Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Syakir Menolak Tanda Tangan


__ADS_3

...Entah ini yang dimaksud hikmah dibalik setiap ujian tapi yang pasti aku akan sangat bahagia jika memang kedua orang tuaku masih hidup....


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


"Aku…" 


"Cepat tandatangani itu, Syakir. Jangan menghambat pekerjaan pengacara Papa!" kata Papa Haidar dengan tegas.


Syakir sekali lagi menatap kedua orang tuanya. Jujur dia merasa kehilangan disini. Dirinya bahkan menyadari ketika surat perceraian itu berada di tangannya.


Dia tak mau ini terjadi. Syakir tak mau bercerai dan membuatnya meletakkan berkas putih itu di atas meja.


"Ada apa, Tuan? Apa kau membutuhkan bolpoin?" tanya pengacara itu pada Syakir. 


"Aku tak mau bercerai!" kata Syakir dengan tegas. "Toh gadis itu sedang hamil. Perceraian ini tidak sah dalam agama kita." 


"Jangan membawa agama dalam masalah ini," kata Mama Ayna yang sejak tadi diam. "Apa yang kau lakukan pada Humai. Semuanya sudah mengingkari janjimu pada Tuhan." 


Telak. Mama Ayna menatap anaknya dengan pandangan tajamnya. Dia tak menyangka putranya akan mengatakan hal itu sebagai sebuah alasan.


Jujur Mama Ayna sudah tahu jika putranya mulai merasa kehilangan. Setiap laporan dari pelayan yang ia letakkan di rumah ini. Membuat Mama Ayna tahu bagaimana tingkah laku Syakir yang berusaha menutupi kekosongan hatinya. 


"Kau sendiri yang ingin bercerai, kau juga yang menghina istrimu. Lalu kenapa sekarang kau yang tak mau bercerai?" 


"Aku mau bercerai, Ma. Tapi…" 


"Jangan banyak alasan!" seru Mama Ayna lalu memberikan bolpoin dan meletakkan di berkas putih itu. "Cepat tanda tangani, Syakir!" 


Mama Ayna bisa melihat tatapan putranya itu. Seperti ada kesedihan di sana. Jujur dia juga tak tega melihat putranya. Namun, sekuat tenaga ibu dua anak itu mencoba menahan segalanya. 


Dia ingin memberikan pelajaran pada Syakir. Bahwa hidup yang ada di dunia ini tak selamanya sesuai dengan apa yang dia inginkan. Hidup yang berputar ini bak roda kendaraan. Kadang kita ada di atas dan kadang kita juga ada di bawah.


"Ayo, Syakir!" 

__ADS_1


Pria itu merasa tertekan. Dia menatap berkas putih itu tanpa mau memegangnya. Jujur entah Syakir sadari atau tidak. Dirinya mulai merasa bergantungan pada wanita yang sering kali ia hina itu.


Dia mulai merasa ada keresahan dalam dirinya ketika mengetahui fakta jika perceraian mereka sudah ada di depan mata.


"Syakir!" peringat Mama Ayna yang membuat pria itu mulai mengambil bolpoin dengan perasaan berat.


Syakir perlahan meraih kertas itu lagi. Dia mulai membuka semua berkas itu dengan keringat dingin yang membasahi tangannya. Dia merasa sesak nafas. Namun, tekanan dari mamanya mau tak mau membuat Syakir mulai menggores tinta hitam itu di atas surat perceraian mereka. 


Sebuah surat yang menjadikan bukti jika mereka akan berpisah dan tak menjadi suami istri lagi.


"Cukup, Tuan," kata pengacara papanya lalu mengambil berkas itu memasukkannya ke dalam amplop lagi. "Terima kasih atas kerjasamanya."


Syakir tak menjawab. Tatapannya kosong dan dia hanya menatap tangannya yang baru saja menandatangani surat itu. Syakir merasa dejavu dan dia seperti linglung.


Hal itu tentu membuat Mama Ayna meneteskan air mata tapi dengan cepat dia hapus kembali.


"Saya pamit undur diri, Tuan. Mari," ucap pengacara itu yang langsung berpamitan pada Syakir dan kedua orang tuanya. 


Sepeninggal pria paruh baya dengan pakaian formalnya itu. Syakir mulai menatap orang tuanya dengan lekat.


"Kenapa Mama tega melakukan itu?" 


"Tapi disini Humai sedang mengandung, Ma! Dia mengandung anakku!" 


Ada perasaan tersentuh dalam diri Mama Ayna. Dia senang saat anaknya memanggil Humai dengan nama aslinya untuk pertama kali. Lalu mengakui anak yang dulu pernah tak dianggap.


"Sekarang kau baru mengakuinya, Syakir? Setelah anak dan istrimu pergi, kau baru sadar?" 


Syakir menunduk. Dia juga tak tahu kenapa kata-kata itu tiba-tiba keluar dari mulutnya. Seakan dirinya sendiri tak menyangka jika bisa mengatakan hal itu di hadapan kedua orang tuanya. 


"Kau menyesal?" kata Mama Ayna menatap putranya dengan lekat. "Tapi sayangnya penyesalanmu terlambat, Syakir. Mereka telah pergi dan meninggalkanmu disini sendirian." 


...🌴🌴🌴...


"Ada apa?" tanya Almeera yang baru datang dengan mengusap bahu Humaira.

__ADS_1


Gadis itu sejak tadi ada di taman rumah Almeera. Humaira hanya duduk diam sambil menatap ke arah hamparan bunga dan pot yang tertata rapi. Jujur perasaannya sejak tadi tak tenang.


Pikirannya bahkan merambah kemana-mana. Ditambah satu hal yang membuatnya diam disini yaitu Humaira belum siap bertemu dengan adiknya, Rein.


Jika fakta bahwa dirinya bukanlah anak kandung Ayah Seno dan Ibu Shadiva, maka dirinya dan Rein bukanlah saudara kandung. Namun, fakta yang ada tetap tak membuat Humaira berubah.


Ya dia tetap menyayangi Rein sebelum dia tahu fakta itu terungkap. Dia tetap menganggap Rein adalah adik kandungnya.


"Aku sedang memikirkan nasibku, Mbak," kata Humai dengan pelan.


"Jangan stress, Mai. Ingat, kamu sedang hamil," kata Almeera mengingatkan.


"Aku gak tau mau seneng atau sedih, Mbak. Sefira baru saja mengatakan fakta yang sebenarnya terjadi padaku," ucap Humaira dengan pelan.


Almeera tetap diam. Dia menunggu dan akan mendengarkan cerita wanita yang sudah dianggap seperti adik kandungnya sendiri. 


"Dia bilang, kalau aku bukan anak dari Ayah Seno dan Ibu Shadiva," ucap Humaira bercerita. 


"Selama ini aku anggap mereka orang tua kandungku, bagaimanapun sikap almarhum Ibu Diva padaku. Tapi dengan fakta yang Sefira bawa, aku berpikir bagaimana bisa aku berpisah dengan orang tuaku." 


"Pasti ada alasan dibalik kamu berpisah dengan orang tua kandungmu," ujar Almeera mencoba mencari jalan tengah.


Almeera tak mau ikut campur. Dia juga bisa merasakan posisi Humaira sekarang. Pasti perasaan ibu hamil itu sedang gelisah dan bingung. Dia juga pasti sedang memikirkan apakah yang dikatakan oleh Sefira benar atau tidak. 


"Yang paling aku takutkan yaitu Rein," lirih Humaira dengan menatap Almeera. "Bagaimana jika dia tahu kalau kita bukanlah saudara kandung?" 


Pertanyaan Humaira itu ternyata didengar oleh seorang remaja yang sedang bergandengan tangan dengan Bia. Langkah pria muda itu yang usianya sama dengan Abraham spontan terhenti. 


Jantungnya berdetak kencang saat dia tak salah dengar dengan suara kakaknya itu. Dia bahkan mengingat dengan jelas apa yang dikatakan Humai barusan. 


"Kenapa berhenti, Kak?" tanya Bia dengan suaranya yang sedikit tinggi karena terkejut dengan aksi Rein yang berhenti tanpa diduga. 


Suara itu tentu membuat Almeera dan Humaira menoleh. Jarak mereka yang dekat tentu membuat keduanya mendengar dengan jelas suara Bia.


"Rein," pekik Humaira terkejut dengan menatap sosok adiknya yang juga tengah menatapnya dengan mata memerah seperti menahan tangis. 

__ADS_1


~Bersambung


Bang Syakir jan bilang gak mau pisah yah. Aku itu author paling balik. Ngabulin permintaan pemerannya sendiri loh.


__ADS_2