Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Saling Menerima


__ADS_3

...Aku tak pernah merasa malu melihatmu memulai semuanya dari awal. Namun, ada rasa sedikit penyesalan ketika harus meninggalkanmu sendirian melewati semuanya....


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya disinilah keduanya berada. Humaira menarik tangan Syakir untuk mengikutinya ke taman samping restoran ini. Perempuan itu ingin sekali tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa mantan suaminya bisa bekerja menjadi seorang pelayan.


"Tenanglah. Aku…"


"Kenapa Kakak gak pernah cerita kalau bekerja disini?" sela Humaira saat keduanya telah berhenti di taman.


Keduanya saling berhadapan. Humaira menatap Syakir dengan lekat. Bukan dia merasa malu karena Syakir bekerja sebagai seorang pelayan. Namun, gadis itu seakan merasa bahwa dirinya lah yang membuat Syakir menjadi seperti ini. 


"Kenapa, Kak? Kenapa Kakak menutupi semuanya dari Humai?" tanya Humai lagi dengan kekeh.


Dia bahkan sampai memukul dada Syakir saat pria itu hanya diam. Pria itu tak mau membuka mulutnya dan menjelaskan semuanya. Jujur Humai ingin tahu semua kejelasan sampai Syakir bisa ada disini.


"Karena aku tak mau kamu melihatku seperti ini," ujar Syakir dengan pelan. "Aku tak mau kamu melihat semua yang aku lakukan dari bawah."


Jantung Humai mencelos. Hatinya seakan tertusuk mendengar penjelasan mantan suaminya itu. Jujur melihat Syakir memakai pakaian pelayan, seakan dinding besar dalam hati Humaira hancur.


Seakan rasa bencinya, rasa marah dan kecewanya ikut hilang saat melihat Syakir benar-benar dari bawah. 


"Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa, Mai. Aku bisa tanpa embel-embel nama keluarga. Aku juga bisa mengejar cintaku buat kamu dan Jay meski pekerjaanku seperti ini," kata Syakir yang semakin membuat perasaan Humai tak karuan.


Ada rasa sedih dalam hatinya ketika membayangkan Syakir melewati semuanya sendirian. Ada rasa menyesal ketika dia harus pergi tanpa memberikan penjelasan apapun.


Hal itu tanpa sadar membuat Humai menangis. Dia menundukkan kepalanya pelan saat air mata itu gak bisa ia tahan. 


"Humai tatap aku!" pekik Syakir menangkup kedua wajah Humai.

__ADS_1


Ibu satu anak itu tak melawan. Bahkan dia membiarkan tangan Syakir menangkup wajahnya dan mengusap air mata yang mengalir dari kedua matanya.


"Nggak!" 


"Mai!" 


"Nggak mau!" tolak Humai yang tetap menundukkan kepalanya 


Meski begitu ibu jari Syakir masih bisa menghapus air matanya walau tak melihat wajah Humai.


"Sayang!" panggil Syakir dengan lembut 


Perlahan ayah satu anak itu mulai mendongakkan wajah Humai. Dia memberikan senyuman kecil saat melihat tatapan mantan istrinya itu kembali. Tatapan mata yang dulu pernah ia lihat sebelum menyadari bahwa Humai itu spesial. Tatapan mata penuh cinta yang selalu diberikan kepadanya kini bisa dilihat lagi. 


"Aku tak menyesal melakukan semuanya. Aku tak merasa malu dengan apa yang sudah terjadi," jeda Syakir dengan memberikan senyuman termanisnya. "Jangan merasa bersalah. Aku bahkan ingin mengucapkan terima kasih karena waktu itu sudah meninggalkanku sendirian."


"Jika kamu tak pergi dan masih bertahan dengan sikapku yang keterlaluan, mungkin aku tak pernah ada di posisi sekarang," kata Syakir lalu menarik Humai dalam pelukannya. "Jika kamu tak meninggalkanku waktu itu. Mungkin aku masih menjadi pria paling jahat di dunia. Pria paling bodoh yang telah menyia-nyiakan wanita sebaik kamu untukku." 


"Terima kasih telah menjadi faktor diriku berubah, Mai. Terima kasih sudah menjadi inspirasi untukku menjadi sosok yang lebih baik lagi," kata Syakir melepaskan pelukannya. "Aku hanya ingin jika suatu hari nanti bersanding denganmu. Aku membuatmu bangga denganku."


Hancur sudah penghalang itu. Perasaan marah, kecewa dan trauma itu seakan ikut hilang saat melihat dan mendengar perjuangan Syakir. Jujur saja seorang pelayan adalah pekerjaan yang biasanya paling rendah di mata orang.


Mereka terkadang memandang pelayan sebagai pekerjaan paling bawah. Namun, Syakir, mantan suami yang dulu hidupnya dari kaya raya, serba ada. Semuanya serba siap. Bahkan 


Semua yang ia inginkan bisa tercapai dalam hitungan waktu. Berani mengambil keputusan yang besar menjadi seorang pelayan. 


Keputusan yang benar-benar sangat luar biasa untuk Syakir di mata Humai. Keputusan yang membuat dinding besar di antara keduanya terpatahkan dan hancur dengan sendirinya.


"Kemari!" ajak Syakir yang tak mau membuat mantan istrinya itu merasa lelah berdiri terlalu lama.


Dia membawa Humai duduk di kursi taman yang ada disana. Keduanya duduk berdampingan dengan tubuh mereka saling menatap berhadapan. 

__ADS_1


"Sejak kapan Kak Syakir bekerja menjadi seorang pelayan?" tanya Humai menatap ayah kandung putranya itu.


"Setelah semua perusahaan menolakku karena berita skandal kita berdua!" 


Perasaan Humai tak menentu. Matanya terbelalak tak percaya.


"Bukankah Papa sudah membersihkan nama kita berdua?" tanya Humai menatap Syakir tak percaya.


"Kamu benar tapi Rachel dan Adam membuka semua keburukanku di media sosial," lirih Syakir dengan menunduk.


Mendengar nama dua orang itu membuat Humai hampir melupakan sesuatu. Melupakan orang yang menjadi alasannya berada di sisi Syakir. Melupakan orang yang membuat takdir dirinya dan Syakir begitu jahat di masa lalu.


"Mereka membuka semua perkataan jahatku. Dari membunuh calon anak kita, dari berselingkuh dan melakukan kekerasan padamu. Bahkan semua yang terjadi di rumah, semua direkam oleh Rachel. Dia meletakkan kamera dan perekam suara tanpa sepengetahuan kita berdua," lirih Syakir sambil menatap kedepan menerawang. 


"Pertama kali kalian pergi, aku frustasi," lirih Syakir dengan tatapan mata yang tak bisa dibohongi jika apa yang dia katakan adalah kebenaran. "Aku terbayang tentang kalian berdua. Aku menyesal telah berbuat jahat dengan istri dan calon anakku!" 


"Bahkan saat itu, membayangkan akan bersamamu, bermain dengan putra kita dan menemuimu adalah hal yang tak pernah aku duga." 


"Aku sadar aku adalah pria jahat untuk kalian. Aku adalah pria yang menjadi kunci utama penderitaan kamu dan anak kita. Aku adalah…" 


"Kamu adalah ayah yang baik untuk kita berdua!" sela Humai dengan tegas sambil menyematkan jari-jari tangannya di jari tangan Syakir sampai tangan keduanya saling bertaut. 


"Aku bangga pernah menjadi bagian penting dari dirimu yang dulu," kata Humaira melanjutkan. "Aku juga bahagia menjadi inspirasi kamu berubah menjadi sosok yang lebih." 


Syakir terdiam. Dia bahkan menatap Humai tak percaya. Dia tak menyangka mantan istrinya tak malu akan dirinya yang bekerja hanya sebagai seorang pelayan. Humai benar-benar menerimanya dengan lapang dada.


"Jangan merasa rendah di mata kami berdua. Kamu adalah bukti bahwa akan ada versi terbaik dari manusia yang pernah khilaf di masa lalu," ujar Humaira dengan semakin mengeratkan genggaman tangan di antara keduanya. "Lebih baik telat sadar tapi mau berubah. Daripada cepat sadar tapi tak mau berubah!" 


~Bersambung


Bentar, Bang. Aku meleyot liat dinding pembatas kalian mulai hilang. OTW dua duanya bucin ini mah.

__ADS_1


__ADS_2