Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Kejutan Syakir


__ADS_3

...Setelah perjuangan yang panjang. Setelah semua kesakitan di lalui. Kini akhirnya mereka bisa kembali bersama. Memulai semuanya dari awal dan menikmati hikmah dari setiap sakit yang pernah ia lalui dari masa lalu. ...


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Setelah melakukan pembicaraan delapan mata antara Sefira dan kedua orang tua Jeno serta kekasihnya juga. Akhirnya Mama Mei mengajak suami, anak dan kekasihnya anaknya untuk masuk kedalam rumah.


Mereka akan melakukan makan bersama karena pelayan sudah memanggil mereka di taman. Semua orang tentu mulai berjalan bersama-sama. Mama Mei yang bergandengan tangan dengan suaminya begitu romantis dan Sefira yang berjalan di belakangnya dengan tenang.


"Sayang, " Panggil Jeno yang membuat Fira menoleh.


"Ya? "


"Apa yang sudah dikatakan oleh saudara papaku padamu, hm? " Tanya Jeno dengan pelan dan tangannya menggenggam tangan Sefira.


Keduanya berhenti sejenak. Sefiea bisa melihat kemarahan di kedua mata Jeno.


"Gak ada, Sayang. Mereka hanya mengajakku berkenalan, " Ujar Sefira sambil tersenyum begitu tulus.


"Jangan berbohong! "


Sefira tersenyum. Dari begini saja dia sangat tahu apa yang selama ini dirasakan oleh Jeno. Dia yakin hati dan luka Jeno sama dalamnya seperti Humai, sahabatnya dulu.


Banyak luka di kedua mata itu dan masih basah. Hal itulah yang membuat Sefira tak mau terlihat kalah dan sedih di hadapan keluarga Jeno. Dia akan membuktikan bahwa Sefira mampu bertahan di garda terdepan demi Jeno.


"Aku gak bohong, Sayang, " Balas Sefira lalu tanpa diduga dia mengangkat tangannya dan mengusap rahang tegas Jeno yang tercetak jelas disana. "Aku tak peduli mereka mengatakan apa. Yang terpenting sekarang, kamu, Mama dan Papa telah menerimaku dengan tulus. "


Apa yang dikatakan oleh Sefira memang benar. Dia tak peduli apapun. Yang menjalani pernikahan adalah dirinya dan Jeno. Yang akan dihormati dan ia temui adalah kedua orang tua kekasihnya. Hanya itulah keluarga penting yang ia butuhkan support dan restunya.


Untuk yang lain, menurut Sefira tek memiliki peran penting. Dia tak peduli sebesar apa mereka menghina dirinya. Yang pasti, calon suami dan mertuanya ada di pihaknya itu sudah cukup.


"Jangan khawatir, Sayang. Aku punya kamu, Papa dan Mama. Jadi aku gak bakal selemah itu sama mereka. Oke? "


Entah kenapa melihat ekspresi wajah Sefira yang tenang dan tanpa tekanan membuat Jeni bernafas lega. Jujur dirinya sangat khawatir meninggalkan kekasihnya bersama mamanya. Namun, Jeno nekat ke ruangan papanya karena dia memiliki sesuatu urusan.


Demi masa depan hubungan mereka, Jeno sendiri yang datang pada papanya. Biasanya dia tak mau datang ke rumah utama. Dia juga hanya akan menemui kedua orang tuanya di rumahnya sendiri atau di restoran.


Rumah ini benar-benar luka untuknya. Namun, sekaligus obat.


"Kalau kamu butuh apapun, ingat! Ada aku disini yang jadi orang pertama siap buat jagain kamu. "


Sefira menganggukkan kepalanya. Perlahan keduanya melanjutkan langkah kaki menuju ruang makan. Wajah keduanya sesekali saling tatap dengan menatap penuh cinta antara satu dengan yang lain.


Benar-benar pasangan yang membuat siapapun menjadi gila dan iri.


"Wah, calon pengantin datang! " Pekik Izzy menggoda.

__ADS_1


Jeno yang melihatnya mengusap kepala gadis itu dan mengacak rambutnya.


"Ih. Emang sukanya hancurin rambut aku! " Kata Izzy dengan manja.


Izzy adalah gadis yang usianya beda tiga tahun dari Sefira. Gadis itu adalah keponakan Jeno yang paling Jeno sayangi. Kehidupan Izzy dan Jeno hampir sama.


Namun, bedanya Jeno masih memiliki orang tua yang mensupport dirinya. Sedangkan Izzy, kedua orang tuanya yang menjadi hal menakutkan dalam dirinya.


"Biarin! "


Jeno perlahan membantu menarik kursi samping Izzy dan meminta kekasihnya duduk. Sefira hanya bisa tersenyum lalu duduk dengan tenang.


Dia tahu menjadi pusat perhatian dirinya kali ini. Banyak pandangan tak suka padanya. Namun, Sefira masih tetap tenang seakan dia tak tahu apapun.


"Kakak darimana? "


"Taman belakang, Zy, " Balas Sefira dengan berbisik pelan.


"Kenapa Izzy gak diajak? " Tanya Izzy pura-pura marah.


"Izzy diam! " Bentak seorang perempuan yang membuat Izzy langsung menunduk. "Kamu gak paham, di meja makan dilarang berbicara! Gak sopan namanya, Izzy! "


Tanpa siapapun tahu, Sefira mengepalkan kedua tangannya dibawah meja. Dia tak menyangka jika sikap mereka dalam mendidik anak juga buruk.


Dengan pelan, Sefira berusaha menarik nafasnya dengan pelan lalu menghembuskannya. Dia tak mau terbawa emosi dan marah-marah.


Dengan pelan dirinya menggenggam tangan Sefira dan membuat gadis yang mulainya menunduk kini menoleh. Sefira tak mengatakan apapun tapi bibirnya tersenyum begitu tulus dan tangannya menggenggam tangan Izzy yang mengepal kuat.


"Tapi dia! "


"Kamu mau duduk diam atau pergi dan tak usah makan? "


Wajah Laurent terlihat marah. Namun, dia memilih duduk diam dan membuat Zein, Papa Jeno memulai acara makan bersama mereka.


Tentu Jeno tak melewatkan kesempatan ini. Dia menawari kekasihnya semua makanan yang ada di atas meja makan.


"Aku akan mengambil beberapa, Kak, " Kata Sefira pada kekasihnya. "Tapi sebelum itu. Biarkan aku yang mengambilkan kakak dulu! "


Sefira mulai melayani Jeno dengan baik. Dia belajar dari mamanya yang selalu mengambilkan papanya ketika makan bersama. Lalu sekarang, dia juga melihat bagaimana Mama Mei yang mengambil Zein, suaminya makanan juga.


"Udah, Sayang! " Kata Jeno saat Sefira menuang sayur di nasinya.


"Ini? "


"Ya, " Jawab Jeno yang mengangguk menurut.


Tingkah Sefira tentu tak luput dari saudara Papa Zein. Namun, mereka hanya bisa diam karena disana ada kakak kandung mereka.

__ADS_1


Ya, Zein adalah anak laki-laki satu-satunya. Hal itulah yang membuatnya menjadi sosok kepala keluarga dan kakak yang baik setelah Papa mereka meninggal. Semua urusan pekerjaan dan warisan keluarga dirinya yang mengatur dan dirinya juga yang membagikan uang pada adik-adiknya meski sudah menikah.


"Makan yang banyak, Fira. Jangan sungkan, " Kata Mama Mei yang membuat Sefira tersenyum.


"Iya, Tante. "


...🌴🌴🌴...


Malang.


Di dalam sebuah mobil. Terlihat pasangan bucin yang tak kalah romantis. Keduanya saat ini tengah menuju ke sebuah tempat dimana Humaira yang tak tahu kemana Syakir membawanya.


Matanya juga ditutup oleh kain dan membuatnya hanya bisa duduk diam. Dirinya pasrah akan dibawa kemana saja. Namun, ia yakin pasti ada kejutan yang akan Syakir berikan padanya.


"Kita mau kemana, Sayang? Jangan membuatku penasaran, " Kata Humai menatap ke samping.


Meski matanya ditutup. Dia tahu kekasihnya mengemudikan mobilnya dan ada di sampingnya. Humai mulai memegang tangan kekasihnya itu dan membuat Syakir membalas genggamannya.


"Ke suatu tempat."


Syakir mulai membelokkan setir kemudinya untuk memasuki sebuah perumahan. Tempat ini adalah tempat yang familiar untuk keduanya. Tempat dimana banyak luka yang Syakir berikan.


"Sudah sampai? " Tanya Humai saat mesin mobil dimatikan.


Tak ada jawaban apapun tapi dirinya bisa mendengar Syakir yang turun dan berjalan ke samping.


"Ayo! "


Syakir menggenggam tangan Humai dan membantunya keluar dari dalam mobil. Lalu perlahan keduanya mulai berjalan bersama dengan Humai yang mengikuti langkah kaki kekasihnya.


"Awas! "


Humai bergeser sedikit. Sampai akhirnya keduanya berhenti dan Syakir memeluk Humai dari belakang.


"Sudah siap melihat kejutannya? "


"Ya. Tentu saja, " Balas Humai dengan perasaan tak karuan.


"Oke. Aku buka tutup mata kamu yah, " bisik Syakir lalu dia mencuri satu kecupan di pipi Humai.


Hal itu membuat ibu satu anak itu tertawa. Namun, tak lama penutup matanya terlepas dan membuat Humai mencoba menyesuaikan cahaya dengan matanya. Sampai akhirnya pandangannya mulai jelas.


Dia juga mulai tahu dimana mereka berada saat matanya menatap keramik lantai yang ia pijak.


"Ini… "


"Selamat datang di rumahmu, Sayang! "

__ADS_1


~Bersambung


Ah mau baper-baper dulu ama Bang Syakir aku tuh. Capek bikin konflik mulu haha.


__ADS_2