
...Akhirnya setelah benang merah itu tertarik. Aku mulai sadar bahwa ternyata aku adalah salah satu alasan yang membuat seorang anak perempuan menjadi patah hati karena cinta pertamanya....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Setelah mengatakan itu. Humai lekas melepaskan tangan Sefira yang memegang tangannya. Dirinya juga menguatkan kedua kakinya untuk melangkah meninggalkan tempat yang membuat hatinya hancur akan segalanya.
Dirinya mulai sadar bahwa menjadi salah satu kunci kejahatan yang Rachel lakukan. Ia menjadi tahu apa yang dirasakan oleh teman kuliahnya itu.
Dirinya yakin jika Rachel melakukan semua itu karena kecemburuan kepadanya. Akan dirinya yang merasa bahwa Humai adalah kunci yang membuatnya diabaikan.
Dengan langkah berat dan penuh kekecewaan. Humai mulai berjalan meninggalkan papa dan mamanya serta Sefira. Dia melangkah dengan mengabaikan panggilan dari semua orang.
"Humai. Dengarkan Papa, Nak. Papa minta maaf!" panggil Papa Hermansyah yang masih bisa didengar oleh Humaira.
"Mai!"
"Putri Papa!"
"Maafkan aku, Pa. Humai sulit untuk menerima kebenaran ini," lirihnya dengan mulai menapaki tangga menuju lantai dua.
Hanya satu tempat yang membuatnya tenang. Kamarnya lah yang menjadi satu pelampiasan akan segalanya. Dirinya lekas masuk ke sana dan mengunci pintu kamar.
...🌴🌴🌴...
Sedangkan di lantai pertama. Mama Emili bisa melihat suaminya yang terlihat begitu terluka. Dia mulai menangkap semua penjelasan ini. Dia mulai memetik satu per satu kejadian yang membuatnya mengerti apa yang dilakukan oleh suaminya sebenarnya untuk kebaikannya.
Namun, suaminya itu juga salah. Dia tak memberikan apa yang seharusnya didapat oleh Rachel dan membuat gadis itu besar tanpa kasih sayang.
Sefira sendiri yang tak kuasa melihat bagaimana lemahnya papa dari sahabatnya itu memilih untuk pergi. Dia meninggalkan kedua orang tua Humai dan masuk ke dalam rumah.
Papa Hermansyah menyugar rambutnya ke belakang. Ada air mata di kedua matanya yang mengalir. Dia merasa hancur saat putri tunggalnya begitu kecewa padanya.
Saat melihat Humaira menatapnya dengan kemarahan. Saat melihat Humaira melampiaskan segala kesakitan padanya.
"Papa," lirih Mama Emili yang tak tahu harus melakukan apa.
__ADS_1
Disatu sisi dia marah pada suaminya. Di satu sisi dia juga ingin bersama putrinya. Tapi, Mama Emili sadar, suaminya pasti butuh dirinya. Suaminya pasti ingin sandaran dan hanya dirinya yang bisa memberikannya.
Mama Emili hanya bisa berharap untuk putrinya. Semoga Humai bisa memahami semuanya. Semoga putrinya itu bisa berdamai dan memikirkan dengan kepala dingin.
Dia percaya Humai tak akan melakukan hal apapun. Dia percaya Humai tak akan melakukan hal gila hanya karena masalah ini.
"Maafkan Papa, Ma. Papa menyesal," kata Papa Hermansyah dengan memegang kedua tangan istrinya.
Dia menggenggam tangan itu dan menciumnya dengan tulus. Hal itu tentu membuat Mama Emili bisa merasakan air mata yang menetes di kedua tangannya.
"Ayo bangun!" ajak Mama Emili dengan lembut.
Papa Hermansyah yang berlutut di lantai tentu mulai beranjak berdiri. Dia mulai mengikuti langkah kaki istrinya yang menggandeng dirinya dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Papa duduk disini!" kata Mama Emili membantu suaminya duduk di sofa yang tersedia disana.
Mama Emili memperlakukan suaminya dengan baik. Terlepas apa yang sudah Papa Hermansyah lakukan. Dirinya sadar suaminya ini adalah orang yang memikirkan segalanya.
Papa Hermansyah adalah orang yang bertanggung jawab. Bisa dilihat dari kinerjanya di perusahaan yang membuat semua orang bangga kepadanya.
Namun, mungkin masalah ini. Masalah yang terjadi karena situasinya begitu sulit dan berbeda dulu. Masalah yang dihadapi semakin berat.
Namun, ternyata dugaan Papa Hermansyah salah. Bukannya sembuh, istrinya itu semakin sakit dan membuatnya harus ekstra lebih banyak fokus pada istrinya.
Mama Emili masih ingat, meski dia gila. Dia sadar bahwa orang yang sering ia lihat dulu adalah suaminya itu. Orang yang sering menemaninya di rumah sakit jiwa adalah wajah suaminya itu.
"Papa minum dulu," ujar Mama Emili lalu membantu suaminya untuk minum.
Dia mencoba menenangkan perasaan suaminya. Membuat suaminya merasa nyaman sebelum menceritakan semua kepadanya.
"Kemari," kata Mama Emili membuka kedua tangannya.
Papa Hermansyah mulia merangsek masuk ke pelukan istrinya. Dia memeluk Mama Emili dengan erat dan meletakkan kepalanya di leher sang istri.
Dengan perlahan, akhirnya Papa Hermansyah mulai melampiaskan segalanya dalam pelukan sang istri. Dia mulai menceritakan semuanya. Apa yang dia lakukan lada Rachel tak ada yang ditutupi.
"Saat itu Papa hanya fokus pada Mama. Papa memberikan tanggung jawab Rachel pada pengasuh. Papa juga jarang ada di rumah karena urusan bisnis dan pekerjaan."
__ADS_1
"Papa tahu saat itu Papa salah. Tapi entah kenapa Mama dan Hymai selalu membuat Papa ingin memantau keadaan kalian berdua dengan kedua mata Papa sendiri."
"Dari hal itu. Papa salah arah. Papa tak punya sandaran. Papa hanya egois memikirkan urusan Papa dan lupa jika di rumah ada Rachel kecil yang butuh Papa."
Mama Emili hanya diam. Dia mengusap punggung suaminya dengan lembut. Dirinya hanya ingin suaminya mengatakan beban yang memenuhi hatinya.
Dia ingin Papa Hermansyah melepaskan semua itu dan menceritakan semuanya.
"Maafkan Papa, Ma. Maafkan Papa yang egois. Papa adalah orang tua yang gagal," kata Papa Hermansyah setelah menceritakan semuanya.
Mama Emili menggeleng. Perlahan dia menjauhkan tubuhnya dari sang suami. Menangkup kedua sisi wajah yang tak lagi muda itu. Dengan pelan dia menghapus air mata yang mengalir dan memberikan kecupan lembut di bibirnya.
"Mama tahu Papa adalah sosok yang bertanggung jawab," kata Mama Emili akan sarat yang besar dalam perkataannya. "Mama percaya bahwa Mama menikah dengan kepala rumah tangga yang tak pernah gagal akan dirinya."
"Tapi Papa telah gagal, Ma," kata Papa Hermansyah dengan kepala hendak menunduk.
"Tatap Mama, Pa!"
Papa Hermansyah mendongakkan kepalanya. Dia menatap kedua mata istrinya dengan lekat.
"Ini belum terlambat, Pa. Semua ini bisa diperbaiki," ujar Mama Emili dengan pelan. "Papa masih bisa menebus semua kesalahan yang Papa lakukan."
Mama Emili berujar dengan serius. Dia yakin akan keputusannya ini. Dirinya hanya ingin semua keluarganya tak terpecah belah dan semua itu akan kembali lagi ketika satu per satu masalah selesai.
"Maksud, Mama?"
"Temui Rachel, Pa. Datangilah gadis itu dan minta maaf. Dia adalah korban Papa. Korban keegoisan Papa di masa lalu."
Papa Hermansyah terkejut akan ucapan istrinya. Dirinya sampai membelalakkan matanya tak percaya.
"Jadi maksud, Mama. Papa harus ke Malang?"
"Ya. Papa harus menyelesaikan semuanya sebelum semuanya semakin melebar dan anak kita menjadi sosok yang tak percaya pada cinta pertama dalam hidupnya. Cinta yang sangat dia tahu tak akan pernah menyakitinya."
~Bersambung
Yang minta cepet kebucinan, cepet halal. Tenang pasti terkabul. Tapi kita selesain dulu masalah ini. Dari kemarin pas enak enak bucin, pada tanya Rachel Adam. Sekarang udah part mereka pada minta uwu uwuw.
__ADS_1
Lama-lama aku kabur aja lah haha.