Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Hati Seorang Ibu


__ADS_3

...Sebesar apapun kesalahan putranya. Jika melihat pekerjaan anaknya yang menyiksa tentu hati seorang ibu juga merasa sakit dan bersalah....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Tak ada yang mampu menggambarkan perasaan seorang ibu ketika melihat anaknya yang memakai pakaian seragam seorang pelayan dan berdiri di dekat meja mereka. Melayani pembelian mereka dengan keadaan ketiganya yang duduk tenang dengan penampilan terbaik.


Mata Mama Ayna berkaca-kaca. Dia seakan sakit melihat putranya yang tengah menatapnya dengan tersenyum.


"Mama," Lirih Syakir dengan bibir tersenyum seakan dia menikmati waktunya kali ini.


Mama Ayna tak menjawab. Dia hanya menoleh ke samping dan menatap sosok suaminya yang tengah menunduk. Tak ada yang mampu dikeluarkan dari bibirnya.


Rasa sakit, kasihan dan bersalah itulah yang dia lakukan. Seakan apa yang selama ini ia lakukan untuk menghukum Syakir membuat anaknya berada di jalan seperti ini.


Saat dirinya hidup dalam harta bergelimpangan. Saat dia melihat anaknya dari jauh. Ternyata kehidupan Syakir tak sebaik dan seenak dirinya.


"Syakir… "


"Jangan sedih, Ma," Ujar Syakir yang tahu ekspresi apa yang ibu kandungnya itu berikan. "Syakir gapapa kok!"


Syakir tersenyum. Dia menghapus air mata ibunya dengan pelan dan memberikan ekspresi bahwa dirinya benar-benar baik-baik saja.


Tak ada yang perlu ditakutkan. Syakir menikmati pekerjaannya. Dijauhi oleh keluarga, membuatnya tahu memulai semuanya dari bawah. Memulai pekerjaan dengan kedua kakinya sendiri.


Berdiri tegak tanpa bantuan orang tuanya. Dan satu lagi, dia bisa menjadi sosok yang dihargai oleh orang dan menghargai orang karena pekerjaannya ini.


"Mama mau pesan apa?"


Air mata menetes dari sudut mata Mama Ayna. Entahlah dia harus bersikap bagaimana. Tapi yang pasti, ibu dua anak itu bukan merasa malu. Dia hanya merasa bersalah pada dirinya sendiri.


Disaat dia enak-enakan menikmati hasil pekerjaan suaminya, ada anak yang tengah berjuang dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Ma," Panggil Syakir pelan dengan pandangan yang lebih lembut.


Mama Ayna menarik nafasnya begitu dalam. Dia merasa sesak sekaligus sakit. Namun, melihat putranya yang baik-baik saja. Membuatnya mau tak mau harus menghargai usaha putra pertamanya itu.


"Syakir tau kesukaan Mama, Papa dan Adik. Jadi tulis itu aja ya, Nak," Ujar Mama Ayna dengan pelan.


Syakir mengangguk. Dia lekas menulis makanan yang biasa dimakan oleh keluarganya itu. Lalu setelah selesai dia beralih menatap putranya yang bahagia menatapnya.


"Jay mau makan apa, hmm?"


"Nasi goreng," Celetuknya yang membuat Syakir terkekeh.


Gak dirumah, gak di restoran atau dimanapun. Putranya itu sangat menyukai nasi goreng di semua waktu.


"Syakir mau buatkan pesanannya dulu. Silahkan ditunggu!"


Setelah mengatakan itu, Syakir lekas meninggalkan meja dimana keluarga dan anaknya berada. Semua yang dilakukan pria itu tak luput dari kedua mata adik kandungnya.


Secara Giska Alhusyn, putri satu-satunya yang dimiliki setelah Syakir itu menatap kakaknya dengan bangga. Dia tak malu memiliki kakak kandung pekerja pelayan. Melainkan Secara bangga kakaknya bisa bekerja dengan ide dan usahanya sendiri.


Orang sukses adalah orang yang pandai mengatur dirinya sendiri, membuat dirinya berada di titik puas dan bahagia dengan pencapaiannya. Lalu mampu membantu orang disekitarnya. Itu adalah kata sukses untuk seorang Sefira.


Dia merasa bersalah telah ikut andil marah pada kakaknya. Tidak! Yang dia lakukan sela ini, diam menyembunyikan Humaira. Bukan perihal dia benci pada Syakir. Namun, setiap perbuatan orang yang bersalah.


Apalagi kita keluarganya, tak berhak kita memihaknya dan membenarkan perlakukannya. Sesayang apapun kita pada saudara, jika dia salah. Maka salah. Tak ada pembenaran bagi sebuah kesalahan fatal seperti yang dilakukan oleh Syakir di masa lalu.


Menjauhinya, membuatnya mencari dimana mantan istri dan anaknya sendiri. Membuatnya berdiri di kedua kalinya sendiri. Semua itu adalah proses pendewasaan. Jika Syakir berhasil melewati jalan itu, maka dia sendiri yang akan merasakan dampaknya.


Dan terbukti bukan?


Semua orang merasakan perubahan dalam diri Syakir. Pria itu menjadi sosok yang lebih baik dari masa lalu. Pria itu menjadi sosok yang lebih peka, lebih perhatian, lebih peduli pada sekitarnya.


Dia juga bisa belajar dari masa lalunya. Belajar dari sikapnya yang salah di masa lalu dan dia perbaiki untuk masa depannya.

__ADS_1


"Papa tahu semuanya?" Tanya Mama Ayna pada suaminya.


Papa Haidar mengangguk. Mau menutupi pun percuma. Istrinya harus tahu semuanya.


"Kenapa Papa tak memberikan celah pada Syakir? Minimal membuatnya bekerja di kolega, Papa?" Tanya Mama Ayna pada suaminya.


"Ma," Sela Papa Haidar sambil menggenggam tangan istrinya itu. "Kalau kita melakukan itu. Maka kita tak akan pernah tahu proses Syakir merubah diri dan membuat dirinya menjadi jauh lebih baik."


Papa Haidar menatap istrinya. Mukanya dia juga berpikir seperti istrinya. Ingin membantu anaknya bekerja di perusahaan temannya. Namun, lama kelamaan dia berpikir jauh ke depan.


Jika Syakir dibantu olehnya, maka dia tak bisa merasakan apa itu dari bawah. Dia tak bisa merasakan bekerja dan menjadi sosok bawahan yang disuruh oleh atasan yang seenaknya sendiri.


Papa Haidar hanya ingin, sebelum dia menyerahkan perusahaannya lagi pada anaknya. Syakir belajar tentang apa itu titik terendah. Dia ingin anaknya tahu jika menjadi bawahan seperti ini rasanya.


Mereka sama-sama manusia dan perlu dihargai meski banyak atasnya yang tak menghargainya. Papa Haidar hanya ingin putranya menjadi sosok yang rendah hati, peka dan peduli pada sekitar tak memandang status apapun.


"Lihat putra kita disana!" Kata Papa Haidar menunjuk putranya yang sedang mencatat pesanan orang lain. "Lihatlah tatapan anak kita, Ma. Syakir sudah berubah."


"Kak Syakir lebih lembut dari sebelumnya, Ma," Ujar Sefira menambahkan. "Dia menjadi lebih baik dari sifatnya yang dulu."


Ya Mama Ayna melihat semuanya. Melihat apa yang putranya lakukan dan dia mengakui jika apa yang dikatakan oleh suami dan putrinya itu benar.


Syakir menjadi sosok yang lebih lemah lembut. Diajak berbicara dengan pelan, pria itu juga bisa melakukannya. Membedakan dengan masa lalu, ini bukan Syakir yang dulu tapi Syakir dengan ve4si terbaiknya.


"Mama hanya merasa menjadi ibu yang jahat, Pa. Mama hanya merasa telah membiarkan dia menderita di luar sendirian," Lirih Mama Ayna dengan pelan.


"Apa Mama melihat putra kita menderita?" Tanya Papa Haidar dengan tersenyum. "Putra kita terlihat semakin menikmatinya. Lihatlah bagaimana dia bicara pada orang lain? Menatap mereka dan memperlakukan mereka dengan sikapnya yang lebih lembut."


Mama Ayna menghembuskan nafas dengan berat. Seakan sesak di dadanya ingin ia keluarkan. Seakan dia ingin berusaha menerima semuanya. Mendengar nasehat dari suami dan putrinya itu.


"Jangan khawatir, Ma. Syakir kita baik-baik saja. Jika dia sudah siap, maka Papa sendiri yang akan menyerahkan semua bagian Syakir pada dirinya."


~Bersambung

__ADS_1


Kalau pembaca bilang, Mama Ayna tega, menurutku enggak. Putar balik yuk gimana sikap Syakir yang dulu sama sekarang. Kalau dia gak dapat pelajaran hidup kayak ini, dia gak bakal banyak berubah.


Poin pentingnya, apa yang keluarga lakukan untuk kita, tak selamanya itu buruk untuk kita. Kadang kita sudah overthinking sebelum memahami maksud mereka melakukan itu.


__ADS_2