berbisik di telinga Humaira begitu dekat.
"Kamu harus mau makan malam denganku nanti malam," ujar Syakir yang membuat tubuh Humai menegang.
Belum berhenti disana. Tubuh Humai seakan tersengat listrik saat bibir Syakir mengecup pipi ibu satu anak itu yang membuat Humaira menegang. Dia tak menyangka jika mantan suaminya itu akan memberikan kecupan di pipi.
"Kenapa wajahmu begitu tegang, Sayang. Ini hanya di pipi dan kita pernah melewati yang lebih dari….aw!"Â
Humaira mencubit paha Syakir. Dia melototkan matanya saat sikap menjengkelkan mantan suaminya itu kini muncul kembali.
"Omes banget sih pikirannya!" seru Humaira sambil beranjak berdiri.Â
Sepertinya otak cassanova Syakir telah muncul kembali dan itu pasti membuat Humaira kepayahan akan kata-kata rayuan maut dari Syakir.
"Hanya untukmu!" balas Syakir yang membuat Humai memutar bola matanya malas.
"Ayo masuk, Kak. Kakak gak papa disini?"Â Â
Ah Syakir hampir melupakannya. Dia menepuk dahinya saat mengingat jam kerja dirinya masih ada.
"Aku harus kembali kerja, Sayang," ujarnya pamit pada Humai.
Melihat ekspresi wajah Syakir hampir membuat Humai meledakkan tawanya. Dengan pelan dia melangkah mendekati sosok mantan suaminya itu dan melingkarkan tangannya di lengan Syakir.
"Ayo masuk dan Kakak harus kembali bekerja!" ujar Humai dengan manis yang membuat keduanya saling pandang dan tersenyum.
"Kembalilah ke mejamu, Sayang. Aku harus pergi," pamit Syakir sata keduanya telah memasuki restoran.
Humaira mengangguk. Dia melepaskan tautan tangannya meski rasanya tak rela.
"Semangat yah."
"Iya, Sayang."Â
...🌴🌴🌴...
"Maaf aku terlambat!" kata Sefira yang baru saja datang.
"Untung makanannya belum datang. Kalau udah, pasti aku tinggal!" cibir Lidya yang membuat Sefira terkekeh.Â
"Ratu makan," sindir Sefira yang membuat Lidya membalasnya dengan mengibas rambutnya.Â
"Ratu makan tapi tetap seksi ya, 'kan?" jawab Lidya yang membuat ketiganya terkekeh.
Selalu seperti ini antara Sefira dan Lidya. Dua wanita itu akan saling mencibir padahal mereka hanya sedang bercanda.
__ADS_1
Siapapun yang melihat keduanya pasti mengira mereka sedang saling menghujat. Padahal aslinya keduanya begitu akrab dan inilah cara membuat mereka selalu saling berdekatan dan saling berhubungan antara satu dengan yang lain.Â
"Sefira," panggil Humai yang membuat gadis yang baru saja mengeluarkan ponselnya dari tas lekas mendongak.
"Hah?"Â
"Kamu tau kalau Kak Syakir…"Â
"Kerja disini?" tebak Sefira yang sudah bisa tahu bahwa sahabatnya pasti sudah bertemu dengan kakak kandungnya.Â
"Jadi…"Â
"Aku dan mama juga baru tahu saat Jay mengajak makan disini. Kita juga sama kagetnya," ujar Sefira yang membuat kepala Humai mengangguk.Â
Dia tahu pasti mertuanya itu sama kagetnya dengan dirinya. Humaira saja sampai tak pernah membayangkan jika Syakir bisa berubah sejauh ini. Perubahan yang sangat luar biasa menurutnya.Â
"Kamu gakpapa, 'kan?" tanya Sefira yang takut jika Humaira merasa tertekan.
Kepala itu menggeleng. "Aku baik-baik saja."
"Dia bukan gak papa lagi, Fir. Tapi lagi bahagia," celetuk wanita yang duduk di samping Humai.
"Barusan aja datangnya sambil gandengan tangan. Uwuw so sweet banget sih. Jomblo mah mengiri!" sindir Lidya dengan dramatis.Â
Humaira hanya mampu tertawa melihat aksi sahabatnya. Setelah itu pembicaraan keempatnya berakhir saat makanan mereka juga baru datang.Â
Mereka segera menyantap makanan itu karena perut mereka telah lapar. Dan keempatnya juga sangat menyukai makanan di restoran ini yang membuat mereka selalu lupa diri.Â
Setelah makanan itu telah selesai pindah ke dalam perut mereka. Semuanya habis tuntas dan mereka juga telah bersantai. Akhirnya keempat orang itu mulai keluar dari restoran.
Mereka berpisah sampai di sana karena Humai akan bersama Sefira pulangnya.Â
"Kalian hati-hati yah," kata Humai saat mereka mulai masuk ke dalam mobil masing-masing.
"Oke. Bye!"Â
Sefira akhirnya mulai melajukan mobilnya. Keduanya langsung pulang karena perut mereka kekenyangan. Namun, entah kenapa pikiran Humaira masih tertuju pada keadaan Rachel dan membuatnya menatap ke arah Sefira.Â
"Kenapa, Mai?"Â
Humaira terkekeh. Dia paling tak bisa menutupi ekspresi wajahnya jika penasaran akan sesuatu.Â
"Aku boleh tanya sesuatu sama kamu?"Â
"Tentu."Â
"Apa kamu tahu jika Rachel berada di rumah sakit gila sekarang?"Â
__ADS_1
~Bersambung
Lalala Bang Syakir mulai ganas dan Humai mulai kepo sama keadaan Rachel. Hmmm apa gimana kalau Humai tahu kalau Rachel itu anak adopsi papanya yah?