Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Pertemuan Ayah dan Anak


__ADS_3

...Pertemuan yang tak pernah direncanakan tapi ternyata terselip takdir tuhan yang tak pernah ada dalam hidupnya....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Kota Jakarta yang padat dan panas adalah keadaan yang bukan asing lagi untuk seorang pria tampan dengan pakaian pelayan tengah mengerjakan pekerjaannya. Sebuah kota yang dulu pernah menjadi tempatnya belajar membuatnya tak perlu menyesuaikan lagi. 


Dia sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini. Maka dari itu saat kedatangannya pertama kesini. Dia merasa dejavu. Seakan pikirannya memutar ketika dulu masih berkumpul dengan dua sahabatnya.


Bara dan Reno. Ya dua pria itu belum dihubungi oleh dirinya. Dia masih belum ada waktu untuk keluar dari tempat tinggalnya sekarang. Pekerjaannya di tempat baru, membuatnya harus adaptasi dengan lingkungan baru juga.


Teman, manager, dan beberapa tempat yang beda dengan tempat lama membuatnya harus beradaptasi agar bisa cekatan dalam melakukan segalanya. 


"Kak Syakir!" panggil seorang pria yang baru saja masuk ke dalam dapur.


Syakir yang sedang meneguk air putih lekas menoleh.


"Ya?" 


"Bisa bantuin aku di depan sebentar? Aku lagi pengen ini," katanya memegang perutnya dengan wajah meringis.


Syakir yang sebenarnya sedang mendapat jatah istirahat selama satu jam akhirnya mengangguk. Dia lekas mengambil kertas pesanan dan berjalan menuju temannya itu.


"Pergilah. Biarkan aku yang melayani," kata Syakir dengan lembut.


Pria itu benar-benar telah berubah. Tak ada lagi Syakir yang jahat, kejam dan sombong. Tak ada lagi wajah garang dalam ekspresi wajah pria itu.


Syakir adalah orang yang baru. Dia lebih peduli ke sekitarnya sekarang. Dia sudah banyak belajar dari masa lalu yang menyakitkan. Semua yang telah ia lakukan pada dua sosok penting dalam hidupnya, mampu membuatnya menjadi sosok baru seperti sekarang. 


Dengan langkah pelan, Syakir berjalan ke arah meja yang berada di dekat jendela yang menatap ke jalanan. Dia bisa melihat sosok dua pria berbeda usia begitu jauh atau bisa dibilang seperti ayah dan anak. 


Samar-samar telinganya mendengar perbincangan dua orang itu.


"Ibu sering datang kesini. Biasanya sama Anti Mira dan Lidya, Om."


Suara anak laki-laki itu entah kenapa mengusik pendengaran Syakir. Namun, dia lekas menggeleng mencoba fokus dengan pekerjaannya.


"Selamat siang. Ada yang bisa kami bantu?" ucap Syakir dengan ramah.


Lekas suara Syakir yang datang tiba-tiba membuat seorang anak laki-laki yang dia dengar ucapannya menoleh. 


Jantung Syakir mencelos. Bahkan pria itu hampir membelalakkan matanya saat matanya menatap manik mata yang tak asing untuknya. Manik mata yang mengingatkannya akan sesuatu. 


Sesuatu yang ia miliki sejak dulu. Manik mata yang ada dalam fotonya di masa kecil. Ya, foto saat dia masih kecil sama seperti anak di depannya ini. Bahkan sangat mirip sekali dengan dirinya.

__ADS_1


"Om Jeno, Jay takut!" ujarnya saat tanpa sadar Syakir menatap Jay terlalu lama.


Jay pindah duduk di kursi Jeno. Lalu dia duduk di pangkuan dosen killer ibunya itu. Syakir yang tak enak hati spontan menundukkan kepalanya.


"Maaf, Tuan. Saya tak bermaksud menakutinya," kata Syakir dengan tak enak hati.


"Tak apa," kata Jeno dengan singkat. "Jay mau pesen apa, hmm? Bukankah tadi setelah main, Jay bilang kalau perutnya lapar?" 


Jay mengangguk. Dengan menatap Syakir sedikit dia menarik buku menu dan melihat gambar makanan yang ada disana.


"Mau makan yang mana? Jay pernah kesini sama ibu?" tanya Jeno penuh perhatian.


"Pernah, Om. Ibu sering ajak Jay kesini," katanya lalu menunjuk sebuah makanan pada Jeno.


"Kamu mau nasi goreng?" tanya Jeno pada Jay.


Kepala mungil itu mengangguk. Lalu dia kembali menunjuk sebuah makanan yang tiba-tiba membuat Syakir mendongak menatap anak itu dengan lekat.


"Bakso juga?" 


"Iyah," jawab Jay yang membuat Jeno mengerutkan keningnya.


"Gimana kamu makannya, Nak?" 


"Pentolnya aja nanti campur ke nasi goreng. Enak kok, Om," ujar Jeno yang membuat Syakir semakin terkejut dengan ulahnya.


Syakir benar-benar terkejut jika ulah anehnya ada yang menyamai. Entah kenapa hal itu membuatnya penasaran. Penasaran dengan sosok kecil tersebut.


"Bisa, 'kan, pesan keduaya?" 


Syakir tersadar dari lamunannya. Namun, kepalanya mengangguk mengiyakan bahwa permintaan Jay bisa dilakukan. 


"Kalau saya pesan nasi goreng saja," kata Jeno lalu menyerahkan buku menu setelah menyebutkan minumannya juga.


"Mohon ditunggu yah," kata Syakir sebelum pamit meninggalkan meja Jay dan Jeno.


Dia menatap ke arah Jay sejenak. Lalu, setelahnya dia berbalik dan berjalan untuk melanjutkan pesanan dari Jay dan Jeno.


Selama menyiapkan pesanan ini. Pikiran Syakir benar-benar tak fokus. Entah kenapa garis wajah Jay, raut wajahnya, kebiasaannya membuat Syakir tiba-tiba teringat pada anaknya.


Anak yang masih dalam kandungan Humai. Anak yang tak diharapkan.


"Jika anakku sudah lahir, pasti usianya hampir sama seperti anak tadi," lirih Syakir tanpa sadar.


Dia masih berharap diberikan kesempatan untuk bertemu dengan istri dan anaknya. Dia masih berharap ada satu harapan saja untuk menebus kesalahannya di masa lalu.

__ADS_1


Dia ingin mengganti waktunya yang telah dihancurkan dengan kenangan baru. Kenangan yang dulunya merusak mental mantan istrinya. 


"Kak Syakir, ini," kata rekan kerjanya yang menyiapkan makanan pesanan Syakir.


"Makasih yah."


Syakir lekas berjalan keluar. Dia mengantarkan makanan itu lagi ke meja Jay dan Jeno.


"Makasih," ucap Jeno pada Syakir yang mencuri pandang ke arah Jay.


"Sama-sama."


...🌴🌴🌴...


Perut yang lapar dan tubuhnya yang lelah karena telah bermain di taman bermain membuat kedua pria dengan usia berbeda itu makan dengan lahap. Bahkan dalam waktu sekejap makanan itu telah ludes tertelan di perut keduanya.


Tak lama suara bunyi ponsel Jeno membuat pria itu lekas meraihnya.


"Bentar ya, Sayang. Om angkat telepon dulu," ucap Jeno pamit pada Jay.


"Iya, Om." 


Hingga tak lama, Jay mulai merasa ingin buang air kecil. Saat dia melihat Jeno yang fokus dengan panggilan pentingnya. Jay menyelinap berjalan ke arah kamar mandi.


Dia yang sering datang kesini tentu mengenal dimana letak kamar mandinya. Dengan pelan dia berjalan dengan sendirinya menuju ke kamar mandi. Sampai saat sampai disana. Dia menatap ke sekeliling. Semua pintu terkunci yang membuatnya mengerti jika kamar mandi penuh.


Tak tahan, Jay lekas mencoba membuka resleting celananya sendiri. Namun, susah. Jay tetaplah anak kecil yang tentunya apa yang ia lakukan masih terbatas. Hingga saat Jay kesulitan, sebuah tangan membantunya membuat anak itu menoleh. 


"Eh…" Jay mundur dengan takut.


"Jangan takut. Om cuma mau bantu kamu buka celanamu," kata pria yang tak lain adalah Syakir. 


~Bersambung


Huaa gimana perasaan kalian baca part ini hmm?


Mampir juga ke karya temenku yah



Blurb : Terjerat cinta duda hot


Kirana Prameswari adalah seorang mahasiswa akhir, dia membutuhkan biaya untuk mengerjakan skripsinya yang selalu di tolak oleh dosen pembimbingnya. Seorang teman memberinya sebuah pekerjaan sebagai guru les privat dari anak seorang konglomerat.


Kirana pikir anak yang akan di les privat olehnya adalah usia sekolah dasar, tapi ternyata anak tiga tahun. Dan lebih kagetnya lagi ayah dari anak yang di les privatnya itu seorang duda tampan dan seksi.

__ADS_1


Bagaimana Kirana menghadapi ayah dan anak itu? Apakah dia akan terjerat pesona sang duda?


Yuk kita kepoin ceritanya..


__ADS_2