
...Ketika semua keluarga berkumpul. Disitulah hal yang begitu membahagiakan dan mampu mengalahkan semuanya...
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
Acara makan malam benar-benar terjadi dan dilakukan di sebuah restoran besar yang ada di salah satu pusat kota Korea. Semua keluarga tentu datang, begitupun dengan Reyn.
Pria muda itu kembali izin untuk tak kembali ke asrama selama satu hari karena dia ingin bermanja dengan kedua orang tuanya. Reyn ingin menghabiskan waktu dengan kakak dan orang tua yang banyak kehilangan waktu untuk mereka.
Reyn benar-benar dianggap seperti anak kandung oleh Papa Hermansyah dan Mama Emili. Tak ada jeda atau rasa canggung. Mereka benar-benar ar menerima Reyn seutuhnya dan selalu menjadi mendukung apapun yang pria muda itu inginkan.
"Makan yang banyak, Sayang. Kamu disini tambah kurus, " Kata Mama Emili mengambilkan makanan untuk putranya itu.
Reyn membelalakkan matanya saat Mama Emili meletakkan beberapa sushi di atas piringnya lagi. Padahal dia sudah menghabiskan tujuh iris sushi sejak tadi tapi dirinya terus diminta makan.
"Mama, ini terlalu banyak, " Kata Reyn sambil mengambil gelas dan meminumnya.
"Ini gak banyak. Lihat ini! Mana pipi putra Mama yang tembem. Kenapa sekarang kurus banget, tirus juga? Kamu gak betah disini? "
Papa Hermansyah tertawa melihat istrinya mengomel. Dia tahu jika istrinya itu begitu memanjakan Reyn. Wajar saja, mereka hanya memiliki Humai dalam hidupnya. Hingga saat kedatangan Reyn dan Rachel, mereka merasa hidupnya jauh lebih sempurna.
Reyn tak bisa menolak. Dia menatap kakaknya yang hanya mampu menahan tawa. Reyn mencoba meminta bantuan tapi Humai malah menjawab dan melakukan gerakan agar Reyn memakannya saja.
"Humai, " Panggil Mama Ayna yang membuat Humai menoleh.
"Iya, Ma? "
"Sejak kapan kamu tahu sedang hamil? " Tanya Mama Ayna yang penasaran.
Tentu semua orang ingin tahu bagaimana Humai mengetahui dirinya tengah berbadan dua. Apalagi saat mereka melihat reaksi Syakir yang sama tidak tahu membuat tanda tanya dalam pikiran mereka.
Itu tandanya jika Syakir tak tahu. Orang pertama yang sadar adalah Humai sendiri. Humai yang menyimpan rahasia itu dan menjadikan sebuah kabar kebahagiaan.
"Sejak Humai sadar kalau udah lama gak datang bulan, " Ujar Humai sambil memutar ingatannya di kejadian dimana dia mulai mencurigai sesuatu.
__ADS_1
Saat itu, setelah Humai kembali dari kamar mandi. Wanita itu benar-benar merasa linglung. Dia sendiri sampai lupa kapan tanggal dirinya yang harusnya datang bulan.
Kebersamaan dengan Syakir dan selalu menghabiskan waktu setiap malam berdua membuat Humai benar-benar yakin dia tak pernah datang bulan semenjak setelah menikah.
Bisa dibilang Humai langsung tak mendapatkan tamu bulanannya semenjak menikah.
"Mai, ada apa? " Tanya Sefira menepuk pundak Humai yang hanya diam duduk sambil menatap meja yang di atasnya terdapat banyak sekali aksesoris buatan mereka.
Humai terkejut. Dia ternyata terlalu lama melamun. Namun, jujur dirinya benar-benar penasaran dan ingin tahu apakah yang ada dalam pikirannya itu benar atau tidak.
Akhirnya Humai beranjak berdiri dan meraih tasnya.
"Aku keluar sebentar yah, " Pamit Humai terlihat buru-buru.
Perempuan itu mengambil jaket tebalnya dan membuat Hae dan Sefira yang ada disana saling tatap.
"Ada apa dengannya?"
"Entahlah. Mungkin Humai ingin sesuati, " Ujar Sefira sambil mengedikkan bahunya.
Akhirnya Humai menatap kanan dan kirinya. Beberapa hari tinggal di Korea tentu membuatnya tau area sekitar galeri.
Dengan pelan Humai berbelok ke kiri. Dia memasuki sebuah apotek yang dia tahu memang berharga beberapa meter dari galeri. Berteman dengan Hae dan Dong Min membuatnya tahu area sekitar sini. Dua orang itu sangat cocok menjadi tour guide Humai karena dengan ikhlas akan mengajarkan dan memberitahu semuanya.
"Terima kasih, " Kata Humai setelah mendapatkan apa yang dia dapat.
Sebagai seorang wanita yang berpengalaman tentu Humai tahu apa yang harus dia lakukan. Akhirnya dengan pelan, wanita itu menarik selimut untuk menutup tubuhnya yang polos.
Humai dengan pelan turun dari ranjang. Waktu masih menunjukkan jam 5 pagi dan membuatnya harus terbangun dengan sangat pelan agar tak membangunkan suaminya.
Dia mengambil benda yang ia beli di apotik kemari dari dalam tasnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Dengan hati yang ragu, jantung yang berdegup kencang. Humai segera melakukan tes itu.
Dia menarik nafasnya begitu dalam sebelum mencelupkan alat itu dan menunggu hasilnya.
"Aku tak meminta banyak tapi semoga hasilnya tak mengecewakan Jay, " Kata Humai dalam hati dengan harapan yang besar.
__ADS_1
Setelah menunggu hampir lima menit usai dicelupkan. Humai mulai menghembuskan nafas beratnya dan menariknya lagi. Dengan perlahan dia membuka matanya dan melihat hasilnya.
"Ya Allah! " Pekik Humai sampai menutup mulitnya.
Dia tak percaya dengan hasilnya. Garis dua yang terlihat jelas disana yang menandakan bahwa apa yang dipikirkan benar. Di dalam dirinya ada makhluk baru yang hadir karena dia dan Syakir.
"Saat itulah Humai tahu bahwa Humai hamil. Humai sengaja tak bilang pada Kak Syakir untuk menjadi kejutan, " Ujarnya yang membuat Syakir meneteskan air mata.
"Kamu gak boleh capek-capek loh yah. Ingat! Jangan kecapekan! " Kata Mama Ayna menasehati.
"Syakir harus yang peka. Jangan sampai menolak permintaan Humai, " Ujar Mama Emili yang membuat Syakir mengangguk mantap.
"Syakir pasti menuruti semua perintah tuan putri tercinta, Mama, " Ujarnya dengan menunduk hormat yang membuat semua para lelaki tertawa dengan nasib Syakir yang diperintah dua wanita istimewa itu.
Sedangkan di antara mereka yang berbahagia. Terlihat satu orang perempuan yang menghapus air matanya secara diam-diam. Perempuan yang dulunya pernah jahat itu kini ada di antara mereka.
Hadirnya benar-benar diterima oleh semua orang. Hadirnya benar-benar diterima baik bahkan diperlakukan dengan baik pula.
"Ayo kita mulai makan malamnya, " Kata Papa Hermansyah pada semua keluarga. "Jangan terlalu lama berada di luar. Angin malam dan keadaan salju begini tak baik terlalu lama untuk ibu hamil. "
"Ayo, Rachel. Makanlah, Nak. Jangan banyak diam, " Ujar Mama Emili penuh perhatian.
Perlakuan Mama Emili tentu membuat Humai tersenyum. Dia hampir melupakan keberadaan Rachel karena Syakir yang terus ingin ada di dekatnya.
"Iya, Ma, " Sahut Rachel mengangguk.
Jujur Humai tak itu sedikitpun. Bahkan dia merasa bersyukur. Papanya mau bertanggung jawab dan semua yang terjadi di masa lalu adalah proses untuk berjalan ke tahap mendewasakan.
Semua yang terjadi di antara mereka adalah masa lalu. Semua yang terjadi entah itu menyakitkan atau bahagia adalah suatu proses sampai akhirnya dia bisa ada di titik ini.
Humai tersenyum. Dia tersenyum bahagia melihat semua orang akhirnya bahagia. Kini semua kisahnya telah selesai. Semua perjuangan kini tengah merasakan hikmah indahnya.
"Semoga tak ada lagi kesedihan setelah ini. Aku tak mau kembali jatuh setelah semuanya terjadi di masa lalu, " Gumam Humai dalam hati.
~Bersambung
__ADS_1
Siap-siap angkat koper emak wey. Siap siap hati baut cerita Zelia, Frans dan Jimmy ehh. Ditambah cerita Fayola Manggala versi baru.
Dua novel mau gak di NT semua?