
...Kebahagiaan tercipta bukan karena barang mahal tapi hal sederhana saja bisa membuat bahagia ynag tiada tara. ...
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Kedatangan Mama Ayna, Papa Haidar, Mama Emili, Jay, Sefira dan Jeno adalah hal yang sangat dinanti oleh Humaira dan Syakir. Pasangan yang dulunya pernah menikah ini memang berniat menjemput keluarganya ke bandara.
Meski waktu telah beranjak malam hari. Angin dingin menerpa kulit tapi tak pernah menyurutkan keinginan Humai untuk datang menyambut keluarganya.
Entah kenapa dia sangat ingin bertemu putranya. Dia rindu Jay yang selalu bermanja dengannya. Jarak di antara mereka yang tercipta adalah hal yang pertama kalinya terjadi pada keduanya.
Selama Jay lahir dan ada di sisi Humai. Keduanya memang takkan pernah berpisah jauh. Kecuali ketika Humai ingin kuliah, maka itulah yang membuat keduanya berjauhan.
Namun, saat kemarin dia harus ke Kota Malang menyusul papanya. Tentu ada hal berat dalam hatinya. Demi sebuah penyelesaian dia memang ikhlas melakukan LDR dengan putra semata wayangnya.
"Kemana mereka ya, Kak. Kok gak kelihatan juga, " Kata Humai yang sudah tak sabar bertemu putranya.
Sejak tadi bunyi pengumuman pesawat yang dari Jakarta telah terdengar. Maka dari itu Humai dan Syakir berdiri untuk menunggu.
"Mungkin Mama sama Papa sedang antri koper, Sayang. Tenanglah! Mereka pasti baik-baik saja, " Ujar Syakir sambil mengusap punggung istrinya.
Mata Humai tak pernah beralih. Dia terus menatap ke arah pintu dimana para wisatawan datang untuk menemui keluarga mereka yang menjemput. Hingga tak lama, akhirnya pandangan Humai langsung menatap ke arah anak kecil yang tangannya digandeng oleh paruh baya yang ia kenal.
Bibir Humai melengkung ke atas saat melihat jika itu adalah putranya. Tanpa kata, Humai lekas berlari mendekat dengan melambaikan tangannya.
"Jay! "
"Ibu! " Teriak Jay yang juga melihat Humai.
Antara anak dan ibu itu lekas berlari saling berdekatan. Rasa rindu yang tercipta di antara keduanya membuat mereka tak peduli dengan sekitar.
"Ibu kangen, Jay, " Ujar Humai saat tubuh kecil itu sudah ia peluk dengan hangat.
Ada perasaan yang tak bisa dijabarkan. Bahagia, senang, rindu dan terharu semuanya bercampur menjadi satu. Akhirnya setelah menunggu seharian tadi, Humai bisa melepas rasa rindu yang besar pada putranya.
Meski dia dekat dengan Syakir. Meski suasana romantis dan bahagia selalu diciptakan oleh calon suaminya itu. Bayangan wajah Jay tentu terus terngiang di kepalanya.
__ADS_1
"Jay juga kangen, Ibu, " Kata anak itu sambil mencium pipi kanan Humai.
Sedangkan yang lain, mereka baru saja datang di dekat Humai dan Jay. Semua orang tentu bisa merasakan apa yang dirasakan antara ibu dan anak itu. Semua bisa melihat bagaimana Jay yang sangat rindu ibunya.
"Kakak, " Kata Sefira yang lekas mendekati kakaknya dan mencium punggung tangan Syakir.
"Akhirnya kalian… " Ujar Syakir sambil menatap ke arah Jeno yang ikut dengan mereka. "Gercep juga kamu, Jen! "
Jeno terkekeh pelan. Dia menepuk dadanya dengan bangga. Meski usianya lebih muda dari Syakir. Mantan suami Almeera itu mengakui jika Jeno adalah pria yang dewasa.
Dari pemikirannya yang selalu pengertian. Emosi yang bisa dia kendalikan dengan baik. Permasalahan yang selalu Jeno lakukan dengan tenang. Tentu membuat Syakir selalu merasa takjub.
Jujur dia tak iri pada Jeno. Namun, dia ingin memiliki pemikiran seperti pria itu. Bahkan tanpa malu dia akan belajar dari Jeno untuk mengendalikan emosinya dengan baik.
"Harus. Hal baik tak bisa ditunda begitu lama, " Ujar Jeno yang didengar oleh telinga Humai.
Ibu satu anak itu lekas beranjak berdiri. Dia juga memeluk sahabatnya itu dengan hangat.
"Selamat yah. Akhirnya kamu gak jomblo lagi, " Goda Humai dengan terkekeh pelan.
"Hish. Apaan sih! " Seru Sefira dengan pipi bersemu merah.
Humaira terkekeh. Apalagi saat dia melepaskan pelukannya. Wajah Sefira yang memerah sangat terlihat lucu.
Perhatian keduanya mulai beralih saat Mama Ayna, Papa Haidar dan Mama Emili baru saja datang. Mereka yang usianya sudah tak muda lagi tentu berjalan lebih lama dari Sefira dan Jeno.
"Mama, " Kata Humai memeluk Mama Emili.
"Kamu baik-baik saja, Sayang? " Tanya Mama Emili pada anak pertamanya.
Meski dia tahu bagaimana hati putri tinggalnya itu. Mama Emili tetap khawatir pada perasaan Humai. Sikap ikhlas dan tak tegaan yang dimiliki oleh anak semata wayangnya itu. Tentu membuat Humai simpati pada orang lain dengan mudah.
Ibu dan anak itu tentu saling berpelukan. Keduanya saling menguatkan antara satu dengan yang lain.
"Maafkan Papa ya, Nak, " Bisik Mama Emili dengan air mata merembes dari sudut matanya.
Humai menggeleng. Dia menghapus air mata yang mengalir di sudut mata Mama Emili. Dia tak membenci papanya. Dia tak membenci adanya Rachel di antara mereka.
__ADS_1
Mungkin banyak orang menyesali takdir yang tak sesuai rencana hidupnya. Namun, Humaira tak pernah menyesali apapun. Dia selalu mengatakan jika dirinya menyesal maka hadirnya Jay di hidupnya juga merupakan hal yang disesalkan.
"Mama jangan sedih. Humai gak marah sama Papa. Papa gak salah. Papa hanya ingin bertanggung jawab, " Ujar Humai dengan menatap mamanya itu.
"Kamu memang putri Mama yang baik. Kamu selalu mengutamakan orang lain daripada kamu, Nak. "
Humai menggeleng. Dia tak setuju pendapat mamanya itu. Permasalah Rachel bukan tujuannya mengutamakan teman kampusnya itu. Melainkan dia ingin papanya bertanggung jawab.
Perbuatan saat dia mengadopsi anak adalah hal yang sakral. Apalagi sampai hidup Rachel seperti ini. Tentu itu adalah tanggung jawab papanya. Dia hanya ingin papanya memperbaiki semuanya. Membuat Rachel sembuh setidak mereka jadi sosok yang lebih baik lagi.
Apalagi Humai juga pernah di posisi Rachel. Dikucilkan keluarganya, dituntut ini itu yang membuatnya mau tak mau harus melakukan semuanya dengan sempurna.
"Ayo kita pulang, Sayang," Ajak Mama Ayna yang membuat Humai mendekati calon mertuanya ini.
"Jay udah ngantuk tuh! " Lanjut Papa Haidar yang membuat semua orang mengangguk.
Akhirnya mereka semua lekas berjalan ke arah parkiran mobil. Tanpa kata, dua mobil telah terparkir rapi di depan bandara. Suasana yang sudah malam membuat Papa Hermansyah meminta Syakir dan Humai membawa supir.
"Mama sama Papa langsung pulang aja ya, Syakir, " Ujar Mama Ayna saat mereka telah berpisah menjadi dua.
Barang Sefira, Mama Ayna dan Papa Haidar serta Jeno ada di mobil depan. Keempatnya akan menuju ke rumah orang tua Syakir.
"Iya, Ma. Syakir anter Mama Emili, Jay dan Humai dulu."
"Kamu tidur mana? " Tanya Mama Ayna dengan pandangan yang penuh harap.
Ibu dua anak itu tentu ingin anak-anaknya berkumpul di rumah utama. Bagaimanapun Mama Ayna rindu Syakir tinggal di rumah mereka. Apa yang terjadi di masa lalu membuat Syakir meninggalkan rumah masa kecilnya.
"Syakir tidur di rumah Mama. Tungguin Syakir yah!"
Jawaban Syakir membuat senyuman lebar muncul. Mama Ayna mengangguk. Dia bahagia akhirnya putranya mengerti pemikirannya.
"Baiklah. Mama tunggu! "
~Bersambung
Yuhuu kalau dah begini, tandanya bakalan otw halal sudah dekat haha.
__ADS_1