
...Hidup yang kita jalani adalah sebuah pilihan. Ketika kita udah memilih jalan berkelok maka kita harus siap dengan segala rasa lelah untuk melaluinya....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
"Kau darimana saja, Mai? Kenapa ponselmu tidak aktif?" seru Sefira saat ponsel itu telah dekat dengan telinganya.
"Aku sangat khawatir padamu. Aku takut terjadi sesuatu," lanjutnya dengan nada bicara yang terdengar khawatir. "Aku bahkan mau menyusulmu jika telepon ini tak diangkat oleh Kak syakir."Â
Ada perasaan hangat yang menghinggapi dada Humai. Dia tak sendirian di dunia ini. Dirinya masih memiliki orang yang sangat menyayanginya dengan tulus.
Masih ada orang yang perhatian dan khawatir dengan keadaannya. Itu saja sudah menjadi bukti bahwa dia masih diberi penyemangat hidup. Bukan hanya anak dan adiknya saja tapi ada adik iparnya juga.Â
"Mai bicara dong! Kamu sakit?"Â
"Aku baik-baik," katanya dengan menahan tangis.Â
"Eh kok nangis? Jangan sedih dong, Mai. Kamu mau aku kesana?"Â
Humai mendadak panik. Jika Sefira benar kemari maka akan terjadi perang dunia kedua antara saudara kandung.
"Nggak perlu, Fir," kata Humai dengan perasaan tenang.
Dia takut jika ia panik maka Sefira akan semakin curiga pada keduanya.
"Aku baik-baik aja disini, Adik Ipar. Aku terlalu banyak tidur aja mangkanya teleponnya gak diangkat."Â
"Oh," sahut Humai setelah mendengar penjelasan Humai. "Lain kali hubungi aku balik kalau udah bangun. Aku bingung mau kasih kabar ke Mama kalau beliau tanya kamu."Â
"Beri nomorku saja Mama Ayna, Fir. Biar beliau langsung hubungi aku.".
"Ide bagus!" sahut Sefira dengan cepat. "Aku akan mengirimkan nomormu pada Mama."Â
"Nah bener."Â
"Kamu sudah makan, 'kan?" tanya Sefira penuh perhatian.Â
"Sudah!" sahut Humai dengan mata menatap sosok Syakir yang kembali berdiri di dekat jendela.Â
"Kamu?"Â
"Udah juga, Mai," sahut Sefira dengan cepat.
"Oh ya. Aku harus ke kampus dulu ya, Mai. Aku nanti bakal telpon kamu lagi. Okey?".
Ada sesuatu yang tercubit dalam hatinya. Humai merasa mendengar kata kampus membuatnya ingat tempat dimana dia menimba ilmu. Tempat dimana dia sekolah dengan uang hasil kerjanya sendiri.Â
Namun, saat ini semua itu hanya tinggal angan. Itu hanya mimpi yang sudah ikut terkubur dengan kejadian naas tersebut.
"Bye, Mai.".
__ADS_1
Sebelum Humai menjawab. Entah kapan Syakir pindah, pria itu sudah merampas ponselnya. Dia menatap Humai dengan tajam.
"Bagus! Lindungi rahasia ini atau anakmu yang akan mendapatkan balasan."Â
...🌴🌴🌴...
Akhirnya waktu terus beranjak naik. Suasana ruangan terasa sangat sepi karena Syakir sedang fokus mengerjakan pekerjaan kantornya. Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dan muncullah sosok tak asing yang baru saja dia kenal.
"Assalamualaikum," ucap Bara, Almeera, Bia dan Abraham serentak.
"Waalaikumsalam," sahut Syakir dan Humai bersamaan.
Almeera tersenyum tulus saat melihat Humaira sudah duduk menyandar di sisi ranjang dengan wajah yang tak sepucat kemarin.
"Mbak," ujar Humai sambil menggenggam tangan Meera. "Terima kasih banyak udah nyelametin aku dan anakku."Â
Humaira benar-benar tulus mengatakan terima kasih. Dia tak bisa membayangkan jika waktu itu tidak ada Almeera yang menahan dirinya. Sudah dipastikan pasti akan terjadi sesuatu pada anaknya karena guncangan yang kuat itu.Â
"Sama-sama. Yang terpenting sekarang kamu harus lebih berhati-hati," balas Almeera sambil menggenggam tangan wanita itu.
Almeera menatap sedih saat menurutnya bobot Humaira terlalu kurus untuk seusia ibu hamil. Dia bisa membayangkan bagaimana tekanan batin wanita di depannya ini.Â
Hamil yang seharusnya mendapatkan limpahan kasih sayang, perhatian dan cinta. Namun, tidak dengan Humaira. Perempuan itu harus kuat di pundaknya sendiri.Â
Menerima perlakuan suami yang tak mau mengakuinya sebagai istri. Lalu entah kejadian apa lagi yang ada di belakang mereka sebelum dia dan Bara datang kesini.Â
Almeera hanya berharap semoga Syakir tak menyesal. Almeera juga berdoa semoga anak ini tak menjadi korban dari keegoisan sahabat suaminya itu.Â
Almeera menoleh ke belakang. Dia melihat kedua anaknya duduk dengan tenang. Lalu Syakir mulai memakan makanan yang ia bawa sambil mengobrol dengan suaminya.
"Sudah," balas Meera sambil memandang lekat wanita muda di depannya.Â
"Kumohon jangan memojokkan Kak Syakir, Mbak. Aku sendiri tahu pasti dia terpaksa melakukan ini semua."Â
Almeera menggeleng. "Tak ada yang terpaksa untuk sebuah pernikahan."Â
"Menikah itu di hadapan Tuhan. Disaksikan oleh para keluarga kita yang mendoakan agar pernikahan anak dan menantunya bahagia. Tak Ada yang namanya menikah karena terpaksa ataupun belum siap. Semua itu sudah takdir yang harus dijalani," ujar Almeera menjelaskan.
"Tapi untuk kejadianku, Mbak…"Â
"Dengerin Mbak, 'yah! Kamu mau menikah karena alasan apapun. Entah anak atau dijodohkan. Itu tak menjadi alasan atau hak suami kamu melampiaskan semuanya sama kamu. Tak ada perintah Syakir melakukan kejahatan padamu di dalam rumah kalian. Sekalinya dosa tetap dosa! Apa yang Syakir lakukan itu sudah menyakiti hati kamu, Humai."Â
Humaira menunduk. Penjelasan Almeera begitu menusuk hatinya. Bahkan mata wanita itu hamil itu mulai berkaca-kaca membenarkan setiap kalimat yang keluar dari bibir wanita yang ada di depannya ini.Â
"Tapi aku sadar diri, Mbak. Aku jelek, aku jerawatan yang bakalan bikin malu Kak Syakir. Aku sangat buruk untuk mereka semua," kata Humaira dengan menangis. "Jika mereka membully aku, aku ikhlas. Tapi jika ada yang membully dan mempermalukan Kak Syakir. Aku gak rela, Mbak!"Â
Almeera menatap bangga wanita di depannya ini. Hati Humaira benar-benar tulus. Disaat wanita itu yang berhak marah pada Syakir tetapi dia lebih memilih menjaga kebaikan suaminya.
Disaat dia butuh tameng dari teman-temannya. Pembullyan yang diterima Humaira di kampusnya. Namun, tak sekalipun membuatnya mengadu pada Syakir. Wanita itu benar-benar menguatkan dirinya sendiri dan mentalnya. Menjaga nama baik suaminya dari banyak orang.
Insecure pada wajahnya sendiri!Â
__ADS_1
Mendoktrin dirinya jelek karena memiliki wajah jerawat membuat Humaira selalu berusaha menerima segala perlakuan Syakir kepadanya. Â
"Kamu wanita hebat, Hum." Almeera lekas menarik tubuh wanita itu dalam pelukan.
Mengusap punggung Humaira yang mulai bergetar karena tak kuat. Memang sebenarnya ia butuh sandaran untuknya saat ini. Lalu bertemu dengan Almeera ternyata membuatnya memiliki teman seakan rasa saudara. Betapa baiknya Almeera membuat Humaira tak sungkan untuk bercerita.
"Kalau kamu gak kuat, jangan maksain diri sendiri, Humai," kata Almeera mulai melepas pelukannya.
Dia menatap mata wanita di depannya. Merangkum wajahnya dengan lembut hingga tatapan mereka saling bertaut.
"Jangan takut sendirian. Ada anakmu disini menemanimu," kata Meera menyemangati sambil mengelus perut Humaira. "Kalau Syakir tetap menyakitimu, pergilah menjauh! Jangan memaksa untuk bertahan di sisi Syakir jika itu menyakiti kamu dan membahayakan anak-anakmu. Karena sekarang prioritas anak yang kamu kandung adalah hal utama daripada harus selalu mengutamakan diri Syakir yang tak pernah menghargaimu."Â
~Bersambung
Nah nah, kalian bisa nebak gak? Ntar Humai beneran pergi atau gak?
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.
...🌴🌴🌴...
Mampir juga ke novel temanku guys
Judul: perjalanan mistis si kembar
penulis: Meidina
Eps14 (mengenali bau).
dari sebrang jalan rumah mereka, ada mahluk yang menyeringai karena panggilan dari Faraz.
sosoknya yang begitu seram dengan wajah penuh berbelatung, dan begitu banyak borok di lengan, tubuh dan wajahnya.
bahkan rambut hitam panjang yang acak-acakan, panjangnya sampai menyentuh tanah.
pay*d*r* yang menggelantung sampai sepaha, mahluk itu adalah Wewe gombel yang sering menculik anak-anak.
"errg..." suara mahluk itu yang tak bisa mendekat.
sedang dari dalam rumah, Arkan berdiri di depan pintu dan bisa melihat sosok seram itu sedang melihatnya.
Aryan meminta semua mengambil air wudhu untuk sholat dan Arkan akan berjaga terlebih dahulu.
"idih... Nini Wewe, ngapain di situ masih Magrib woi, mending minggir we," kata pocong yang selalu mengikuti Raka.
"diam..." suara Geraman itu terdengar menakutkan.
"jadi hantu jangan goblok ya, kamu gak akan bisa masuk, orang itu ada pagar ghaib, dan di dalam rumah itu bukan anak yang bisa kamu ganggu, jika tak ingin mati konyol, ha-ha-ha-ha," ledek pocong gosong itu.
"kamu saja yang pergi, aku ingin membawa mereka," kata Wewe gombel itu dengan marah.
__ADS_1
tapi baru juga menabrak pagar gaib tangan mahluk itu terbakar, pocong itu pun tertawa melihat tingkah wewe gombel bodoh itu.