
...Jangan berusaha bertahan di sebuah hubungan yang saling menyakiti. Kau berhak mengakhiri dan meninggalkannya untuk mencari kebahagiaan yang sejati....
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
"Kakak kau…"
Tubuh pasangan suami istri menegang. Mereka sangat mengenal betul siapa pemilik suara ini. Suara yang familiar di kedua telinga mereka.
Dengan berani, Humai dan Syakir menoleh. Keduanya tak menyangka jika tebakan dalam pikiran mereka benar. Disana di pintu yang hendak menuju dapur. Berdirilah seorang perempuan muda dengan mata berkaca-kaca.
Dia menatap ke arah Syakir dan Humai bergantian. Dia sama terkejutnya dengan apa yang ia dengar. Dirinya tak menyangka jika pria yang ia anggap baik kepadanya ternyata memiliki pikiran jahat seperti itu.
"Giska!"Â
Plak.
Sefira, wanita yang ternyata adik kandung Syakir itu menampar kakaknya dengan kuat. Dia kecewa bukan main pada Syakir. Matanya meneteskan air mata saat hatinya sakit mendengar ucapan kakak kandungnya sendiri yang hendak melenyapkan anaknya.
Dia tak menyangka jika kehidupan pernikahan Syakir dan Humai akan seperti ini. Dia tak menyangka sifat kakaknya yang sangat menyayanginya, baik kepadanya dan selalu menjaganya berbeda pada wanita lain.
Sefira tak menyangka jika Syakir setega itu. Melenyapkan anak yang tak memiliki dosa apapun dan hadir karena kesalahan kedua orang tuanya. Lalu mengatakan itu tanpa rasa bersalah.
"Kau tau, Kak," kata Sefira dengan pandangan kecewa.
Adik kakak itu saling berpandangan. Syakir bisa melihat raut kekecewaan tercetak jelas di mata adiknya. Bahkan dia bisa melihat kemarahan besar disana.
"Aku pernah berharap memiliki suami seperti, Kak Syakir. Aku pernah meminta sama Tuhan, semoga suamiku seperti Kakak. Tapi sekarang…'" jeda Sefira dengan menghapus air matanya. "Aku tak mau. Aku membatalkan doaku pada Tuhan. Aku tak mau memiliki suami seperti, Kakak."Â
"Suami kejam, jahat dan menindas. Suami yang tega mengancam dan hendak membunuh anak kandungnya sendiri!" Sefira berteriak hebat.
Wajahnya memerah menahan amarah yang begitu besar. Dia tak habis pikir dengan kakaknya ini. Sefira pernah berfikir dengan keduanya tinggal bersama dan kakaknya tinggal di tempat biasa, akan merubah cara berpikirnya.Â
Hubungan mereka juga akan semakin dekat dan kakaknya bisa menerima kehadiran Humai dan calon anaknya. Namun, ternyata dugaan dirinya dan kedua orang tuanya tak sesuai. Menurut Sefira, kakaknya semakin menjadi dan tak bisa ditahan.Â
__ADS_1
"Giska. Kakak minta maaf! Kakak udah kecewain kamu. Kakak…"Â
"Cukup," ucap Giska sambil menggeleng. "Seharusnya Kakak minta maaf pada Humai. Bukan padaku!" Serunya dengan marah. "Yang kau sakiti hatinya bukan aku, Kak. Yang kau buat kecewa bukan aku. Tapi mereka!"Â
Sefira menunjuk sahabatnya. Dia ingin kakaknya sadar jika apa yang ia lakukan barusan pada Humai dan anaknya adalah perbuatan yang salah.
"Kakak dosa besar menghina istrimu sendiri. Apalagi melenyapkan anak yang tak berdosa. Dia tak mau hidup disini. Dia tak mau hadir disini tapi karena Kakak dan Humai, dia bisa ada di antara kalian berdua."Â
"Dia bukan anakku, Giska. Bukan!" Seru Syakir masih kekeh.
Dia tak percaya jika wanita seperti Humai tak murahan. Wanita yang rela melemparkan tubuhnya di ranjang seorang pria adalah wanita tak baik.Â
Syakir yakin jika Humai adalah wanita yang bebas. Dia yakin jika Humai tidur dengannya hanya untuk menjeratnya lalu setelah itu dia berani tidur dengan yang lain setelah berhasil dengan rencananya.
"Kau boleh menolak kebenarannya, Kak. Kau boleh menolak dia!" Kata Sefira dengan pandangan yang sudah hancur pada kakaknya. "Tapi jangan pernah menyesal ketika dia nanti lahir dan wajahnya akan mirip denganmu."Â
Setelah mengatakan itu. Sefira segera menarik tangan Humai. Dia mengajak wanita itu pergi tapi ditahan olehnya.Â
"Jangan!" Kata Humai tanpa suara.Â
Rachel disini adalah benalu menurut Humai. Dia adalah wanita yang tak punya malu menggoda suami orang. Bahkan dengan berani datang ke rumahnya dan tinggal disini.Â
"Ayo, Mai. Kita keluar!"Â
"Jangan, Fir. Jangan…" kata Humai menolak dengan pelan.
"Wah…wah lihat. Lihat siapa yang datang," kata Rachel yang datang dengan bertepuk tangan.
Sefira menoleh. Dia semakin dibuat terkejut dengan sosok Rachel yang ada disini. Pandangannya langsung tertuju pada kakaknya yang sejak tadi diam.Â
Sedangkan Syakir, pria itu hanya bisa memejamkan mata saat kekasihnya turun ke lantai bawah. Dia yakin jika Giska akan semakin marah dan kecewa pada dirinya ini.Â
"Kakak kau sampai…"
"Kenapa terkejut yah?" tanya Rachel dengan tangan bersilang di dadanya.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum miring. Bahkan dengan bangganya dia melingkarkan tangannya di lengan Syakir.Â
"Kau benar-benar tak punya hati, Kak. Kau suami yang biadab!"Â
"Perkataanmu, Giska!" Seru Syakir yang mulai terpancing emosi karena perkataan adiknya yang melebihi batas.Â
"Kenapa? Apa Kakak akan menamparku juga? Apa Kakak tak terima dengan ucapanku?" Kata Giska tanpa takut.
"Perkataan apa yang pantas untuk seorang suami yang menyimpan wanita lain di rumah istrinya? Sebutan apa yang pantas untuk pria yang sudah menikah tapi memiliki wanita lain di rumahnya. Sebutan apa yang pantas, hah?"Â
Sefira benar-benar terkejut. Dia tak menyangka kakaknya seberani ini. Membawa wanita ular itu ke rumah Humai dan tinggal bersama disini.Â
"Lalu kau!" Seru Sefira menunjuk Rachel dengan pandangan benci. "Apa kau tak punya muka dan berani tinggal disini? Apa kau terlalu gatal sampai mengejar kakakku yang sudah memiliki istri dan calon anak di antara mereka berdua?"
"Kau!" Seru Rachel yang mulai mengangkat tangannya tapi langsung ditahan oleh Syakir.Â
"Jangan berani menampar adikku, Rachel!" Seru Syakir dengan menatap Rachel tajam.Â
"Dia berani menghinaku, Sayang," Rengeknya yang membuat Sefira memutar bola matanya malas.Â
"Kalian berdua memang cocok," Kata Sefira lalu menggenggam tangan sahabatnya. "Sama-sama rendahan."Â
"Giska!" Bentak Syakir dengan dada naik turun. "Kau berani pada Kakak?"Â
Sefira berdiri tegak di hadapan Syakir. Tak ada ketakutan dalam diri gadis itu. Dia menatap kakaknya dengan pandangan marah sekaligus benci.Â
"Apa yang harus aku takutkan lagi? Rasa hormatku padamu sudah runtuh semenjak Kakak memperlakukan bangsaku dengan rendah!"
Sefira kembali menggenggam tangan sahabatnya. Namun, bukannya pergi dia menarik sahabatnya berdiri di sampingnya. Menatap tanpa takut ke arah Syakir dan Rachel yang berdiri berdampingan juga.Â
Sefira benar-benar ingin berteriak. Mengatakan semua hal yang diketahui di hadapan wajah kakaknya. Namun, dia kembali ingat. Bahwa memperlakukan seseorang agar menyesal begitu dalam adalah menunggu waktu yang tepat dan menghancurkannya ketika dia sudah mengetahui segalanya.Â
"Kakak boleh memilih dia sekarang tapi…" Jedanya lalu menatap keduanya bergantian. "Aku pastikan Kakak akan menyesal sedalam-dalamnya setelah tau kebenaran tentang wanita yang kau cintai ini dan semuanya."
~Bersambung
__ADS_1
Hmm ada yang tau maksud Sefira gak yah. Hayoo?