Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Kode Minta Dihalalin


__ADS_3

...Semua hal yang terjadi itu bukan untuk menjatuhkanmu. Melainkan Tuhan sedang ingin mengangkat derajatmu dan membuatmu menjadi sosok yang lebih dewasa....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya seperti keputusan yang sudah diambil. Papa Hermansyah tentu lekas menghubungi istrinya itu. Dia menceritakan semuanya. Pembicaraan dengan dokter dan juga Humaira. 


Tak ada yang ditutupi oleh Papa Hermansyah. Semuanya sudah dikatakan dengan jelas dan detail pada istrinya. Dia tak mau melakukan kesalahan yang kedua. Dia ingin memperbaiki semuanya dengan tuntas.


Dia ingin mengembalikan Rachel seperti semula. Dia ingin mendidik anak itu dengan kedua tangannya sendiri. Dia juga berharap semoga Rachel benar-benar bisa kembali seperti sedia kala.


Dia tak mau menyakiti anak yang usianya sama dengan putrinya itu. Dia tak mau jika suatu hari terjadi pada Humai atau Rein, karma karena telah menyakiti seorang anak. Dia ingin menebus segala dosa dan kesalahannya di masa lalu.


"Kalian tinggal dimana semalam?" tanya Papa Hermansyah setelah ketiganya memakan makanan yang dipesan.


"Di hotel, Pa," jawab Syakir dengan jujur. "Humai udah ngerasa capek duluan. Jadi Syakir cari hotel terdekat." 


"Lalu nanti malam. Humai ingin tidur dimana?" 


Humaira terdiam. Dia menatap mantan suami dan papanya bergantian.


"Aku ingin tinggal dengan, Papa. Bagaimanapun aku dan Kak Syakir belum halal, Pa," kata Humai dengan jujur.


Semalam saja, keduanya tinggal di kamar berbeda. Syakir benar-benar sangat amat berubah. Dia tak mau ada di satu kamar yang sama dan memanfaatkan keadaan. Dirinya benar-benar menjaga dan menghargai diri Humai. 


Dirinya tak mau menjadi pria yang jahat lagi. Dirinya ingin Humai melihat bahwa ia tak sejahat dulu lagi. Dia benar-benar berubah dan itu bisa dilihat perubahannya.


"Belum halal, yah?" pancing Papa Hermansyah yang membuat Humai sadar akan perkataannya. "Sepertinya ada yang minta dihalalin, Syakir." 


Pipi Humaira bersemu merah. Dia tak menyangka jika bibirnya tanpa sadar mengatakan hal itu. Namun, dibalik perkataannya jujur bukan niatnya meminta halalin tapi Humai hanya ingin mencegah hal-hal yang akan terjadi di antara keduanya.


Bagaimanapun mereka pernah menikah. Pernah merasakan surga dunia meski itu karrna pemerkosaan. Hal itu tentu takut memmbuat keduanya terjerat akan keinginan yang timbul dari mereka berdua.

__ADS_1


Lebih baik mencegah bukan, daripada terjadi kedua kalinya seperti putra pertama mereka.


"Baiklah. Kita kembali ke rumah lama," ujar Papa Hermansyah dengan bahagia. "Rumah dimana kamu masa kecil kamu disana." 


Humaira tak tahu seperti apa rumah itu. Papa dan Mamanya memang belum pernah menunjukkan rumah yang ada di Malang. Semua pertemuan mereka selama ini, adalah untuk menebus segala kenangan dan hal-hal yang terlewati.


Mama Emili dan Papa Hermansyah tak pernah membahas soal masa lalu. Keduanya hanya sibuk mengajak anak dan cucunya bermain. Mengganti waktu-waktu yang telah lama hilang di antara keduanya. 


"Iya, Papa." 


"Syakir, mau ikut Om juga? Ayo kalau ingin tinggal di rumah. Om tak melarang," kata Papa Hermansyah dengan jujur.


Dia tak pernah meragukan perubahan dalam diri Syakir. Pria itu percaya pada sosok yang dulu pernah menyakiti putrinya.


Dari cara Syakir sekarang. Dari tatapan pria itu pada putrinya. Papa Hermansyah bisa melihat banyak ketulusan disana. 


"Gak perlu, Om. Syakir ingin kembali apartemen," jawab Syakir dengan apa adanya.


Apa yang ia katakan memang benar. Syakir selama ini tak pernah kembali ke Malang. Entah seperti apartemennya sekarang. Namun, dia hanya berharap semoga tak ada yang rusak dan kacau balau. 


"Eh, gak perlu, Sayang," sahut Syakir menggeleng. "Kamu pasti capek, 'kan? Lebih baik kamu langsung ikut pulang."


Humai menggeleng. Dia memberikan senyuman terbaik di kedua sudut bibirnya.


"Aku gak capek, Kak. Aku hanya ingin membantumu sebentar. Nanti biar Papa yang jemput aku. Gimana, Pa?" tanya Humai meminta pendapat papanya.


"Ide bagus. Kamu juga belum tau apabyang terjadi di apartemenmu, 'kan? Setidaknya jika ada Humai, ada yang membantumu, Syakir," ujar Papa Hermansyah dengan serius.


Akhirnya Syakir tak menolak. Dia menganggukkan kepalanya yang membuat senyuman Humai semakin tertarik ke atas. Dia tak mau mantan istrinya itu tersinggung karena dia menolak bantuannya.


...🌴🌴🌴...


"Hati-hati ya, Sayang. Nanti kabarin Papa jika urusannya selesai," kata Papa Hermansyah saat putriya masuk ke dalam mobil Syakir. 

__ADS_1


"Iya, Pa. Papa juga hati-hati." 


Akhirnya Syakir mulai melajukan kendaraannya itu. Keduanya melambaikan tangan pada Papa Hermansyah saat pria itu masih berdiri disana.


Kedua mantan pasangan suami istri itu saling tatapan. Humai dan Syakir benar-benar seperti bocah remaja yang sedang kasmaran. Keduanya bahkan tanpa merasa malu saling bergenggaman tangan. 


"Apa kamu bahagia?" tanya Syakir dengan pelan.


Dia mengemudi dengan laju yang sangat rendah. Keduanya sedang menikmati angin Kota Malang dan suasananya.


"Tentu, Kak," balas Humai dengan menurunkan kaca jendela mobilnya. "Aku bahagia bisa menginjakkan kakiku lagi di kota ini." 


Humaira memejamkan matanya. Tanpa melepas genggaman mereka, dia memejamkan matanya sambil membiarkan wajahnya diterpa angin. 


Dirinya merasa bahagia bisa menghirup udara yang segar ini. Bisa merasakan cuaca yang lebih dingin dari kota-kota lain. Kenangan yang banyak sekali tertulis disini. Membuatnya hampir setiap hari merindukan Kota Malang.


Meski kenangan itu tak selamanya manis. Namun, Humai yakin jika apa yang terjadi dengan dirinya di kota ini. Semuanya telah direncanakan oleh Tuhan.


"Apa kamu sudah siap, Sayang?" tanya Syakir yang mulai membelokkan mobilnya ke kiri. "Apartemenku adalah tempat dimana Jay bisa tumbuh disini." 


Syakir melepaskan genggamannya. Dia berpindah menyentuh perut mantan istrinya itu. Humai tahu apa yang dimaksud Syakir. Dia tersenyum dan membiarkan mantan suaminya itu mengusap perutnya.


"Aku tau, Kak," balas Humai dengan serius. "Karena hal itulah, aku memaksa ingin ikut. Aku ingin menyembuhkan segala traumaku yang terjadi dengan bantuanmu."


Akhirnya kendaraan mereka mulai berhenti di tempat parkir. Keduanya saling tatap dan tersenyum.


"Aku akan membantu menyembuhkanmu dari luka yang kubuat, Sayang," ucap Syakir sebelum keduanya mulai turun.


Mereka berjalan bergandengan tangan. Semakin dekat, jantung Humai berdebar kencang. Dia merada gelisah taoi dia berusaha menetralkan jantungnya. Tanpa sadsr tangannya menggenggam semakin erat dan membuat Syakir mulai mengerti. Mengerti jika mantan istrinya mulai merasa tak nyaman.


Dia lekas mendekat. Melingkarkan tangannya di pundak Humai hingga gadis itu terkejut dengan aksi mantan suaminya.


"Jangan khawatir, Sayang. Itu hanya masa lalu. Lihatlah aku sekarang. Aku disini bersamamu dan tak akan pernah menyakitimu lagi. Aku bisa membuktikan ucapanku itu!" 

__ADS_1


~Bersambung


Kode dulu yakan, haha. Ntar dikabulan ketar ketir haha.


__ADS_2