
...Jangan terlalu membenci seseorang karena kita tak pernah tahu rasa benci itu bisa berubah menjadi cinta....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Syakir langsung melajukan kendaraannya dengan cepat. Dia khawatir terjadi sesuatu pada mama atau adiknya karena Mama Ayna meminta dirinya ke rumah sakit.
Syakir juga mencoba menepis pikiran tentang pertengkaran hebat keduanya untuk pertama kalinya. Syakir benar-benar serius. Dia sudah lelah oleh semuanya. Lelah karena terlalu sering mengalah pada kekasihnya yang tak pernah menghargai dirinya.Â
Dengan lihai, pria itu membawa mobilnya. Dia segera membelokkan setir kemudi ke arah rumah sakit terbesar di Kota Malang. Tanpa menunda lagi, Syakir segera keluar dari kendaraannya yang terparkir rapi di halaman rumah sakit.
Dia melangkahkan kakinya memasuki gedung besar itu. Syakir segera mencari ruangan dimana mamanya mengirimkan pesan tadi.
"Apa ini?" gumam Syakir saat melihat salah satu ruang VIP yang pintunya tertutup.Â
Tak mau penasaran. Akhirnya Syakir mulai mendorong pintu itu lalu memasuki ruangan yang ia yakini benar.
Dan benar saja, 'bukan?
Dari tempatnya berdiri dia bisa melihat kedua orang tuanya duduk di sofa yang ada disana. Dia hendak melangkah ke arah Mama Ayna dan Papa Haidar. Namun, langkah kakinya terhenti saat sebuah suara memanggilnya.Â
"Kakak!"Â
"Giska?" sahut Syakir tak percaya.
Matanya semakin membulat saat adiknya sedang memegang mangkuk dan menyuapi sosok perempuan yang masih sangat dia hafal. Sosok yang selalu menjadi mimpi buruknya.Â
"Kau!" seru Syakir dengan marah. "Rencana apa lagi yang kau inginkan, Murahan!"Â
Sebuah tamparan mendarat di pipi Syakir dengan keras. Hal itu membuat Mama Ayna dan Papa Hadira terkejut. Lebih terkejutnya lagi yang menampar itu adalah Sefira.Â
Sosok adik yang selama ini terkenal lembut pada Syakir. Kini berubah menjadi seorang perempuan yang menatap kakaknya dengan marah.Â
"Giska?" seru Syakir yang terpanah akan tingkah adiknya. "Kamu jadi kurang ajar begini pasti karena dia, 'kan?"
"Kau memang…"Â
"Stop, Kakak!" seru Sefira sebelum kakaknya menghina sahabatnya.
Jujur Sefira terkejut dengan perkataan kakaknya yang sangat menyakiti. Jika sahabatnya dibilang murahan. Lalu hinaan apa yang pantas untuk pria yang sudah memperkosa gadis tak bersalah dan tak sadarkan diri?Â
Sebutan apa yang pantas untuk kakaknya?
__ADS_1
"Jangan menghina orang, jika Kakak yang melakukan kesalahan!"Â
"Kakak gak salah, Giska. Dia menjebak Kakak!" bela Syakir tak mau kalah. "Otakmu sudah teracuni olehnya. Dia itu mata duitan."Â
"Kakak!" seru Sefira dengan marah.Â
Dia menunjuk wajah Syakir dengan tatapan terluka. Syakir bisa melihatnya. Dia bisa melihat tatapan kecewa adik kesayangannya kepadanya.Â
"Aku tahu siapa, Humai. Dia sahabatku. Sahabatku!" seru Sefira dengan keras.
"Dia adalah sahabatku yang aku kenalkan pada, Kakak. Dia lah orang yang Kakak katakan tulus berteman denganku. Tak memandang harta!" seru Sefira dengan keras. "Jangan lupa! Kakak sendiri yang mengatakan itu saat aku menceritakannya."
Telak.
Syakir merasa tertampar. Dia jadi sadar ketika adiknya menceritakan sosok sahabatnya yang berteman dengan Sefira tak pernah mau naik mobil, di antar atau diajak ke rumah mewah mereka.Â
"Kakak sendiri yang bilang dia berbeda dengan gadis yang lain. Dia sahabat yang hebat. Lalu kenapa sekarang mulut Kakak begitu pedas menghinanya, hah?"Â
Syakir tak bisa berbicara apapun. Pria itu seakan kalah telak dengan ucapannya sendiri.
"Kenapa diam? Kakak malu sudah? Atau Kakak masih berpikir mencari alasan apalagi untuk menghina sahabatku?"Â
Mama Ayna dan Papa Haidar hanya bisa menatap keduanya dalam diam. Mereka tak mau ikut campur karena yang tahu permasalahan antara keduanya hanya Syakir dan Sefira.
Mereka juga tahu jika tamparan yang diberikan Giska pada Syakir karena rasa kecewa pada kakaknya. Mereka sangat tahu bagaimana Giska yang sangat menyayangi kakaknya selama ini.Â
"Dia melempar dirinya sendiri ke ranjang Kakak."
"Dia dijebak," seru Sefira tak mau kalah.
"Dijebak?" ulang Syakir sambil terkekeh. "Kamu sama seperti Mama dan Papa. Sudah terpengaruh oleh wajah lugunya."
"Ya. Kami sudah terpengaruh dan kami sadar mana yang harus dibela dan disalahkan!" balas Sefira tak mau kalah. "Kakak harus tanggung jawab!"Â
Sefira tak mau menunda apapun. Dia tak mau kakaknya terburu-buru pergi sebelum semua permasalahan ini selesai.
"Gak!"Â
"Kakak! Dia…" seru Sefira menunjuk Humai yang sejak tadi menunduk. "Dia hamil anak, Kakak."Â
"Apa!" Jantung Syakir berdegup kencang.
Dia menatap Humai tak percaya. Rasa bencinya semakin kuat dan dalam.
__ADS_1
"Dia hamil anak Kakak dan Kakak harus tanggung jawab!"Â
"Yakin itu anak Kakak?" kata Syakir dengan menatap Humai penuh hinaan. "Atau jangan-jangan dia…"Â
"Jangan lanjutkan perkataanmu, Syakir!" kata Mama Ayna menyela. "Jangan sampai kau mengatakan bahwa dia terbang kesana kemari dan mengaku hamil anakmu."
Mama Ayna benar-benar tak percaya pada anak pertamanya. Syakir sudah sangat jauh dari didikan mereka.Â
"Dia masih perawan ketika kau ambil kehormatannya. Dia juga selalu dalam pantauan Mama dan Papa. Jadi jangan bilang dia main gila di belakangmu."Â
"Mama mulai pertama, ada dipihaknya. Yang jadi anak Mama ini aku atau dia?"Â
"Kalian berdua," seru Mama Ayna dengan tegas. "Kalian berdua anak Mama. Mama hanya ingin kamu tanggung jawab, Nak. Dia adalah cucu pertama keluarga kita."Â
"Gak!"Â
Sefira tak putus asa. Dia perlahan mendekati Kakaknya dan memegang tangan Syakir.
"Kakak gak lupa, 'kan? Kakak punya adik perempuan," kata Sefira dengan pelan. "Bagaimana kalau kejadian seperti Humai terjadi padaku? Bagaimana kalau aku yang diperkosa oleh pria lain dan dia tak mau tanggung jawab. Aku yakin Kakak pasti marah?"Â
"Tentu. Kamu sangat berharga dari apapun, Giska! Jangan samakan kamu dengannya!" seru Syakir dengan menatap adiknya marah. "Kamu itu sangat Kakak jaga!"Â
"Tapi penjagaan Kakak akan lemah jika takdir Tuhan sudah berkata untukku. Bagaimana jika karma Kakak jatuh pada Giska?"Â
"Jangan bilang karma hanya karena wanita itu, Giska. Tak akan ada karma di dunia ini," seru Syakir dengan tegas. "Apapun alasannya Kakak tak mau tanggung jawab. Titik!"Â
Pria itu akhirnya berbalik. Namun, saat dia hendak mencapai pintu ruang rawat Humai. Seruan Papanya membuat tubuhnya tertahan.
"Jika kamu tak mau bertanggung jawab dan menikahi Humaira. Maka seluruh harta Papa akan Papa berikan pada anakmu ini. Jangan harap kamu mendapatkan warisan Papa sepeserpun, Syakir," kata Haidar dengan tegas. "Keluarlah sekarang dan pergi dari ruangan ini jika kau ingin semua asetmu Papa tarik!"
Tangan Syakir terkepal kuat. Giginya gemeretak menahan amarah yang hampir meledak. Dia tak percaya jika orang tuanya malah membela gadis cupu dan murahan itu daripada dirinya.
Syakir segera berbalik. Dia menatap Papa dan Mamanya yang menatap ke arahnya dengan tegas. Lalu dia menatap ke arah Sefira yang menatapnya dengan rasa kecewa yang besar.Â
Jika seperti ini, tak bisa dibiarkan. Syakir tak akan membiarkan wanita pelacur itu mengambil hak miliknya.
"Baik. Syakir mau bertanggung jawab dan akan menikahinya," ujar Syakir dengan tegas.
Matanya menatap sosok Humai yang sama-sama menatapnya. Syakir menatap benci ke arah wanita cupu itu. Dia sangat menyesal dengan kejadian laknat tersebut.
Aku akan membuat hidupmu menderita sampai kau yang memilih pergi dari duniaku. Kau adalah penghancur masa depanku dan aku sangat membencimu, batin Syakir dengan kemarahan menggebu.
~Bersambung
__ADS_1
Masih semangat bacanya? Karakter Humai emang masih kalem karena emang pembawaan tapi percayalah kalau udah ada anak, pasti bakalan mulai terbentu singa dalam diri Humai.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.