Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Bertemu Keluarga Jeno


__ADS_3

...Aku tak menyangka jika membuka hati dan memulai sebuah hubungan akan seindah dan semenyenangkan ini. ...


...~Sefira Giska Alhusyn...


...🌴🌴🌴...


Setelah melewati hari yang begitu bahagia. Hari ini, seorang perempuan tengah berdiri di depan cerminnya dengan penampilan terbaik. Wanita itu sudah sejak tadi mencoba mencari baju dan juga melakukan gerakan ke kanan dan ke kiri untuk melihat apakah pakaian itu cocok untuknya atau tidak. 


Dirinya bergerak sampai akhirnya pakaian yang ia cari menemukan yang sesuai dengan dirinya. Sebuah dress selutut berwarna abu-abu dengan rambut dijepit dan riasan natural semakin menambah kecantikan adik kandung dari Syakir. 


Ya, hari ini Sefira akan pergi bersama Jeno. Pria yang berani melamarnya di hadapan kedua orang tuanya secara langsung itu mengajaknya ke rumah orang tua Jeno. 


Ya, pria itu tak mau menunda lagi. Dia ingin melakukan semuanya dengan cepat. Entah kenapa Jeno tak mau menunda hal baik. Apalagi ketika restu dari orang tua kekasihnya itu sudah dikantongi. Maka menurutnya tak ada lagi alasan untuk memperlama rencana baik. 


Menikah adalah sebuah jalan menuju hal yang lebih baik. Hubungan yang sangat dirahmati oleh Tuhan. Perkara rezeki, anak dan jodoh, itu sudah Allah atur. Manusia hanya bisa berencana dan Allah adalah pemberi takdir yang terbaik. 


"Giska, kamu sudah selesai, Nak? " Tanya Mama Ayna yang mulai mengetuk pintu kamar putrinya berulang kali. 


Sefira yang sudah selesai lekas meraih tas slempangnya. Lalu dia segera berjalan ke arah pintu kamar dan membukanya. 


"Hmm anak Mama, masya Allah, " Ujar Mama Ayna menatap putrinya dari atas sampai bawah. 


"Gimana, Ma? Pakaian Giska sopan kan? " Tanya Sefira yang takut dan masih tak percaya diri. 


Menurutnya bertemu orang tua Jeno untuk pertama kalinya adalah satu kunci utama dalam pertemuan awal. Dia tak mau jika pertemuan pertamanya ini meninggalkan kesan buruk. Bagaimanapun Sefira ingin terlihat yang terbaik di mata calon mertuanya. 


"Bagus, Sayang. Sopan. Ayo cepet turun! Jeno udah ada dibawah, " Ajak Mama Ayna yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Sefira. 


Ibu dan anak itu akhirnya berjalan bersama bergandengan tangan. Mereka terlihat begitu bahagia. Apalagi ketika langkah kaki mereka semakin mendekat. Sefira sudah bisa melihat kekasihnya yang begitu tampan tengah duduk berbincang dengan Mama Emili dan Papa Haidar. 


"Jadi kapan Om sama Tante berangkat ke Malang? " Tanya Jeno yang suaranya didengar oleh Sefira. 

__ADS_1


"Nanti malam. Jadi, Om yakin kamu bisa meyakinkan orang tuamu tentang hubungan kalian berdua. Setelah itu, kita bisa lanjut ke pertemuan yang lebih serius, " Kata Papa Haidar yang membuat jantung Sefira semakin berhenti berdetak. 


"Iya, Om. Saya yakin orang tua saya pasti setuju, " Ujar Jeno dengan yakin. 


Papa Haidar mengangguk. Tak lama anak dan ibu itu sampai dan membuat seluruh perhatian orang yang ada di ruang tamu berpaling. 


Jeno, pria tampan dengan kemeja dan celana pendek itu terpanah akan kecantikan kekasihnya. Wajah ayu Sefira dan riasan naturalnya tentu semakin membuat wanita itu memancarkan inner beauty yang berbeda. 


Jantung Jeno terus berdetak kencang. Bahkan dia tak memalingkan matanya dari wajah Sefira yang sudah bersemu merah. 


"Gak usah diliatin terus. Cantiknya gak bakal berkurang kok, " Goda Mama Emili yang membuat Jeno menunduk. 


Dia ketahuan memperhatikan Sefira hingga membuatnya malu. 


"Yaudah. Kalian berangkat gih! Jangan sampai sore yah. Ingat, nanti malam kita langsung ke Malang, " Kata Papa Haidar mengingatkan. 


Sefira hampir melupakan sesuatu. Ya mereka semua akan kembali ke kampung halaman. Baik keluarga Syakir ataupun Mama Emili. Mereka akan menyusul Humai, Syakir dan Papa Hermansyah. 


...🌴🌴🌴...


"Berangkat dulu ya, Pa. Assalamualaikum, " Kata Sefira sebelum Jeno perlahan mulai menjalankan mobilnya. 


Kendaraan roda empat itu perlahan meninggalkan halaman rumah Humai lalu mulai menyatu dengan jalanan. Entah kenapa tak ada pembicaraan apapun. Sefira terus menatap ke luar jendela sambil menikmati indahnya jalanan pagi Kota Jakarta. 


Namun, siapa sangka. Di dalam hati wanita itu. Tersimpan kegugupan yang besar. Udara AC yang dingin semakin membuat tangan Sefira berkeringat dingin. Ditambah duduknya yang gelisah, tentu terlihat oleh Jeno. 


Bibir pria itu tersenyum kecil. Dengan pelan, Jeno mulai mengangkat tangannya dan menggenggam tangan Sefira yang bebas. Adik Syakir tentu terkejut dengan aksi Jeno. Kepalanya langsung menoleh dan melihat Jeno memberikan senyuman terbaik kepadanya. 


"Jangan khawatir, Sayang. Mama dan Papaku pasti akan menerimamu, " Ucap Jeno menenangkan. 


Meski tetap takut. Namun, Sefira mencoba tenang. Dia menarik nafasnya begitu dalam dan mengeluarkannya. Dirinya memang gugup karena untuk pertama kalinya dikenalkan oleh seseorang pada keluarganya. 

__ADS_1


Sefira yang tak pernah berpacaran. Tak pernah dekat dengan pria lain tentu tak memiliki pengalaman. Ini adalah pengalaman pertamanya. Ini adalah hal pertama kali dari hidupnya dibawa ke rumah sang kekasih untuk mendapatkan restu. 


"Percaya sama aku. Apapun yang terjadi, aku akan mempertahankan kami, " Kata Jeno yang membuat perasaan kacau dalam diri Sefira sedikit lebih tenang. 


Wanita itu mengangguk. Dia menatap genggaman tangannya dan membalas genggaman tangan Jeno. 


"Aku percaya sama kamu, Sayang, " Balas Sefira yang semakin membuat Jeno gemas bukan main. 


Percayalah ketika keduanya sama-sama bucin makan ketika melihatnya siapapun pasti akan merasakan gigit jari. Senyuman, tingkah dan saling pandang antara Sefira dan Jeno masih malu-malu kucing. 


Apalagi ketika keduanya tak pernah berpacaran dan ini adalah hubungan mereka yang pertama di sepanjang hidupnya. Tentu menjadi hal yang sangat amat canggung. Namun, baik Sefira dan Jeno. Keduanya berusaha sebaik mungkin agar pasangan mereka tak gugup. 


Akhirnya perjalanan keduanya mulai berakhir. Jeno melepaskan genggaman tangannya saat dia harus mulai mengemudikan setir mobilnya dan memutarnya untuk memasuki sebuah rumah mewah yang menjadi tempat tinggal orang tuanya dan masa kecilnya disini. 


Mata Sefira tentu terpaut dengan keindahan rumah ini. Pilar besar yang menyokong rumahnya tentu terlihat begitu mewah dan elegan. 


"Ternyata Jeno bukan pria biasa, " Gumam Sefira yang berpikir jika keluarga Jeno adalah keluarga yang biasa saja. 


Jujur bukan Sefira bahagia dengan hartanya. Bukan dia bahagia mendapatkan Jeno yang kaya raya. Namun, dirinya sudah membayangkan jika dia akan hidup dengan tenang oleh Jeno. Tanpa gangguan apapun. Karena menurutnya, kaya raya tak menjamin bahagia.


"Silahkan, Tuan Putri, " Kata Jeno membukakan pintu mobil. 


Perlakuan manis itu tentu membuat Sefira mau tak mau memberikan senyuman manis yang sedikit terlihat dipaksakan. Dia segera menerima uluran tangan Jeno dan mulai keluar. 


"Sudah siap? " Tanya Jeno melingkarkan tangan kekasihnya di lengannya. 


"Tentu. Tak ada kata mundur lagi, " Kata Sefira dengan yakin. 


"Bagus. Kita akan berjuang bersama, Sayang. " 


~Bersambung

__ADS_1


Yang kemarin tanya Keluarga Jeno, asal usul Jeno dan gimana kehidupannya. Nih bakalan diceritain juga kok. Jadi tenang aja.


__ADS_2