
...Mungkin banyak luka di tempat ini. Namun, aku berjanji untuk menghapus setiap luka itu dan mengobatinya dengan banyak cinta dan sayang yang akan aku curahkan kepadamu. ...
...~Guntur Syakir Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
Humaira perlahan mendongak. Dia menatap pintu rumah dimana rumah ini penuh akan kenangan dari keluarga angkatnya dan pernikahan mereka. Rumah yang menjadi saksi bisu pahitnya hidup seorang Humaira Khema Shireen.
Bangunan yang tak begitu mewah ini terasa semakin sejuk. Namun, didalamnya banyak kenangan yang penuh luka dalam. Banyak cinta yang dikhianati dan tanpa sadar membuat tangan Humai berkeringat dingin.
Reaksi itu tentu membuat Syakir yang melihatnya lekas meraih tangan Humai. Dia menggenggam tangan itu hingga tatapan keduanya bertemu.
"Ada apa, Sayang? " Tanya Syakir dengan lembut.
Humaira terlihat tak nyaman. Namun, sentuhan tangan Syakir yang menenangkan dan suaranya yang lembut membuat perasaannya sadar bahwa dia kesini tak sendirian.
Ya, dia baru ingat jika yang membawanya adalah mantan suaminya. Pria yang ia cintai dan pria yang akan mengambil dirinya dari orang tuanya.
Pria yang dulu menjadi luka untuknya. Pria yang menjadi tempat kesakitannya ternyata sekarang menjadi obatnya. Ternyata dia menjadi sebagian hidupnya yang mengobati segala sakitnya di masa lalu.
"Aku… "
Tanpa diduga, Syakir memegang kedua sisi wajah Humai. Dia menangkupnya dan memajukan wajahnya lalu dengan begitu perasaan. Syakir memagut bibir manis itu.
Dia menyesapnya dengan pelan. Mencoba menciptakan suasana yang begitu romantis hingga Humaira bisa melupakan ketegangan dalam dirinya.
Berhasil!
Humaira mulai rilex. Tangannya bahkan tak sedingin tadi. Syakir semakin semangat mencium bibir wanitanya. Bahkan saat Humaira mulai membalasnya, hal itu semakin membuat keadaan tak terkendali.
"Kak! " Lirih Humai saat Syakir mulai berpindah ke lehernya.
Akal pikiran Syakir mulai berperang. Dia tentu masih ingat akan tujuannya. Dia tentu masih sangat jelas sadar bahwa tak mau merusak Humai sekarang. Dia mencintai mantan istrinya. Dia menghargai Humai sebaik mungkin. Dirinya tak mau merusak wanitanya itu untuk kesekian kalinya.
Cukup masa lalu saja yang pahit. Dia tak mau mengulangnya dan akan menjadi Jay kedua dalam hidupnya.
"Maafkan aku, Sayang, " Lirih Syakir yang menarik wajahnya dari leher Humai.
Dia mengecup pipi mantan istrinya itu lalu memeluk tubuh Humai dengan erat. Syakir ingin menjelaskan bahwa dia tak akan meninggalkan Humai sendirian.
Mereka akan mengulang semuanya dengan hal baik. Menutup semua penyakit di masa lalu dengan kenangan indah.
"Aku tau rumah ini penuh luka di antara kita, Sayang. Tapi aku ingin memulai semuanya dengan kenangan baru dari sini, " Ujar Syakir yang membuat Humai menganggukkan kepalanya dalam pelukannya.
"Bukan pintunya, Sayang. Ayo kita lihat bagaimana rumahku dulu, " Ajak Humai yang sudah siap akan dirinya.
__ADS_1
Perlahan Syakir melepaskan pelukannya. Dia merogoh saku celananya sebelum akhirnya mulai membuka pintu rumah itu dengan pelan.
Saat benda dari kayu itu terbuka. Hal utama yang dirasakan oleh Humaira dejavu. Pemandangan yang pertama dia lihat adalah suasana rumahnya yang berbeda dari terakhir dirinya datang.
Syakir lekas menggenggam tangan wanita pujaannya itu. Dia mulai masuk bersama dengan bergandengan tangan.
"Ini… " Kata Humai terjadi saat dia melihat ruang tamunya.
Perempuan itu melepaskan tangannya dari sang kekasih. Dia berjalan ke arah meja dimana terdapat banyak pigura disana.
"Kamu mengganti semuanya, Sayang? " Tanya Humaira menatap tak percaya.
Furniture, sofa rumahnya dan beberapa aksesoris serta warna cat telah berganti. Humai benar-benar tak tahu kapan Syakir merubah segalanya.
"Kapan Kakak menggantinya? "
Syakir tersenyum. Dia belum menjawab tapi langkah kakinya mulai berjalan mendekati sang calon istri yang tengah mengamati potret yang dirinya susun di atas meja.
Syakir memeluk Humai dari belakang hingga membuat wanita itu menolehkan kepalanya.
"Kapan kamu melakukannya, hmm? " Tanya Humai dengan pelan saat Syakir tak menjawab.
"Saat aku yakin bisa memenangkan hatimu lagi, " Jawab Syakir dengan pelan. "Saat aku bertemu dengan Jay dan tahu bahwa dia putraku. Aku meminta orang untuk merenovasi rumah ini."
Mata Humai berkaca-kaca. Dia tak menyangka jika Syakir sudah menyiapkan semuanya. Bahkan dengan percaya dirinya pria itu berpikir bahwa mereka akan kembali bersama.
Sepahit apapun kenangannya. Sebesar apapun dosa yang telah ia perbuat. Ketika dirinya sudah tobat, maka dia berhak mendapatkan kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
"Jadi Kakak melakukan semuanya? "
"Ya. Untukmu aku akan melakukan apapun."
Humaira tersenyum kecil. Dia merasa bahagia ada di sisi Syakir. Sosok yang dulu menghinanya kini sangat menghargainya sekali. Sosok yang menjadi luka, kini menjadi obat atas segala hal yang pernah ada dalam hidupnya.
Humaira bahagia. Dia bahagia karena telah melewati semuanya. Sedih, senang, bahagia, luka dan sakit semua telah ia rasakan. Perjuangan yang penuh rasa bermacam-macam membuatnya mengerti akan arti hidup.
"Kamu ingin melihat semua sudut?"
"Ya. Aku ingin melihatnya, " Jawab Humai dengan antusias.
"Aku akan menemanimu, Sayang! "
🌴🌴🌴
Jakarta, Rumah Jeno.
__ADS_1
Akhirnya setelah menghabiskan waktu bersama dengan kedua orang tua Jeno dan mengabaikan segala sakit dari semua keluarga papa kekasihnya. Disini lah perpisahan kembali terjadi.
Waktu yang sudah menunjukkan pukul 1 siang. Mau tak mau membuat Jeno harus membawa kekasihnya pulang. Dia tahu jika wanitanya ini akan melakukan penerbangan nanti malam.
Dirinya tak boleh egois. Jeno ingin Sefira masih disini. Mengobrol dengan kedua orang tuanya dan menghabiskan banyak waktu bersama.
Melihat mamanya dan kekasihnya yang sangat cocok, membuat Jeno bahagia. Akhirnya dia bisa menemukan sosok yang sejalan dengan mamanya. Setidaknya Jeno berpikir mamanya memiliki teman selain papanya.
"Sefira pamit pulang dulu ya, Ma, Pa, " Pamit Sefira mulai mencium punggung tangan Mama Mei dan Papa Zein.
"Iya, Sayang. Hati-hati ya," Kata Mama Mei lalu memeluk calon menantunya itu. "Jangan kapok main ke rumah. "
Sefira terkekeh pelan. Dia sangat tahu maksud dari mamanya Jeno. Sepertinya wanita paruh baya itu takut jika dia lelah akan sikap ipar mertuanya itu.
"Fira gak kapok, Ma. Fira bakalan main kesini lagi nanti. "
Pelukan itu terlepas. Berganti dengan Papa Zein yang mengusap kepala kekasih anaknya itu.
"Kabari Mama atau Papa setelah kamu kembali ke Jakarta yah. Papa akan datang melamarmu untuk putra Papa ini, " Ujar Zein yang membuat Sefira tersenyum malu-malu.
"Iya, Pa. Siap. "
Setelah Sefira, Jeno mulai memeluk Mama dan Papanya juga. Dia mencium punggung tangan keduanya bergantian.
"Jeno sekalian pamit ya, Ma, Pa. "
"Kamu jadi? " Tanya Mama Mei ambigu.
Hal itu tentu membuat Sefira curiga. Dia menatap kekasihnya dengan lekat.
"Jadi, Ma. Jeno diajak oleh Papanya Fira. Jadi, nanti malam Jeno akan langsung berangkat yah. "
Mata Sefira membola. Dia menatap Jeno tak percaya. Ternyata kekasihnya itu akan ikut ke Malang dan membuat mereka tak harus berpisah.
"Jadi Kakak ikut? "
"Tentu. Papa tahu aku tak mau jauh darimu. Jadi aku akan ikut bersamamu ke kota dimana kamu lahir di dunia ini. "
~Bersambung
Hahaha Jeno anti LDR ya kan. Jadi dia kek kerjo di cucuk, ikut kemana aja pawangnya jalan.
Minal Aidzin Wal Faidzin semua. Ternyata lebaran idul adha aku masih bersama kalian di tahun ini. Semoga masih ada kesempatan untuk merayakannya bersama kalian lagi.
Kalau ada salah kata, sengaja atau nggak. Je minta maaf ya guys. Kalau Je sering php bilang mau nambah bab tapi gak jadi nambah karena emang lagi sibuk banget.
__ADS_1
Terima kasih atas waktunya selama ini dan kalian yang selalu mendukungku. Aku gak bakal ada di titik ini tanpa kalian semua.