Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Perhatian Reyn


__ADS_3

...Percayalah seorang kakak hanya ingin adiknya menjadi yang terbaik sesuai versinya sendiri....


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


"Kamu sudah izin, 'kan? " Tanya Humaira pada adiknya itu.


Reyn, yang tengah mengambil paperbag di tangan kakaknya itu mengangguk. Dia memang sudah berpamitan pada asrama dan gurunya untuk izin satu hari karena keluarganya datang.


Karena keaktifan Reyn yang tak pernah libur selama ini, tentu membuat anak itu dengan mudah mendapatkan izin. Ya, memang benar itulah keadaannya.


Reyn tak pernah izin kelas atau keluar dari asrama melebihi jamnya. Dia termasuk salah satu anak yang patuh pada peraturan. Ditambah dirinya memang berniat selesai sekolah dengan cepat dan mengejar lomba yang ingin dia dapatkan


Belajar, berlatih terus menerus menjadi temannya selama ini. Pergi ke kamu renang dan berlatih sendiri adalah kebiasaan yang selalu Reyn lakukan seorang diri.


Telat dan semangatnya memang besar. Dia ingin kakaknya Humai, bangga kepadanya. Dia ingin keluarganya bangga melihatnya.


"Sudah, Kak. Jadi aku bisa pergi kemanapun hari ini," Ujar Reyn dengan jujur.


Wajah Humai bahagia. Dia benar-benar senang menghabiskan waktu dengan adiknya itu. Begitupun dengan Syakir, pria itu ikut bahagia saya melihat senyuman istrinya tak kunjung surut.


"Yaudah. Kita mau kemana ini? " Tanya Sefira yang melingkarkan tangannya di lengan sang suami.


"Kalau makan aja gimana? " Tawar Syakir yang membuat Jeno mengangguk.


"Cari makanan yang hangat biar mengurangi dinginnya ini, " Kata Jeno menambahkan.


"Baiklah. Di dekat sini ada makanan khas Korea yang halal dimakan oleh kita. Ayo kita kesana! " Ajak Reyn yang langsung membuat mereka melanjutkan jalannya.


Humai tak lepas dari lengan adiknya itu. Tinggi Reyn yang melebihi dirinya membuatnya seperti bersama pasangannya.


Jujur melihat tumbuh kembang Reyn saja, membuat dirinya sangat bangga. Banyak sekali hal yang membuat Humai merasa adiknya benar-benar terjaga baik disini. Hanya saja, menurut Humai, adiknya kehilangan beberapa kilo berat badan


"Kamu diet? " Tanya Humai langsung.


"Ya sedikit, Kak. Aku harus menguruskan tubuhku agar bisa atletis, " Kata Reyn dengan jujur.


Humai mengangkat tangannya. Dia mencubit lengan adiknya itu. Dan benar saja, berotot dan padat tak seperti dulu terakhir kali adiknya ada di Indonesia.

__ADS_1


"Jangan terlalu diet, Reyn. Rahangnya itu terlihat makin tegas dan kurus," Kata Humai mengingatkan.


Reyn tersenyum. Ya beginilah kakaknya ini. Selalu cerewet jika itu tentang kesehatannya. Humai selai mengomentari apapun yang mempengaruhi dirinya.


"Iya, Kakakku Sayang. Aku udah gak diet kok, " Kata Reyn lalu melingkarkan tangannya di pundak kakaknya itu.


Hubungan antara adik dan kakak itu dilihat langsung oleh Syakir, Sefira dan Jeno. Mereka juga merasa terharu dengan hubungan keduanya. Bisa dibilang mereka tahu jika di antara Humai dan Reyn tak ada ikatan darah.


Tapi lihatlah bagaimana mereka di kehidupan nyata? Mereka sangat amat tak mempedulikan tentang darah ataupun hubungan mereka. Baik Humai ataupun Reyn, mereka hanya tahu bahwa mereka adalah sepasang adik dan kakak yang tumbuh bersama.


Hanya itu yang mereka tahu dan pegang sampai saat ini. Tak peduli kenyataan yang membuat keduanya harus menerima tamparan kenyataan. Tak akan ada yang mampu membuat hubungan mereka goyah.


"Apa masih jauh, Reyn? " Tanya Sefira yang mulai merasa pegal.


Ya maklum saja. Semalam dia juga digempur oleh Jeno habis-habisan. Dirinya tak bisa berdiri dan berjalan sampai tadi Sefira memiliki berendam di air hangat untuk merilekskan tulangnya.


"Udah deket kok, Kak, " Sahut Reyn dengan menunjuk deretan ruko di seberang jalan. "Masuk ke lorong jalan itu dan sampai. "


...🌴🌴🌴...


Akhirnya mereka sampai di sebuah ruko yang dikatakan oleh Reyn. Syakir, Sefira, Jeno dan Humai segera membuka jaket tebal yang melapisi paling luar tubuh mereka.


Lalu mereka segera menggantung di tempat gantungan mantel besar yang ada disana dan keenamnya segera masuk ke dalam tempat makan tersebut.


Humai juga bisa mendengar adiknya itu berbicara bahasa Korea dengan fasih.


"Reyn bisa loh, Mai!" Kata Sefira yang tak kalah terkejutnya juga.


Mereka tak menyangka bahwa Reyn cepat pandai berbicara Bahasa Korea. Apalagi sangat lancar dan begitu fasih seperti ini membuat mereka yang mendengarnya begitu senang.


Ternyata Reyn disini bahagia. Ternyata adiknya itu merasa nyaman dan membuatnya belajar tanpa rasa tertekan sedikitpun


Setelah memesan makanan yang bisa menghangatkan tubuh dan menurut Reyn pasti disukai kakaknya dan sahabat kakaknya itu. Kemudian dia segera kembali ke meja dimana keluarganya menunggu disana.


"Reyn?" Panggil Sefira yang penasaran.


"Ya? " Sahut Reyn yang sedang membenarkan syal yang melingkar di lehernya.


"Kamu belajar dimana Bahasa Korea? " Tanya Sefira yang gak bisa menahan rasa bangga dan terkejutnya.

__ADS_1


Reyn tersebut. Dia sudah yakin jika pasti ada yang terkejut dengan bahasa yang sudah ia pelajari dengan baik dari sahabat sekamarnya.


"Dari teman kamarku, Kak. Dia asli Korea dan sedikit bisa Bahasa Inggris. Jadi dulu kita kesulitan berkomunikasi dan akhirnya kita sama-sama jadi tutor, " Ujar Reyn menjelaskan awal mulanya.


Dia menceritakan semua pada keluarganya. Humai bahkan semakin bangga pada adiknya itu.


"Jadi ketika dia butuh belajar Bahasa Inggris. Aku butuh Bahasa Korea. Kita akan bicara secara bergantian. Semisal, pagi Korea, malam Inggris. Begitu terus seterusnya."


"Wah gak perlu les di luar berarti yah."


Reyn menganggukkan kepalanya. Dia juga tak pernah menyangka akan dipertemukan dengan orang-orang baik selama di Korea. Entah kebaikan apa yang telah dia lakukan di kehidupan selanjutnya tapi yang pasti semua temannya begitu peduli kepadanya.


"Iya, Kak. Jadi udah belajar si asrama. "


"Om Jay senang disini? " Tanya Jay berceletuk.


Sejak tadi anak itu banyak diam bukan karena tidur. Tapi di luar sana, Jay merasa kedinginan dan membuatnya tak mau bergerak seperti biasanya.


Bahkan anak yang biasa cerewet itu, sejak tadi hanya melingkarkan tangannya di leher sangat ayah dan menutup bibirnya seakan malas berbicara.


"Senang."


Waja Jay langsung berubah mendengar jawaban omnya itu.


"Tapi Jay gak senang, " Ujarnya dengan jujur. "Jay kangen main sama Om Reyn. "


Ahh mata Reyn berkaca-kaca. Dia masih ingat dulu sering mengajak main Reyn. Menjaga anak itu sebaik mungkin ketika kakaknya istirahat.


"Nanti kita kan bersama disini. Okey? "


"Om jangan lama-lama belajarnya yah. Cepat pulang, " Kata Jay yang tak bisa dialihkan permintaannya itu.


Hal itu terkadang membuat Reyn merasakan beban satu. Dia merasa kepulangannya sangat dinantikan oleh Jay. Maka dari itu dia belajar lebih giat. Dia bahkan sekolah tanpa ingin membolos agar segera selesai dan pulang ke tanah air.


Bagaimanapun paling enak dan bahagia adalah bersama keluarga. Berkumpul dengan mereka dan menghabiskan waktu bersama.


"Oke. Om janji bakalan sekolah dengan rajin biar bisa cepat pulang ke Indonesia dan main sama Reyn lagi. "


~Bersambung

__ADS_1


Jadi pengen bikin kisahnya Reyn tapi genre teen anak sekolah hahaha.


Mau tanya dong, Bang Syakir enaknya tamat sampai apa yah? sampai hamil? resepsi atau lahiran? hahhaa


__ADS_2