
...Sejahat apapun seorang anak. Sebesar apapun kesalahannya. Seorang ibu masih sanggup membuka tangan dan menerimanya kembali ketika penyesalan mampu merubah anaknya tersebut. ...
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Tak ada obrolan penting antara Syakir dan keluarganya. Semuanya menahan sebaik mungkin karena menyadari jika Jay berada di antara mereka.
Tak henti-hentinya Jay terus bermanja dengan Syakir. Tak mau jauh dari pria itu dan ingin terus ada di dekatnya. Hal itu tentu menjadi hal yang mengharukan untuk Keluarga Syakir.
Bagaimana pria itu memperlakukan putranya, menghadapi sikap Jay yang masih kekanakan dan juga selalu menuruti keinginannya tanpa membantah.
Semua itu tentu atas pantauan Mama Ayna dan Sefira. Dua wanita itu terus menjadi CCTV Syakir saat bersama Jay dan keduanya meyakini jika Syakir benar-benar telah berubah.
Obrolan hangat tentu tercipta di sana. Mama Ayna yang ditemani oleh Mama Emili, lalu Papa Haidar dan Papa Hermansyah yang membahas soal bisnis. Lalu Humaira dan Sefira yang duduk di atas karpet tepat di depan televisi.
Sedangkan Syakir, pria itu menemani putranya yang bermain dengan kucing dan mainannya. Jay benar-benar tipikal anak menghargai pemberian orang. Kucing bernama JJ itu dirawat dengan baik olehnya.
"Sejak kapan Jay ngerawat kucing, Mai?" Tanya Sefira sambil menatap keponakannya yang asyik mengelus kucing di kakinya.
"Masih baru-baru aja sih. Kenapa?" Tanya Humaira sambil menatap ke arah sahabatnya.
"Kucingnya lucu. Bulunya comel gitu. Beli dimana?" Tanya Sefira beruntun.
Gadis itu mengulurkan tangannya. Dia memetikkan jarinya sambil mengeluarkan suara kucing yang membuat hewan manis itu berlari ke arahnya.
"Good!" Kata Sefira dengan senyuman lebar di bibirnya.
Tangannya mengusap kepala kecil hewan berbulu itu. Entah kenapa Sefira tertarik dengan kucing kecil milik Jay. Menurutnya bulu yang berwarna putih dengan sedikit kecoklatan itu begitu menggemaskan. Lalu jangan lupakan, di bagian hidungnya ada warna coklat sedikit yang semakin membuatnya terlihat sangat comel.
"Kucing itu gak beli, Fir. Dia dapat dikasih sama dosenku," Kata Humai dengan jujur.
Mata Sefira beralih. Dia menatap hewan mungil itu dengan pandangan yang menggemaskan.
"Ante ambil yah?" Pinta Humai pada Jay.
Kepala mungil itu lekas menggeleng. Dia mengambil JJ lalu menggendongnya.
"Gak mau," Tolak Jay dengan cepat. "Kata Om Jeno, kucing ini hadiah buat Jay. Kalau Jay kangen Om Jeno, Jay juga bisa main sama JJ."
Entah kenapa ucapan polos Jay membuat Sefiea penasaran dengan dosen kakak iparnya itu. Seakan dia mulai berpikir kenapa keponakannya bisa sedekat itu dengan orang lain.
__ADS_1
Bahkan Sefira sendiri sangat tahu bagaimana keponakannya itu yang proyek akan mamanya dan dia juga tak bisa bermain dengan orang baru. Jay selalu terlihat kaki dan tak nyaman jika bersama orang yang tak ia sukai.
Namun, reaksi Jay yang terlihat menyayangi kucing kecil itu. Membuat Sefira menebak jika anak kakaknya sangat dekat dengan dosen itu. Semuanya bisa dilihat dari perlakuan Jay pada JJ. Sangat amat spesial dan begitu melindunginya.
"Kalau Tante mau, minta sama Om Jeno aja."
"Ehhh." Sefira membelalakkan matanya.
Dirinya saja tak kenal. Apa iya sopan datang langsung minta kucing. Benar-benar memalukan.
Tak lama, Jay yang lelah mulai menguap. Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah satu siang dan menandakan jika Jay biasanya sudah tidur siang.
Bocah kecil itu memasukkan hewan mungil ke dalam kandang lalu mulai naik ke pangkuan Syakir.
"Ayah, temani Jay tidur," Rengek Jay dengan melingkarkan tangannya di leher Syakir.
"Ayo!"
"Bantu Syakir, Sayang. Dia belum tahu, 'kan, kebiasaan Jay kalau mau tidur," Ucap Mama Emili pada putrinya.
"Iya, Ma."
"Letakkan ke tempatnya yah. Jangan sampai terjadi sesuatu atau hilang. Jay akan menangis nanti," Kata Humai menjelaskan.
"Baik, Nona."
Akhirnya pasangan mantan suami istri itu mulai menaiki tangga menuju ke lantai dua. Dengan Jay yang ada di gendongan Syakir, membuat keduanya terlihat seperti keluarga yang bahagia.
Sungguh hati Syakir begitu berbunga. Akhirnya dia bisa merasakan sesuatu yang sejak dulu ia inginkan. Merawat putranya, menyiapkan Jay yang hendak tidur dari mencuci wajah, tangan dan kaki. Lalu mengganti pakaiannya.
Syakir benar-benar melihat dan mengingat semua yang dikatakan oleh mantan istrinya. Sampai akhirnya putranya itu berhasil tidur dengan nyenyak.
"Hadang saja pakai bantal, Kak," Ucap Humai sedikit canggung. "Jay tidurnya kadang anteng kadang nggak. Jadi harus dihadang biar gak jatuh."
Syakir mengangguk. Sosok putranya mengingatkannya pada dirinya sendiri. Syakir juga sama seperti Jay. Kadang dia tidurnya tenang dan damai. Tapi kalau sudah lelah, badannya akan berputar seperti jarum jam pada porosnya.
"Udah, Kak. Itu sudah cukup. Ayo kita turun!"
...🌴🌴🌴...
Sedangkan di lantai bawah. Mama Ayna dan Papa Haidar setia menunggu putra pertama untuk turun. Entah kenapa tidurnya cucu pertamanya membuat sesuatu dalam hati Mama Emily berbunga.
__ADS_1
Ada rasa bahagia melihat perubahan putra pertamanya. Ada perasaan senang melihat bagaimana Syakir yang mampu masuk di antara Jay dan Humai.
Bahkan semua yang dilihat olehnya sejak tadi, membuat Mama Ayna yakin jika putranya sudah menerima Jay sepenuh hati.
"Apa kalian sudah memaafkan kesalahan putraku?" Tanya Mama Emili pada kedua orang tua Humai.
Mereka telah berbincang sejak tadi. Menceritakan bagaimana Syakir bisa ada disana dan mulai dekat dengan Jay. Tak ada yang ditutupi oleh Mama Emili dan Papa Hermansyah. Keduanya menceritakan semuanya dengan jujur.
"Ya," Sahut Papa Hermansyah tanpa ragu. "Putra kalian memang pernah salah tapi mengakui kesalahannya dan bisa berubah menjadi sosok yang lebih baik adalah sebuah perbuatan terpuji."
"Kita tak berhak menghakimi masa lalunya. Semua orang pernah khilaf dan salah. Selagi dia bisa memperbaikinya, lalu apa yang harus tidak dimaafkan?" Kata Mama Emili dengan bijak.
Kedua orang tua Humai memang telah memaafkan Syakir. Apalagi melihat bagaimana perjuangan Syakir dan apa yang pria itu lakukan di Jakarta. Membuat keduanya menerima maaf pemuda yang pernah menyakiti putri mereka.
Sampai akhirnya kedatangan Syakir dan Humai yang mulai terlihat membuat mereka menghentikan pembicaraan.
Kedua orang itu lekas berjalan ke arah ruang tamu. Sampai akhirnya saat Syakir hendak berjalan ke arah kedua orang tuanya. Terlihat Mama Ayna berdiri yang membuat Syakir menghentikan langkahnya.
"Mari kita bicara, Syakir!" Ajak Mama Ayna pada Syakir.
Wajah Syakir kebingungan. Namun, melihat anggukan kepala dari papanya membuat Syakir akhirnya mengikuti langkah wanita yang ia sayangi itu.
Wanita yang melahirkannya dengan ikhlas. Wanita yang menjadi cinta pertama di dunia.
Keduanya berhenti di taman samping rumah Humai. Ibu dan anak itu berdiri dengan jarak beberapa meter. Tak ada perkataan apapun, sampai akhirnya Mama Ayna berbalik dan membuat Syakir mendongakkan kepalanya.
"Sebenci itukah kamu sama Mama, Syakir? Sampai kamu gak mau peluk Mama?" Kata Mama Ayna yang membuat mata Syakir berkaca-kaca.
Dia menghapus air matanya. Tanpa kata, tanpa syarat atau apapun. Syakir lekas berlari ke arah mamanya dan memeluknya dengan erat.
"Mama!"
Lihatlah pemandangan ini. Sebuah bukti jika seorang ibu yang kecewa pada putranya. Sebuah kesalahan putranya yang besar masih mampu mereka maafkan ketika penyesalan mendatangi hidup anak mereka.
"Iya ini Mama, Syakir. Ini Mama yang selalu rindu sama kamu."
~Bersambung
Next bab siapin tisu yah. Hihi
BTW kalau Sefira minta kucing. Minta sama Jeno aja haha.
__ADS_1