
...Terkadang kita membutuhkan perjuangan lebih sakit sebelum meraih sesuatu yang indah di akhir perjalanan. ...
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya acara makan mereka hanya berlangsung sebentar. Semua orang khawatir pada keadaan Humai. Mereka juga berpikir jika Humai pasti kelelahan karena banyaknya kegiatan yang ia kerjakan di galeri.
Humai benar-benar menggunakan waktunya untuk gaun rancangannya. Mendedikasikan semua waktunya untuk menciptakan sebuah karya indah yang membuatnya memforsir dirinya sebanyak mungkin.
"Jay, Ayah boleh minta tolong? " Ucap Syakir sambil membantu membukakan sepatu istrinya.
Mereka sudah ada di dalam kamar hotel. Syakir membantu istrinya untuk berbaring karena Humai mengatakan kepalanya pusing.
"Boleh, " Sahut Jay lalu berjalan ke arah ayahnya.
"Tolong ambilkan baju ganti Ibu di lemari, " Kata Syakir dengan sopan.
"Oke, Ayah, " Sahut Jay lalu segera berlari ke arah lemari hotel.
"Ayo, Sayang. Duduklah sebentar! " Ujar Syakir lalu membantu istrinya membuka baju atasan yang dia pakai.
Syakir membantu menutupinya dengan selimut dulu sampai akhirnya putranya itu membawakan sebuah daster rumahan yang biasa dipakai oleh istrinya ketika bersantai.
"Apalagi, Ayah? "
"Sudah. Terima kasih, Jagoan Ayah, " Ucap Syakir yang membuat Jay menganggukkan kepalanya.
Anak itu kembali ke atas sofa karena Jay memang sedang bermain warna sedangkan Syakir dia membantu istrinya memakai pakaian yang diambil oleh istrinya itu.
"Ayo angkat. Roknya aku bantu lepas dari bawah, Sayang. Kamu gak perlu turun. "
Humai merasa lemas. Tak tak banyak menuntut atau marah. Perempuan itu menurut sampai akhirnya dia mulai membaringkan tubuhnya dengan nyaman.
Syakir tak bisa melihat istrinya sakit. Dia mendekati dan menempelkan punggung tangannya di dahi istrinya itu.
"Aku panggil dokter ya, Sayang? "
"Nggak perlu, Kak. Ini pasti efek aku kurang tidur aja, " Ujar Humai sambil menahan tangan suaminya. "Biarkan aku tidur dulu yah. Pasti nanti pusingnya akan hilang. "
Akhirnya Syakir tak memaksa. Dia membenarkan selimut Humai dan mengusap kepalanya sampai nafas perempuan itu teratur.
Humai benar-benar terlihat kelelahan. Bahkan tanpa perlu lama dia sudah berada di alam mimpi. Istrinya itu sudah memejamkan mata dengan tenang dan membuat Syakir beranjak mendekati putranya.
"Ibu tidur? " Tanya Jay dengan penuh perhatian.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Jadi Jay main sama Ayah dulu yah. Gapapa? " Tanya Syakir penuh perhatian.
Ayah satu anak itu tentu sangat amat penuh perhatian pada putranya. Syakir benar-benar mengutamakan bocah berumur 3 tahun yang sangat membuatnya bahagia.
Karena Jay dia bisa menikmati indahnya menjadi seorang ayah.
Karena Jay dia bisa kembali ke pelukan mereka dan membuatnya merasa beruntung memiliki putra yang mau memberikan maaf setelah dosanya yang dulu begitu besar.
Tak ada hal yang membuatnya bersyukur selain lahirnya Jay diantara mereka. Bahkan pria itu meminta maaf pada Tuhan karena pernah memaki keberadaan Jay dalam kandungan istrinya dulu.
Dia benar-benar salah. Dia benar-benar khilaf dan ingin memberikan segalanya pada Jay sekarang.
"Ayah, " Panggil Jay saat Syakir mulai membuka laptop dan ingin bekerja sambil menemani putranya bermain.
"Ya? " Sahut Syakir dengan tangan mulai menari di atas keyboard
"Kapan Ayah sama Ibu kasih Jay adik? "
Spontan pertanyaan itu membuat Syakir menoleh. Dia menatap kedua mata putranya yang terlihat mengandung kesedihan. Jujur Jay sendiri yang meminta adik di antara mereka. Anak itu mengatakan dia kesepian dan ingin ada teman.
Hal itulah yang membuat dirinya dan Humai tak mau menunda apapun. Permintaan putranya sendiri yang membuat keduanya berharap untuk segera memiliki momongan kembali.
"Sabar dulu ya, Jay. Adik bayi itu dari Tuhan. Ayah sama Ibu hanya bisa berusaha selebihnya. Jay harus minta sama Tuhan. Berdoa biar Tuhan kasih adik di perut Ibu, " Ujar Syakir dengan penuh pengertian.
...🌴🌴🌴...
Semua kegiatan tentu membuat galeri YJ Collection semakin memadat dan memanas. Humai benar-benar melakukan semuanya dengan baik. Meski sejujurnya beberapa hari ini dia benar-benar merasa berbeda dengan tubuhnya.
"Model kalian akan sampai sebentar lagi, Mai, " Kata Ye Jun yang membuat Humai menoleh.
"Oke. Terima kasih, Jun. Terima kasih banyak atas semua bantuanmu, " Ujar Humai dengan bahasanya yang tak lagi formal.
Hubungan pekerjaan mereka, beberapa hari selalu bersama membuat semua orang sudah bersikap layaknya sebuah keluarga. Tak ada lagi kecanggungan, tak ada lagi bahasa formal. Baik Ye Jun, Hae dan Dong Min yang bisa bahasa Indonesia tentu menggunakan bahasa itu selama ada Humai dan Sefira di galeri.
"Kau harus mentraktirku jika menang! " Kata Ye Jun bercanda.
"Tentu. Aku akan mentraktir kalian atau kalian akan ikut denganku ke Indonesia. Bagaimana? "
Perkataan Humai membuat Ye Jun terkejut. Namun, tidak dengan Hae dan Dong Min. Dua orang yang tengah menjahit gaun di patung itu lekas mendekati Humai.
"Mau! Aku mau ke Indonesia! "
"Okey. Kalau aku menang, kalian ikut kami! " Kata Humai memperjelas.
Hae tersenyum bahagia. Dia bahkan sampai bertepuk tangan karena memang sudah sejak lama Hae ingin jalan-jalan.
__ADS_1
"Makasih banyak, Mai, " Kata Hae lalu memeluk istri Syakir itu.
Gadis itu akhirnya kembali bekerja sedangkan Ye Jun menatap Humai yang tengah tertawa.
"Ayo kembali bekerja. Bukankah gaunmu belum selesai? " Ujar Humai meledek.
"Oh aku tau yang gaunnya hampir jadi! " Sindir Ye Jun lagi.
Akhirnya semua orang kembali bekerja. Mereka tentu menyelesaikan gaun yang akan dipakai besok oleh model mereka. Dua model yang sudah disiapkan oleh Ye Jun juga sudah datang.
Tentu baju itu lekas dipakaikan oleh Humai. Mereka kini ada di sebuah ruangan pisah. Ye Jun sendiri yang meminta Humai agar mereka lebih memiliki privasi.
"Bagaimana? " Tanya Humai dengan pelan.
Dia baru saja memberikan sentuhan sedikit di bagian pinggang. Saat ini modelnya tengah berdiri di depan cermin sambil memakai dress buatannya.
"Beautiful, " Ujar wanita cantik bertubuh tinggi semampai itu.
Humai tersenyum. Dia menatap ke arah pantulan cermin dan menepuk pundak wanita itu.
"Aku percaya kau bisa membawakan baju ini di hadapan semua orang! " Ujar Humai dengan begitu yakin.
Model itu mengangguk. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap sosok Humai yang benar-benar menaruh harapan padanya.
"Aku tau kau desainer baru tapi buatanmu ini benar-benar luar biasa! " Ujar model itu dengan bahasa Korea yang masih bisa dimengerti oleh Humai.
"Terima kasih."
"Aku akan berusaha berjuang untuk kemenangan kita! " Kata model itu dengan yakin.
"Ya kita akan berjuang bersama. "
Akhirnya pembicaraan mereka berhenti saat Humai merasa ingin buang air kecil. Dia lekas keluar dari ruangan dan pergi ke kamar mandi galeri.
Istri Syakir lekas masuk dan segera melaksanakan apa yang ingin dia lakukan. Setelah itu Humai mengambil tisu yang ada di dalam kamar mandi untuk mengusap tangannya yang basah.
Saat dia hendak membuang bekas tisu itu. Pandangannya tak sengaja melihat tisu bekas pembalut dan membuat jantung Humai berdegup kencang.
Dia hampir melupakan sesuatu. Melupakan hal yang benar-benar tak terlintas di pikirannya sama sekali. Bahkan dia sampai tak berpikir kesana.
"Kenapa aku baru ingat? "
~Bersambung
Semoga hari ini bisa update banyak yah. Bener-bener kepala gak bisa diajak kompromi. Alur Zelia bikin tahan napas sendiri.
__ADS_1