
...Perkataan benar akan selalu tertutup dengan perkataan salah jika rasa benci telah menyelimuti hatinya....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya setelah mengatakan itu, Syakir segera masuk ke dalam rumah. Dia mulai melihat beberapa orang menarik koper miliknya.
"Jangan menyentuh barangku sedikitpun!" kata Syakir dengan nada dingin. "Biar aku sendiri yang akan menatanya."Â
Akhirnya pelayan yang disewa mamanya mengangguk. Mereka segera menarik koper milik Humai dan beberapa peralatan Rumah yang akan dibereskan.Â
Syakir tentu langsung meletakkan dua kopernya lagi di tempat semula. Kemudian dia mengambil kunci mobil karena ia ingin keluar.
Dengan senyuman cerah pria itu memutar kunci di tangannya. Dia melewati Humai yang saat itu hendak masuk ke dalam rumah.
"Kamu mau kemana, Kak?" tanya Humai dengan penuh kelembutan.
"Ck!" Syakir mendengus.
Dia membalikkan tubuhnya dan menatap Humai dengan kesal. Ia adalah sosok paling tak suka diatur. Apalagi ditanyai bak anak kecil yang mau main.
"Bukan urusanmu aku mau kemana!" seru Syakir menunjuk wajah Humai.
"Itu menjadi urusanku!" kata Humai dengan pelan. "Kalau Mama menelpon, Humai harus menjawab apa."Â
Ah wanita hamil ini memang pandai memikirkan segala cara untuk tahu kabar dan dimana suaminya berada. Jujur meski pernikahan ini karena terpaksa atau adanya anak. Humai masih sah dan halal menanyakan suaminya ingin pergi kemana. Dia takut jika terjadi sesuatu dengan Syakir. Maka Humai bisa datang menolongnya dengan cepat.Â
Sedangkan Syakir, pria itu mulai mencerna ucapan Humai. Apa yang dikatakan gadis cupu itu benar. Jika jawabannya dengan Humai sama, maka mamanya tak akan curiga jika sebenarnya dia akan pergi bersama sang kekasih.
"Aku mau ke apartemen ambil berkas kantor!"Â
Setelah mengatakan itu, Syakir lekas berbalik. Dia memasuki mobil miliknya dan segera meninggalkan rumah Humai.Â
Kendaraan yang sudah tak terlihat itu, membuat senyuman di bibir Humai terbit. Setidaknya dia tahu kelemahan Syakir yaitu orang tuanya. Jadi dia bisa tahu kemana suaminya pergi, jika memakai alasan itu.
Dengan pelan, Humai mengusap perutnya. Dia merasa anaknya nyaman tinggal disini.
"Mulai sekarang Adik harus berjuang sama Ibu yah. Kita berusaha ambil hati Ayah pelan-pelan."Â
...🌴🌴🌴...
Di tempat lain.
Syakir yang sudah sampai di apartemen miliknya. Segera memasuki tempat dimana banyak sekali kenangan di sana. Entah kenangan manis atau pahit semuanya ada disini.
Dia tersenyum saat melihat sepatu heels kekasihnya sudah ada disana. Dengan langkah lebar, Syakir berlari ke lantai dua dan lekas membuka pintu kamarnya.
"Sayang," panggil Syakir dengan suara sedikit berteriak.
"Ya?" sahut seorang perempuan dari dalam kamar mandi.
__ADS_1
Syakir lekas berjalan ke arah kamar mandi. Dia mengetuknya dengan pelan.
"Kamu mandi, hmm?"Â
"Iya, Sayang. Kenapa?" tanya wanita itu dengan suaranya yang manja.
"Ikut!"Â
Wanita itu terkekeh. Rachel membuka sedikit pintu kamar mandi dan menyembulkan kepalanya disana.Â
"Mau apa kamu, Sayang?" tanya Rachel dengan nada menggoda.Â
"Ikut kamu mandi!"Â
"Boleh," sahut Rachel dengan mulai berani.Â
Dia sedikit menunjukkan kakinya yang jenjang keluar dari pintu hingga sebagian tubuhnya hampir terlihat oleh mata Syakir
Sebagai pria normal, Syakir menelan ludahnya melihat sebagian tubuh Rachel yang sangat menggoda. Buah dada besar dengan lekukan tubuh yang indah. Namun, tiba-tiba bayang-bayang tubuh wanita berkulit eksotis memutar di kepalanya dan membuatnya lekas menggelengkan kepala.
Bisa-bisanya aku membandingkan tubuh kekasihku dengan gadis cupu itu, umpat Syakir dalam hatinya.Â
"Ada apa, Sayang?" tanya Rachel khawatir.
"Gak ada, Sayang."Â
"Jadi ikut mandi?" god Rachel mengedipkan matanya manja.
"Lain kali saja. Tiba-tiba aku merasa pusing, Sayang."Â
Rachel pura-pura cemberut. Dia memonyongkan bibirnya dan membuat Syakir merasa bersalah.
"Jangan ngambek dong! Nanti aku cium habis ini bibir."Â
"Biarin!"Â
Syakir lekas mencium bibir Rachel. Dua manusia itu berciuman dengan panas sampai akhirnya saat tangan Rachel menyentuh senjatanya dari luar celana membuat Syakir lekas melepas ciuman mereka.Â
"Kamu cepetan mandi, Sayang. Jangan lama-lama nanti dingin!"
Rachel mengangguk. Dia segera menutup pintu kamar mandi kembali. Sedangkan Syakir merebahkan dirinya di atas ranjang. Entah kenapa dia merasa pikirannya sudah terdoktrin oleh gadis Cupu itu.
Setiap ia ingin melakukan dengan Rachel. Bayangan wajah Humai pasti datang menghantui. Hingga tak lama Syakir mulai tertidur. Dia memang merasa lelah.Â
Sampai entah sudah berapa lama dia tertidur. Tiba-tiba Syakir terbangun saat sebuah pelukan datang memeluk tubuhnya. Dia tersenyum saat kekasihnya menyembunyikan wajahnya di leher Syakir.Â
"Ada apa hmm?"Â
"Aku merindukanmu, Sayang," bisik Rachel dengan manja.Â
Syakir perlahan membuka matanya. Dia mengusap punggung kekasihnya dengan lembut.
__ADS_1
"Aku juga merindukanmu."Â
Rachel perlahan mengangkat wajahnya. Pandangan keduanya bertemu sampai Syakir tiba-tiba duduk dengan Rachel di pangkuannya.
"Pipi kamu kenapa, Sayang?" tanya Syakir dengan marah. "Siapa yang sudah menamparmu?"Â
Jujur tadi Syakir tak terlalu memperhatikan wajah kekasihnya. Apalagi wajahnya yang basah dan ada bekas busa sabun hingga membuatnya tak bisa melihat dengan jelas.
Rachel perlahan menangis. Dia memeluk tubuh Syakir dan membuat pria itu semakin marah sekaligus khawatir.
"Katakan padaku, siapa yang melakukan ini?"Â
"Mamamu, Sayang," ujarnya yang membuat Syakir terkejut.Â
Pria itu melepaskan pelukan kekasihnya dan menangkup kedua sisi wajah Rachel.Â
"Bagaimana bisa? Bagaimana bisa Mama menamparmu?"Â
"Semua itu karena istrimu itu!"Â
"Istri?" seru Syakir tak percaya.
"Ya. Istrimu itu teman kuliahku. Aku menyapanya saat dia di restaurant. Tapi tiba-tiba dia caci maki aku di hadapan umum," ujar Rachel dengan meneteskan air mata. "Aku membela diri dong. Pas aku mau ngelawan. Mama kamu datang dan tampar aku. Dia bilang jangan ganggu menantunya."
Tubuh Syakir menegang. Emosinya mulai berkumpul di kepalanya. Dia bahkan sampai mengepalkan tangannya sampai kukunya memutih karena terlalu menahan emosinya.
"Dia memang harus diberi pelajaran, Sayang!" seru Syakir dengan marah.
"Jangan. Nggak perlu, Sayang. Aku takut Mamamu semakin membenciku!" rengek Rachel dengan marah. "Atau dia pasti mengadu pada Mamamu dan mengatakan kalau ini ulahku."Â
Syakir menggeleng. Dia menangkup kedua wajah kekasihnya dengan mengusap pipi yang masih meninggalkan bekas merah walau mulai memudar.Â
"Dia tak akan berani mengadu, Sayang. Aku harus memberinya pelajaran!" seru Syakir dengan kemarahan yang besar.
"Jangan terlalu jahat kepadanya, Sayang. Kasihan!" kata Rachel dengan lembut.
Syakir menggeleng. "Kamu terlalu baik buat dia. Lihat ini!"Â
"Kamu ditampar dan kamu masih bisa baik sama wanita itu?" seru Syakir tak habis pikir. "Dia itu jahat dan licik."
"Mungkin dia ingin mendapatkan kamu, Sayang. Itu saja!"Â
"Nggak. Itu mimpi bualan dia. Aku cuma punya kamu, Sayang."Â
Rachel mengangguk. Dia tersenyum dengan hati yang bersorak gembira. Akhirnya rencananya berhasil. Dia tak perlu mengotori tangannya sendiri jika melalui kekasihnya ia bisa melakukan semuanya.
"Aku tau, Sayang. Kamu milikku seorang."Â
~Bersambung
Hah kira-kira Syakir mau ngelakuin apa ke Humai nanti?
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.