Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Bertemu?


__ADS_3

^^^Terkadang aku merasa bahwa mereka ada di sekitarku tapi seakan di antara kami ada tembok besar yang menghadang.^^^


...~Guntur Syakir Alhusyn...


...🌴🌴🌴...


Tepat hari ini Syakir memiliki jadwal off day. Maka dia dengan sengaja ingin mengunjungi rumah sahabatnya. Sudah lama sekali mereka tak berkabar bahkan mereka bertemu dan berkomunikasi saja tak pernah. 


Seakan Syakir memang menarik dirinya dari dunianya. Dia benar-benar fokus merubah dirinya menjadi lebih baik hingga membuatnya melupakan sekitarnya.


Dia memilih menjauh, berusaha untuk memperbaiki kekurangannya yang sangat fatal. Yang membuatnya kehilangan semuanya. Kehilangan kebahagiaannya, kehilangan pemilik hatinya dan satu lagi, kehilangan dua orang yang sangat mencintainya tanpa meminta balasan.  


Dengan pakaian santainya, Syakir meraih kunci mobil yang ada di atas nakas. Lalu dia segera berjalan meninggalkan apartemen tempatnya mengistirahat dan membangunnya sebagai rumah hangat untuk dirinya sendiri. 


Dengan santai pria itu lekas mengemudikan mobilnya menuju alamat yang pernah diberikan oleh Bara saat liburan ke Malang. Syakir yakin sahabatnya itu masih ada disana. Sedang membangun rumah tangga yang begitu bahagia.


Iri? Tentu saja.


Ada perasaan menyedihkan pada dirinya sendiri saat melihat kedua sahabatnya telah bahagia dengan kehidupannya sendiri. Sedangkan dirinya, masih harus memperbaiki kesalahannya. Mencari kemana dua hatinya yang belum ditemukan. 


Dengan lihai, Syakir mulai membelokkan mobilnya ke perumahan dimana rumah Bara dan Almeera berada. Hingga tak lama dia mulai bisa melihat rumah sahabatnya itu. 


Syakir lekas memasuki pekarangan rumah Bara. Di depan sana, terlihat Almeera dan sahabatnya Bara tengah berkebun bersama.


Tanpa sadar bibir Syakir ikut melengkung ke atas. Dia bahagia melihat kebahagiaan itu. Kebahagiaan sahabatnya yang mendapatkan hikmah dari kisah masa lalunya.


Hingga sebuah ketukan di jendela mobilnya membuat Syakir terkejut. Dia tak sadar jika sejak tadi melamun. Dia menatap keluar dan melihat sahabatnya lah yang berdiri disana. 


"Surprise!" kata Syakir bersamaan dengan dia keluar dari mobilnya.


Bara dan Almeera membelalakkan matanya. Keduanya bahkan terlihat begitu sangat terkejut dengan keberadaan Syakir.  Wajah keduanya begitu tegang dan membuat senyuman Syakir surut. 


"Kenapa kalian kelihatan ketakutan?" tanya Syakir dengan kecewa. "Apa kalian tak suka dengan kedatanganku?" 


Bara dan Almeera tersadar akan tingkah mereka. Keduanya terlihat salah tingkah saat menyadari jika ekspresi mereka sangat berlebihan. 


"Bukan itu maksud gue, Kir. Gue sama Meera kaget aja, tiba-tiba Lo nongol macem setan," kata Bara mencoba mencairkan suasana. "Bener, 'kan, Sayang?" 


Almeera mengangguk dengan cepat. Dia mencoba menutupi kegugupannya dengan memaksakan senyumannya.


"Kapan datang?" tanya Almeera berjalan mendekati suami dan sahabat suaminya.


"Udah hampir seminggu sih tapi baru kali ini aku sempat kesini," jawab Syakir apa adanya.

__ADS_1


"Ayo masuk! Gue bener-bener masih ngerasa mimpi aja!" ajak Bara yang mencoba bersikap tenang agar Syakir tak curiga.


Mereka lekas berjalan ke arah ruang tamu. Saat berada di deretan meja yang ada disana, Almeera mengingat sesuatu. Dia lekas berjalan mendekati deretan pigura yang ada di sana lalu mengambil salah satu pigura yang sangat ia ingat foto apa yang ada disana. 


Fotonya bersama Humaira. Foto saat perempuan itu belum melahirkan. Foto mereka berdua yang sama-sama menyentuh perut mereka dengan tertawa begitu lebar. 


"Lo liburan apa gimana?" tanya Bara saat dia dan Syakir telah duduk di sofa ruang tamu.


Sedangkan Almeera, perempuan itu lekas menarik semua pigura yang terdapat foto Humaira tanpa sepengetahuan Syakir. Wanita itu juga pamit membuatkan minuman agar Syakir tak menaruh curiga padanya. 


"Gue kerja, Bar," ujarnya yang membuat Bara mengerutkan keningnya. 


"Kerja? Kerja apaan?"


"Kerja jadi pelayan restoran," jawab Syakir yang membuat Bara membelalakkan matanya tidak percaya. 


"Gila, Lo! Kalau mau ngibul jan berlebihan, njirr!" 


"Tapi gue gak bohong, Bar. Gue serius," sahut Syakir dengan wajahnya yang serius.


Bara lekas menegakkan tubuhnya. Dia menatap sahabatnya dengan lekat. Dia bisa melihat jika apa yang Syakir ucapkan adalah kebenaran. Pria itu tak ada tanda bercanda di wajahnya. 


"Gue gak mau kembali ke perusahaan Papa," lirih Syakir sambil menatap ke depan. "Gue ngerasa gak pantes aja, Bar. Gue mau kerja di atas kaki gue sendiri."


"Dan Lo berhasil?" tanya Bara penasaran.


Kepala Syakir mengangguk. Dia menyematkan senyuman di kedua sudut bibirnya begitu lebar. Dia menepuk dadanya sendiri merasa bangga pada dirinya.


"Mungkin hanya pekerjaan receh di mata Lo. Tapi di mata gue, pekerjaan ini bisa buat gue sadar akan sekitar." 


"Gue bisa belajar makna pertemanan, makna kesabaran dan makna menghargai satu dengan yang lain. Gue banyak belajar hidup dari bawah, Bar. Banyak hikmah yang gue dapet sampai gue bisa seperti ini," kata Syakir yang membuat Bara terharu. 


Dia mendekati sahabatnya itu lalu menepuk pundak Syakir. 


"Lo bener-bener sahabat gue yang dulu. Lo kembali ke Syakir yang gue kenal. Syakir yang peduli pada sesamanya." 


Bara menatap sahabatnya dengan bangga dan Syakir yang merasa beruntung memiliki sahabat seperti Bara. Pertemanan mereka benar-benar nyata tanpa peduli harta atau tahta.


"Selamat Lo bisa berubah. Lo bisa menjadi Syakir yang baru!" 


"Iya. Gue seneng gue bisa berhasil!" kata Syakir dengan mengangguk. "Tapi tinggal satu keinginan gue, Bar!"


"Apa?" tanya Bara yang penasaran.

__ADS_1


"Gue pengen ketemu sama mantan istri dan anak gue. Gue pengen minta maaf sama mereka. Gue selalu ngerasa dihantui rasa penyesalan sebelum mendapatkan maaf dari mereka berdua." 


...🌴🌴🌴...


Sedangkan di tempat lain, terlihat seorang perempuan tengah berdiri menunggu di teras rumahnya. Dia sedang menanti kedatangan putra kesayangannya yang entah sedang mengambil apa.


"Ayo, Jay! Udah siang loh, Nak!" ujar Humaira sedikit berteriak.


"Tenanglah, Sayang," kata Mama Emili mengusap pundak putrinya.


"Ayo, Bu!" pekik Jay saat dia baru saja muncul dari dalam. 


Anak laki-laki itu terlihat sedang membawa sebuah tas kecil di punggungnya.


"Apa itu?" tanya Humaira yang penasaran.


"Buku. Jay mau main sama Kak Bia!" 


Humaira akhirnya tak berkomentar. Dia sangat tahu jika Jay sangat suka dengan Bia. Anak perempuan Mbak Meera dan Mas Bar itu sangat suka mengajari Jay mencoret coret kertas dan mewarnai. 


"Humai berangkat dulu ya, Ma," pamitnya pada Mama Emili yang mengantarnya sampai ke teras.


"Kamu udah kabarin Almeera kalau mau kesana?" tanya Mama Emili pada putrinya.


Kepala Humaira menggeleng. 


"Humai mau kasih kejutan sama mereka, Ma. Kita berdua, 'kan dah lama gak main kesana," kata Humaira yang kemudian membantu putranya masuk dan duduk di kursi depan.


"Hati-hati ya. Ingat kabarin Mama kalau udah sampai di rumah Almeera."


~Bersambung


Haha biar pada penasaran sampai besok siang. Otw ketemu gak yah?


Jangan lupa mampir ke karya temanku juga



Tak saling kenal, tak pernah bertemu. Namun Semesta yang menuntunmu. Itulah takdir, tak pernah ada yang tahu bagaimana kedepannya. Soal jodoh ada yang berwarna, ada yang kelam, ada yang penuh keseriusan dan ada juga yang penuh dengan canda tawa.


Shazfa Aiysha Humaira atau sering dipanggil Sasa , seorang mahasiswi yang memiliki tiga orang sahabat yaitu Safia (Sapi), Fathulila (Patul), dan Fifa (Pipa). Bukan sahabat namanya , jika tidak mengganti nama sahabatnya.


Shazfa pernah jatuh cinta dengan seorang Ustadz bernama Sakha. Tapi sayang, takdir berkata lain karena Ustadz Sakha dijodohkan dengan Patul. Mengikhlaskan adalah hal yang sulit sampai akhirnya datang seorang lelaki dengan gagahnya ingin menikahinya. Lelaki yang sebelumnya tidak ia kenali, tidak bertegur sapa namun ternyata ia lah takdirnya.

__ADS_1


Ya, Begitulah Takdir. Lalu, siapakah lelaki gagah itu?


__ADS_2