Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Jadwal Bagi Tugas


__ADS_3

...Ternyata berjuang mendapatkan hati seseorang yang pernah kita sakiti terasa sulit. Namun, percayalah aku tak akan menyerah di awal perjuangan....


...~Guntur Syakir Alhusyn...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya setelah hampir dua jam dua pria dewasa itu bermain dengan Jay. Mereka mulai pamit untuk pulang. Menurutnya untuk hari ini sudah cukup sebagai permulaan. 


Baik Syakir dan Jeno, mereka mulai mencium punggung tangan Mama Emili dan Papa Hermansyah. Kedua orang tua Humaira tak ada yang tak adil. Keduanya tak memilih atau mendukung siapapun. 


Menurut mereka, siapapun yang dipilih oleh putri mereka, maka itu pasti yang terbaik untuknya dan untuk Jay. Bagaimanapun yang menjalani kehidupan nanti hanyalah Humai dan Jay. Jadi mereka pasti tahu jika pilihan mereka baik untuk keduanya di masa depan. 


"Bisa kita bicara berdua saja, Tuan Syakir?" kata Jeno pada Syakir saat keduanya berjalan menuju kendaraan mereka masing-masing.


"Tentu. Ayo!" 


Keduanya mulai memasuki mobil. Tanpa sepengetahuan mereka. Jika sejak tadi, Humaira melihat semua yang dilakukan oleh keduanya.


Sikap, tingkah laku dan apa saja yang dilakukan oleh mantan suami dan dosen killernya itu kepada putranya, tertangkap dan terekam oleh penglihatan Humaira. 


Dia memang tak mendengar apa yang dibicarakan oleh mereka dengan ayahnya. Namun, melihat wajah ketiganya yang serius. Humaira menebak jika pembahasan itu sangat penting.


Selain itu. Humaira juga bisa melihat bagaimana putranya yang lebih banyak menempel dengan Jeno. Bagaimana Jay yang meminta tolong pada dosennya meski Jeno berusaha mengajak Syakir juga.


Ada perasaan takut dalam diri Humai. Bagaimana jika putranya sudah terlalu nyaman dengan Jeno. Bagaimana jika Jay sudah bergantungan dengan dosen killernya itu. 


Jujur Humai belum siap membuka hati. Dia juga tak mau Jeno dalam masalah. Dia bukanlah gadis yang tepat untuk pria sebaik Jeno. Dirinya juga sebenarnya mulai curiga dengan sikap dosennya itu pada putranya. Namun, Humai masih mencoba berpikir positif. 


"Semoga dugaanku salah, Pak. Tapi aku juga tak bisa menyakiti putraku jika dia memilihmu," lirih Humaira dengan hati yang kacau.


Akhirnya tak mau terus-terusan memikirkan semuanya. Memikirkan dua pria yang saat ini ada dalam kehidupannya. Ketakutannya pada Syakir masih ada. Namun, saat tadi melihat bagaimana pria itu yang mencoba dekat dengan putranya ada perasaan bahagia. 


Ada perasaan hangat ketika untuk pertama kalinya putranga bermain dengan ayah kandungnya. Harapan yang pernah ia bayangkan saja. Kini menjadi kenyataan.


"Aku akan mencoba menahan traumaku, Kak. Bagaimanapun aku yakin kita bakalan ketemu terus karena ada Jay disini," lirih Humaira yang berjanji akan mencoba mengontrol ketakutannya.


Meski susah, meski trauma. Namun, memang berharap itu ada. Tapi percayalah, orang yang memiliki trauma tanpa sadar kadang melakukan hal yang gila.


Dia tak mau seperti itu, dia tak mau ketakutan. Tapi jiwanya yang bergerak dengan sendirinya.

__ADS_1


"Doain Ibu, Jay. Ibu gak tau mana yang membuatmu nyaman dan bahagia. Tapi demi kamu, Ibu bakalan coba untuk membuka hati dengan pilihanmu." 


...🌴🌴🌴...


Sedangkan di tempat lain. Terlihat dua orang pria dengan perbedaan usia tapi ketampanan yang saling uji nyali. Jika Syakir, berwajah bule hot panas gitu, dengan rahang tegas dan kulit tak seputih Jeno. Maka, kebalikannya dengan dosen killer itu.


Jeno yang memiliki keturunan Korea dari mamanya. Tentu membuat wajahnya bergaris sedikit soft. Hidungnya mancung, rahang tegas dan jangan lupakan kulitnya sangat putih.


Perbedaan itulah yang sangat kontras di antara keduanya. Ketampanan mereka sesuai dengan tipe wanita masing-masing. Mau yang hot panas atau kalem tapi begitu manis.


"Ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Syakir yang sebenarnya tak tahu apa yang ingin dikatakan lagi oleh Jeno kepadanya.


"Ya," sahut Jeno mengangguk. "Karena kita tak mungkin bergerak bersama sedangkan kegiatan Humai dan Jay hanyalah sedikit." 


"Maksud kamu?" 


"Humai bukan tipe gadis keluar rumah. Dia hanya akan berangkat kuliah lalu pulang. Lalu Jay…" jeda Jeno sambil tersenyum. "Dia hanya bermain di taman lalu meminta ke kedai es krim dan ke toko kue atau mainan. Itu saja. Maka jika kita berdua tak bekerja sama, pasti akan terjadi pertemuan yang tak disengaja." 


Syakir mencoba menerka. Dia mengerutkan keningnya seakan belum paham. Hal itu membuat Jeno mendengus geli.


"Sepertinya usia Anda yang mulai menua, membuat kinerja otak Anda berkurang, Tuan Syakir," sindir Jeno yang membuat kedua bola mata Syakir membulat. 


"Menurutku kita harus bagi tugas. Menjemput Humai, mengajak bermain Jay dan membeli es krim bersama. Bagaimana? Jika tak dijadwalkan maka kita bakalan tabrakan. Bukankah kau yang mengatakan ingin bersaing dengan sehat?" 


Syakir menatap Jeno tak percaya. Dia tak menyangka pria itu sehebat itu akan hatinya. Jika pria lain pasti sudah egois. Sudah memikirkan hatinya sendiri. Namun, Jeno adalah pria yang berbeda.


Dia memiliki hati yang ikhlas. Dia memiliki hati yang lapang. Lalu pria itu juga begitu menjunjung tinggi akal sehat dan permainan sehat. 


"Aku setuju!" 


"Oke. Mari kita jadwalkan!" 


Jeno meminta sebuah bolpoin dan kertas pada pelayan. Dua pria tampan dengan karakteristiknya masing-masing itu saling memajukan kepalanya. 


Jeno mulai membuat tabel. Dia juga menulis hari yang ada.


"Katakan shift apa sekarang kau, Tuan Syakir. Agar waktu kerjamu dan waktumu untuk mereka tak bertabrakan," kata Jeno yang semakin membuat Syakir bangga.


Dia mulai memiliki perasaan ikhlas. Sepertinya walaupun anaknya memilih Jeno. Dia harus menerima. Jeno adalah pria yang tulus. Bahkan sikapnya begitu baik dan bukan pria licik.

__ADS_1


Dari sini saja, Syakir sudah bisa lapang dada jika Jenolah yang mampu membuat mantan istri dan putranya bahagia. Bukankah titik tertinggi mencintai adalah mengikhlaskan. Melihat keduanya bahagia itu sudah cukup untuknya.


"Selesai!" kata Jeno lalu menyerahkan pada Syakir yang sejak tadi diam.


"Tuan Syakir!" 


"Ya?" sahut Syakir yang terkejut karena melamun. 


"Ada apa?" tanya Jeno yang khawatir.


"Gapapa. Aku hanya memikirkan pekerjaan besok aja. Iya," kata Syakir mengangguk.


"Oh." Jeno mengangguk. "Ini jadwal kita selama satu minggu ini."


Syakir menerima kertas itu. Dia membaca semua jadwal yang menurutnya benar-benar adil. Jika di antara mereka mengantar Humai kuliah, maka ada masa dimana mereka mengantar dan menemani Jay bermain.


Semua jadwal itu begitu adil. Bukan egois mendapatkan hati Humai tapi Jeno juga mengutamakan Jay.


"Bagaimana, Tuan Syakir. Setuju?" tanya Jeno mengulurkan tangannya.


Syakir mendongak. Dia menatap sosok Jeno yang wajahnya begitu tenang disana. Sejak pertemuannya dengan pria itu. Jeno sudah terlihat pria yang begitu sabar dan penyayang. Pria itu juga tak pernah meninggikan suaranya meski sikap Jay kadang melebihi batas.


"Tentu. Jadwal ini sangat adil."


"Mulai besok kita akan bersaing. Apapun keputusan mereka berdua. Kita harus menerimanya. Deal?" 


"Deal!" 


~Bersambung


Ah Bang Jeno mah baik. Gak tega liat orang baik mengsad. Sama Pak Jeno aja gimana guys? yah yah.


BTW aku juga lagi kirim naskah baru di NT buat event rumah tangga. Doain lulus ya gengs. Biar bisa tetap disini.


BTW yang belum baca karyaku yang lain. Yuk mampir. dibawah ini karyaku guys.



__ADS_1


__ADS_2