
...Teman terbaik adalah sosok yang selalu ada disaat suka maupun duka. Disaat sedih ataupun senang dan ketika kita mendapatkan hal bahagia makan mereka juga ikut bahagia. ...
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Humaira dan Syakir adalah bukti bahwa sebuah cinta memang harus diperjuangkan. Keduanya adalah bukti bahwa kegagalan yang pernah terjadi bukan akhir dari hidup seorang manusia.
Gagal atau tidak. Berhasil ataupun tidak. Setiap manusia memiliki hak untuk berubah. Seberapa banyak dosa yang mereka lakukan. Seberapa buruk tingkahnya di masa lalu. Mereka memiliki kesempatan untuk berubah menjadi sosok yang lebih baik.
Tak ada kata terlambat berubah di dunia. Kapan pun itu jika kalian sudah serius untuk berubah maka lakukanlah.
"Kak, " Panggil Humai setelah tak ada pembicaraan di antara keduanya.
Mereka menikmati pelukan dengan perasaan lega, jantung berdegup kencang dan suasana hati yang tak bisa dijabarkan.
"Ya? "
"Ayo kabarin Mbak Meera sama Mas Bara, " Ujar Humai yang membuat Syakir melepaskan pelukannya.
Ya dia hampir melupakan sahabatnya ini. Sahabat yang memang pernah menyakitinya. Sahabat yang ikut menyembunyikan keberadaan istri dan anaknya.
Namun, Syakir akan sadar sesuatu. Jika tak ada mereka mungkin istri dan anaknya juga akan terlantar di Jakarta. Mungkin jika tak ada sahabat dan istri sahabatnya. Humai mungkin sudah bunuh diri sejak lama.
"Bagaimanapun mereka adalah saksi kita berdua. Saksi bagaimana aku dulu hidup tanpamu, " Lirih Humai dengan matanya memandang lekat wajah calon suaminya.
Kepala Syakir mengangguk. Hal itu tentu membuat Humai tersenyum bahagia. Keduanya lekas masuk ke dalam rumah karena ponsel Humai memang ada di dalam.
"Kalian gak mau makan dulu? " Tegur Mama Emili saat hampir menyusul keduanya ke taman belakang
"Nanti aja, Ma. Humai masih mau kabarin Mbak Meera dulu, " Kata Humai bercerita.
"Ah iya. Mama hampir lupa juga buat ngasih tau itu, " Kata Mama Emili yang ternyata punya niatan untuk memberikan kabar pada wanita yang menjadi penolong putrinya.
Bagaimanapun Mama Emili sudah menganggap Meera seperti putrinya sendiri. Kebaikan wanita itu apda Humai membuatnya begitu sayang pada ibu empat anak tersebut.
"Yaudah. Humai sama Kak Syakir telfon mereka dulu ya, Ma. "
"Oke, Sayang. "
Keduanya lekas berjalan bergandengan tangan menuju kamar Humai. Tak ada yang bisa menutupi kebahagiaan mereka. Senyuman lebar terus tersemat di kedua sudut bibirnya.
Baik Syakir ataupun Humai sudah sangat tak sabar pada hari yang akan dinanti. Hari dimana mereka akan kembali bersama. Merajut mimpi yang sempat tertunda dan menciptakan keluarga bahagia untuk mereka, untuk Jay dan untuk anak mereka yang lain.
Dibukanya pintu kamar itu oleh Humai dan dia lekas mengambil ponselnya sebelum keduanya duduk di sofa yang ada di depan kamar Humai.
__ADS_1
"Kamu punya nomernya, Sayang? "
"Ya, ada dong, Kak. Biasanya Humai selalu kabar-kabaran sama Mbak Merra, " Jawab Humai yang lekas melakukan panggilan video.
Dia letakkan ponsel itu di atas meja dan keduanya duduk di atas karpet. Keduanya lekas menunggu sambungan panggilan yang sudah berdering. Hingga tak butuh lama, akhirnya layar ponsel itu menampakkan wajah Meera di sana.
"Assalamualaikum, Mbak, " Kata Humai sambil melambaikan tangannya.
"Waalaikumsalam, " Sahut Meera dengan wajah yang tak kalah bahagia.
"Maaf gangguin Mbak Merra," Kata Humai tak enak hati. "Pasti lagi gangguin waktu Mbak Merra berduaan, kan? "
Almeera terkekeh di seberang telepon. Humaira bisa menebak jika apa yang dikatakannya benar. Dan tak lama, muncullah wajah Bara disana. Wajah pria yang terlihat begitu kusut seakan bangun tidur.
"Tau aja kalau kamu ganggu, Main, " Goda Bara yang membuat Almeera memukul suaminya itu dengan pelan.
"Bukan Humai yang ganggu tapi kamu, Mas, " Kata Almeera yang membuat Humaira tertawa.
Dia merasa bahagia melihat hubungan Almeera dan Bara. Pasangan suami istri itu selalu hidup rukun dengan baik. Cinta keduanya juga sama besar. Bisa dilihat dari setiap perlakuan di antara keduanya. Humai menyadari bahwa mereka saling membutuhkan satu dengan yang lain.
"Lihatlah, Mai. Kau tetap yang pertama untuk istriku dan aku disingkirkan, " Kata Bara mendrama.
"Hehehe ampuni saya, Mas. Cinta Mbak Meera pada kita berdua itu berbeda, " Kata Humai yang semakin mencairkan suasana.
"Gimana kabar kamu sama keluarga, Mai? Jay kecil juga? "
"Alhamdulillah. Kami semuanya sehat. Anak-anak juga makin sehat dan aktif, " Jawab Almeera yang membuat Humai mengangguk.
Syakir memang belum muncul di layar. Dia malah duduk di samping Humai dengan tangan bermain di perut Humai dan mengusapnya dengan telapak tangan.
"Apa ada keinginan nambah momongan? " Tanya Humai bercanda.
"Wah ide bagus, Mai. Kamu pinter juga! " Jawab Bara bersemangat.
"Ide bagus kamu, Mas. Aku mah ogah! "
"Emang pikiran lu, anak mulu, Bae! " Celetuk Syakir yang membuat pasangan suami istri yang hendak adu domba di seberang layar itu menoleh.
Mata keduanya membulat sempurna saat melihat sosok Syakir muncul di samping Humai. Wajah Bara dan Almeera saling tatap dengan kebingungan.
"Kalian bersama? "
Syakir tanpa malu meletakkan tangannya di pundak sang calon istri. Dia mendekatkan tubuhnya dan memberikan kecupan singkat di pipi Humai.
"Kak, " Kata Humai yang terkejut dengan aksi calon suaminya itu
__ADS_1
"Biar mereka tahu kalau bukan mereka aja yang bisa romantis, Sayang, " Kata Syakir dengan melirik ke arah Almeera dan Bara.
"Dihh! " Cibir Bara memutar matanya malas. "Aku juga bisa."
Bara dengan posesif mencium pipi Humai tanpa malu. Tentu dua pasangan sahabat ini adalah pria bucin yang saling memamerkan kemesraan mereka.
"Kak Syakir! "
"Mas! "
Humai dan Almeera saling menenangkan pasangan mereka. Keduanya yakin jika tak ada yang mengalah maka aksi keduanya makin menjadi.
"Lu gak kau kalah! " Kata Bara pada sahabatnya.
"Lu juga! " Cibir Syakir yang membuat Humai dan Almeera pusing akan tingkah keduanya.
Akhirnya dua wanita itu mengambil ponsel mereka agar wajah keduanya saja yang tersorot di layar.
"Aku menghubungi Mbak Meera karena ingin menyampaikan kabar, Mbak, " Kata Humaira memulai.
"Kabar apa? " Tanya Almeera dengan wajah penasaran.
Perlahan Bara dan Syakir yang mulai tenang, diberikan celah kembali. Akhirnya keduanya mulai melakukan video call dengan wajah setiap pasangan terlihat di layar ponsel itu.
"Tiga hari lagi kami berdua akan kembali menikah, Ra. Kalian datang yah, " Kata Syakir dengan semangat.
"Alhamdulillah," Kata Almeera dan Bara bersamaan.
Pasangan suami istri itu terlihat ikut bahagia. Bahkan keduanya sama-sama mengusap wajah mereka seakan sebagai tanda syukur.
"Do'ain terbaik buat kami berdua ya, Mbak, " Kata Humai dengan mata yang berkaca-kaca.
Suasana baru tentu terasa di sana. Baik Almeera atau Bara mereka juga bahagia dengan kabar baik ini.
"Tentu. Kami akan mendoakan kalian. "
"Oh iya. Titip salam buat Reno ya, Bar. Gue gak ada kontak dia. Nomor orang-orang pada hilang di ponsel gue."
"Pasti. Gue kabarin Reno bentar lagi, " Sahut Bara dengan mengangguk.
"Kami menikah di Malang, Mbak. Kami sudah ada disini sejak kemarin. Jadi kami menunggu kabar Mbak Merra dan Mas Bara yah. Nanti kirimkan pesan jika sudah ada disini. Kalian bisa tinggal di rumahku yang waktu itu, " Kata Humai yang mendapatkan acungan jempol dari Merra.
"Kami akan menyiapkan tiket kesana. Bagaimanapun aku tak mau melewatkan kesempatan ini. Aku akan menjadi bukti bahwa cinta kalian bisa kembali menyatukan kalian berdua."
~Bersambung
__ADS_1
Yang kangen sama mereka berdua. Sama pasangan panas dan bucin semoga terobati rindunya yah. Aku juga kangen sama mereka haha.