
...Percayalah seorang anak dan ayah bisa menjadi satu perjuangan ketika bersangkutan dengan wanita kesayangan mereka berdua. ...
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya pagi menjelang lagi. Matahari naik dengan begitu cerahnya dan membuat sebagian salju yang ada mencair. Suhu hari ini sedikit naik daripada kemarin dan itu membuat Humai merasa senang.
Entahlah tubuhnya merasa sakit beberapa hari ini. Dia yakin mungkin ini efek suhu udara yang terus dingin sampai menusuk ke tulang. Belum lagi semalam suaminya kembali meminta jatah jingga membuatnya benar-benar merasa remuk redam.
Humai lekas meraih tasnya setelah ia memasukkan tab miliknya. Pekerjaan semua desainnya ada disana dan membuat Humai tak bisa lepas dari tab miliknya itu.
"Jay, Jeno sama Sefira dimana, Sayang? " Tanya Humai saat Syakir menggenggam tangannya dan berjalan melewati kamar adik iparnya itu.
"Mereka sudah ada di restoran bawah, Sayang. Mereka menunggu kita, " Kata Syakir yang dibalas anggukan kepala oleh Humai.
Pasangan suami istri itu berjalan saling menggenggam tangan mereka. Keduanya tak pernah malu menunjukkan keromantisan keduanya. Si bucin Syakir yang selalu menempel pada istrinya dan Humai yang sangat senang dengan semua tingkah manja suaminya itu.
Suami istri yang sama-sama saling menerima dan memberi. Yang satu menyukai sikap dan tingkah laku suami begitupun sebaliknya. Hal itulah yang terkadang membuat hubungan mereka semakin dekat.
Sederhana tapi itu sangat bermakna untuk mereka berdua.
"Maaf kami telat, " Ujar Humai tak enak hati.
Kedua orang itu mendudukkan dirinya di kursi yang sudah ada Jeno, Sefira dan Jay.
"Gapapa, Mai. Kita juga barusan sampai, " Jawab Sefira dengan tersenyum.
Pandangan Humai beralih. Dia menatap putranya yang duduk dengan tenang dan memakai pakaian rapi.
"Bagaimana tidur Jay semalam, hm? " Tanya Humai pada putranya yang duduk di sampingnya itu.
"Jay tidur nyenyak banget, Bu, " Jawab Jay sambil meletakkan ponsel Sefira di meja. "Jay juga semalam melihat Om Jeno dan Ante Fira cium-cium. "
"Apa! " Syakir membulatkan kedua matanya.
Dia menatap ke arah adik ipar dan adiknya yang menunduk karena ketahuan.
Ya semalam memang keduanya hanya saling berciuman sebentar dan tak menyangka Jay melihat semuanya. Padahal keduanya sudah sangat yakin jika putra kakak iparnya itu tengah duduk dengan tenang di depan televisi yang menyala.
Jeno menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia benar-benar merasa kikuk ditatap tajam oleh kakak iparnya itu.
"Tenanglah, Kak. Jangan disini, ada Jay, " Kata Humai dengan mengusap punggung suaminya itu.
Dia tak mau Syakir menasehati sahabatnya tu di depan Jay. Dia tak mau putranya melihat hal itu dan Humai sendiri yakin jika Sefira dan Jeno pasti tak sengaja.
"Pilihlah menu sarapannya, Sayang, " Bujuk Humai dengan manisnya.
Dia mengusap rahang Syakir dan membuat pria itu akhirnya luluh. Dia menatap Jeno dan menunjuk dua matanya.
"Urusan kita belum selesai! " Kata Syakir si bucin Alhusyn.
Pria satu anak ini benar-benar sudah seperti anak kecil. Dinasehati oleh istrinya sangat amat menurut. Bahkan merayu dan membucin adalah pekerjaannya.
Mereka segera memesan menu sarapan bersama. Kelima orang itu benar-benar sudah sangat kelaparan. Apalagi semalam Humai tak makan apapun yang membuat perutnya sedikit perih.
"Kamu ikut galeri, 'kan, Dek? " Tanya Syakir apda Sefira.
"Iya, Kak. Aku akan ikut Humai. "
__ADS_1
"Jay juga mau ikut Ibu, gak? "
Jay membulatkan matanya dengan lucu. Dia menatap ayahnya dengan pandangan tak percaya.
"Memangnya boleh, Yah. Ibu, 'kan kerja? " Ujar Jay dengan serius.
"Boleh, " Sahut Syakir dengan tenang. "Siapa yang mau marah. Kalau ada yang marah karena Jay ikut. Bilang sama Ayah. Oke? "
"Siap, Ayah?" Kata Jay dengan semangat.
Humai hanya diam. Dia tak protes apapun. Urusan putranya, dia bisa pamit pada Ye Jun nanti. Toh nanti juga ada Sefira disana yang akan membantu istrinya itu.
Pembicaraan itu selesai bersamaan dengan pelayan mulai menata makanan pesanan mereka. Semua orang tentu lekas menyantap makanan mereka dengan tenang.
Cuaca yang sedikit dingin dengan perut kelaparan tentu membuat mereka makan dengan cepat. Di tambah waktu yang terus berjalan membuat mereka harus makan dengan cepat.
"Ibu, pipis, " Kata Jay dengan jujur.
"Ah mau buang air kecil yah? Oke ayo? "
"Biarkan aku saja, Sayang! " Kata Syakir menyela.
"Tapi, Kak. Makanan, Kakak? " Tanya Humai menunjuk piring suaminya yang masih ada makanannya.
"Gapapa. Aku akan memakannya nanti. Lebih baik kamu cepat habiskan makanan kamu karena ini sudah telat! " Ujar Syakir yang membuat Humai ingat.
Anak dan Ayah itu lekas berjalan bergandengan tangan menuju kamar mandi. Syakir dengan telaten membantu putranya buang air kecil. Hingga setelah selesai. Dia lekas memakaikan celananya lagi.
"Jay mau bantu Ayah gak? " Kata Syakir melancarkan aksinya.
Jay yang polos tentu mengangguk. "Apa yang bisa Jay bantu untuk, Ayah? "
"Jay jadi penjaganya Ibu? "
"Ya, " Sahut Syakir mengangguk. "Jay sama Ayah saling jagain Ibu dari gangguan pria lain. Karena Ibu hanya milik… "
"Jay dan Ayah! " Sahut Jay dengan cepat.
"Good, Boy!" Ujar Syakir lalu mencium dahi putranya. "Ayo kita keluar. Ayah dan Om Jeno akan mengantarkan kalian, oke, Nak? "
"Oke, Ayah. "
...🌴🌴🌴...
"Hati-hati, Sayang. Ingat kabari kami kalau sudah pulang, " Kata Syakir saat istrinya, adik dan putranya keluar dari mobil.
Humai mengangguk. Ketiga orang itu akhirnya melambaikan tangannya sampai mobil yang ditumpangi Syakir dan Jeno melaju meninggalkan Galeri.
Mereka lekas masuk dengan menggandeng tangan Jay. Menuruni tangga sampai akhirnya Humai lekas mendorong pintu besar itu.
"Pagi, " Ucapnya dengan pandangan tak enak hati. "Maaf, Ye. Kami… "
Ye Jun, pria itu sendiri yang meminta Humai memanggil namanya tanpa embel-embel. Pria itu paling tak suka dengan tambahan pak atau apapun.
"Masuklah. Kami juga baru datang! " Kata Ye Jun dengan menatap ke arah ketiganya.
Hae yang sibuk di balik pantry juga mengacungkan jempolnya. Mereka juga baru datang karena memang semuanya baru berkumpul.
Humai lekas membawa anaknya ke arah sofa dan Sefira juga ikut ke belakangnya.
__ADS_1
"Jau tunggu disini ya, Nak, " Kata Humai apda putranya.
"Iya, Bu."
"Jangan pegang apapun. Ibu sama Ante Fira mau kerja, " Kata Humai menambahkan.
"Siap! "
Humai menyerahkan ponselnya. Dia tak mau putranya merasa bosan karena pekerjaan mereka juga seharian di Galeri yang pasti akan membuat kepala sakit dengan pemandangan di dalam Galeri saja.
Humai lekas membawa patung miliknya. Dia membuka kain penutup patung itu dan membuat adik Syakir bisa melihat hasil dari kakak iparnya itu.
"Ini bagus banget, Mai, " Kata Sefira dengan jujur.
"Serius, Fir? "
"Iya."
"Dia tak percaya ketika Ye Jun juga bilang bagus, Fir, " Kata Hae berceletuk.
Humai terkekeh. Bukan dia tak percaya tapi dia masih tak yakin saja.
"Ini dress yang luar biasa. Meski pendek tapi begitu cantik, " Kata Sefira memuji.
Ye Jun perlahan mendekat. Dia menatap sekeliling patung itu dan menyentuhnya.
"Kamu bisa memilih model ku nanti. Tentukan model yang pas untuk membawa gaunmu ini! "
"Tentu, Ye. Terima kasih, " Sahut Humai mengangguk.
"Kalian tak mau minum?" Tanya Hae menyodorkan nampan berisi gelas berjejer disana.
"Mau dong! " Sahur Sefira menjawab.
Jarak Humai yang jauh akhirnya membuat Ye Jun mengambilkan untuknya.
"Ini! "
Saat tangan Ye Jun menggantung. Tiba-tiba ada yang menyerobot di antara mereka dan membuat coklat panas itu hampir tumpah.
"Awas, Sayang! "
Jay tersenyum lugu. Dia memeluk kaki ibunya sambil menatap ke arah Ye Jun.
"Itu coklat buat Jay boleh? "
"Ah tentu, " Sahut Ye Jun dan mensejajarkan tubuhnya dengan Jay. "Ini."
Humai yang takut coklat itu tak mampu dibawa oleh putranya akhirnya mengambil alih dari tangan bocah tiga tahun itu.
"Ayo Ibu bantu bawa! "
"Ayo, Bu. Bantu Jay minum! " Kata Jay dengan manja.
Dalam hati bocah kecil itu tertawa. Tugas ayahnya satu sudah dia lakukan.
"Jay harus jagain Ibu dari gangguan pria lain. Itu tugas utama Jay dari Ayah! "
~Bersambung
__ADS_1
Anak sama Ayah sama aja. Kelakuan posesif haha.