
...Ternyata bukan hanya mereka yang berjuang yang mendapatkan kebahagiaan. Tapi mereka yang menjaga diri juga pasti menemukan kebahagiaannya. ...
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Hari itu juga, bukan hanya di keluarga Humai yang bahagia. Di rumah utama keluarga Syakir, terlihat dua pasang keluarga yang tengah melakukan sarapan pagi bersama.
Ya, Papa Hermansyah meminta keluarga Jeno untuk tinggal di rumahnya. Dia juga ingin menghabiskan waktunya bersama teman masa lalunya itu karena memang sudah banyak sekali waktu yang dilupakan keduanya.
Hal itu tentu membuat Sefira dan Jeno merasa bahagia. Keduanya selalu bertemu dan berkencan tanpa harus keluar rumah.
"Apa rencana kalian jadi hari ini? " Tanya Papa Haidar pada putri dan calon menantunya.
"Jadi, Pa. Kak Jeno langsung ajak cari gaun pengantin, " Kata Sefira menjawab.
"Baiklah. Lakukan semuanya dengan cepat oke tapi jangan lupa sesuai keinginan kalian, " Ujar Mama Ayna pada Sefira.
Sebagai seorang ibu, dia sangat tahu bahwa putrinya itu banyak kemauan. Dia juga paling tak bisa untuk memilih sesuatu yang menurutnya indah.
Sefira selalu ingin membeli semuanya. Dia selalu ingin memiliki semuanya ketika apa yang dilihat menurutnya sangat amat bagus dan begitu luar biasa.
"Iya, Ma. "
"Lalu urusan berkas? " Tanya Jeno pada calon mertuanya.
"Tinggal Papa ajukan hari ini, Jeno. Semua berkas kamu lengkap karena Mama dan Papamu sudah siapin semua dari Jakarta, " Ujar Papa Hermansyah menjawab.
Kedua orang tua Jeno memang sudah diberikan pesan oleh Jeno. Agar mereka membawa berkas untuk persiapan jika memang ingin menikah dalam waktu dekat.
Bagaimanapun Jeno sendiri tak mau menunda terlalu lama. Dia ingin segera menjadi pasangan halal karena apapun itu, yang telah bersatu di mata Tuhan akan jauh lebih berkah menurutnya.
"Baiklah, Pa. "
"Lalu untuk urusan dekorasi? " Tanya Sefira yang juga menatap mereka para orang tua.
"Mama sama Mama Mei sudah mencari referensi, Nak. Hari ini mereka akan datang ke rumah. Jadi kalian jangan lama-lama cari gaun dari mahar untuk nikah. Oke? "
"Siap, Ma. "
Semuanya memang dilakukan dengan cepat. Kedua pasangan ini tentu tak mau ketinggalan juga. Keduanya sama-sama ingin segera halal. Keduanya ingin hubungan mereka tak main-main dan berakhir dalam keputusasaan.
__ADS_1
Bagaimanapun mereka bukan anak remaja lagi. Mungkin usia mereka masih bisa disebut anak muda. Namun, bagaimanapun menghindari hal-hal yang buruk harus dilakukan sekarang.
Setelah acara sarapan selesai dan Sefira siap dengan dandanannya. Akhirnya pasangan kekasih itu mulai pamit pada kedua orang tuanya.
Mereka mulai masuk ke dalam mobil dan dengan cepat Jeno segera mengendarai kendaraan itu dan meninggalkan halaman pelataran rumah Sefira. Kedua pasangan itu memang sedang dilanda jatuh cinta yang sangat besar.
Tangan keduanya saling menggenggam antara satu dengan yang lain. Wajah mereka tentu tak pernah lepas dari senyumannya. Seakan hari ini adalah awal dimulai perjalanan mereka.
"Jangan terus natap aku, Kak. Aku gak bakal ke mana-mana, " Kata Sefira yang merasakan pipinya bersemu merah.
Ah calon suaminya ini memang paling bisa membuatnya salah tingkah. Meski pria itu sedang menyetir tapi bisa-bisanya Jeno mencuri pandang untuk melihat ke arahnya.
"Emangnya gak boleh? " Tanya Jeno dengan memajukan wajahnya lebih dekat.
Lampu lalu lintas telah berubah merah. Mau tak mau, semua kendaraan berhenti dan membuat Jeno bisa menggoda calon istrinya itu. Entah kenapa menurutnya melihat Sefira yang malu-malu menjadi satu kebiasaan terbarunya.
Kebiasaan lucu yang menggemaskan menurutnya dan wajah calon istrinya itu selalu ingin dia cubit jika sedang memerah seperti ini
"Boleh tapi… " Jeda Sefira sambil menatap ke luar. "Gak aman buat jantung. "
Sefira melanjutkan perkataan itu dengan pelan. Namun, keadaan mobil yang hening tentu suara itu mampu didengar oleh Jeno.
Bibir Jeno tak berhenti melengkung ke atas. Dirinya juga merasa dirinya sendiri hampir gila. Jujur ketika mencintai Humai, dia tak pernah seperti ini. Tapi entahlah, kenapa ketika bersama Sefira. Dia merasakan hal yang berbeda.
Akhirnya Jeno mengalah. Dia tak mau Sefira merasa tak nyaman. Perjalanan kembali berlanjut dan adik Syakir itu yang menjadi pemberi arah menuju sebuah galeri gaun pernikahan tempat dimana langganan dirinya dulu jika ada pesta.
"Itu, Kak. Disana!" Kata Sefira menunjuk sebuah toko besar yang memang seorang desainer terkenal dan langganan Sefira dan keluarga.
Jeno segera memarkirkan mobilnya dengan begitu rapi. Lalu pria itu keluar lebih dulu dan dengan manis dia membukakan pintu untuk Sefira.
Perlakuan itu tentu membuat Sefira merasa terharu. Ternyata sikap Papa dan kakaknya menurun pada calon suaminya ini. Percayalah, Sefira adalah seorang anak dan adik yang selalu dimanja oleh kakak dan ayahnya.
Terlepas dari kejadian masa lalu. Dari semua masalah yang menimpa kakaknya. Syakir selalu memberikan apapun yang Sefira minta.
"Selamat datang, Sefira! " Sapa seorang manusia yang jalannya begitu centil dan suaranya tentu terdengar cempreng.
"Halo, Tante," Sapa Sefira dengan begitu ramahnya.
Saat orang itu sudah membuka tangannya dan hendak memeluk Sefira. Jeno, pria itu lekas menarik tangan calon istrinya ke belakang dan menerima pelukan dari wanita jadi-jadian.
Ah bisa dibilang waria sepertinya. Body seperti pria, suara pria yang dibuat secantik mungkin. Penampilan sangat amat seksi bak nyonya besar tapi tak menutup kenyataan bahwa dia adalah pria.
__ADS_1
"Oh, Pria Tampan. Badanmu seksi sekali! " Katanya yang membuat Jeno bergidik ngeri.
Sefira yang ada di belakang Jeno hanya mampu menahan tawanya. Melihat calon suaminya yang begitu posesif tapi membuatnya ada di posisi begini juga rasanya begitu lucu dan menggemaskan.
"Emm dimana pemilik galeri ini? "
"Oh, Tampan. Jahat sekali tak mengenalku. Nih akyu disini yang punya gaun-gaun cantik ini, " Ujar pria itu dengan begitu tampan dan menunjuk semua gaun yang ada disana.
Jeno merasa kesusahan menelan ludahnya. Dia tak menyangka jika mengobrol dengan pemiliknya sendiri. Namun, kenapa harus modelan seperti ini. Jeno merasa takut dan juga rasa was-wasanya keluar.
"Udah jan melamun. Eyke tau, eyke ini cantik sekali, bukan? "
Jeno tak bisa berkata apa-apa lagi. Dan Sefira, wanita itu tak hentinya menahan tawa. Dia
harus beraksi sekarang. Sebelum calon suaminya itu mengeluarkan kalimat garangnya.
"Ayo, Tante. Kita lihat model gaun pernikahannya, " Ajak Sefira yang muncul dari belakang tubuh Jeno.
"Ah kenapa terburu-buru, Cantik? "
"Mama bilang akan ada WO ke rumah. Jadi kami diminta cepat pulang, " Kata Sefira dengan begitu sopannya.
"Ah baiklah. Untukmu, kemari! "
Pria dengan pakaian wanita itu menarik tangan Sefira. Di menggandeng tangan adek Syakir dan membuat Jeno yang kalah cepat membulatkan matanya.
"Sayang! " Rengek Jeno ah kode bayi manja keluar.
Sefira menahan langkah pria yang merupakan kenalan mamanya itu.
"Tante biarkan aku menggandeng calon suamiku, yah? " Bisik Sefira begitu pelan.
"Memangnya kenapa, Cantik?" Tanya waria itu dengan sama berbisik.
"Calon suamiku kalau lagi cemburu makin garang. Aku takut kalau galeri Tante bakalan diobrak-abrik! " Kata Sefira menakut-nakuti dan membuat pria berpenampilan wanita itu bergerak ngeri.
Dia menatap Jeno dengan waspada. Tapi lilitan tangannya pada lengan Sefira dilepaskan.
"Baiklah. Jagalah si tampan itu, Cantik. Jangan sampai galeriku dibakar olehnya! "
~Bersambung
__ADS_1
Ini masih banci dah mode posesif. Gimana kalau yang ganteng yang liat, hahaha.