Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Mood Ibu Hamil


__ADS_3

...Ternyata kebaikan Tuhan masih ada untuk seorang pendosa dan aku sangat banyak bersyukur ketika menjadi salah satu dari orang yang beruntung itu. ...


...~Guntur Syakir Alhusyn. ...


...🌴🌴🌴...


Syakir benar-benar merasa dejavu. Bahkan dia masih belum percaya dengan apa yang dia dengar dari istrinya. Matanya tanpa lelah menatap Humai yang menerima piala kemenangannya dan berfoto bersama model dan juri disana.


Syakir masih merasa seperti patung. Otaknya seakan masih mencerna semua yang dikatakan oleh istrinya itu. Seakan semuanya hanyalah mimpi.


Menjadi ayah lagi? Itu tandanya istrinya tengah hamil anak kedua? Hamil dari anak pertamanya, Jay.


"Selamat ya, Nak. Selamat kamu akan menjadi seorang ayah lagi untuk anakmu, " Kata Mama Ayna saat mereka sudah keluar dari gedung.


Semua orang tentu memberikan waktu untuk Syakir menerima kabar mengejutkan itu. Mereka memberikan waktu untuk Syakir mencerna dan meresapi setiap apa yang dikatakan oleh istrinya itu.


"Kak, " Panggil Humai lagi saat keduanya sudah ada di luar gedung.


Syakir menatap mata istrinya dengan lekat. Jujur jantung Syakir berdegup kencang sejak tadi. Tangannya bergetar menahan rasa haru dan sedih. Seakan apa yang dia dapatkan sekarang seperti kebaikan yang besar yang kembali dia dapatkan dari Tuhan.


Matanya turun ke bawah. Dia menatap perut istrinya yang dimana. Ada nyawa baru disana.


"Boleh aku menyentuhnya? " Tanya Syakir yang masih menganggap ini hanyalah sebuah mimpi yang ternyata Tuhan wujudkan.


Untuk Syakir, anak bukanlah ajang siapa cepat dia dapat. Anak bukan hal tujuan hidup dia menikah. Meski putranya, Jay, menginginkan adik. Syakir hanya mampu berusaha dan kembali menyerahkan semuanya pada Tuhan.


Lalu sekarang, ternyata harapan dan doanya dikabulkan oleh Tuhan. Apa yang dia inginkan, Allah dengarkan dan mewujudkannya.


"Tentu, Kak. Peganglah! "


Syakir menelan ludahnya yang susah payah. Dia mulai mengangkat tangannya yang gemetaran. Menahan nafas, Syakir mulai meletakkan telapak tangan itu di atas perut istrinya.


Rasa bahagia, hangat, sedih, terharu bercampur menjadi satu.


"Anakku, " Ucap Syakir sambil menatap ke arah kedua mata istrinya.


"Iya, Kak. Ini anak kita! "


Syakir lekas mengangkat tubuh istrinya. Dia memeluknya dan memutarnya dengan rasa bahagia. Pria itu tak peduli jika saat ini dia menjadi pusat perhatian.


Yang terpenting di pikirannya. Ini bukanlah mimpi lagi. Ini benar-benar nyata. Dia akan menjadi seorang ayah lagi dan berhasil menuruti permintaan putranya.

__ADS_1


"Kak, turunin! " Pekik Humai terkejut dengan memeluk suaminya erat.


"Astaga, Syakir! " Pekik Mama Ayna dan Emili.


Mereka memukul lengan Syakir sampai pria itu menurunkan istrinya.


"Istri kamu lagi hamil! " Ujar Mama Ayna mengomel.


"Ya Tuhan. Belum apa-apa juga, Syakir sudah tersingkirkan! " Kata pria itu mendramatis.


Humai hanya mampu tertawa pelan. Dia memeluk suaminya dengan perasaan bahagia. Dirinya juga baik-baik saja karena tahu jika suaminya itu hanya reflek karena rasa bahagianya.


"Jaga kandungan kamu ya, Sayang, " Kata Mama Emili menasehati.


"Jangan banyak begadang, okey, " Lanjut Mama Ayna memberikan nasehat. "Untuk pembukaan galeri besok. Kamu Syakir! Cari pegawai yang banyak untuk istri kamu. Jangan biarkan dia kecapekan! "


Syakir mengangguk. Apa yang dikatakan mamanya memang benar. Dia tak akan membiarkan istrinya kelelahan sedikitpun. Apalagi saat ini Humai sedang berbadan dua.


"Iya, Ma. "


Humai merasa terharu. Dia merasa dejavu sampai matanya akhirnya menatap ke arah putranya yang tengah tertidur dengan tenang dalam gendongan Jeno.


Humai masih ingat ketika dulu hamil putranya. Tak ada suasana seperti ini. Yang ada dulu hanya dirinya dan Jay yang masih dalam kandungan saling menguatkan.


"Ibu sayang, Jay, " Lirih Humai sambil mencium putranya yang tidur di gendongan dosen killer nya itu.


Syakir merasa tersentuh. Hatinya tersentil saat dia menyadari sesuatu. Sadar tentang apa yang dirasakan oleh istrinya sekarang.


Perihal putra mereka. Perihal keberadaan Jay dulu. Hadirnya Jay yang tak mendapatkan perlakuan seperti ini. Hadirnya Jay yang tanpa dirinya dan malah mendapatkan hinaan dari dirinya.


Saat Syakir hendak mendekati istrinya. Mama Ayna dan Emili menggeleng. Dia meminta anaknya untuk menunggu. Menunggu Humai tenang dari segala emosi yang tak stabil karena kehamilannya.


...🌴🌴🌴...


Akhirnya acara makan bersama ditunda karena perasaan Humai tak bisa diprediksi. Mereka kembali ke hotel dan meminta Syakir untuk menemani istrinya itu.


Percayalah mood ibu hamil di fase ini naik turun. Tak akan ada yang bisa mengerti kecuali kita sendiri yang memberikan pengertian.


"Kamu ganti baju aja, Sayang. Biar aku yang mengurus Jay, " Kata Syakir dengan pelan.


Dia tahu istrinya sedang sensitif kali ini. Syakir tak mau membuat istrinya tertekan. Syakir se cinta itu pada Humai. Dia bahkan akan terus berusaha menjadi suami yang sangat amat sabar karena dia menyadari jika di masa lalu dia sudah sangat jahat dengan istri dan calon anaknya.

__ADS_1


"Maafin Humai, " Kata Humai dengan lirih.


Perempuan itu menyadari satu hal. Entah kenapa dia merasa mudah melow seperti ini.


"Humai… "


"Jangan katakan apapun! " Syakir menurunkan tubuhnya.


Dia menggenggam tangan istrinya dengan pelan. Mengusapnya begitu lembut dan menciumnya.


"Aku tau ini salahku di masa lalu, Sayang. Aku tak bisa menghapusnya dan aku meminta maaf, " Kata Syakir sambil mencium tangan Humai dan tanpa sadar air matanya menetes.


Percayalah tak ada hal yang paling membahagiakan selain hari ini. Tuhan memberikan kepercayaan itu lagi padanya setelah kegagalan di masa lalu.


Tuhan masih percaya padanya untuk menjadi seorang ayah. Memberikan kesempatan untuknya membangun rumah tangga yang pernah dia hancurkan sendiri.


"Maafkan aku, Sayang! '


Hati Humai bergetar. Dia bisa merasakan perasaan suaminya yang sama dengannya. Mereka adalah dua hati yang pernah patah bersama. Mereka adalah dua hati yang pernah disatukan karena terpaksa dan berpisah. Sampai akhirnya takdir memang sekuat itu.


Tak ada yang bisa menolak takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan. Sekuat apapun manusia menolak jika Tuhan sudah berkehendak maka semua akan terjadi sesuai dengan garisnya.


"Aku sudah memaafkanmu. "


Syakir mendongakkan kepalanya. Dia memeluk istrinya dengan pelan. Wajahnya sangat amat bahagia. Tak ada yang bisa dia katakan lagi selain kata bersyukur.


"Mari kita jaga anak ini bersama-sama, Kak. Aku, kamu dan Jay. Kita rawat dia agar bisa merasakan bagaimna memiliki kita di antara dirinya, " Kata Humai yang membuat Syakir mengangguk.


"Katakan apapun yang kamu inginkan, Sayang. Aku berjanji akan memenuhinya. Apapun itu dan kapanpun! "


"Tentu. Jangan pernah marah jika aku akan merepotkanmu, Kak. Karena kali ini, aku tak sendiri lagi. Aku akan mengatakan semua yang anak kita inginkan! " Kata Humai yang membuat Syakir terkekeh.


Namun, kepala pria itu mengangguk. Syakir tak peduli apapun. Dia berjanji akan mengganti waktu yang banyak hilang untuk istri dan anak-anak nya.


Dia berjanji akan mengisi dan mengganti semua masa lalu itu dengan kebahagiaan yang bisa dia berikan. Dengan apapun yang bisa dia lakukan.


"Aku akan mewujudkannya, Sayang. Apapun itu, demi kamu, Jay dan anak kita! "


~Bersambung


Udah siap mau pisah kan?

__ADS_1


OTW tamat yah guys. Jangan minta nambah mundur lagi. Gantian Zelia biar disini haha.


__ADS_2