
...Aku tak pernah menjalin sebuah hubungan. Banyak orang mengatakan jika aku membuka hati maka harus siap dengan sakitnya. Lalu sekarang aku akan mencoba untuk mencari apa itu kebahagiaan dan kesakitan di atas nama cinta....
...~Sefira Giska Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
Wajah Sefira bersemu merah. Namun, jujur dia tak tahu apa yang harus ia jawab. Apakah menyampaikan perasaan keduanya. Mengatakan kejujuran tentang hati mereka sudah bisa dibilang jadian. Dirinya saja tak memiliki pengalaman apapun dalam masalah ini. Dia tak punya kenangan atau apapun yang berhubungan dengan cinta.Â
Dalam hidupnya cinta pertama Sefira adalah Papa Haidar dan cinta kedua adalah kakak kandungnya, Syakir. Hanya dua pria itulah yang selama ini mengisi hari-harinya.Â
Dia tak pernah dekat dengan siapapun. Safira selalu menjaga jarak jika melihat pria mulai mendekatinya sebelum menyatakan cinta. Namun, entahlah kenapa saat ini dia mulai berani mencoba hal baru.
Banyak temannya yang mengatakan jika mencintai orang adalah hal yang paling sulit. Akan ada masa bahagia dan sakit di waktu yang bersamaan. Bahkan ada kesiapan hati ketika kita berani memulai membuka hati kita untuk orang lain.
Tak selamanya cinta itu indah. Tak selamanya manusia tetap sama. Akan ada masa dan tenggat waktu manusia berubah. Ada waktu dimana hati manusia akan berganti dan itu siap atau gak siap harus siap kita jalani.Â
"Sejak kapan kita jadian? Kamu aja gak minta aku jadi kekasihmu," kata Sefira yang terpancing perkataan Jeno.Â
Pria itu tersenyum. Sejujurnya dirinya tahu apa yang harus dia lakukan. Dirinya barusan hanya ingin tahu apakah adik Syakir itu mau hubungan keduanya berlanjut atau tidak.
Namun, mendengar jawaban Sefira membuat Jeno bahagia. Ternyata hati keduanya telah sama. Sama-sama jatuh cinta dan ingin memiliki satu dengan yang lain.
"Kalau begitu. Sekarang…" Jeda Jeno lalu meraih kedua tangan Sefira dan menggenggamnya. "Sefira, mau kah kamu jadi pacarku?"Â
Jeno mengatakan itu dengan serius. Dia menatap Sefira tak main-main. Dirinya ingin memiliki hati gadis di depannya ini. Dia ingin memulai semuanya dari awal.
Mungkin Jeno belum bisa memastikan apakah dia ini mencintai atau menyayangi Sefira. Namun, yang pasti. Sefira bukan pelampiasan hatinya.
Dia benar-benar sudah sadar diri. Dirinya sudah tak meminta Humaira lagi. Jeno sudah pasrah dan mengalah. Demi kebahagiaan Syakir dan Jay, dia merelakan cintanya.
Dia tak mau dianggap menjadi pria paling egois. Dia tak mau menjadi pria jahat yang merusakan kebahagiaan seorang anak kecil. Melihat bagaimana Jay yang berteriak bahagia saja itu sudah membuatnya cukup.
Melihat canda tawa dan bagaimana senangnya Jay sudah membuatnya sadar. Sadar bahwa hatinya yang ikhlaa, hatinya yang merelakan Humaira membawa kebahagiaan yang besar untuk anak usia tiga tahun tersebut.Â
"Fira," panggil Jeno lagi sambil mengusap pipinya.
__ADS_1
Jujur Sefira masih diambang bingung. Dia tak menyangka jika Jeno secepat ini mengajaknya berpacaran. Bahkan tatapan pria itu tak ada taatapan bercanda. Jeno benar-benar serius mengajaknya memulai kenangan baru.Â
"Apa kamu masih meragukanku?"Â
Sefira menggeleng. Meski pertemuan mereka masih dibilang hitungan jari. Meski interaksi mereka masih sedikit. Jujur yang namanya cinta itu tak bisa kita cegah.
Cinta itu datangnya dari hati. Bahkan meski pertama kali kita bertemu. Perasaan itu hisa saja muncul secepat itu. Karena apa? Karena rasa suka itu adalah hal lumrah untuk setiap manusia.
"Aku hanya takut," lirih Sefira sambil menunduk.
Jeno perlahan menarik dagu Sefira. Dia ingin menatap wajah itu dengan lekat.Â
"Apa yang kamu takutkan, Fira?"Â
"Aku takut kalau ini hanya sekedar mimpi," kata Sefira yang membuat bibir Jeno tertarik melengkung ke atas.Â
Dia tak menyangka keseriusannya ini dianggap mimpi. Agh apa Sefira tak tahu, mengumpulkan keberanian ini harus mendapat sokongan dari Syakir. Dia juha baru disadarkan oleh Syakir tentang perasaannya sendiri.Â
"Ini nyata," ujar Jeno lalu membawa tangan Sefira ke pipinya.
"Aww!"Â
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Sefira yang terkejut dengan aksi pria yang ia sukai itu.
Karena khawatir Sefira lekas mengusapnya dengan pelan. Dirinya benar-benar yakin jika apa yang terjadi saat ini adalah nyata. Sakit ditangannya tentu menjadi bukti yang kuat.Â
"Sakit, 'kan? Kamu percaya sudah, kalau ini bukan mimpi?" Tanya Jeno lagi yang langsung dibalas anggukan kepala oleh Sefira.
Jeno bahagia. Dia menampilkan senyuman manisnya. Senyuman yang sangat jarang didapat oleh perempuan lain.
Hanya ada tiga orang yang melihat senyuman Syakir di luar. Siapakah itu, ya hanya Jay, Humaira dan Sefira. Tiga orang itulah yang beruntung bisa melihat ketulusan disetiap senyuman Jeno. Dosen killer dengan wajah jutek.
"Gimana? Apa kamu mau jadi pacarku?"Â
"Aku mau," jawab Sefira dengan menunduk malu.
__ADS_1
Jeno merasa kupu-kupu terbang di perutnya. Dia bahagia dan tak bisa menjabarkan kebahagiaannya. Dirinya tak menyangka jika kini perasaannya dibalas.
Apa yang dia sukai bisa dia miliki. Apa yang membuatnua nyaman bisa dia kunci untuk dirinya sendiri. Jeno merasa apa yang terjadi dengannya kemarin mungkin menjadi jalan untuknya menemukan jodoh untuk dirinya sendiri.
Kegagalan hatinya yang kemarin. Membuat Jeno mendapatkan wanita yang menurutnya bisa bahagia dan tertawa setiap hari.
"Kamu serius? Coba ulangi lagi?" Tanya Jeno yang ingim mendengar jawaban manis dari bibir Sefira.
"Aku mau, Jeno. Aku mau jadi pacarmu, aghh!"Â
Sefira terkejut bukan main saat Jeno memeluknya dengan senyuman yang benar-benar begitu lebar. Wanita itu tak menyangka jika bukan hanya hatinya yang berbunga. Namun, hati Jeno juga tak kalah bahagianya.Â
Begitulah cinta dan hati. Tak akan ada yang tahu kapan mereka berlabuh dan kepada siapa kita meletakkan hati kita.
Seberapa lama kita mengenalnya. Seberapa lama kita bertemu dan bersama. Tak selalu menjadi kunci bahwa keduanya adalah jodoh.
Cinta itu misteri dan kita harus berani membukanya jika ingin merasakaan bagaimana rasanya dicintai dan dibahagiakan oleh orang lain.
"Terima kasih. Terima kasih."
Akhirnya pasangan kekasih baru itu mulai turun dari dalam mobil. Wajah mereka benar-benar tak bisa menutupi kebahagiaan keduanya.Â
Jeno mulai mengulurkan tangan dan langsung diterima oleh Sefira. Keduanya mulai berjalan bersama ke pintu utama dengan pandangan saling menatap.
Ya ini memang seperti mimpi. Ini seperti hal fana yang tak nyata. Namun, apa yang keduanya lakukan barusan. Cinta yang mereka saling sampaikan adalah sebuah kejujuran.
Perasaan mereka itu benar-benar ada. Keduanya juga saling menginkan keterbukaan ini dan Syakir hanya mendukung agar keduanya berani mengatakan apa yang keduanya sembunyikan.Â
"Mari kita mulai hubungan ini dengan baik dan kenalkan aku pada kedua orang tuamu sebagai kekasih, Sayang," kata Jeno yang membuat jantung Sefira tak karuan.
~Bersambung
Aghh rasanya aku yang baca ingin gigit bantal. Kesel kesemsem ini mah.
Ada yang sama kek aku?
__ADS_1