Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Perang Dunia Kedua?


__ADS_3

...Merendahkan sesama perempuan adalah hal yang paling menjijikkan dan tingkahnya lebih buruk dari seekor binatang....


...~Giska Sefira Alhusyn...


...🌴🌴🌴...


Saat ketiga pasang kaki itu mulai memasuki sebuah pusat perbelanjaan di Kota Malang. Mereka mulai semangat menuju tempat dimana pakaian ibu hamil tersedia. 


Baik Mama Ayna dan Sefira, benar-benar orang paling bersemangat disana. Keduanya dengan bahagia menggandeng tangan Humai yang sejak tadi tersenyum melihat bagaimana antusiasnya mertua dan adik iparnya. 


Jujur sebenarnya Humai tak mau semua ini. Dia juga sedih saat mengingat pertengkarannya dengan Syakir. Namun, sepertinya sikap hangat Mama Ayna dan Sefira mampu membuat Humai melupakan kesedihannya.


Dia bahkan ikut bahagia saat tak henti-hentinya ibu dan anak itu dengan heboh menceritakan apa yang mereka lihat. Humai benar-benar tak menyangka jika masih ada orang kaya sebaik keluarga Syakir. 


Tak memandang ekonomi dirinya, bagaimana penampilannya dan bagaimana sosok dirinya yang selalu buruk di hadapan semua orang. Mereka mampu menerima Humai dengan baik.


Memeluknya ketika dia dihina oleh suaminya sendiri. Menjaganya dari setiap kata menyakitkan yang keluar dari bibir Syakir. Bahkan hal paling membuat Humai merasa memiliki seorang ibu dan saudara kandung, ketika Mama Ayna dan Sefira serta ayah mertuanya membela dirinya daripada anak kandungnya sendiri.


"Itu, Ma. Ayo kita masuk!" ajak Sefira saat mereka mulai melihat salah satu store yang menjual pakaian ibu hamil.


Sefira menggenggam tangan sahabatnya. Ketiganya mulai memasuki store tersebut dan langsung disambut oleh beberapa pelayan yang menghampiri mereka.  


"Ada yang bisa kami bantu, Nyonya?" ucap salah satu pelayan pada Mama Ayna yang mulai menatap ke sekeliling. 


"Dimana tempat celana ibu hamil, Mbak?" tanya Sefira dengan ramah.


"Disini, Nona."


Seorang pelayan mulai mengantar Mama Ayna, Sefira dan Humai menuju salah satu tempat dimana pakaian yang mereka cari. Dari jauh, mereka sudah bisa melihat barang-barang tersebut tergantung dengan rapi.


"Ayo, Nak. Kamu pilih mau yang mana," ucap Mama Ayna pada Humaira sambil mengusap kepalanya. 


Humaira menatap gantungan itu. Dia mulai melihat satu per satu celana yang bahannya benar-benar lembut. Bahkan Humai bisa menebak jika baru kali ini dia bisa memegang pakaian yang sangat nyaman bahannya.


Saat Mama Ayna dan Sefira asyik dengan memilih juga. Humai dengan rasa penasaran yang tinggi mulai menyentuh tag price yang ada disana. Kemudian dia melihatnya hingga matanya terbelalak tak percaya.


"Celana apa sampai jutaan?" seru Humai dengan menggelengkan kepalanya.


Dia mulai melihat tag price yang lain dan benar saja. Semuanya tak ada yang murah. Disini harganya sangat mahal dan itu membuat Humai mulai merasa tak nyaman.


"Mai," panggil Sefira yang mengejutkan Humai dari lamunannya.

__ADS_1


"Hah?" Humai mematung.


Dia menatap sahabat dan ibu mertuanya yang mulai membawa beberapa pilihan celana dan baju yang sudah ada di tangan mereka. Humaira sampai terkejut saat baju dan celana itu, sudah dia lihat harganya.


"Ini…" 


"Kurang?" sela Sefira yang langsung mendapat gelengan kepala Humai.


"Terlalu banyak, Fir," ujarnya saat Humai setelah menarik nafasnya begitu dalam.


"Ini kurang, Nak. Mama lihat kamu gak punya baju hamil," ujar Mama Ayna yang membuat Humai bungkam.


Apa yang dikatakan oleh mertuanya memang benar. Humai tak memiliki satu pun baju hamil. Keadaan ini bukan keadaan yang pernah ada dalam bayangannya. 


Humai tak pernah menyangka jika hidupnya akan jungkir balik seperti sekarang. Hamil di usianya yang masih muda dan dalam segi mental dirinya belum siap.


Namun, ingatlah. Siap tak siap, seorang ibu yang sudah hamil, pasti memiliki ikatan batin yang kuat dengan anaknya. Mereka bisa merasakan sesuatu yang bergetar dan terharu ketika mengusap perutnya.


Hal itulah yang dirasakan oleh Humai. Sebelumnya dia ingin menggugurkan anak ini. Namun, saat dia melihat sosok anaknya yang masih begitu kecil, ada perasaan yang tak bisa dijabarkan. 


Sedih, kecewa, menyesal, bahagia dan terharu. Dia tak pernah menyesali kehadiran anak itu tapi Humai menyesal kenapa harus datang disaat keadaan mereka seperti ini. Dia sedih karena takdir anak yang dikandungnya tak sebaik harapannya.


Humai pernah berpikir ingin memiliki rumah tangga yang bahagia. Dia pernah berpikir memiliki suami yang baik dan anak yang banyak. Namun, sekarang, semua itu seakan hanyalah angan semu untuknya. 


Dia menatap sekeliling sebelum mengatakan hal tak terduga yang membuat Mama Ayna dan Sefira tersenyum lucu. 


"Harganya mahal disini, Ma. Mending beli di luar aja, harganya lebih murah dan dapet banyak." 


Ibu dan anak itu terkekeh. Dia tak menyangka jika Humai sampai memikirkan hal itu.


"Ayo, Ma. Beli di tempat lain aja!" ajak Humai dengan polosnya.


Mama Ayna tersenyum. Dia memegang tangan menantunya dan mengusap lembut punggung tangannya.


"Jangan pikirin harga, Sayang. Mama sama Fira pengen kamu belanja dengan puas," kata Mama Ayna dengan lembut. "Celana dan baju ini demi kenyamanan kamu dan anak dalam perutmu ini, Sayang. Jadi berikan yang terbaik untuknya." 


Akhirnya setelah membeli banyak dress hamil, celana hamil dan baju hamil. Mama Ayna dan Sefira mulai mengajak Humai ke salah satu restaurant yang ada disana. 


Keduanya segera memesan makanan begitu banyak sampai pelayan itu mulai pergi setelah mencatat semuanya. 


"Mama mau ke kamar mandi dulu ya," pamit Mama Ayna yang sejak tadi menahan ingin buang air kecil.

__ADS_1


"Fira ikut, Ma. Dari tadi Fira juga nahan!"


"Humai berani sendirian, Nak?" tanya Mama Ayna pada menantunya.


"Berani, Ma."


"Jangan kemana-mana yah. Mama sama Sefira akan cepat kembali." 


Humaira mengangguk. Dia menatap ke arah jendela yang menampilkan beberapa orang lalu lalang di sana. Meja mereka memang berada di dekat jendela. Hal itu membuat Humai bisa melihat semua yang ada disana.


Sampai tak lama, saat Humai asyik menikmati kesendiriannya sembari menunggu mertua dan adik iparnya. Tiba-tiba terdengar suara perempuan yang sangat dia kenali.


"Wah wah, lihat! Siapa disini?" ujarnya yang membuat Humai kesusahan menelan ludahnya sendiri.


"Hai, Humai. Lihat sini. Udah sombong ya, mangkanya gak mau lihat aku!" 


Humaira bukannya sombong tapi dia takut tak bisa melawan perempuan itu sendirian. Ditambah saat ini kondisinya yang sedang berbadan dua membuatnya takut bukan main.


"Humai!" seru perempuan itu sambil meremas pundak Humai.


Istri Syakir itu meringis. Dia lekas berdiri dan melepaskan remasan tangan itu. 


"Woo...woo. Sudah berani kau yah!" 


"Apalagi yang mau kau buat, Rachel! Apalagi yang mau kau lakukan?" seru Humai memberanikan dirinya. 


Rachel tersenyum miring. Dia bersedekap dada dengan wajah mengejek.


"Oh sudah berani kau rupanya yah!" serunya dengan menunjuk Humaira.


"Aku tak pernah mengganggumu tapi kau selalu mengusikku, Chel. Apa kau tak memiliki kesibukan lain selain mengurusku!" seru Humai dengan keberanian yang tinggi. 


"Kau!" seru Rachel dengan marah.


Dia merampas segelas air yang dibawa oleh pelayan yang ada di dekatnya. Dia hendak menyiramkan air itu ke arah Humai tapi tak disangka sebuah kejadian tak terduga terjadi.


Plak!


~Bersambung


Eh ya allah, jubaedah digantung sampai besok haha. Sampai jumpa besok ya nahan kesel sama ngamuknya, hihi.

__ADS_1


Maaf baru update juga. Baru selesai semua. Jangan lupa klik like, komen dan vote biar author semangat ngetiknya.


__ADS_2