
...Kesabaran seorang wanita itu begitu luas. Namun, mereka juga memiliki batas atas setiap sabar yang mereka punya....
...~Humaira Khema Shireen...
...🌴🌴🌴...
Syakir yang tak tahan dengan keberanian Humai segera keluar dari rumah. Dia kembali pergi malam itu meninggalkan Humai yang mulai merasa bersalah atas tindakannya.Â
Dia menatap tangannya dengan hati yang sakit. Humai merasa menjadi istri yang berani telah memukul suaminya. Namun, apa yang ia lakukan agar Syakir melihat kejujurannya.Â
Tapi ternyata, sekuat apapun dia bicara jujur. Suaminya tak akan pernah mempercayainya.Â
"Maafkan aku, Ya Allah. Aku durhaka pada suamiku karena tak tahan dengan ucapan pedasnya," ujar Humai dengan mengusap wajahnya menggunakan kedua tangan. "Aku menyesal."
Lihatlah hati wanita tulus ini. Dia memiliki hati yang sudah dihancurkan tapi masih memikirkan perasaan orang lain. Masih memikirkan sesuatu yang memang harus dia lakukan tapi dianggap salah olehnya setelah penyesalan itu datang.
"Aku akan berusaha menahan amarahku lagi. Aku tak boleh terpancing emosi," ucap Humai berusaha berdamai dengan dirinya.
Perlahan wanita itu berjalan ke arah meja makan. Air matanya mengalir saat melihat jejeran makanan hasil karya tangannya masih utuh tak tersentuh. Dia benar-benar merasa apa yang ia lakukan sepertinya tak akan pernah terlihat di mata Syakir.Â
Tak lama perutnya mulai berbunyi. Humai mengingat jika dirinya sudah telat untuk makan malam. Dengan pelan, dia menghapus air matanya dan berjalan ke arah salah satu kursi yang ada disana.
Dia mendudukkan dirinya di sana lalu mulai mengambil makanan ke atas piring. Humai merasa malas makan. Namun, dia mengingat jika di dalam dirinya ada makhluk kecil yang bergantung padanya.
Makhluk kecil itu juga sama ingin hidup dan berkembang dalam dirinya sebelum waktunya akan keluar dan terlahir di dunia.Â
"Maafkan Ibu. Nak. Ibu mengabaikanmu," kata Humai sebelum memasukkan sesuap makanan ke dalam mulutnya.Â
Humai memaksa agar mulutnya mau mengunyah dan menelan makanan itu. Rasanya memang sangat enak. Namun, dirinya yang tak memiliki selera untuk makan terasa berat.
Akhirnya setelah berjuang memakan makanan itu. Piring miliknya mulai kosong. Humai lekas mencucinya dan memasukkan sisa makanan itu ke lemari makanan.Â
Setelah semuanya beres, Humai lekas ke depan. Dia menatap ke arah jalan depan rumahnya dan kosong.
"Kemana kamu, Kak? Maafkan aku!"Â
...🌴🌴🌴 ...
Sinar matahari mulai bersinar kembali. Hawa dingin yang menusuk tulang membuat seorang perempuan mulai bergerak tak nyaman. Dirinya merasa sempit dan sakit di bagian pinggangnya.Â
Dengan pelan dia membuka matanya secara perlahan. Matanya menatap sekeliling. Hening dan sepi, itulah yang gadis itu tangkap di rumahnya.Â
"Jam berapa ini?" gumamnya sambil beranjak duduk.Â
Matanya mengedar. Dia baru menyadari jika semalaman dirinya tidur di sofa ruang tamu. Punggungnya terasa sakit dan ia menyadari jika ini kesalahannya.
"Jam delapan?" ujarnya sedikit berteriak.
Humai lekas beranjak berdiri. Efek dirinya tidur terlalu malam karena menunggu Syakir akhirnya ia bangun kesiangan. Dia segera berjalan ke arah kamarnya dan mengambil handuk untuk mandi. Namun, tiba-tiba bunyi panggilan di ponselnya membuat Humai lekas mendekat.
"Mama," ucapnya saat panggilan itu tersambung.
"Kamu dari mana saja, Nak? Kenapa gak ada kabar sama sekali?"
Humai bisa merasakan nada khawatir pada diri mertuanya. Dia merasa menyesal karena meninggalkan benda penting itu di kamarnya.Â
__ADS_1
"Aku dari bawah, Ma. Terus ponselnya dari tadi ada di kamar," kata Humai menjelaskan.
Gadis itu hanya mampu berharap semoga mama mertuanya tak curiga padanya. Humai tak mau mengumbar aib sang suami. Dia mencoba menahannya dan menutupinya dari mama mertua dan adik iparnyam
"Oke, Sayang. Yang pasti kamu harus hati-hati. Mama mulai semalaman kepikiran sama kamu terus," ujar Mama Ayna dengan penuh perhatian. "Oh iya. Kamu dimana, Nak?"Â
"Humai di rumah, Ma. Ada apa?"Â
Entah kenapa perasaan Humai tak enak sejak kemarin. Seakan akan ada sesuatu yang membuat dirinya terkejut bukan main.
"Humai bisa ke rumah sakit, sekarang?"Â
Humak menelan ludahnya paksa. Dia ingin bertanya tapi ia takut menerima kabar buruk. Akhirnya tanpa bertanya lebih lanjut, Humai lekas menuruti permintaan mertuanya. Dia berjanji akan datang ke rumah sakit secepatnya.
"Bisa, Ma."Â
Humai lekas mencari ojek di dekat rumahnya untuk bisa sampai ke kota. Di Tumpang, sangat sulit mencari driver online. Kalaupun ada, pasti sering ditolak. Akhirnya setelah mencari, istri Syakir menemukan ojek pangkalan dekat pasar. Dia lekas menyewa jasa pria paruh baya yang siap menyetir sepeda motornya untuk mengantar Humai kemana saja.Â
Hampir satu jam di perjalanan. Akhirnya Humai telah sampai di depan rumah sakit. Dia merasakan punggungnya sakit. Namun, dia menepis sakitnya sendiri. Humai ingin segera sampai di kamar adiknya.
"Humai!"Â
"Mama." Gadis itu segera memeluk tubuh mertuanya. "Ada apa, Ma? Kenapa Mama menyuruhku datang kemarin?"Â
Mama Ayna melepas pelukannya. Dia menangkup wajah menantunya dan mengusap air mata yang turun dari kedua matanya.
"Rein memberikan respon, Nak. Dia meneteskan air mata ketika Sefira menceritakan tentangmu kepadanya."
Tubuh Humai mematung. Hatinya mencelos takut jika apa yang diceritakan. oleh sahabatnya adalah tentang kejadian buruk itu.Â
"Aku juga menceritakan bahwa Rein harus sembuh untuk bertemu dengan keponakannya," tambah Sefira yang membuat Humai semakin menangis.
"Bolehkah aku menemui Rein, Ma?"Â
"Tentu."Â
Akhirnya Dokter meminta Humai mengganti pakaiannya. Dia juga diizinkan sebentar saja di ruangan Rein karena memang keadaannya yang sedang mengandung harus menghirup udara ekstra bersih dan sehat.Â
Dengan perasaan yang tak bisa dijabarkan. Seorang kakak itu datang dan menggenggam tangan adiknya. Dia bisa melihat wajah Rein tak sepucat dulu meski matanya masih setia terpejam.
"Assalamualaikum, Rein. Ini Kak Humai," ujarnya memulai pembicaraan. "Kata Sefira, kamu sudah memberikan perubahan yah. Perubahan luar biasa yang sangat Kakak tunggu."Â
Humai berkata sambil menghapus air matanya. Dia selalu tak bisa jika berhadapan dengan adiknya ini. Dengan pelan, dia mengambil tangan Rein dan meletakkannya di atas perut Humia yang masih rata.
"Assalamualaikum, Om Rein. Ayuk bangun, lihat ponakanmu yang lucu ini berkembang di dalam perut ibunya," kata Humai dengan suara khas anak kecil. "Aku sangat menanti hari itu. Hari dimana kamu bisa membuka mata lagi dan kita bisa berkumpul bersama."Â
Humai sangat amat berharap keluarga satu-satunya yang dia miliki masih bertahan untuknya. Dia ingin Rein ada bersamanya dan merawat bayi ini berdua.Â
"Teruslah berjuang, Rein. Kakak menunggumu disini!"
Setelah berbincang sebentar. Humai lekas keluar dari sana dan menemui Mama Ayna yang sepertinya sedang menunggu dirinya.
"Ada apa, Ma?"Â
"Ada kabar baik lainnya, Nak," ujarnya yang membuat Humai menunggu mertuanya dengan tak sabar.
__ADS_1
"Rein diperbolehkan dibawa ke luar negeri. Dia akan mendapatkan pengobatan yang lebih lengkap disana."Â
~Bersambung
Nah nah, kira-kira nanti Rein sadar apa nggak?
Bab ini sebenarnya bab semalam. tapi sebelum update aku malah ketiduran dulu. Jadi baru update. Maaf yah.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.
...🌴🌴🌴...
Jangan lupa mampir di cerita temanku yah.
Karya : erma _roviko
Si Cupu Untuk Tuan Samuel
Bab 11 Karena aku majikanmu
Samuel menatap tajam gadis berkacamata tebal, mengepang rambut dan gigi yang di pagar membuatnya terasa geli. "Kenapa kau menatapku begitu?" tanya Eve sinis.
"Karena penampilanmu yang terlihat sangat jelek," ejek Samuel sembari menyeringai.
"Kau boleh mengejekku sekarang, tunggu saja tanggal mainnya!" seloroh Eve yang sangat kesal, ingin rasanya mencakar-cakar wajah tampan dari majikan dadakannya.
"Wah, sepertinya kau tersinggung. Tapi, itu bagus! Aku ingin lihat, bagaimana Boneka santet memperjuangkan dan membuktikan."
"Lihat saja nanti dan berhentilah memanggilku dengan boneka santet! Nama ku Eve, E-V-E." Ucapnya seraya mengeja nama.
"Aku lebih nyaman memanggilmu boneka santet," ujar Samuel acuh tak acuh.
"Sangat menyebalkan!"
"Karena kemarin kau kabur dan juga menendang tongkat sakti ku, maka kau akan dihukum," ucap Samuel dengan tajam.
"Ck, siapa kau yang berani mengaturku?"
Samuel berjalan menghampiri gadis kecil itu, menyentil kening Eve membuat empunya meringis. "Auh…kau kasar sekali," cetus Eve yang mengusap keningnya yang terasa panas.
"Itu hukuman karena kau membuat aku kesal!" sahut Samuel dengan santai.
"Apa setiap kali kau kesal akan menyentil keningku?" cetus Eve yang tak terima dengan perlakuan pria itu.
"Ya, bisa saja dikatakan begitu. Karena kemarin kau pergi terburu-buru, hari ini kau harus bekerja lembur." Ucap Samuel yang membuat Eve sangat kesal.
"Mana bisa begitu!" protesnya disertai tatapan tajam.
"Bisa, karena aku adalah majikanmu. Apa kau mengerti?" tekan Samuel yang memarahi gadis itu.
Eve menghela nafas dengan berat, dengan terpaksa dia mengangguk setuju membuat sang majikan tersenyum puas. "Baiklah."
Samuel berlalu pergi menuju kantor, sedangkan Eve mulai mengerjakan tugasnya sebagai pelayan. "Pria itu benar-benar membuat kesabaranku habis, pertama kak Niko, kedua Liam, dan sekarang Samuel. Lengkap sudah penderitaanku, ingin rasanya aku membuat ketiga pria menyebalkan itu menghilang dari muka bumi ini." Monolognya seraya bersih-bersih.
__ADS_1