Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Bersaing Mendapatkan Humai!


__ADS_3

...Percayalah sebuah perasaan itu tak bisa dipaksa dan diputuskan. Mereka akan terus mengendap dalam hati dan saling berusaha meraih hatinya....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Tak ada raut terkejut dari wajah Jeno. Dia bahkan menatap Syakir dengan rasa tenangnya. Hal itu tentu membuat Papa Hermansyah heran. 


"Jeno sudah tau?" tanya pria paruh baya itu penuh hati-hati.


"Iya, Om," kata Jeno mengangguk. "Entah kenapa semenjak pertemuan kami berdua, aku sudah bisa melihat kemiripan mereka berdua." 


Jeno menatap ke arah Jay yang sedang berguling di atas rumput dengan kucing yang ia bawa. Apa yang dirinya katakan memang benar. Jauh sebelum dia mendengar pernyataan ini. Pemikiran Tentang Jay dan Syakir sudah hinggap dalam kepalanya.


Melihat wajah mereka yang sangat mirip. Bedanya Jay versi kecil dan Syakir versi dewasa saja. Namun, jika melihat keduanya dari dekat, tak ada perbedaan apapun. 


"Gak bakal ada wajah kembar mirip seperti itu, Om. Tapi saat itu, Jeno hanya bisa diam karena Jeno juga belum tahu wajah mantan suami Humaira." 


Syakir mampu melihat bagaimana Jeno memanggilnya dengan sebutan mantan suami. Seakan pria yang umurnya jauh lebih muda darinya itu, menyadarkan dirinya bahwa sebenarnya dia hanyalah mantan suami saja. 


Bukan hubungan yang spesial kecuali ayah kandung Jay saja. 


"Syukurlah. Om jadi tenang. Tak ada lagi yang disembunyikan disini. Semuanya sudah terbuka," kata Papa Hermansyah pada keduanya.


Sebagai seorang ayah, suami dan pria yang pernah muda dulu. Papa Hermansyah tahu arti tatapan keduanya. Jiwa mereka berdua pada putri tunggalnya itu. Bukan hanya ingin mendekat pada Jay. Namun, pasti ada hati di hati mereka berdua.


"Jeno," panggil Syakir yang membuat Jeno menoleh.


Dia bisa melihat wajah Syakir, pria yang umurnya jauh diatasnya itu dengan pandangan serius.


"Ya?" 


"Apa kau menyukai Humaira?" tanya Syakir yang tak mau ada sesuatu yang ditutupi lagi.


Papa Hermansyah yang membuat keduanya terbuka akan status mereka. Hingga akhirnya Syakir berpikir tak ada lagi yang harus dirahasiakan. Biarkan semuanya terbuka dan tahu. Apalagi ini menyangkut hati.


"Ternyata kau pandai membawa pemikiran, Tuan Syakir," kata Jeno merubah panggilannya. 

__ADS_1


"Betul bukan tebakanku?" 


Jeno tersenyum dalam hati. Dia tak menolak. Dia tak menyangkal. 


"Ya. Aku mencintai mantan istrimu, Tuan. Aku mencintai sosok Humaira. Aku juga menyukai putramu itu," kata Jeno dengan jujur.


Dia sudah lama memendam semuanya. Mungkin jujur di hadapan ayah kandung wanita yang mampu menarik perhatiannya. Jujur pada pria yang dulu pernah menjadi kenangan wanita yang ia cintai adalah tindakan gentleman. 


Jeno tak mau menutupinya lagi. Toh mereka sudah tahu siapa di antara mereka berdua. Toh tak ada lagi sekat di antara mereka berdua. Semuanya sudah tahu dan tak ada lagi yang harus disembunyikan.


Syakir yang mendengar mengepalkan kedua tangannya. Dia bisa melihat cinta yang tulus dan besar di kedua mata Jeno. Dia bisa melihat bagaimana pria itu yang bersikap begitu pengertian pada putranya.


Bukan perasaan mencari perhatian. Namun, Jeno benar-benar menyayangi putra kandungnya itu. Syakir bisa melihat saat di restoran. Bagaimana Jeno bersikap ketika berdua saja dengan Jay. Bagaimana pria itu mencurahkan kasih sayangnya walau keluar hanya berdua saja dengan putrangya itu.  


"Kenapa, Tuan Syakir? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Jeno yang melihat nafas Syakir mulai tak beraturan. "Kau tak terima dengan perasaanku?" 


Kepala Syakir menggeleng. Tiba-tiba dia mengulurkan tangannya di hadapan Jeno. Dia sudah mengambil keputusan. Dirinya sudah bertekad.


Meski ada rasa insecure dalam diri Syakir. Meski ada perasaan tak pantas jika dibandingkan dengan pria muda berbakat di dekatnya ini. Namun, untuk saat ini, sekarang atau lusa dia tak akan pernah mau menyerah untuk kedua kalinya.


Dia tak mau kehilangan tanpa berjuang. Dia tak mau berhenti sebelum mencobanya. Dia tak mau kembali menyesal sebelum dirinya mencoba meraih apa yang pernah menjadi miliknya.


"Mari kita bersaing dengan sehat," kata Syakir dengan tangan terulur. "Kita buktikan siapa pria yang akan dipilih oleh Humaira dan Jay." 


Jeno menatap uluran tangan itu. Dia tak percaya jika Syakir bisa mengajaknya bersaing dengan sehat. Pria itu bahkan mengira jika Syakir mungkin akan memukulnya atau marah padanya. Namun, ternyata semua dugaannya salah.


Tanpa pikir panjang, tanpa dia berpikir dua kali, dengan sigap Jeno menerima jabat itu dengan tegas. Dia menatap mata Syakir tak kalah tajamnya. Tak ada ketakutan dalam diri Jeno. 


"Mari kita berjuang mendapatkan hati mereka berdua," kata Jeno tanpa keraguan sedikitpun.


Pemandangan itu membuat Papa Hermansyah senang sekaligus takut. Dia bahagia jika tak ada masalah diantara mereka berdua. Tak ada konflik dan pertengkaran. Namun, tetap saja, didasar hati yang terdalam, ada perasaan takut.


Takut jika salah satu dari mereka tersakiti. Takut jika ada sakit yang diciptakan membuat rasa trauma hadir di antara mereka berdua.


Hingga suara teriakan seorang bocah dengan tangan kecil itu ikut menggenggam tangan Syakir dan Jeno yang sedang bersalaman.


"Jay ikut juga!" ujarnya dengan khas suara anak kecil.

__ADS_1


Anak itu nyengir kuda. Dia menatap Syakir dan Jeno yang menoleh serentak ke arahnya. Tawa khas anak kecil yang menganggap uluran keduanya hanyalah sebuah permainan. 


"Boleh, 'kan?" 


"Boleh dong!" sahut Jeno mengangguk. "Sudah bosan dengan kucingnya?" 


Jeno menatap ke arah kucing yang ternyata susah kembali masuk ke kandangnya. Kemudian dia menatap ke arah Jay dan meneliti kedua telapak tangannya.


"Belum," sahut Jay dengan memegang tangan Jeno. "Jay mau ditemenin Om Jeno main. Ayok!" 


Jay menarik-narik tangan Jeno. Mau tak mau hal itu membuat dosen killer tersebut beranjak berdiri. Namun, sebelum mengikuti langkah Jay. Jeno menghentikan langkahnya yang membuat Jay menoleh. 


"Ayo, Om!" 


"Bagaimana kalau Om Syakir diajak juga? Nanti makin banyak, makin seru. Gimana?" 


Mendengar kata seru membuat Jay yang suka keramaian itu mengangguk. Dia lekas melepaskan tangannya dari Jeno dan mendekat ke arah Syakir yang masih duduk.


"Ayo, Om Syakir. Mau gak ikut main kucing?" tawar bocah itu dengan lucunya.  


Syakir menatap anaknya penuh haru. Meski ide itu dari Jeno setidaknya Jay sudah tahu akan dirinya.


"Ayo, Nak!" Syakir ikut beranjak berdiri.


Tangan kanannya ditarik oleh tangan kiri Jay. Lalu tangan kanan Jay menarik tangan kiri Jeno. Anak itu mengajak dua pria dewasa bermain bersamanya.


"Makasih ya," kata Syakir saat mereka mulai menemani Jay main.


"Sama-sama. Bagaimanapun dia butuh kamu. Mau mengelak, tapi darah kalian berdua sama." 


~Bersambung


Gimana part ini geng? siap bersaing di antara mereka?


yuhuu.


BTW beberapa hari ini aku jenuh terus aku nemuin novel baru dengan bacaan ringan. mungkin kalian juga bisa baca biar samaan kek aku.

__ADS_1



__ADS_2