Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Go Indonesia


__ADS_3

...Ternyata dibalik sebuah musibah terdapat sebuah keberuntungan yang membawa berkah. ...


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Tangan Mama Ayna gemetaran. Namun, dia berusaha tetap berpikir positif.


"Halo…halo," panggil Mama Ayna saat tak ada suara dari seberang sana.


Wanita yang telah melahirkan dua orang anak itu mencoba menelpon suruhannya lagi. Namun, nomornya tak dapat dihubungi.


"Tante? Bagaimana?" tanya Rein yang bingung dengan ekspresi wajah mertua kakaknya itu.


Mama Ayna menghapus air matanya. Dia hampir melupakan sosok Rein yang ada di depannya. Dia hampir saja kelepasan bicara jika tak ingat bahwa Rein baru saja bangun dari komanya.


"Gak papa, Nak. Kamu istirahat aja dulu yah. Tante mau bicara sama Om dulu. Boleh?"


"Tapi, Kak Humai. Bagaimana?" tanya Rein yang sepertinya sangat ingin menelpon kakaknya. 


"Nanti kita hubungi lagi. Suruhan tante kayaknya sinyalnya lagi gak bagus. Mangkanya panggilannya putus, 'kan?" 


Rein mengangguk. Dia percaya saja pada Mama Ayna karena ekspresi wanita tua itu meyakinkan. 


"Ayo sekarang kamu tidur dulu yah. Ingat kata dokter! Kamu harus banyak istirahat biar cepet sembuh," ucap Mama Ayna membantu Rein berbaring.


Dengan penuh perhatian, wanita paruh baya itu membantu menyelimuti Rein lalu mengusap kepalanya.


"Lekas sembuh, Nak." 


Melihat Rein yang mulai memejamkan matanya. Mama Ayna lekas berjalan keluar dari ruang rawat adik menantunya itu. Dia segera mencari suaminya yang tadi pamit untuk mengangkat panggilan. 


"Papa!" panggil Mama Ayna pada suaminya yang sedang menelpon di ujung lorong.


"Sebentar!" kata Papa Haidar pada istrinya.


"Saya hubungi nanti ya. Kirim semua berkas ke email saya yang harus ditandatangani!" ucapnya lalu Papa Haidar lekas mematikan panggilannya.


Dia menatap istrinya bingung. Pria paruh baya itu lekas berjalan ke arah istrinya yang menangis. 


"Ada apa, Ma? Kenapa Mama menangis?" tanya Papa Haidar menghapus air mata Mama Ayna.

__ADS_1


"Ayo kita pulang sekarang, Pa!" ajaknya dengan menarik tangan Papa Haidar. 


"Ustt katakan dulu padaku, Ma. Ada apa?" tanya Papa Haidar memeluk pinggang istrinya yang mulai menangis hebat.


Dia membawa istrinya duduk di kursi tunggu depan ruangan Rein. Dia menarik istrinya ke dalam pelukan dan mengusap punggungnya. 


Papa Haidar bisa merasakan tubuh istrinya gemetaran. Dia yakin jika Mama Ayna baru saja mendapatkan kabar yang mengejutkan.


"Tenanglah, Ma. Nanti baru ceritakan pada Papa. Apa yang sebenarnya terjadi," ucap Papa Haidar penuh pengertian.


Lihatlah pasangan suami istri ini. Mereka berdua terlihat begitu saling melengkapi. Keduanya sama-sama saling mensupport, saling menjaga dan saling mengerti ketika ada masalah di antara keduanya. 


"Giska, Pa. Dia mengalami kecelakaan bersama Humai," lirih Mama Ayna setelah dia sedikit tenang.


Papa Haidar terkejut. Namun, dia berusaha tetap tenang. Jika dirinya panik. Maka istrinya juga tak kalah panik.


"Mama tahu darimana? Mama dapat kabar itu dari siapa?" 


Akhirnya Mama Ayna mulai menceritakan semuanya pada suaminya. Bagaimana dia yang menelpon Humai dan Sefira tapi tak kunjung diangkat. Sampai orang suruhannya yang menghubunginya terlebih dahulu.


"Mama udah coba hubungi dia lagi?" 


"Udah, Pa. Tapi gak dijawab. Mama yakin kalau telinga Mama gak salah denger. Giska sama Humai dalam bahaya, Pa. Ayo kita pulang!" 


"Ayo, Pa!" 


"Mama gak mau diem disini sampai nunggu kabar anak kita kenapa-napa. Mama gak mau!" teriak Mama Ayna yang mulai hilang kendali.


Bagaimanapun seorang ibu adalah sosok paling lemah jika menyangkut kabar tentang anak-anaknya. Bagaimanapun dia adalah sosok yang memiliki hati lembut. Sesakit apapun disakiti oleh anaknya, ibu adalah wanita yang mampu memaafkan dengan ikhlas. 


"Mama tunggu disini yah. Papa bakalan bicara sama teman Papa tentang kondisi Rein yang memungkinkan diajak pulang atau tidak," kata Papa Haidar mencoba mencari jalan tengah.


Dia tak bisa melakukan semuanya dengan gegabah. Jika hanya berdua saja, mungkin tanpa pikir panjang ayah Syakir itu langsung menuju bandara. Namun, karena keduanya saat ini bersama Rein, sosok yang baru saja terbangun dari koma panjangnya. Membuat kedua orang tua itu harus makin hati-hati.


"Cepetan ya, Pa. Mama udah khawatir sama mereka berdua." 


...🌴🌴🌴...


Akhirnya mengantongi izin dokter. Mama Ayna dan Papa Haidar mendapatkan persetujuan dari fojter yang merawat Rein. Mereka boleh membawa remaja itu pulang dengan catatan, Rein harus tetap menjalankan terapi di rumah sakit Malang dan akan dirujuk di salah satu rumah sakit yang dulu menangani Rein juga sebelum dibawa ke New York. 


Keduanya akhirnya mulai berjalan menuju ke arah pintu ruang rawat Rein. Pasangan suami istri itu saling bergenggaman tangan saat mereka mulai memikirkan cara menyampaikan kabar ini pada Rein. 

__ADS_1


"Ayo, Pa!" 


Akhirnya pintu perlahan didorong oleh Mama Ayna. Disana, keduanya melihat sosok Rein yang ternyata tak tidur. Remaja pria itu duduk sambil mengusap matanya yang membuat orang tua Syakir khawatir.


"Ada apa, Nak? Apa ada yang sakit?"


Rein menggeleng. Dia mulai menarik nafasnya begitu dalam untuk menenangkan dirinya.


"Rein bermimpi Kak Humai datang menemui Rein dengan baju berlumuran darah," lirihnya dengan tangan gemetaran. 


Jantung Mama Ayna dan Papa Haidar mencelos. Keduanya semakin mengeratkan genggaman tangan mereka saat ternyata ikatan batin adik kakak itu ternyata sangat kuat. 


Tnpa keduanya mengatakan, ternyata Rein bermimpi hal itu dulu. Hal yang membuat mereka berdua juga datang kesini.


"Kumohon, Tante. Coba hubungi Kak Humai lagi,' pinta Rein dengan tatapan memohon.


Air mata Mama Ayna runtuh. Dia menatap suaminya dan Papa Haidar mengangguk. Pertanda memberikan persetujuan agar istrinya itu mengatakan yang sejujurnya. 


"Rein," panggil Mama Ayna pelan sambil duduk di samping remaja itu. "Ayo kita pulang ke Malang!" 


Mata Rein berbinar. Dia menatap orang tua Syakir bergantian. Hatinya bahagia sekaligus bingung. Bukankah dokter tadi mengatakan bahwa ia hisa pulang minggu depan. Lalu kenapa sekarang ia harus pulang? 


"Tapi…ada apa, Tante?" tanyanya dengan penasaran.


Mama Ayna menghembuskan nafas berat. Sebenarnya dia juga sedang bimbang. Harus mengatakan semuanya pada Rein. Dia yakut jika remaja itu akan tertekan dan mengalami gangguan lagi di kepalanya.


"Tante bakalan ceritakan semua tapi kamu gak boleh bawa ke pikiran kamu. Janji?" 


Rein bingung tapi dia juga penasaran. Akhirnya kepalanya mengangguk menyetujui permintaan Mama Ayna.


"Kita sekarang pulang yah. Tante tadi dapat kabar dari suruhan Tante kalau…" jedanya dengan menatap wajah Rein yang benar-benar penasaran. "Humai dan putri Tante mengalami kecelakaan." 


"Apa!" Mata Rein terbelalak. Dia menatap tak percaya. 


Namun, melihat Mama Ayna yang menangis membuatnya yakin jika apa yang dikatakan oleh wanita paruh baya di depannya ini adalah kebenaran. 


"Ayo pulang, Tante. Rein mau pulang sekarang!" 


~Bersambung


Kira-kira Humai sama Sefira kalian kira kenapa hayoo?

__ADS_1


BTW bab kedua kalau telat update maaf ya. Aku lagi pulang kampung guys berangkat tadi malam. Sekaligus ngelayat jadi pastinya bakalan super sibuk.


Aku pastiin update lagi kok kalau sempet.


__ADS_2