
...Jika Tuhan belum menakdirkan keduanya untuk bertemu. Maka sedekat apapun mereka pasti ada saja halangannya....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
"Apa yang mau Lo lakuin kalau Lo udah ketemu sama Humai dan anak Lo itu?" pancing Bara pada sahabatnya itu. "Jika dihitung dari waktunya. Sepertinya anak Lo juga udah lahir dan mungkin udah besar."Â
Syakir mengangguk. Dia menyetujui perkataan sahabatnya itu.
"Gue mau minta maaf sama mereka. Bahkan kalau boleh, gue mau minta kesempatan kedua pada Humai. Gue ingin minta dia kembali sama gue dan membangun rumah tangga yang seutuhnya."
Syakir mengatakannya dengan wajah penuh keseriusan. Pria itu yakin dengan apa yang dia katakan. Syakir tak bercanda. Dia bahkan jika masih diberikan kesempatan ingin menikah lagi dengan Humai.
Ingin memberikan keluarga yang utuh pada anaknya. Ingin menebus segala dosa dari kesalahannya di masa lalu.
"Lo yakin? Lo yakin Humai akan nerima Lo lagi setelah semua kejadian yang terjadi?"
"Untuk itu gue gak yakin," lirih Syakir sambil menunduk. "Gue udah banyak berbuat salah sama mereka berdua. Gue bahkan malu meminta kesempatan pada mereka berdua."Â
Bara bisa merasakan apa yang dirasakan oleh sahabatnya itu. Dia sangat tahu apa yang ada dalam pikiran Syakir sekarang.
"Tapi di dunia ini tak ada yang tak mungkin, Kir," kata Bara yang membuat Syakir mendongak. "Siapapun pasti melakukan kesalahan. Tak ada manusia yang sempurna."Â
"Kesalahan gue sangat fatal, Bar. Bahkan sangat besar. Gue udah terlalu jahat sama mereka berdua," lirih Syakir yang mengingat perbuatannya di masa lalu.Â
"Gue tau," jawab Bara dengan mengangguk. "Tapi Lo harus ingat. Ada Tuhan yang bisa membolak balikkan hati hambanya."
"Meski Lo dan Humai bukan gue dan Meera. Tapi Tuhan adalah perencana rencana yang terbaik. Kalau Lo ingin salah satu ciptaannya, maka Lo minta sama Tuhan. Rayu dia dari penciptanya agar hatinya diluluhkan!"Â
Syakir terdiam. Namun, otaknya tetap memikirkan semua yang dikatakan oleh Bara. Seakan dia merekam segala nasehat yang sahabatnya berikan.Â
Dia benar-benar selalu merasa tenang ketika berada disini. Syakir selalu merasa memiliki jawaban yang memantapkan hatinya. Seakan apa yang menjadi kegelisahannya disini, mulai tertepis dengan ucapan Bara.
"Lo bener, Bar!" kata Syakir setelah beberapa saat terdiam.
Tak lama Almeera datang membawakan nampan berisi minuman. Dia meletakkan di atas meja beserta cemilannya juga.Â
"Diminum, Kir," kata Almeera pada sahabat suaminya.
"Thanks, Ra!" ujar Syakir pada istri sahabatnya. "Kamu hamil?"
Bara dan Almeera saling memandang. Wajah mereka terlihat begitu bahagia. Pasangan suami istri menggeleng.
"Bukan hamil tapi perut istriku terlihat besar karena dia sudah melahirkan anakku yang ketiga dan keempat," jawab Bara dengan bangganya.
Mata Syakir terbelalak. Dia menatap sahabatnya tak percaya.
"Lo bener-bener mantep banget sih. Langsung jadi!"Â
__ADS_1
Bara terkekeh. Dia menepuk dadanya sendiri merasa sombong.
"Milik gue ini premium. Sekali jebol langsung jadi dua!"Â
Ucapan keduanya membuat tawa terdengar dari bibir ketiganya. Mereka seakan sedang mencairkan suasana yang sudah lama terasa dingin.
Syakir yang lama menghilang akhirnya kembali. Pria itu kini kembali dalam versi terbarunya dan itu mampu dirasakan sendiri oleh Almeera dan Bara.
Mereka bisa melihat jika Syakir menjadi Syakir yang dulu. Syakir yang hangat, Syakir yang selalu mencairkan suasana dan Syakir yang peduli dengan sekitarnya.Â
"Lo bakalan lama kerja disini?" tanya Bara saat Syakir selesai meneguk teh hangat yang disiapkan oleh Almeera.
"Jelas, Bar. Mungkin bisa dibilang gue bakalan bertahan disini karena gue udah bukan dikontrak lagi!" kata Syakir menjelaskan.
"Selamanya?" tanya Almeera yang ikut bertanya.
"Ya." Syakir mengangguk. "Gue juga berharap semoga disini gue bisa ketemu sama mereka!"Â
"Mereka siapa?" pancing Almeera dengan wajahnya yang terlihat tegang.
"Mantan istri dan anak gue," jawah Syakir menatap sahabat dan istri sahabatnya itu. "Gue mau cari mereka di seluruh Kota Jakarta. Entah kenapa firasat gue mengatakan kalau mereka ada disini!"Â
"Mereka ada di kota yang sama dengan gue. Di tanah dan udara yang sama dengan gue!"Â
Bara dan Almeera saling menatap. Keduanya tak bisa mengatakan apapun lagi. Sejauh apapun keduanya mengelak. Jika Tuhan sudah memberikan takdir untuk mereka bertemu, maka tak ada yang mampu menghalanginya.
"Gue berharap semoga harapan Lo jadi kenyataan. Semoga tebakan Lo benar dan Lo bisa ketemu sama mereka berdua disini!"Â
...🌴🌴🌴...
Mereka tak mungkin datang dengan tangan kosong. Keduanya ingin memberikan oleh-oleh kesukaan Bia dan keluarga Almeera.
"Yang coklat juga, Bu. Yang blueberry Kak Bia juga suka!" celetuk Jay dengan cerewet.
"Iya. Sabar, Sayang," kata Humaira dengan menggeleng.
Dia sangat tahu putranya selalu antusias jika berhubungan dengan Bia. Hubungan mereka yang dekat. Lalu Bia kecil yang sering main ke rumah Humai saat Jay masih bayi membuat keduanya sudah saling bergantung satu dengan yang lainnya.
"Jay gak mau juga? Ayo Ibu belikan," kata Humai pada anaknya itu.
Jay melihat etalase itu lagi. Kue yang dijejer disana tentu sangat menggiurkan. Toko ini bukan hanya kesukaan Bia. Namun, Jay dan Humaira juga suka dengan kue disini.Â
"Jay mau coklat aja," katanya pada sang Ibu.
Humaira akhirnya mulai menyebutkan pesanannya ketika salah satu karyawan mendekatinya. Dia juga memesan dua kotak untuk di rumahnya satu dan Almeera satu.
Setelah semuanya selesai. Keduanya lekas berjalan keluar dari toko menuju ke mobilnya. Namun, saat Humaira hendak membantu putranya naik. Sebuah panggilan membuat keduanya menoleh.
"Om Jeno!" teriak Jay dengan wajah bahagia.
__ADS_1
Dia lekas meminta turun dari gendongan ibunya. Lalu anak laki-laki itu berlari dengan lincahnya ke arah Jeno yang langsung ditangkap oleh dosen killernya itu.
"Om Jeno!"Â
Humaira bisa melihat kedekatan keduanya. Bahkan bagaimana dosennya yang menggendong Jay lalu putranya yang memeluk leher Jeno dan mencium pipi dosen mudanya itu.
Hal itu tentu membuat sesuatu dalam diri Humai tersentil. Dia menjadi sadar diri jika anaknya butuh sosok ayah di sampingnya.Â
"Kalian mau kemana?" tanya Jeno yang mengejutkan Humai.
Perempuan itu lekas menunduk dan menghapus air matanya secara pelan.
"Kami mau main ke rumah Kak Bia, Om," kata Jay menjawab.
"Wah. Mau main yah. Yaudah. Selamat bersenang-senang!" kata Jeno dengan menurunkan Jay dari gendongannya.
"Tapi…" Jay menghentikan ucapannya.
Dia menatap ibunya seakan ada sesuatu yang ingin dikatakan.
"Ada apa, Sayang. Jay mau apa?" tanya Humai yang sudah sangat tahu tabiat putranya.
"Om Jeno ikut ya, Bu. Boleh, 'kan?" ujar Jay yang mengejutkan Humai. "Jay mau kenalin Om Jeno ke Kak Bia, Bu. Yah?"Â
Humaira tak tahu harus mengatakan apa. Dia menatap Jeno seakan dia tak enak hati dengan permintaan putranya. Seakan permintaan Jay sekarang sangat sulit untuk dikabulkan.Â
"Om Jeno sedang sibuk, Nak. Kita berdua aja yah yang ke rumah Kak Bia!" ajak Humai penuh hati-hati.
"Om Jeno sibuk?" tanya Jay langsung pada Jeno, seakan dia tak puas dengan jawaban ibunya.Â
"Sedikit tapi demi Jay, Om Jeno bisa kok. Kenapa?"
"Nah, Bu. Om Jeno bisa. Jadi boleh ya, Bu. Om Jeno ikut?"Â Â
Jika mode begini apalagi wajah Jay yang penuh harap membuat Humaira tak bisa menolak.Â
"Iya. Om Jeno boleh ikut."
~BersambungÂ
Hiyaa gimana kalau ketemunya bareng Jeno juga, haha. Makin mantep nyeseknya yekan, haha.
Mampir juga ke karya temanku ya guys.
Lula seorang penulis novel yang sangat terkenal, apa jadinya jika lula masuk ke novel yang di buat dan menjadi Protagonis wanita dalam novel itu?
Ya lula ternyata masuk kedalam tubuh Lentara sosok tokoh yang dia buat lemah. Lentara adalah gadis cantik dan lemah karena selalu di sayang oleh kakeknya dan kakeknyalah yang selalu menyelesaikan masalah Lentara. Di saat kakeknya meningal lentara diberi sebuah benda dan diamanatkan untuk diberikan kepada seseorang yang memiliki tanda elang di punggungnya sehingga membuat Lula di kejar para mafia dan hidupnya selalu dalam ancaman. Kemudian Lentara dipertemukan dengan mafia terkejam yaitu tuan Ismail.
__ADS_1
Apakah lula sanggup hidup sebagai lentara?
Ikut perjalan lula sebagai lentara dalam My Lovely My Angel