Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Ngebucin Makin Brutal!


__ADS_3

...Manusia bucin selalu tak peduli tempat. Dimanapun mereka berdua, maka kesempatan selalu ada dalam kesempitan. ...


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Suasana yang sangat mendukung dengan langit cerah tanpa mendung tentu membuat jalanan lumayan padat. Apalagi waktu sore hari adalah momen yang pas untuk para muda mudi jalan-jalan. Untuk beberapa pengguna jalan yang bekerja kembali ke rumah. 


Tentu keadaan jalanan ramai dengan lalu lalang banyaknya kendaraan roda empat sampai roda dua. Namun, hal itu tak membuat suasana di dalam mobil yang begitu ramai dengan celotehan antara ponakan dan tante itu terganggu. 


Keduanya membuat suasana canggung di antara dua orang pasangan mantan suami istri itu sedikit berkurang. Humai dan Syakir, sejak tadi hanya saling diam sambil sesekali mencuri pandang di antara keduanya. 


Mereka benar-benar seperti anak muda yang kembali merasakan cinta. Kembali merasakan bagaimana jatuh cinta dan berusaha mendapatkannya. 


Malu-malu, gugup, khawatir, tak tenang, semuanya campur menjadi satu. Apalagi ketika ada pipi kemerahan karena terlalu malu semakin membuat keduanya terlihat menggemaskan. 


Tentu tim paling heboh adalah tim nyamuk. Sefira dan Jay yang duduk di kursi tengah tentu saling menaikkan salah satu alisnya. Keduanya saling bertos ria saat Sefira selesai berbisik di telinga Jay. 


Gadis itu benar-benar setan yang merasuk mempengaruhi otak kecil Jay. Ide gila dan cerdas semua yang gadis itu pikirkan tentu mendapatkan anggukan kepala dari keponakan kecilnya itu. 


"Ayah, berhenti!" Pekik Jay sambil memajukan tubuhnya. 


Syakir yang fokus menyetir tentu lekas menoleh. Dia menatap anaknya yang mengerutkan keningnya. 


"Jay kenapa?" Tanya Syakir pada putranya. 


"Jay pengen pipis," Ujarnya dengan memegang area senjata kecilnya itu. 


Ya, Jay meski hampir berumur tiga tahun. Namun, dia sudah tak memakai diapers. Humai benar-benar ibu yang berhasil mendidik putranya. Berhasil membuat anaknya menjadi anak yang cerdas dan mengerti sebelum waktunya. 


Jay diajarkan dewasa sebelum waktunya. Teman bermainnya yang lebih banyak orang dewasa membuatnya berpikir lebih dewasa. Dia juga pandai bicara dan pandai mengerti ucapan orang lain. Komunikasi dua arahnya sudah berjalan dengan lancar dan itu semua juga berkat orang terdekatnya. 


"Jay gak bisa tahan, Nak?" Tanya Humai yang ikut khawatir pada putranya. 


Dia memiringkan tubuhnya. Menatap ke belakang ke arah putranya yang kembali duduk di samping sahabatnya itu. 


"Dia masih kecil. Mana bisa tahan!" Seru Sefira sambil mendelikkan matanya. "Di depan ada market. Berhenti disana aja, Kak. Ada kamar mandi pastinya." 

__ADS_1


Sefira menunjuk kiri jalan. Disana memang ada market dan ada kamar mandi di dalamnya. Semua sudah ia persiapkan dan hal itu membuat Syakir tentu lekas menghidupkan sendiri kiri.


Apapun itu, jika tentang anak dan Humai. Pasti ia utamakan. Ya, Syakir telah berubah menjadi budak cinta. Dia benar-benar tak bisa menutupi kebucinannya. 


"Ayo Ibu bantu," Kata Humai yang hendak turun dari mobil. 


Sefira yang melihatnya tentu lekas menarik tangan Humai. 


"Gak perlu. Biar Jay sama aku aja. Aku juga pengen buang air kecil!" Kata Sefira mencegah. 


"Tapi… " Humai menyadari sesuatu. 


Jika dia disini. Maka dirinya akan berduaan dengan Syakir. Namun, mau bagaimana lagi. Sahabatnya telah turun lebih dulu dan menggandeng tangan putranya masuk ke dalam market. 


Akhirnya Humai hanya bisa menggenggam tangannya. Dia menatap ke depan seakan mengabaikan pandangan Syakir yang terus menatapnya. 


Ya, kakak kandung Sefira itu terang-terangan. Dia tak mengalihkan pandangan matanya sedikitpun. Dirinya begitu terpanah dengan kecantikan wanita di depannya ini. 


"Jangan menatapku terus. Lihat ke depan!" Kata Humai pura-pura galak. 


Dia tak menatap Syakir. Entahlah seakn dia tak memiliki kekuatan jika menatap mata Syakir sekarang. Dirinya merasa jantungnya terus berdegup kencang. Gugup dan salah tingkah campur aduk menjadi satu. 


"Kamu yakin, aku gak boleh lihatin kamu?" Tanya Syakir memajukan wajahnya semakin dekat. 


Humai spontan mundur. Dia menatap Syakir yang tersenyum kearah dirinya tanpa canggung. 


"Yakin?" Tanya Syakir lagi sambil menikmati ekspresi Humai yang begitu menggemaskan. 


Humai merasa gugup. Bahkan menelan ludahnya sendiri dia kesulitan. Rasanya aroma minyak wangi Syakir membuatnya gila. Bahkan aroma tubuh pria itu juga menusuk hidungnya yang semakin membuat dirinya merasa nyaman dan hampir terpengaruh oleh pesona seorang Guntur Syakir Alhusyn. 


"Yakin!" Seru Humai lalu mendorong dada Syakir hingga membuat pria itu memundurkan tubuhnya. 


Dia mendudukkan dirinya dengan tegap. Mencoba berusaha menyeramkan degup jantungnya yang main menggila. 


Syakir hampir saja meledakkan tawanya. Dia tahu mantan istrinya itu gugup. Namun, Syakir seakan tak tahan. Dia ingin semakin gencar menggoda wanita pujaannya. 


"Kamu cantik. Dengan penampilan ini, makin terlihat cantik," Bisik Syakir di telinga Humai. 

__ADS_1


Pria itu dengan sengaja menghembuskan nafasnya di telinga Humai. Dia bahkan bisa melihat tubuh Humaira yang menegang. 


"Tapi di mataku, apapun penampilan kamu. Selalu terlihat cantik!" 


Ah rasanya ingin meledak. Humai merasa dirinya gemeteran bukan karena traumanya. Namun, dia merasa hampir gila dengan perasaannya ynag tak mampu ia kontrol sebaik mungkin. 


Ternyata cinta dan sayangnya bisa mengalahkan ketakutannya. Ternyata perasaan yang selama ini ia simpan mampu membuatnya sembuh dari rasa traumanya. Percayalah cinta yang tulus dan besar bisa menjadi segala obat untuk pemiliknya. 


Sesakit apapun  perilaku yang pernah ia lakukan. Seberat apapun  tingkahnya. Namun, jika dia rela berubah dan menjadi sosok yang lebih baik. Apa yang mau membuatnya ragu. 


"Humai!" Panggil Syakir dengan suaranya yang melembut. 


Humai menarik nafasnya dengan berat. Dia merasa sesak nafas. Seakan jiwanya ingin lepas dan lari dari dalam mobil ini. Mobil yang luas ini terasa sempit untuknya. 


"Humai," Panggil Syakir lagi yang membuat gadis itu menoleh. 


Ternyata Syakir masih disana. Di dekat wajah Humai dan membuat wajah keduanya tentu berdekatan. Mata mereka saling menatap penuh lekat. Selama kedua bola mata itu saling menyelami di dalamnya. 


Nafas keduanya tentu saling terasa di wajah mereka. Jarak keduanya yang terlalu dekat membuat hidung Syakir dan Humai yang mancung saling bersentuhan. 


"Aku… " 


"Ustt!" Seru Syakir pelan yang membuat Humai tak jadi mengatakan apa yang ingin ia katakan. 


"Selama ini, aku ingin ada di dekatmu seperti ini," Lirih Syakir sambil membiarkan wajah mereka yang berdekatan.


Bahkan dengan sengaja Syakir mengucapkan hidungnya dengan hidung Humai yang membuat mata keduanya terpejam. 


"Aku menyesal dengan perbuatanku yang dulu pada kalian. Bahkan jika diizinkan, aku ingin terlahir kembali dan mengenalmu dari awal tanpa sebuah kesakitan," Liriknya yang membuat Humai spontan membuka matanya. 


Dia mampu melihat wajah Syakir yang menahan sakit. Dia bisa merasakan suara Syakir yang menahan tangis. 


"Maafkan aku, Humaira Khema Shireen. Berikan aku kesempatan untuk memulai semuanya dari awal dan membahagiakanmu dan putra kita."


~Bersambung


Janji gak pingsan? Janji gak tereak sambil gigit jari?

__ADS_1


Bang Syakir ngereog bucinnya woy!


__ADS_2