Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Permintaan Kecil Jay


__ADS_3

...Dulu mungkin aku ingin melenyapkannya tapi sekarang kenangan itu seakan memukul akal sehatku ketika melihat bagaimana cerdasnya buah hatiku....


...~Guntur Syakir Alhusyn...


...🌴🌴🌴...


Saat Humaira asyik melambaikan tangannya dengan perasaan yang tak bisa dijabarkan. Ternyata aksinya itu dilihat oleh kedua sahabatnya. Siapa lagi jika bukan Mira dan Lidya.


Dua perempuan itu bahkan sampai menatap tak percaya melihat siapa yang berada di dalam mobil itu. Meski keduanya tak keluar, tapi melihat wajahnya saja sudah sangat terlihat jelas siapa keduanya.


Keduanya seakan terkena serangan jantung. Terkejut, tegang dan benar-benar tak percaya. Bagaimana bisa sahabatnya itu meninggalkan putranya pada laki-laki yang telah menyakitinya. 


"Mai!" 


"Ya tuhan!" jawab Humaira memegang dadanya.


Dia berbalik dengan nafas tak beraturan karena panggilan mereka yang tiba-tiba.


"Kalian ngagetin banget sih!" kata Humai yang langsung berjalan dan diikuti oleh Mira dan Lidya. 


"Bukan kita yang ngagetin tapi kamu aja yang terlalu fokus padanya," sindir Lidya sambil melipat tangannya di depan dada.


"Eh!" Humai gelagapan.


Dia seakan ketahuan seperti kucing mencuri ikan. Dirinya susah menelan ludahnya saat kedua sahabatnya menghadang langkahnya dan berdiri di depannya.


Jika sudah begini, Humai yakin mereka tak akan tinggal diam. Pasti Mira dan Lidya akan bertanya banyak hal. Soal Syakir, lalu bagaimana bisa putranya bersama pria itu. 


"Ayo kita masuk ke kelas dulu! Nanti akan aku ceritakan," kata Humai dengan yakin.


Jarum jam yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan lebih membuat Humai tak bisa menceritakannya sekarang. Ia yakin jika dosen mereka pasti sedang otw kelas atau sudah berada di dalam. 


Humaira memang hanya menceritakan soal Syakir pada kedua sahabatnya ini. Apa yang terjadi sebenarnya, hanya Mira dan Lidya yang tahu. Selain itu, semua anak kampus hanya tahu melalui berita panas dirinya dan Syakir yang tersebar di sosial media. 


Humai masih menjaga aib suaminya. Dia tak mau menceritakan keburukan siapapun. Bahkan pada Lidya dan Mira, jika bukan karena rasa traumanya dulu terjadi padanya, maka keduanya tak akan pernah tahu.


"Janji yah! Jangan ada yang ditutupi!" ancam Mira dengan kesal.


"Gue pengen tau aja, gimana si jahat itu bisa deket sama ponakan ganteng gue," cibir Lidya yang masih sangat kesal dan marah jika ingat cerita Syakir yang kejam di masa lalu. 


"Iya. Gue janji!"


...🌴🌴🌴...

__ADS_1


Sedangkan Syakir dan Jay. Dua pria itu benar-benar pergi di toko kue langganan Jay. Bocah itu mengatakan dimana saja tempat favoritnya dan favorit ibunya. 


Mulutnya yang kecil tak henti bercerita sejak tadi. Tempat mana saja yang pernah ia datangi bersama ibu dan opa serta omanya. 


"Ayo kita turun!" ajak Syakir saat mereka telah sampai di kedai itu.


Pria itu bahkan membantu membuka pintu untuk putranya. Lalu dia segera menurunkan Jay dan menggandeng tangannya untuk masuk ke dalam kedai es krim.


Kedatangan keduanya benar-benar menyita perhatian orang yang ada disana. Hari yang masih menunjukkan pukul delapan lebih sedikit, tentu membuat pengunjung yang datang belum terlalu ramai.


Mereka juga lekas memesan es krim sebelum mencari tempat duduk untuk menikmati makanan kesukaan putra pertama dari pasangan Humaira dan Syakir. 


"Jay sering kesini sama siapa aja?" tanya Syakir yang penasaran.


"Sama Ibu sama Om Jeno juga. Terkadang sama Ante Mira atau Ante Lidya," katanya sambil mengingat. "Tapi kalau ada Kakek sama Nenek, ya Jay sama mereka." 


Kening Syakir berkerut. Dia tak paham akan maksud putranya itu. Bukankah Jay memanggil orang tua mantan istrinya Opa dan Oma. Lalu sekarang siapa Kakek dan Nenek ini 


"Kakek, Nenek? Siapa mereka, Jay?" tanya Syakir pada putranya. 


"Kakek Idar sama Nenek Ayna. Terus ada Ante Sefira juga," ujar Jay yang membuat Syakir terkejut bukan main. 


Mata pria itu sampai membelalak tak percaya. Tubuhnya menegang saat mendengar nama kedua orang tua dan adiknya disebut oleh putranya itu. 


Dia sampai menatap ke arah Jay yang benar-benar bercerita dengan polosnya. Syakir yakin anak itu tak mungkin berbohong. 


Ada perasaan kecewa dalam diri Syakir. Seakan kedua orang tuanya benar-benar tak menceritakan apapun perihal Jay dan Humai. Apalagi ketika waktu itu dia menghubungi papanya dan tak mendapatkan jawaban. 


Seakan keberadaan Humai benar-benar disembunyikan darinya. Namun, kembali lagi. Syakir tahu, Mama, Papa dan adiknya itu masih kecewa padanya. Perbuatannya di masa lalu bukan perbuatan yang biasa saja.


Tingkahnya yang kejam dan jahat, nukitnyanyang pedas akan hinaan tentu membuat kedua orang tuanya kecewa. Namun, kenapa mereka tak memiliki sedikit hati saja pada Syakir.


Mama Ayna, Papa Haidar dan Giska tahu akan perubahannya. Meski tak melihat secara langsung. Pasti Papa Haidar yang mengatakan bagaimana perubahannya.


Apakah dirinya yang berubah tak berarti di kedua mata mereka. Apa mereka masih membenci dirinya karena masa lalunya. 


"Ayah kenapa melamun?" tanya Jay yang menyadarkan Syakir.


Pria itu menarik kedua bibirnya melengkung ke atas. Meski perasaannya tak karuan tapi melihat bagaimana tatapan Jay dengannya, membuat Syakir merasa tenang. 


"Gak papa, Jay," balas Syakir sambil tersenyum.


"Kakek dan Nenek berarti orang tua, Ayah?" tanya Jay tiba-tiba.

__ADS_1


"Hmm?" 


"Iya, 'kan, Ayah? Seperti Oma dan Opa, itu orang tua Ibu. Jadi kalau Kakek sama Nenek, orang tua, Ayah? Bener?" 


"Iya bener."


"Tapi kalau bener. Kenapa Ayah gak dari dulu ikut Kakek sama Nenek nemuin Jay dan Ibu? Kenapa baru sekarang?" 


Syakir seakan susah untuk menjawab. Apakah dia harus jujur pada putranya, apa yang terjadi di masa lalu. Kenapa dia tak bisa menemukan mereka atau tak bisa ikut kedua orang tuanya menjenguk mereka berdua. 


"Apa Ayah sibuk bekerja?" 


"Kata siapa, Jay?" 


"Kata Ibu," ujar Jay dengan polosnya. "Ibu bilang Kalau rumah Ayah bukan disini. Terus Ayah juga sibuk bekerja. Mangkanya Ayah tak datang kesini menemui Jay," ujarnya yang membuat hari Syakir menjadi sakit. 


Dia tak menyangka jika wanita yang pernah ia sakiti masih mau menutupi keburukannya. Ia tak menyangka Humaira masih menjaga nama baiknya di depan putranya ini.


"Iya. Ibu benar, Jay. Ayah bekerja mangkanya gak pernah ikut Kakek sama Nenek," kata Syakir menambahi.


"Tapi sekarang, Ayah bisa nemuin Jay, 'kan? Ayah kerja di restoran waktu itu, 'kan?" 


"Ya." Syakir mengangguk. "Sekarang gak bakal ada yang pisahkan Jay sama Ayah. Kita akan terus bersama-sama." 


Jay mengangguk. Dia memegang tangan ayahnya yang ada di atas meja dengan perasaan yang sama bahagianya. 


"Ayah gak bakal pergi lagi?" 


"Nggak, Jay. Ayah akan terus disini sama, Jay," sahut Syakir dengan serius.


"Yey." Jay bertepuk tangan. 


Dia bahagia mendengar jawaban ayahnya. Akhirnya ia tak akan kehilangan sosok ayah lagi. Dirinya bisa bermain bersama ayahnya tanpa harus menunggu ibunya pulang kuliah atau Opanya pulang bekerja.


"Kalau Ayah sudah disini. Kenapa gak kembali sama Ibu saja. Kan Ayah udah gak kerja jauh lagi," celetuk anak itu yang membuat Syakir menatapnya tak percaya. 


~Bersambung


Kira-kira keinginan Jay dipenuhi gak yah?


Next bab bakalan ada Jeno Humai, hmm. Tim Jeno merapat ehh, haha.


BTW apa yang bakal terjadi sama Jeno Humai di next Bab? gimana kalau Jeno menyatakan perasaannya? lala

__ADS_1


mampir juga ke karya temanku ya



__ADS_2