Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Sakit Mental


__ADS_3

...Percayalah sebaik apapun kebenaran itu di tutupi. Maka, akan ada cara lain untuk tuhan membuka kebenaran itu dengan sendirinya....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Papa Haidar hanya bisa mencengkram ponselnya dengan erat. Dia tak bisa memberikan apapun pada putranya. Dia berjanji tak akan lagi membantu Syakir untuk bertemu dengan Humaira dan Jay.


Apapun itu, jika berhubungan dengan keduanya. Dia tak akan mau menjawab. Seakan luka yang putranya lakukan adalah kesalahan yang fatal. Mereka tak mau Syakir melakukan kesalahan kedua kalinya. Dia tak mau anaknya kembali berulah jika bertemu dengan mereka. 


"Kumohon, Pa. Katakan pada Syakir," pinta Syakir dengan suara memohonnya. "Dia adalah anak kandung Syakir. Syakir hanya ingin melihatnya dari jauh."


Panggilan yang tersambung itu di loudspeaker memang dan membuat dua wanita yang wajahnya sama dengan usia yang berbeda itu menggeleng.


Mereka adalah Mama Ayna dan Sefira. Mereka tak akan mendukung Papa Haidar jika pria paruh baya itu memberi tahu Syakir.


"Pa!" 


"Papa gak tau dimana anak dan mantan istrimu, Syakir!" seru Papa Haidar dengan tegas. "Humaira tak pernah memberitahu dimana dia tinggal." 


Terdengar helaan nafas berat disana. Mereka sangat tahu jika pasti saat ini Syakir sedang frustasi. Namun, mereka tetap pada pendiriannya.


Sekali ketiganya bilang tidak. Maka, tidak akan pernah mereka mengatakan dimana sebenarnya mantan menantu dan cucunya itu berada.


"Ya sudah. Papa banyak pekerjaan sekarang. Lebih baik kamu istirahat dan jangan berbicara hal ngaco lagi!" kata Papa Haidar lalu dia mematikan ponselnya.


Tak ada suara apapun dari ketiganya. Hanya helaan nafas berat yang terdengar. Seakan ucapan Syakir tadi seperti hal yang tak mungkin jika dia bertemu dengan Jay.


"Apa itu Jay, Pa? Apa Kak Syakir bertemu Jay?" 


"Entah, Nak. Tapi siapapun itu. Sejauh apapun kita memisahkan dan menutupinya, jika takdir mereka bertemu. Maka, tak ada yang bisa menghalanginya!" 


Mama Ayna masih diam. Hal itu membuat Papa Haidar dan Giska khawatir. Keduanya duduk di samping kanan dan kiri wanita paruh baya itu lalu memberikan usapan di lengannya.


"Mama!" panggil Giska dengan lembut.


"Benar kata Papamu, Giska. Sejauh apapun kita menutup rapat keberadaan Humai dan Jay. Jika Tuhan ingin ketiganya bertemu. Maka, pasti mereka akan bertemu tanpa bisa disangkal atau ditunda." 


...🌴🌴🌴...


"Saya benar-benar berterima kasih, Nak Jeno. Maaf kalau bersama Jay, dia terlalu aktif dan cerewet," kata Mama Emili saat Jeno baru saja datang dengan Jay yang ada dalam gendongannya tertidur.


"Tidak apa-apa, Tante. Saya sendiri senang bermain dengan Jay," kata Jeno menatap anak laki-laki yang ada dalam dekapannya. 


"Ayo bawa Jay ke kamar ibunya, Nak Jeno. Biar Jay bisa tidur dengan nyaman," kata Mama Emili lalu menunjukkan jalan dimana Jay harus dibaringkan.

__ADS_1


Sejak tadi kepala Jeno menatap sekeliling. Dia melihat banyak foto Jay yang dipajang di sana. Bahkan ketika Jay kecil dan sepertinya baru lahir juga ada disana. 


"Letakkan dia di sana," kata Mama Emili yang langsung dilakukan oleh Jeno.


Dengan penuh hati-hati, pria itu meletakkan Jay yang tertidur dengan tenangnya. Anak itu bahkan tak terusik sedikitpun. 


"Jay gak suka diselimuti. Jika dia dibalut, pasti sebentar lagi akan bangun dan menyingkirkan selimutnya," kata Emili yang sangat tahu tabiat cucunya.


Jay adalah anak yang suka dingin. Anak itu selalu senang jika AC di kamar ibunya dihidupkan. Rasa dingin dan sejuk membuatnya nyaman dan nyenyak untuk tidur.


Bahkan dia juga tak suka memakai selimut sedingin apapun ACnya. Dia akan terusik tidurnya jika tetap diselimuti.


"Dia gak bakal bangun, Tante?" tanya Jeno saat Jay telah memeluk guling kesayangannya. 


"Nggak bakal, Nak Jeno. Jay selalu nyaman jika tidur di kamar ibunya." 


Akhirnya kedua orang itu keluar dari kamar Humaira. Mama Emili mengajak Jeno untuk duduk dan bersantai.


"Nggak perlu, Tante. Jeno mau langsung pulang. Masih ada pekerjaan dari kampus yang harus Jeno kerjakan," kata Jeno menolak permintaan Emili.


"Tapi Humaira belum pulang, Nak Jeno. Tunggu sebentar lagi," kata Mama Emili menahan.


"Tidak perlu, Tante. Lain kali saja masih bisa, 'kan?"


Akhirnya Mama Emili tak memaksa lagi. Dia mengantar Jeno sampai ke depan rumah.


"Waalaikumsalam." 


Mama Emili melambaikan tangannya. Dia tersenyum saat Jeno mulai mengemudikan mobilnya dan meninggalkan pelataran rumah mereka. 


Saat ibu dari satu anak itu hendak berbalik. Terlihat sebuah mobil yang sangat familiar memasuki rumahnya.


"Selamat sore, Mama Emili!" teriak dua wanita heboh dari dalam mobil.


Mama Emili tersenyum. Dia sangat tahu pemilik suara cetar membahana itu. 


"Selamat sore, Anak-anakku!" 


Tiga wanita itu keluar dari dalam mobil. Dengan dua gadis yang terkekeh karena aksi mereka yang memalukan.


Mereka berebut mencium tangan Mama Emili dan membuat seorang wanita yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.


"Mereka datang kesini karena Humai bilang Mama buat kue kacang," kata Humaira yang jujur pada mamanya. 


"Mira kangen kue buatan, Mama Emili. Mangkanya Mira sama Lidya dateng kesini," kata Mira dengan jujur. "Gapapa, 'kan, Ma?" 

__ADS_1


"Gapapa dong. Ayo masuk! Mama siapin kue itu untuk kalian." 


Akhirnya mereka semua masuk ke dalam rumah. Mira, Lidya dan Humaira langsung menuju ke ruang tamu. Mereka melepaskan lelah dengan duduk di sofa sambil berselonjoran. 


"Mai, kamu gak ada tugas dari Pak Jeno?" tanya Lidya secara tiba-tiba. 


Spontan mendengar nama Jeno, membuatnya ingat akan sesuatu. Ya, putranya apakah masih bersama dosennya itu atau sudah diantar pulang. 


"Gak ada. Semua sudah aku selesaikan. Kenapa?" tanya Humaira dengan gugup sekaligus takut.


Takut jika Jay datang dengan Jeno dan akan membuat huru hara di hadapan kedua sahabatnya. 


"Aku curiga aja. Kenapa kamu bisa sama Pak Jeno tadi? Terus sama Jay juga lagi."


"Hanya kebetulan kok. Mobil Papa kempes dan Pak Jeno gak sengaja lewat depan rumah dan berhenti. Yudah aku numpang dan Jay mau ikut juga."


Humaira masih tak mau kedua sahabatnya ini berpikir hal yang tidak-tidak. Atau beranggapan jika dia memiliki hubungan dengan dosen killer tapi tampan dan digilai oleh seluruh mahasiswa kampus.


 Obrolan mereka mulai terhenti saat Mama Emili datang dan membuat dua toples kue kacang. Ibu anak satu itu juga langsung pamit ke dapur untuk membuatkan minuman. 


Disaat itu pula, Humaira merasa dejavu. Telinganya tanpa sadar mendengar suara-suara kecil yang biasa didengarkan dulu ketika semasa Ibu Shadiva hidup. 


"Jangan makan kue coklat, Mai!"


"Nanti kamu jerawatan!" 


"Nanti mukamu makin kusam dan jelek!" 


Humaira menggeleng. Dia menutup telinganya seakan agar suara itu tak lagi terdengar. Namun, kenangan itu masih tetap sama. Membuat trauma Humaira masih membekas meski dia telah bahagia dengan keluarga barunya.


"Mai ada apa?" panggil Lidya dan Mira bersamaan.


Keduanya memeluk Humaira dengan erat. Hingga hal itu berhasil dan membuat ibu kandung Jay itu bernafas dengan putus-putus karena sadar akan gemaan di telinganya lagi.


"Kamu mendengar lagi?" tanya Mira yang khawatir pada sahabatnya.


Humai mengangguk. Dia tak perlu menutupi apapun karena kedua sahabatnya telah tahu semua masa lalunya.


"Tenanglah. Itu hanya ilusi saja, Mai. Sekarang kamu gak bakal jerawatan lagi. Wajahmu sudah mulus dan kamu sudah cantik. Ucapan almarhum ibumu semuanya itu hanya modus belaka!" kata Mira menenangkan.  


~Bersambung


Percayalah orang sakit mental itu gak gampang buat bangkit lagi. Apalagi trust issue yang dia rasakan.


Meski dah cantik, insecure pasti tetep melekat. Dan salah satu bab ini, aku ambil dari temenku sendiri.

__ADS_1


Mangkanya kadang kita harus lebih hati-hati sebelum bicara karena takut ucapan kita malah ngerusak mental orang.


Next bab gimana kalau Bang Syakir ketemu Mas Bar dulu yah. Terus Humai juga mau ke rumah Mas Bar. Duh lalalala


__ADS_2