Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Isyarat?


__ADS_3

...Tak ada yang bisa menukar kebersamaan dan kebahagiaan ini sekalipun itu uang yang berlimpah. ...


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Keesokan harinya, tiga orang pria terlihat begitu menggemaskan tengah tertidur pulas di atas ranjang yang sama. Ya, saat Humaira bangun dan membersihkan dirinya. Syakir pindah ke atas ranjang. Bergabung dengan putra dan adik iparnya dan membuat sebuah pemandangan yang sangat menyejukkan mata.


Humaira tersenyum saat melihat suami, putra dan adiknya tidur bersama. Wajah tenang tanpa dosa itu terlihat begitu pulas dan membuatnya tak mau mengusik salah satunya.


Langkah kakinya perlahan berjalan ke arah ruang tamu dengan tangan bergerak mengusap rambutnya yang basah karena dia keramas. Matanya menatap ke arah jendela dan dia berjalan ke arahnya.


Tangannya menarik tirai jendela dan membuat ruang tamu menjadi terang. Terlihat banyak gumpalan salju yang menumpuk di dekat jendela dan sekitarnya.


Sepertinya semalam memang saljunya turun dengan deras dan beberapa jalan juga tertutupi oleh salju yang menumpuk.


"Dulu kupikir aku tak bisa berada disini. Memandang salju hanya akan menjadi mimpiku tapi sekarang. Ini semua adalah nyata. Aku bisa menikmatinya bersama keluarga.


Hingga tak lama perhatian Humai teralih pada suara tangisan anak-anak. Ibu satu anak itu tentu langsung berjalan kembali ke kamarnya. Dia melihat tiga pria yang tadinya tidur tenang kini mulai terbangun dan saling menggeliat.


"Ayah! " Teriak Jay saat Syakir sepertinya sengaja menarik tubuh kecilnya dan memberikan kecupan di pipi.


"Ayah hanya cium saja. Gak lebih! " Kata Syakir yang tak mau melepaskan pelukannya.


Reyn sendiri masih berusaha membuat dirinya sadar. Matanya ia usap dengan pelan dan pemandangan ini membuat Humai geleng-geleng kepala.


Dia segera mendekat dan perlahan Humai menggelitik tubuh suaminya sampai pelukan Syakir dengan Jay terlepas. Bahkan bocah berumur tiga tahun itu ikut menggoda ayahnya yang membuat Syakir tertawa begitu kencang.


"Ampun, gak? Ampun, gak… " Kata Humai tak berhenti.


"Ampun, Sayang. Ampun, Pak Bos kecil! " Kata Syakir yang membuat Jay dan Humai menghentikan tangan mereka.


Nafas semua orang terenga-engah dan hal itu membuat Jay dan Humai ikut berbaring bersama Reyn dan Syakir di atas ranjang.


Kebersamaan ini tentu membuat Reyn bahagia. Bahkan dengan kedua matanya sendiri, dia bisa memastikan bahwa kali ini kakaknya bahagia. Bahkan pilihannya kembali dengan Syakir adalah keputusan yang tepat.


"Reyn! " Panggil Humai yang membuat lamunan remaja itu pecah.

__ADS_1


"Ya, Kak?" Sahut Reyn dengan pelan.


"Jam berapa batas akhir kamu kembali ke asrama? "


"Nanti sore," Sahut Reyn dengan jujur. "Tapi nanti sekitar jam sebelas, aku ada latihan renang."


Humai lekas mendudukkan dirinya. Dia menatap sang adik dengan lekat.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar nanti. Setelah itu, Kakak pengen lihat kamu latihan. Gimana? " Tawar Humai yang sepertinya masih mau bersama dengan Reyn.


Bagaimanapun sejak dulu mereka selalu bersama. Baik Reyn maupun Humai tak pernah berjauhan dalam waktu lama. Hanya karena pendidikan ini lah Humai memberanikan diri pisah dengan Reyn.


Membiarkan adiknya mengejar mimpinya meski dia harus menahan rindunya. Membiarkan Reyn mengejar impian yang sejak dulu dipertaruhkan oleh almarhum Ibu Shadiva. Humai akan mendukung segalanya. Apapun itu jika positif dia akan selalu ada untuk sang adik.


"Boleh. Tentu saja boleh Kakak datang ke aula kolam renang, " Kata Reyn dengan begitu antusias. "Reyn mandi dulu yah. "


"Oke. Pakai air hangat, Reyn. Jangan memaksa pakai air dingin. Paham? " Kata Humai mendudukkan dirinya dan menatap sang adik yang beranjak dari ranjang dan berjalan keluar dari kamar.


"Oke."


Sepeninggal Reyn. Humai menatap suami dan putranya yang menatap ke arahnya.


"Ibu udah mandi yah? Ibu cantik banget, " Kata Jay yang membuat kedua mata Humai membulat.


"Ini pasti ajaran Ayah kan? "


Jay terkekeh. Namun, memang ucapan itu bisikan dari Syakir tadi karena ibunya terlihat begitu segar setelah habis mandi.


"Bilang sama Ayah. Sebelum gombal, suruh mandi dulu. Bau! "


"Oh bau yah! " Kata Syakir laku mendekat dan memeluk Humai dengan erat.


Tangan pria itu menggelitik perut Humai hingga tawa bahagia memenuhi kamar tersebut.


Jay yang tak Terima ibunya dipeluk erat pun beranjak berdiri. Dia mendudukkan dirinya di perut Syakir hingga pria itu terkejut.


"Ayah diam. Ayah lepaskan Ibu! " Kata Jay yang membuat tangan Syakir terlepas dari perut istrinya.

__ADS_1


Hal itu membuat Humai tertawa bahagia.


"Pukul Ayah terus, Jay? Pukul, Nak! "


"Oh ampun, Boy. Ampun! "


Jay mencubiti perut papanya dengan pelan dan memang tak sakit. Namun, hal itu tentu membuat Syakir sadar. Sadar bahwa sebenarnya putranya itu bisa menjaga ibunya.


"Bodyguard kecilmu kuat, Sayang. dia akan menggantikanku jika aku tak ada di sampingmu, " Bisik Syakir yang membuat Humai menjauhkan wajahnya.


"Kakak bilang apa sih. Kakak gak bakal ke mana-mana. Kakak cuma disini sama aku dan Jay! " Seru Humai dengan menatap suaminya dengan lekat.


Syakir tersenyum. Dia mencuri satu kecupan di pipi istrinya dan memeluk Humai dengan pelan dan membiarkan putranya tidur diatas dadanya.


"Aku gak bakal ke mana-mana, Sayang. Aku cuma merasa tenang kalau aku gak ada disini. Karena apa? Ada Jay yang bakal jagain kamu selain aku! "


"Ya pokoknya harus sama kamu juga. Kamu gak boleh ke mana-mana. Gak boleh? " Seru Humai menggeleng.


Entah kenapa dia merasa perkataan suaminya seperti sebuah kalimat perpisahan. Humai tak suka itu dia tak mau berpikiran buruk. Dirinya belum siap untuk ditinggal oleh siapapun.


Syakir adalah hidupnya dan Jay juga kehidupannya. Dua orang itu sangat berarti untuk Humai. Tak ada yang bisa membuatnya memilih di antara keduanya.


Antara suami dan putranya semua memiliki tempat tersendiri. Tempat dan waktu yang sangat spesial dan tak akan ada yang bisa menggantikannya.


"Jangan berpikiran hal buruk, Kak. Ingat! Aku dan Jay membutuhkanmu! " Seru Humai dengan serius. "Aku gak bisa hidup tanpa kamu. Aku gak mau memulai semuanya sendirian lagi. Aku gak bakal sanggup jika kamu pergi ninggalin aku dan Jay! "


Syakir mengangguk. Dia tak mengatakan apapun dari bibirnya. Hanya sebuah keterdiaman dan pelukan yang bisa ia berikan disaat Humai sedikit merasa takut.


"Kakak jangan diam saja. Kakak gak sakit, 'kan? Kakak gak nutupin apapun dari Humai, 'kan? " Tanya Humai dengan pelan.


Dia mendongakkan kepalanya. Menatap wajah Syakir yang masih diam tanpa kata.


"Kak! "


Syakir terlihat menarik nafasnya begitu dalam. Lalu dia balas menatap kedua mata istrinya.


"Aku tak akan meninggalkan kalian berdua kecuali Tuhan yang berkehendak."

__ADS_1


~Bersambung


Ini ini nggak tau. Jangan dibayangin endingnya ehhh. Hihihi


__ADS_2