
...Percayalah apa yang sedang kamu sembunyikan, suatu hari nanti pasti akan terbongkar. Entah itu dengan cara tak sengaja atau dengan cara tuhan....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
"Apa maksud semua ini, Ma?" tanya Sefira dengan pandangan bingung.
Humai tentu langsung menatap keduanya bergantian. Jantungnya berdegup kencang saat sahabatnya memanggil pasangan suami istri di depannya ini dengan panggilan Mama dan Papa.
Jika telinganya tak salah dengar. Maka ketakutannya semakin besar. Jika mereka adalah orang tua Humaira. Itu berarti, pria yang menidurinya, mengambil kehormatannya dan membuatnya hamil adalah kakak kandung sahabatnya sendiri.
Ingatannya langsung berputar di kejadian tadi pagi. Saat dirinya ingin makan nasi uduk. Lalu rasa mual ketika melihat coklat. Sefira mengatakan bahwa tingkahnya sama seperti kakaknya.
Jadi, apa yang dimaksud kakak adalah Syakir?
Apa yang dimaksud dia mual karena hamil anak Syakir sampai tingkah dan perilakunya sama?
"Mama jawab!" seru Sefira dengan marah.
Jujur pandangan adik Syakir terlihat mengandung banyak luka. Dia tak menyangka jika sosok pria yang sangat dia agungkan tak lain dan tak bukan perusak sahabatnya sendiri.
Sahabat yang sangat dia sayangi seperti saudara kandungnya. Sahabat yang selalu ada untuknya, tak pernah memanfaatkan dirinya dan juga Humai selalu membuatnya bahagia.
"Sayang. Ayo kita ke ruangan Humai dulu. Biarkan dia istirahat!"Â
Seketika Sefira tersadar. Dia menatap sahabatnya dengan sendu. Entah apa yang akan ia lakukan pada kakaknya Syakir. Kecewa, sedih dan marah menumpuk menjadi satu.
Tanpa kata, Sefira segera mengambil alih kursi roda itu dari perawat dan memintanya mengantarkan ke ruangan Humai. Sefira benar-benar tak mengatakan apapun. Gadis itu hanya diam dengan air matanya yang mengalir.Â
Dia merasa bersalah, dia merasa dibohongi oleh kakaknya dan kedua orang tuanya sendiri.Â
"Terima kasih," kata Sefira setelah perawat membantu mengecek infus Humai.
"Sama-sama."Â
Sepeninggal perawat dari ruangannya. Sefira duduk di samping ranjang sahabatnya. Kedua mata sepasang sahabat itu saling menatap hingga Humai memberanikan diri menggenggam tangan Sefira.Â
"Maafkan aku, Fir. Aku bener-bener gak tau kalau mereka adalah keluargamu," lirih Humai dengan pandangan bersalah.
__ADS_1
Jujur dia tak pernah tahu orang tua Sefira. Bahkan kakaknya dan rumahnya sekalipun. Humai seperti orang buta terhadap Sefira. Dia hanya tahu, Sefira sahabatnya, selalu ada untuknya.
Tak peduli dia anak siapa, keluarga dari mana dan kaya atau tidak. Yang terpenting persahabatan mereka begitu kekal dan abadi.
"Kamu gak salah," kata Sefira membalas genggaman tangan Humai. "Jangan merasa bersalah padaku. Aku akan meminta penjelasan pada orang yang memang bersalah."
"Tapi…"Â
"Ustt!" Sefira menggeleng. "Kamu harus banyak istirahat. Jangan banyak berpikir. Ingat…"Â
Sefira menundukkan pandangannya. Dia menatap perut rata sahabatnya. Dengan tangan gemetar, Sefira mengusap perut sahabatnya dengan lembut.Â
"Disini ada keponakanku yang pertama. Kamu harus merawatnya. Janji?"Â
Humaira menahan isakannya. Kepalanya mengangguk karena tanpa diminta pun, Humai akan menjaga anaknya ini. Entah kenapa saat melihat titik kecil itu, dia seperti memiliki semangat hidup, semangat berjuang dan support baru dari Tuhan.Â
Seakan hadirnya anak itu dalam dirinya menjadi bagian dalam dirinya yang akan menjadi kebahagiaan dan kekuatannya menghadapi kejamnya dunia.
"Janji."
Setelah mengatakan itu. Sefira beranjak berdiri. Sia berjalan ke arah Mama Ayna dan Papa Haidar.
"Giska mau bicara sama Mama dan Papa," ajaknya lalu mulai keluar dari kamar Humai.
"Jangan memikirkan masalah ini. Biarkan Tante yang akan mengatakan semuanya, yah?"Â
"Iya, Tante."Â
...🌴🌴🌴...
Kehangatan yang biasanya mereka rasakan kini terasa berbeda. Ketiga orang itu saling duduk berhadapan di salah satu kantin yang ada di dalam rumah sakit.Â
Sefira mengajak kedua orang tuanya duduk di bagian paling ujung agar tak ada yang mendengar pembicaraan keduanya. Dirinya benar-benar merasa dibohongi oleh keluarganya sendiri.
Masalah sebesar ini dirinya bisa tau sendiri tanpa diberitahu.
"Apa Mama bisa jelaskan semuanya?" tanya Sefira menatap mama dan papanya. "Masalah sebesar ini, kenapa kalian tutupi dari Giska?"Â
Mama Ayna menghela nafas berat. Dia mendongakkan kepala menatap putrinya yang menatap ke arah mereka dengan pandangan terluka.Â
__ADS_1
"Jujur Mama juga belum tahu kalau Humai adalah sahabatmu, Nak. Mama baru tahu, waktu kamu cerita sebelum kakakmu tinggal di rumah. Kamu ingat waktu Mama tanya nama sahabat kamu?" Sefira mengangguk. Dia ingat tentang kejadian itu.Â
"Saat itulah, Mama baru tahu kalau Humai sahabat kamu. Mama dan Papa berusaha menutupi semuanya karena takut kamu kecewa sama kakakmu."
"Tapi Giska udah kecewa sampai sakit hati, Ma. Giska tahu sendiri itu lebih menyakitkan," ujarnya mengutarakan unek-uneknya.
"Mama tahu, Nak. Mama minta maaf," kata Mama Ayna dengan pelan.
Sefira menyugar rambutnya ke belakang. Ini adalah situasi yang sulit. Apalagi dia juga ingat perkataan kakaknya yang mengatakan bahwa Syakir sudah memiliki kekasih.Â
"Apa Kakak sudah tahu, kalau Humai mengandung anak kakak?"Â
Mama Ayna menggeleng. "Kakakmu belum Mama beritahu."
"Lalu Mama tahu darimana, jika Humai masuk rumah sakit?" tanya Sefira dengan penasaran.Â
"Semenjak kejadian itu. Mama minta mata-mata buat jagoan Humai dari jauh," kata Mama Ayna dengan serius. "Saat itu Mama yakin jika apa yang dilakukan kakak dan sahabatmu akan menghasilkan seorang anak."
"Mama takut Humai pergi. Mama takut Humai tak mau menemui Mama dan Papa lagi," ujarnya melanjutkan. "Lebih takutnya, Mama sempat berpikir Humai akan menggugurkan anak itu."Â
"Sahabatku bukan orang seperti itu, Ma. Dia adalah wanita yang kuat. Dia juga wanita yang mandiri. Dia tak pernah memilih apapun, tak pernah membedakan mau berteman dengan siapapun."
"Mama tahu. Maka dari itu, dulu Mama minta kakakmu bertanggung jawab," ucap Mama Ayna tanpa menutupi semuanya. "Mama percaya bahwa Humai adalah calon istri yang tepat untuk kakakmu."Â
Sejak pertama melihat bagaimana Humaira berperilaku, Mama Ayna sudah menaruh hati padanya. Meski wajahnya tak cantik tapi hatinya begitu bersih.Â
Setiap orang memiliki pandangan sendiri untuk mencari pendamping putranya. Mereka tak mau anak-anaknya salah memilih dan menjerumuskannya semakin dalam.
"Lalu kenapa Mama gak menikahkan mereka berdua?"Â Â
Mama Ayna menarik nafasnya begitu dalam. Dia merasakan bebannya sendiri semakin banyak menghadapi putra pertamanya. Namun, mengingat calon cucu yang ada dalam perut Humai, ada perasaan bahagia dalam dirinya.Â
"Humai tak mau, Sayang. Dia tak mau mempermainkan pernikahan. Apalagi Kakakmu waktu itu juga menolak," kata Mama Ayna mengadu.
Sefira menggeleng. Ini tak bisa dibiarkan. Anak itu tak bersalah dan dia tak mau keponakannya menjadi korban kejahatan keduanya.Â
"Tak ada kata menolak untuk sekarang, Ma. Ada sosok kecil di antara mereka berdua. Mau tak mau, suka tak suka, Kak Syakir harus tanggung jawab. Giska bakalan jamin, bahwa Kakak bakalan mau menikah dengan Humai."
~Bersambung
__ADS_1
Bagus, Fir. Kakakmu itu emang butuh digeplak kepalanya.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar ngetiknya makin semangat