Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Berdamai


__ADS_3

...Berdamai dengan masa lalu adalah cara terbaik untuk menghilangkan rasa dendam pada hati. ...


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Mama Emili tersenyum. Dia segera mengusap rambut putrinya itu. Putri yang diangkat oleh suaminya. Seorang anak yang menjadi korban sesungguhnya.


"Mama, " Kata Rachel lalu memeluk Mama Emili.


Entah kenapa perasaan Humai sedikit lebih tenang. Apalagi saat melihat Rachel sudah begitu tenang sekarang.


Apalagi tingkah lakunya pada Mamanya sudah seperti orang biasa saja. Saling peluk lalu hal tak terduga lainnya adalah saat Rachel mencium punggung tangan mama Emili dan Papa Hermansyah secara bergantian.


"Kak, " Lirih Humai pada suaminya itu.


Syakir menganggukkan kepalanya juga. Jujur dia juga terkejut dengan perkembangan Rachel. Mereka kira apa yang dikatakan kedua orang tuanya tak jauh seperti ini. Namun, ternyata faktanya jauh di luar ekspektasi.


Ya Rachel sudah seperti orang normal. Wanita itu bahkan bisa tersenyum dan peka dengan sekitarnya. Berbeda dari pertemuan terakhir mereka waktu itu.


"Dia benar-benar sembuh, Sayang, " Ujar Syakir dengan tersenyum.


Bukan kebahagiaan karena cinta yang Syakir rasakan. Tapi dia merasa bahagia melihat Rachel sembuh. Menurutnya kesembuhan wanita itu pasti membuat beban pada pundak kedua mertuanya akan sedikit terangkat.


Menurut Syakir, kesembuhan Rachel membuat Papa Hermansyah tak akan dihantui oleh rasa bersalah terus menerus dan hubungannya dengan Humai juga tak akan ada lagi perselisihan.


"Lihat siapa yang Mama bawa! " Kata Mama Emili lalu menggeser tubuhnya.


Akhirnya Rachel bisa melihatnya sendiri. Disana, berjarak beberapa langkah. Wanita yang dulu pernah dia maki, dia hina, di buat terluka bisa dirinya lihat lagi. Ya, Rachel benar-benar sudah sembuh.


Dia bisa mengatur pikirannya sendiri. Usaha Mama Emili dan Papa Hermansyah berhasil. Mereka merawat Rachel dengan kasih sayang. Tiap hari datang kesini dan meminta maaf membuat Rachel merasa menjadi anak yang diinginkan.


Hal itulah yang membuat mental Rachel yang rusak, merasa diabaikan akhirnya mulai terobati kembali.


"Rachel, " Panggil Humai dengan senyuman di bibirnya.

__ADS_1


Tanpa diduga. Rachel perlahan berjalan mendekati Humai. Begitupun sebaliknya. Humai juga berjalan dengan pelan.


Dua anak dengan masa lalu yang berbeda tapi sama-sama menyakitkan itu kini saling berhadapan. Tatapan keduanya saling beradu pandang. Seakan antara Humai dan Rachel ingin mengatakan sesuatu dari bibirnya.


"Maafkan aku! " Akhirnya hanya kata itulah yang keluar dari bibir Rachel.


Kalimat sakral yang tulus untuk pertama kali keluar dari bibirnya. Wanita itu benar-benar minta maaf pada Humai. Dia ingin berdamai dengan masa lalunya. Dia tak mau terus terjebak akan kesalahannya.


Jujur bayangan kejahatannya dulu di masa lalu terus terngiang di kepalanya. Maka dari itu wanita itu meminta bertemu dengan Humai. Dia ingin melakukannya langsung secara pribadi. Dia ingin mengatakan maaf sendiri agar rasa bersalah dalam dirinya perlahan menipis.


"Rachel! "


Tanpa diduga, Humai menarik Rachel dalam pelukannya. Dia memeluk wanita itu dengan hangat. Apapun masalah di antara keduanya di masa lalu. Kini masa depan sudah jauh berbeda.


Kini keduanya mulai berdamai. saling memaafkan dan saling berusaha membuka buku baru. Buku yang jauh lebih baik lagi, buku yang diisi dengan momen indah tanpa celaan. Buku yang diisi dengan kebaikan di antara mereka tanpa kebencian dan dendam.


"Aku sudah memaafkanmu, " Kata Humai dengan tulus.


Kedua tangan Rachel akhirnya terangkat. Dia membalas pelukan Humai dengan erat. Air mata itu mengalir tanpa permisi dari kedua sudut mata Rachel.


"Aku banyak salah sama kamu, Mai. Aku… "


"Jangan katakan apapun. Jangan diingat lagi, " Sela Humai lalu melepaskan pelukannya. "Buat masa lalu itu menjadi pelajaran hidup di antara kita berdua, Chel. "


"Mari kita berdamai. Mari kita hidup layaknya adik kakak yang baik. Aku ingin memiliki seorang kakak yang bisa menemaniku disini, " Kata Humai dengan jujur.


Ya apa yang dikatakan oleh Humai memang benar. Dia ingin semuanya kembali seperti semula. Hidup berdampingan dan bersama. Meski mereka bukan saudara kandung. Bagaimanapun saat detik dimana Papa Hermansyah mengambil Rachel sebagai anaknya. Mau tak mau, itu sudah jalan yang membuat keduanya menjadi saudara.


"Syakir maafkan aku, " Lirih Rachel dengan berjalan ke arah Syakir.


Wanita itu berdiri di depan Syakir. Rachel benar-benar menyesal telah memanfaatkan Syakir. Ya dia merasa telah membuang rp ia yang dulu rela melakukan apapun demi dirinya.


Dia menyesal telah membuang cinta yang tulus untuknya. Dia merasa sakit karena telah mengkhianati Syakir yang dengan rela mencintainya begitu baik.


Tapi sekarang, Rachel tak bisa melakukan apapun. Lebih tepatnya dia sudah ikhlas akan apa yang dijalaninya sekarang. Tak ada rasa cemburu pada Humai. Tak ada rasa ingin mengambil sesuatu yang bukan miliknya.

__ADS_1


Rachel merasa melihat Syakir bahagia sudah cukup untuknya. Dalam benak Rachel sekarang yang ada hanyalah dirinya ingin memperbaiki dirinya. Apa yang terjadi di masa lalu, dia ingin menjadi sosok yang jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Aku sudah memaafkanmu, " Balas Syakir dengan tulus. "Terima kasih sudah berjuang untuk sembuh, Chel."


Humaira tersenyum. Dia tak merasakan cemburu dengan perkataan suaminya itu. Apa yang dikatakan oleh Syakir memang benar. Dia merasa perjuangan Rachel melawan dirinya sendiri jauh lebih sulit.


Berada di titik ini dengan hal yang baru membuat Humai bangga pada saudara angkatnya itu.


"Oh ya. Rachel kenalin, " Kata Papa Hermansyah yang lupa akan satu hal. "Ini Jay, ponakan kamu dari Syakir dan Humai. "


Jantung Rachel berdegup kencang. Dia menatap Jay yang juga tengah menatapnya. Perasaan bersalah tentu begitu besar dalam diri Rachel.


Dia menyadari sesuatu. Kesalahannya membuat kehadiran anak yang tak berdoa menjadi korban. Ya Jay adalah hasil dari kejahatannya. Karena dirinya Jay hadir dan tak diinginkan oleh Syakir dulu.


"Halo, Tante. Aku Jay, anak tampan Ayah Syakir, " Kata Jay dengan mengulurkan tangan kecilnya.


Papa Hermansyah memang menurunkan Jay. Bocah kecil itu berdiri di hadapan Rachel dengan tangan terulur. Entah tanpa diduga, perlahan tubuh Rachel dia sejajar kan dengan Jay.


Wanita itu menatap lekat wajah Jay dengan seksama. Ya sebelas dua belas dengan Syakir menang dan itu membuat sebuah penyesalan baru dalam hatinya.


"Jay! " Panggil Rachel dengan pelan.


"Ya, Tante? "


Air mata Rachel luruh. Suara anak itu membuat Rachel sadar bahwa kejahatannya di masa lalu begitu besar. Tanpa kata dia memeluk Jay dengan pelan. Dia berusaha berdamai dengan pikirannya sendiri.


"Maafin Tante. "


Jay yang bingung menatap ibunya dengan lekat. Humaira membuat sebuah gerakan mengusap kepalanya dan membuat Jay menirukan hal itu.


Dia mengusap kepala Rachel dan membalas pelukannya.


"Jay maafin, Tante. "


~Bersambung

__ADS_1


Yey akhirnya gak ada konflik kan. Tinggal manis-manis aja deh hehehe. Masalah Adam juga udah kelar yekan. huhu


__ADS_2