
...Ketahuilah melupakan kenangan yang sangat menyakitkan itu terasa sulit. Namun, mencoba berdamai dan menerima adalah jalan utama agar rasa sakit itu perlahan memudar....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Di sebuah rumah terlihat empat orang sedang duduk berhadapan. Wajah mereka terlihat begitu fokus dengan pembicaraan mereka. Di atas meja terlihat beberapa file putih dan berkas yang terjejer disana.
"Saya mau perceraian ini cepat ditangani dan selesai," kata Mama Ayna di hadapan pengacara terbaik suaminya.
Seorang pria paruh baya, dengan jas melekat indah di tubuhnya itu mengangguk. Dia merapikan berkas yang sudah disiapkan oleh keluarga Alhusyn.
"Jika berkas ini sudah naik ke pengadilan. Saya akan mengabari Anda, Nyonya Husyn," ujar pengacara itu dengan sopan.
"Baik. Terima kasih, Pak. Saya benar-benar menunggu berkas itu."Â
Mama Ayna tak mau menunda apapun lagi. Dia ingin menantunya itu segera terlepas dari segalanya. Dia juga tak mau membuat Syakir terus menjadi bayang-bayang Humaira.
Biarlah menantunya itu mengejar pendidikkannya di Jakarta, memperbaiki hidupnya dan menjadi sosok yang lebih baik. Dia ingin Humaira berubah. Bahkan wanita paruh baya itu ingin membuktikan pada putranya, jika Humaira adalah gadis yang bisa hidup tanpa dirinya.Â
"Saya pamit, Tuan, Nyonya. Saya akan melakukan pekerjaannya ini dengan cepat."Â
"Iya, Pak. Terima kasih atas kerja samanya," ucap Papa Haidar sambil menerima jabat tangan dari pengacaranya.Â
Setelah pengacara itu pergi. Mama Ayna mengusap air matanya yang menetes. Sebenarnya ini adalah bagaian tersulit dalam hidupnya. Mengurus perceraian putranya sendiri. Melihat bagaimana hancurnya anaknya yang sebentar lagi akan menyesali semuanya.
Namun, Mama Ayna dan Papa Haidar berpringsip. Manusia adalah tempatnya salah dan benar. Ketika dia sudah salah arah dan tak bisa diperbaiki. Maka biarkan apa yang ingin ia mau, kemudian pukul rata dengan kebenaran yang sudah mereka dapatkan.
Penyesalan terberat seorang yang khilaf adalah saat menemukan kebenaran. Saat mereka melihat bahwa apa yang selama ini mereka anggap benar ternyata salah dan apa yang dianggap salah ternyata benar.
"Ini berat buat Mama, Pa," lirih Mama Ayna yang menyandarkan punggungnya di sofa mewahnya.
Sefira yang sejak tadi duduk di sofa single segera pindah. Dia memeluk mamanya yang terlihat pucat. Sahabat Humaira itu tahu jika beberapa hari ini mamanya tak tidur dengan benar.
Banyak masalah yang wanita paruh baya itu pikirkan. Memikirkan anak pertamanya, memikirkan kelangsungan hidup menantu dan cucu pertama yang akan lahir ke dunia. Semua itu tentu menjadi beban di pundak dan pikiran seorang ibu dari dua orang anak tersebut.Â
"Mama harus yakin kalau ini terbaik untuk Kak Syakir, Ma. Ini juga terbaik buat Humaira," kata Sefira yang mencoba menguatkan.
Mama Ayna mengangguk. Perempuan paruh baya itu membuka matanya. Dia menatap putrinya dengan perasaan sedih. Entah kenapa dia berpikir kenapa Syakir tak berkaca pada adik perempuannya.
Bagaimana jika kisah Humai dirasakan oleh Sefira. Bagaimana jika nasib Humaira diposisikan pada Sefira. Hal itu tentu menyakiti dirinya juga bukan.
"Mama cuma bisa berdoa semoga Kakakmu kuat menjalani masa penyesalannya ketika semuanya terbongkar."Â
...🌴🌴🌴...
Di tempat yang berbeda, seorang perempuan tengah menatap ke arah luar pesawat. Awan yang putih dengan langit biru terlihat begitu jelas. Pemandangan yang diciptakan oleh Tuhan benar-benar mampu menghipnotis dirinya.
Dia merasa pemandangan ini adalah salah satu obat untuk penyembuhan hatinya. Ya, sejak tadi dia merasakan sesak di hati. Bukan karena takut tapi dia berpikir bagaimana kehidupan anaknya setelah ini.
__ADS_1
Tanpa papa?
Tanpa status keluarga yang utuh?
Tanpa kehidupan yang mampu dikatakan harmonis dan hangat. Humaira meneteskan air matanya. Bayangan kisah masa lalunya yang membuat dia menangis
Apa hidup putranya akan jauh lebih buruk dari dirinya?Â
Apa kehidupan putranya di masa depan, akan jauh lebih tersiksa dari dirinya.
Jika memang iya, Humaira berjanji akan menjadi sosok ibu dan ayah di waktu yang sama.Â
"Kakak." Panggilan itu membuatnya tersadar dari lamunannya.
Dia menoleh dan menatap salah satu menguatnya yang sedang menatapnya juga.
"Ada apa? Rein butuh sesuatu?" tanya Humai penuh perhatian.
Wanita itu sudah menghapus sisa air matanya. Dia menampilkan sebuah senyuman terbaik yang selalu dia berikan. Senyuman yang selalu dia lakukan ketika hatinya sedih.
Dulu memang sulit menyembunyikan kesedihan dibalik sebuah senyuman. Namun, lama tak lama, akhirnya itu menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan yang bisa dia lakukan agar orang disekitarnya tak khawatir dengan keadaannya.
"Jangan menutupi apapun dari Rein. Rein tau Kakak sedang berusaha bahagia," katanya begitu menusuk hati Humai.
Senyum itu surut tergantikan dengan mata berkaca-kaca. Ibu hamil itu mengingat jika ia tak bisa berbohong pada Rein.
Itulah kata manis yang membuat Humaira mengangguk. Dia bersyukur meski banyak ujian yang dia hadapi, tapi Tuhan berbaik hati dengan memberikan Rein di sampingnya. Setidaknya ia tak sendirian sekarang. Dia memiliki tangan yang mampu menggenggamnya dan melewati semuanya secara bersama-sama.
Akhirnya perjalanan panjang dari Malang dan Jakarta berakhir. Sepasang adik kakak itu mulai keluar dari pesawat yang membawanya ke kota besar ini. Mereka langsung disambut dengan cuaca panas yang sangat menyengat.
Suasana yang jauh berbeda dengan Kota Malang. Ditambah keadaan dan lingkungan yang pasti jauh juga dari kota mereka tinggal. Keduanya segera menuju ke tempat antrian barang. Dengan sabar mereka menunggu antrian koper miliknya.
"Kalau Kakak capek, duduklah dulu. Biar Rein yang menunggu disini," kata remaja itu yang kasihan dengan kehamilan Humai yang sudah besar.
"Gak papa. Kakak tunggu disini juga."Â
Akhirnya setelah hampir sepuluh menit menunggu. Mereka lekas membawa koper masing-masing. Mata Humaira mengedar. Dia mencari sosok yang akan menjemputnya. Sosok yang menjadi penasehat terbaik yang Humai miliki.
"Kak Humai!" panggil suara gadis kecil yang sangat dia kenal.
Kepalanya menoleh. Disana Humaira menatap sepasang keluarga bahagia yang menunggunya. Dengan langkah pasti, keduanya berjalan mendekati mereka.
Mata Humai langsung berkaca-kaca saat melihat wanita hebatnya membuka kedua tangan siap menerima pelukan darinya.Â
"Mbak Meera!" ucapnya dengan masuk ke dalam pelukan Almeera.Â
"Assalamualaikum, Humaira," sapa Almeera sambil mengusap punggung perempuan muda dalam pelukannya ini. "Selamat datang di Jakarta. Kota yang akan membawamu dalam kehidupan bahagia."
Humaira melepaskan pelukannya secara perlahan. Almeera lekas menangkup wajah ibu hamil itu dan menghapus air mata yang menetes.
__ADS_1
"Kamu hebat. Kamu ibu yang kuat. Keputusanmu ini sudah tepat, Mai. Tepat sekali," kata Almeera dengan senyuman menyemangati Humaira. "Kepergianmu akan membuatnya sadar bahwa kamu berarti untuk Syakir. Bahwa hadirmu adalah sebuah rumah ternyaman untuknya."Â
~Bersambung
Yuhuuu, yayaya 3 bab selesai yah. BTW aku cuma mau kasih info.
Jam updateku 09.00, 18.00 dan 21.00
Jadi kalian pantengin novel ini di jam jam segitu yah.
Oh ya sama mampir ke novek temanku yah.
Cuplikan di Bab: SEBUAH KEAJAIBAN.
Sesuai kesepakatan keesokan harinya, Dhanu dan Salwa pun menikah walaupun pada awalnya sangat sulit mengajarkan Dhanu untuk berijab qobul, dan selalu salah karena keterbatasannya. Namun kyai Zainal dengan sabarnya tetap membimbing Dhanu hingga pada akhirnya mereka di nyatakan sah!, oleh para saksi.
"Sekarang Wawa udah jadi istri Adan yaa.?" tanya Dhanu saat Salwa membawa Dhanu ke kamarnya, setelah tadi mereka menyaksikan kepergian Dharma yang tadi sempat menitipkan Dhanu pada Salwa dan Kyai Zainal.
"Iya mas Ardhan, sekarang Wawa, udah jadi istrinya Mas Ardhan." jawab Salwa lembut.
"Horree..horree..Adan sekarang punya istri.." sorak Dhanu sambil berjingkrak-jingkrak kesenangan, bak anak kecil yang baru mendapatkan hadiah.
Salwa tersenyum lucu melihat tingkah suaminya yang seperti anak-anak itu. " jangan loncat-loncat Mas nanti kamu jatuh." ujar Salwa dengan lembut.
"Iya Wawa, Adan nggak loncat lagi kok, tapi nanti kita main mobil-mobilan ya?" balas Dhanu dengan wajah polosnya.
"Iya Mas, nanti kita main mobil-mobilan ya." balas Salwa dengan senyum manisnya. " Tapi sekarang mas Ardhan bobo dulu ya," lanjutnya dengan nada lembutnya.
"Baiklah Wawa, Adan sekarang mau bobo, tapi Wawa jangan pergi ya?"
"Iya Mas, Wawa nggak kemana-mana kok."
"Asyiiik, ya udah deh Adan sekarang bobo, ya Wawa." kata Dhanu yang kemudian ia pun mulai memejamkan matanya
"Iya Mas, " balas Salwa masih lembut, namun baru saja Dhanu memejamkan matanya, ia sudah kembali membuka matanya lagi
"Wawa, Adan nggak bisa bobo, kalau nggak di giniin kepalanya Adan, kalau di rumah Bi Ijah giniin kepala Adan Wawa," kata Dhanu dengan wajah polosnya, sambil ia mengusap rambutnya sendiri dari kata giniin.
"Oh baiklah, sekarang Wawa usap-usap kepala Mas Adhan ya."
"Hu'um" balas Dhanu, yang kemudian ia kembali memejamkan matanya setelah Salwa membelai-belai lembut rambut Dhanu, sambil dia bersholawat, membuat Dhanu senang mendengarnya.
Begitulah keseharian mereka setiap harinya, walaupun Dhanu tahu kalau Salwa adalah istrinya. Namun ia memperlakukan Salwa hanya seperti teman bermain baginya, begitu juga dengan Salwa, yang dengan sabarnya ia mengurus dan menemani Dhanu bak seorang ibu yang mendidik anaknya. Hingga pernikahan mereka berusia dua minggu, sebuah keajaiban pun datang pada Dhanu.
Di dalam tidurnya Dhanu ia bermimpi bertemu seorang kakek-kakek, berjubah putih, serta memakai sorban putih, lalu sang kakek meletakkan tangannya di dahi Dhanu yang terlihat bingung melihat sang kakek, namun itu hanya sesaat karena tiba-tiba Dhanu melihat masa lalunya, dan ia juga melihat kejahatan sang tante yang menyebabkan kematian orang tuanya serta saudaranya, membuat hatinya menjadi sedih, bercampur dengan kemarahan.
"Sekarang kamu sudah sembuh nak, lakukanlah yang terbaik, untuk keluarga mu, juga selamatkanlah harta kamu, dan bawalah kejalan kebaikan."
__ADS_1