
...Diratukan oleh pria yang mencintai kita adalah sesuatu yang sudah bertahta paling tinggi dari keindahan dunia. ...
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Sefira benar-benar tak bisa menahan tawanya semenjak keluar dari kamar Humai. Dia menutup mulutnya saat melihat bagaimana aksi sahabat dan kakaknya yang kepergok anaknya sendiri. Wajah Syakir dan Humai sangat amat menggemaskan dan membuat Sefira rasanya ingin merekam tingkah keduanya tadi.
Dengan pelan gadis itu berjalan menuju ke lantai bawah. Dia ingin melihat dimana kekasihnya itu berada saat ini. Hingga saat Sefira mulai berjalan ke arah taman samping rumah. Tempat dimana kakaknya melaksanakan akad nikah.
Bibir Sefira tersenyum hangat. Dia berdiri di pintu pembatas antara rumah utama dan taman. Punggungnya ia sandarkan di pintu dengan mata menatap ke arah Jeno yang tengah membantu membereskan deretan kursi yang tengah dibersihkan oleh beberapa WO yang ada disana.
Dia merasa bersyukur memiliki Jeno. Pria yang tak pernah merasa malu atau apapun. Bahkan menerima kekurangan dirinya dengan begitu lapang dada.
"Udah tampan, manis lagi, " Kata Sefira sambil tertawa sendiri.
Dia tak munafik. Calon suaminya itu memiliki wajah yang sangat amat manis dan menawan. Rupanya yang begitu tampan membuat siapapun akan jatuh cinta. Hidungnya yang mancung, kulitnya yang putih benar-benar memperbaiki keturunan dirinya menurut Sefira.
"Gak usah diliatin mulu. Gak bakal ilang, " Bisik Mama Ayna yang membuat Sefira terkejut.
Wanita itu lekas menegakkan tubuhnya. Dia menoleh ke samping dan tersenyum malu-malu saat melihat mamanya memergoki tingkahnya yang sedang dimabuk cinta.
"Mama, " Lirih Sefira dengan malu-malu.
"Emang gitu kalau lagi bucin. Kanan kirinya aja udah gak tau. Cuma bisa mandang satu arah, " Goda Mama Ayna yang semakin membuat pipi Sefira bersemu merah.
Gadis itu segera melingkarkan lengannya di lengan sang Mama. Lalu dia meletakkan kepalanya di bahu mamanya dengan malu-malu. Jujur dipergoki seperti itu tentu membuatnya tak nyaman. Namun, mau mengelak pun percuma.
"Kamu mencintai Jeno, Hm? " Tanya Mama Ayna yang membuat Sefira mendongak.
"Tentu, Ma. Kenapa Mama tanya seperti itu? " Tanya Sefira dengan kening berkerut.
"Gak ada. Mama hanya ingin tahu saja, Nak. Karena bagaimanapun, Jeno adalah cinta pertamamu. "
Sebagai seorang ibu. Mama Ayna juga mengkhawatirkan putrinya ini. Bagaimanapun dia juga takut jik akarma putranya akan jatuh pada putrinya itu. Ketakutan-ketakutan itu tentu terus terbayang di kepala Mama Ayna yang membuatnya super duper ekstra hati-hati di kisah putrinya itu.
__ADS_1
"Do'ain Sefira ya, Ma. Semoga Kak Jeno jodoh pertama dan terakhir Sefira, " Kata gadis itu dengan penuh harap.
Sefira juga berharap lebih. Namun, gadis itu juga sudah menyiapkan mental dan kekuatan pada dirinya. Bagaimanapun takdir di depan kita tak ada yang tahu. Siap tak siap, kita harus menyiapkan diri agar menjadi sosok yang tangguh di setiap takdir yang akan kita jalani.
"Tentu, Nak. Mama selalu do'ain yang terbaik buat kamu. "
Pembicaraan keduanya berhenti saat melihat Jeno berjalan ke arah keduanya. Mama Ayna lekas pamit untuk pergi karena melihat kekasih anaknya itu sudah melihat keberadaan Sefira.
Jeno tersenyum begitu hangat pada Sefira. Dia mengusap kepala gadis itu saat sudah berdiri di depannya.
"Sudah selesai? "
"Sudah, Kak. Jay sudah bersama orang tuanya, " Ujar Sefira menjawab.
Jeno mengangguk. Dia mengulurkan tangannya hingga keduanya mulai bergenggaman tangan. Jeno mulai membawa Sefira menuju ke tempat dimana suasana disana mulai sepi.
Entah kenapa perasaan Jeno merasa khawatir dan gelisah. Dirinya benar-benar ingin mengatakan semuanya dengan jujur. Dirinya ingin Sefira tahu bahwa dia pernah mencintai Humaira.
Jeno tak mau ini memiliki jadi bumerang untuknya. Dia ingin jujur dan Sefira mengetahui semuanya. Itu adalah masa lalunya dan masa lalu itu sudah tak berguna lagi untuknya.
Jeno mengajak duduk di sebuah taman yang berada di samping kiri rumah. Taman yang lebih kecil karena memang hanya dihuni oleh kolam ikan. Keduanya duduk disana dengan sang pria menggenggam tangan sang wanitanya.
Jujur Jeno berusaha menenangkan dirinya. Melihat bagaimana hubungan Sefira dan Humaira, membuat Jeno berpikir jika calon istrinya wajib mengetahui tentang dirinya dan Humaira.
Dia tak mau suatu saat nanti itu menjadi pusat masalah setelah keduanya menikah. Jeno tak mau itu terjadi karena dirinya, hatinya dan seluruh jiwa raganya benar-benar mencintai Sefira apa adanya.
"Ada apa, Kak? " Tanya Sefira dengan gugup.
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu, Sayang, " Ujar Jeno mencoba memulai pembicaraan.
"Soal? " Tanya Sefira dengan kening berkerut.
Hati Sefira masih tenang. Tak ada kecurigaan apapun. Bahkan wajah wanita itu benar-benar begitu santai.
"Soal masa laluku, " Lirih Jeno dengan pelan.
__ADS_1
Dia tahu keduanya hidup di masa sekarang. Jeno sadar seharusnya dia tak perlu mengatakan masa lalunya. Namun, pria itu berpikir jika ini penting diketahui oleh Sefira.
Mereka dalam satu lingkup. Mereka dalam satu keluarga. Dia tak mau hubungan ini terpecah belah suatu saat nanti karena kesalahpahaman.
Sefira sendiri masih diam. Dia menunggu apa yang akan dikatakan oleh calon suaminya. Wajah Jeno terlihat begitu tegang hingga membuat tangan gadis itu terulur dan mengusap rahang tegas Jeno.
"Sebelum mencintaimu. Aku pernah mencintai wanita lain, Sayang," Kata Jeno memulai. "Aku pernah menyatakan cinta padanya. "
"Lalu? " Tanya Sefira masih dengan sikap tenangnya.
"Tapi cintaku langsung ditolak olehnya. Dia mengatakan bahwa dia tak pantas untukku dan dia tak mencintaiku, " Lanjut Jeno bercerita. "Dari sana aku mulai sakit hati. Tapi aku menerimanya dengan ikhlas. Bahkan aku mencoba berdamai dengan masa lalumu dan dia? "
"Sampai akhirnya aku menemukanmu. Aku berhasil memulai semuanya dari awal. Aku berhasil mengatakan pada dunia dan membuktikan bahwa cintaku sudah sepenuhnya milikmu," Kata Jeno yang membuat Sefira tersenyum.
Tatapan wanita itu menatap lembut ke arah Jeno. Dia bisa melihat kejujuran di mata prianya.
"Siapa wanita yang pernah kamu cintai, Kak? " Tanya Sefira dengan pelan.
Perempuan itu menatap Jeno dengan lekas. Begitupun pria tampan berkulit putih ini. Jeno seakan kesusahan dalam menelan ludahnya sendiri.
Jantungnya berdegup kencang. Dia mulai ketakutan dan kebingungan untuk menjawab. Menjawab apa yang akan diketahui oleh wanitanya ini. Jeno sudah mengambil keputusan. Ya apapun hasil akhirnya, dia akan tetap mengatakan semuanya dengan jujur.
Dia tak mau Sefira merasa dibohongi. Dia tak mau jika suatu hari nanti, wanitanya ini tahu dan mengatakan bahwa dia hanyalah pelampiasan. Sedikitpun Jeno tak pernah berpikiran seperti itu.
Cintanya pada Sefira tulus. Apa yang dia lakukan benar-benar membuktikan bahwa dia mencintai Sefira apa adanya. Dia sangat mencintai wanita itu begitu dalam.
"Kak, " Panggil Sefira lagi yang membuat Jeno menarik nafasnya begitu dalam sebelum menjadi.
"Humaira, " Jawab Jeno lirih dengan kepala menunduk.
~Bersambung
Nah nah ini loh. Kira-kira Sefira ngamuk gak yah?
Maafkan aku yang kemarin gak update. Aku bener-bener gak sanggup kemarin. Ngetik sendirian dalam keadaan begini, butuh perjuangan huhu.
__ADS_1