Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Diusir?


__ADS_3

...Mungkin kata maaf telah terucap. Kata menyesal dan segalanya telah berubah menjadi sosok yang lebih baik. Namun, tetap saja melupakan adalah bagian tersulit dan mencoba menghindar untuk kebaikan semua orang adalah jalan terbaik. ...


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya tak ada lagi beban dalam pundak Papa Hermansyah. Tak ada lagi rasa takut dan menyesal. Setidaknya kesembuhan Rachel akan menjadi awal kebaikan mereka di masa depan.


Saling memaafkan, saling berdamai dengan masa lalu adalah salah stau cara untuk memperbaiki jalan kita di masa depan nanti. Semua yang telah kita lewati mungkin sangat sulit. Bahkan untuk melupakannya saja begitu susah untuk dilupakan. Namun, apalah daya.


Dia hanyalah manusia biasa. Humaira sadar manusia bukan tempatnya sempurna. Pasti ada salah dan kekhilafan yang manusia lakukan. Begitupun dengan Rachel.


Wanita itu sudah mendapatkan apa yang dia lakukan. Menurut Humaira apa yang menjadi hukumannya biarkan urusannya dia dengan tuhan. Yang pasti dalam hati Humai. Dia tak mau ada dendam antara Rachel dan keluarganya. Dia ingin semuanya selesai dan akhirnya hari inilah semuanya benar-benar menjadi nyata.


Jujur semua orang pulang dengan rasa bahagia. Bibir mereka tak hentinya untuk tersenyum begitu lebar. Mereka tak menyangka jika semuanya berjalan dengan semestinya.


Apa yang diusahakan, apa yang mereka korbankan ternyata membawa hasil.


"Papa yakin untuk membawa Rachel pulang? " Tanya Mama Emili saat mereka baru saja sampai ke rumah.


Keempat orang itu berjalan masuk. Sedangkan Jay, bocah kecil itu sudah berlari duluan.


"Ya, Ma. Papa yakin membawa Rachel pulang. Papa tak mau dia beranggapan kita hanya datang tapi tak menjemputnya. Kita hanya merawat tapi tak mau membawanya keluar dari sana, " Ujar Papa Hermansyah yang langsung menyandarkan punggungnya di sofa.


Syakir lekas duduk di sofa di hadapan mertuanya. Sedangkan Mama Emili hendak ke belakang tapi tangannya lekas ditahan oleh Humai.


"Mama duduklah. Biar Humai yang membuat minuman, " Ujar Humai dengan serius.


Mama Emili tak menolak. Dia akhirnya memilih duduk dan membiarkan putrinya itu ke belakang.


"Kapan kalian berangkat ke Korea, Syakir? " Tanya Papa Hermansyah tiba-tiba.


Syakir yang masih menarik nafasnya merasa lelah akhirnya mendongak. Dia menatap mertuanya itu dengan pandangan bingung.

__ADS_1


"Papa gak bermaksud untuk mengusir kalian. Tapi Papa ingin Rachel kembali ke rumah ketika kalian sudah ada di Korea, " Ujar Papa Hermansyah menjelaskan.


Dia tak mau menantunya itu salah paham. Bagaimanapun Papa Hermansyah tau masa lalu ketiganya. Meski dia ingin Rachel pulang tapi Papa Hermansyah tak mau membuat Syakir merasa canggung.


Bagaimanapun sumber masalah itu ada pada Rachel di antara Humai dan Syakir. Dia ingin memberikan waktu untuk mereka. Agar mereka beradaptasi dengan suasana seperti ini.


Maka dari itu, Papa Hermansyah ingin menyusul anak angkatnya ketika Humai dan Syakir sudah berangkat.


"Mungkin setelah pernikahan Sefira, Pa. Jika Papa mau, Syakir akan segera membawa Humai berangkat. Tak perlu menunggu waktu yang ditentukan Jeno. Aku akan beralasan untuk bulan madu, " Ujar Syakir dengan serius.


Dia sangat tahu kekhawatiran dalam diri mertuanya itu. Dirinya juga merasa beruntung memiliki mertua seperti Papa Hermansyah. Sangat memahami kenyamanannya.


Meski sebenarnya memang Syakir tak memiliki perasaan apapun lagi. Cintanya telah sepenuhnya untuk Humai. Cintanya telah milik istri dan anaknya itu.


Tak ada lagi untuk wanita lain. Tak ada yang tersisa sedikitpun untuk orang lain. Entah itu hidupnya, dunianya, nyawanya dan hatinya semuanya hanya untuk Jay dan Humaira.


"Bagus! Setelah kalian berangkat. Papa akan menjemput Rachel. Papa dan Mama akan tinggal di Malang dulu, " Kata Papa Hermansyah dengan keputusannya yang sudah dia buat.


"Terus rumah Jakarta, Pa? " Tanya Humai yang baru saja datang dengan nampan berisi gelas dan minuman di dalamnya.


Ini untuk kebaikan Humai. Jika mereka mengatakan tentanh penjemputan Rachel dari rumah sakit jiwa menunggu kepergiaannya. Mereka takut jika Humai tak akan jadi berangkat.


"Baiklah." Humai mengangguk.


Dia lekas meletakkan empat gelas itu di atas meja dan cemilan yang ada di toples yang selalu dia siapkan untuk keluarga. Dengan pelan, ibu satu anak itu memilih duduk di samping suaminya dengan mengatur nafasnya.


"Jay kemana, Sayang? " Tanya Mama Emili dengan menatap sekeliling.


Suara cucunya memang tak terdengar sejak tadi. Maka dari itu dia khawatir jika Jay bermain diluar.


"Dia ada di kamar bermain, Ma. Tadi Humai sudah mengeceknya, " Kata istri Syakir itu dengan pasti.


"Baguslah. Mama takut dia bermain di luar, " Kata Mama Emili menjawab.

__ADS_1


Ketiga orang itu lekas meraih gelas minuman yang berisi jus jeruk itu dengan cepat lalu meminumnya.


"Pelan-pelan, Kak, " Mata Humai dengan menahan tawanya.


Dia yakin Syakir kehausan karena memang pria itu tak mau minum apapun saat di rumah sakit jiwa. Padahal Humai sudah mau membelikannya minuman di kantin tapi suaminya itu tetap tak mau.


"Persiapan pernikahan Sefira bagaimana, Nak? "


"Semua lancar, Ma. Semua sudah diatur dengan baik, " Kata Humai dengan jujur.


"Mama sama Papa akan kesana besok. Pernikahan mereka sudah tinggal menghitung hari lagi, " Kata Mama Emili yang dijawab anggukan kepala oleh Syakir dan Humai.


"Apa Sefira sudah tahu tentang masa lalu kalian? "


Pertanyaan itu membuat Humai dan Syakir saling menoleh. Ya mereka belum tahu akan hal ini. Baik Syakir ataupun Humai merasa ini bukan ranah mereka. Hal yang seharusnya mengatakan adalah Jeno.


Pria itulah yang memiliki hak penuh mengatakan semuanya dengan jujur. Menceritakan bagaimana antara dirinya, Humai dan Syakir.


"Bukannya Papa ingin mengingatkan hal ini pada kalian. Papa tak mau ini menjadi tombak awal pernikahan kalian. Papa tak mau ada salah faham di antara kalian bertiga, " Kata Papa Hermansyah dengan logis.


Bagaimanapun seorang ayah tak mau pernikahan anaknya kembali gagal. Apalagi karena masalah sepele. Dia juga tak mau keluarganya terjadi salah faham dan membuat hubungan mereka menjadi terganggu.


"Humai dan Kak Syakir gak tau, Pa. Ya, 'kan, Kak?"


Syakir mengangguk. Dirinya juga belum bertanya akan hal itu. Dia juga hampir lupa jika mertuanya tak mengingatkan.


"Tapi itu urusan Jeno, Pa. Aku tak mau mengatakan pada Sefira sendiri. Itu hak calon adik iparku, " Kata Syakir dengan bijak.


Papa Hermansyah mengangguk. Dia tahu maksud menantunya itu. Syakir tak mau dianggap sok tau atau sok ikut campur.


"Papa tahu tapi nanti jika kamu bertemu dengan Jeno. Tanyakan padanya. Papa takut dia lupa dan akan menjadi bumerang untuk kalian di masa depan," Ujar Papa Hermansyah dengan begitu pelan.


"Baik, Pa. Syakir akan menanyakan itu pada Jeno jika kita bertemu! "

__ADS_1


~Bersambung


Hihi mertua kayak Papa Hermansyah ada di dunia nyata tapi emang sulit.


__ADS_2