
...Cintaku masih tertata rapi untukmu tapi bertemu diwaktu yang tak tepat dan dalam kondisi yang tak mendukung membuatku tak siap....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Humaira yang hanya duduk diam tak bergerak membuat Jay yang semakin tak sabar lekas mendongak untuk melihat keadaan mamanya. Begitupun dengan Jeno, pria itu juga menatap ke arah Humai yang sepertinya sedang terkejut seperti habis melihat hantu di siang bolong.
Dengan pelan, Jay menyentuh pipi ibunya agar tersadar dari lamunannya. Benar saja, tindakan yang dilakukan Jay berhasil membuat Humai terkejut.
"Kenapa, Bu?" tanya Jay disaat Humai telah menatap ke arahnya. "Ibu sakit?"Â
"Ah nggak!" ucap Humai dengan menggeleng. "Tapi itu, kepala Ibu sakit, Sayang."Â
Jawaban Humai yang ambigu membuat Jeno curiga. Apalagi melihat ekspresi Humai yang berbeda membuatnya paham pasti ada yang sedang ditutupi oleh mahasiswanya tersebut.
"Kalau kepala Ibu sakit. Yaudah kita pulang aja. Beli es krimnya kapan-kapan," kata Jay pada ibunya.
Humai mengangguk. Dia lekas menutup pintu sampingnya kembali lalu mencuri pandang ke arah kedai itu. Dia sudah tak bisa melihat sosok Syakir lagi. Namun, dengan mata kepalanya sendiri dia yakin tak salah lihat.
Dia yakin jika sosok yang ia lihat tadi benar mantan suaminya. Ayah kandung dari putranya.Â
"Ayo, Om! Kita pulang!" ajak Jay pada Jeno.
Lihatlah bocah dua tahun itu. Jay memilih menahan keinginannya karena ibunya sakit. Anak itu selalu pengertian dengan Humaira. Kumpulannya yang selalu bersama Oma, Opa dan para pelayan yang sudah dewasa tentu membuat pikirannya jauh lebih dewasa dari usianya.
Apalagi tingkah lingkungannya yang baik dan sama sering mengajak Jay mengobrol dan berbicara membuat bocah itu berkembang dengan sangat cepat.
"Apa kita perlu ke apotik dulu. Mungkin kamu ingin membeli obat?" ucap Jeno pada Humaira yang sedang memijat hidung bagian atasnya.
"Gak perlu, Pak. Di rumah sudah ada obat. Jadi lebih baik kita langsung pulang."Â
...🌴🌴🌴...
Saat sampai di rumah Humaira dan Jeno memarkirkan mobil perempuan itu di depan rumah. Dia lekas pamit langsung pulang. Jay tentu segera melambaikan tangannya saat Jeno mulai memasuki mobilnya yang ternyata telah berada di rumah Humai sejak tadi.Â
Saat mobil Jeno telah pergi. Akhirnya ibu dan anak itu lekas berbalik dan bersamaan dengan itu muncullah Mama Emili dan Papa Hermansyah dari dalam.
"Oma!" pekik Jay dengan bahagia.
"Hai, Cucu Oma. Udah puas main me rumah Kak Bia?" tanya Emili dengan meraih Jay dalam gendongannya.
__ADS_1
"Udah. Jay main sama Kak Bia," ujar Jay dengan mulai menceritakan apa saja yang sudah ia lewati di rumah Almeera.
Sedangkan Humai perempuan itu didekati oleh Papa Hermansyah saat istri dan cucunya mulai masuk ke dalam rumah.
"Bagaimana kalian bisa bersama Jeno, Nak?" tanya Papa Hermansyah yang memang melihat dari jendela dengan istrinya saat kedatangan putrinya.
Keduanya tadi hendak keluar. Namun, saat melihat Humai dan Jay keluar dari pintu samping kemudi membuat keduanya penasaran siapa yang menyetir kendaraan roda empat itu.
Ternyata keduanya semakin dibuat terkejut saat melihat sosok Jeno muncul dari sana.Â
"Iya, Pa. Tadi kami ketemu di toko roti. Terus Jay ajak Pak Jeno ikut," kata Humai dengan wajah yang seakan menanggung beban berat.Â
Papa Hermansyah mengerutkan keningnya. Selama dua tahun tinggal bersama membuatnya sangat tahu tabiat putrinya itu. Dia lekas mengangkat dagu Humai hingga pandangan ayah dan anak itu saling menatap.
"Ada apa, Nak? tanya Papa Hermansya yang sudah curiga lada putrinya.Â
Humaira menarik nafasnya begitu dalam. Perlahan air matanya menetes saat dia mengingat bagaimana sosok sang mantan suami yang ia lihat.
Bukan hanya itu, Syakir yang sekarang lebih kurus dari terakhir dia bertemu. Syakir yang sekarang benar-benar berbeda dari yang dulu.Â
"Aku bertemu Kak Syakir, Pa," lirih Humai yang membuat Hermansya terkejut.
Pria paruh baya itu menatap putrinya dengan pandangan tak percaya. Namun, melihat ekspresi Humai yang tak bercanda. Membuatnya mengerti jika putrinya sedang dalam mode serius.
"Di kedai es krim, Pa," kata Humaira yang mulai menceritakan semuanya.
Bagaimana milik mereka yang sampai di depan kedai es krim. Lalu bagaimana dia melihat sosok Syakir yang muncul dari depan mobilnya. Semuanya dia ceritakan pada papanya. Tak ada yang ditutupi sedikitpun. Humai benar-benar mengatakan semuanya dengan jujur.
"Awalnya Humai pikir itu hanya ilusi, Papa. Humai bahkan sampai usap kedua mata Humai. Namun, pikiran Humai semakin yakin jika itu Kak Syakir saat dia keluar bersama temannya dan memasuki kedai itu dengan jelas."Â
Hermansya terlihat menarik nafasnya begitu dalam. Dia juga diposisi yang sulit. Ia juga tak menyangka jika putri kesayangannya bertemu lagi dengan mantan suami yang kejam itu.
"Apa Syakir melihat kalian berdua?" tanya Papa Hermansyah dengan takut.
"Nggak, Pa. Humai gak turun. Humai lalu berasalan sakit kepala dan akhirnya Jay mau langsung pulang," kata Humaira menjawab.
Papa Hermansya terlihat sedikit lebih lega. Dia menghembuskan nafasnya dengan bebas saat mendengar pernyataan putrinya.
Entah kenapa pria paruh baya itu belum bisa memaafkan Syakir. Bahkan jika perlu, pria itu tak mau anaknya bertemu lagi dengan mantan suaminya. Kesakitan yang Syakir berikan. Luka yang pria itu lakukan pada Humaira menggores hati seorang ayah.
"Sekarang masuklah! Bersihkan dirimu, Nak. Dan jangan pikirkan dia lagi. Dia tak akan bisa menemukan kita disini!" kata Papa Hermansyah menenangkan.
__ADS_1
Akhirnya Humaira lekas masuk ke dalam kamarnya. Namun, rasa penasaran yang tinggi semakin membuat wanita itu penasaran. Bagaimana bisa Syakir ada di kota yang sama dengannya.
Tak mau berspekulasi lebih banyak. Humai lebih memilih menelpon kedua mertuanya yang terasa seperti orang tuanya sendiri. Dia ingin menanyakan langsung pada Mama Ayna dan Papa Haidar tentang kebenaran keberadaan Syakir.Â
"Ya, Halo, Nak?" sapa Mama Ayna saat Humai selesai mengucapkan salam.
"Apa kabar, Ma?"Â
"Mama baik," sahut Mama Ayna dengan tersenyum di layar ponsel itu. "Kamu sendiri gimana kabarnya?"Â
"Alhamdulillah Humai sehat juga, Ma," sahutnya dengan menunjukkan dirinya sendiri.
"Ada apa Humai menelpon? Apa ada sesuatu, Nak? Apa Jay sakit ?" tanya Mama Ayna yang tahu jika biasanya Humai mengabari dia jika Jay sedang sakit.Â
"Nggak, Ma. Jay baik-baik saja. Humai menghubungi Mama karena ingin menanyakan sesuatu," mata Humai terlihat ragu.
"Sesuatu tentang?" tanya Mama Ayna dengan pelan.
"Tentang Kak Syakir," ucap Humai yang membuat wajah Mama Ayna menegang. "Katakan pada Humai, Ma. Apa benar Kak Syakir ada di Jakarta?"Â
Mama Ayna masih bungkam. Wanita itu seperti bingung untuk menjawab.
"Mama kumohon! Jawab Humai, Ma!"Â
Terlihat Mama Ayna menarik nafasnya begitu dalam. Wanita itu seakan ragu untuk menjawab. Namun, mau disembunyikan pun kebenarannya memang begitu, lalu mau bagaimana lagi.
"Kak Syakir ada di Jakarta, Nak. Dia bekerja disana."Â
Jantung Humai mencelos. Dia merasa perasaannya tak karuan. Ada perasaan bahagia, senang tapi juga takut. Takut jika Syakir tahu keberadaan Jay maka pria itu akan merebutnya.
"Jadi benar. Pria yang kulihat itu adalah Kak Syakir. Ayah kandung putraku sendiri!"
~Bersambung
Ah kalau gini Humaira kira-kira mau sembunyi atau dia bakalam biasa aja.
BTW Next bab okelah. Yok kita temuin haha
Jangan lupa mampir ke karya temanku juga
__ADS_1
Blurb :
Seorang siswa SMA yang punya penyakit terbelakang mental bernama Soejono alias Jono hidup dengan kemiskinan yang terpaksa harus mencari nafkah untuk keluarganya dengan cara yang haram, sebagai pengedar narkoba untuk membeli obat untuk ibundanya yang sakit-sakitan, disamping itu ayahnya juga sudah lama wafat dan dia adalah anak pertama dari 4 bersaudara yang keseluruhannya juga terbelakang mental, Tak hanya itu dia juga harus dibully teman-temannya di sekolah, Alex Felixius si ketua geng di kelas XII Bahasa anak seorang pegawai Freeport yang kaya raya, dia selalu pamer dengan orang-orang di sekitarnya, dia musuh bebuyutan Jono dan dikenal sebagai trouble maker di setiap tempat, untungnya ada wanita cantik jelita bernama Salma yang tak tega melihat pengorbanannya, dan Salma pun akhirnya jatuh hati padanya