Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Menikah


__ADS_3

...Entah aku harus menyebutnya tentang sebuah pernikahan yang begitu sakral atau jalan diriku menuju surga melalui kesabaran di sebuah pernikahan. Aku tak tahu takdir itu tapi aku berusaha akan sebaik mungkin....


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya hari yang ditunggu pun tiba. Hari dimana dia akan menjadi seorang istri dari pria yang tak pernah ia kenal. Menjadi pendamping dari pria yang mengambil kehormatannya dan menjadi seorang ibu dari keturunan pria yang pernah tak disangka olehnya.


Perempuan itu tentu memikirkan semuanya. Memikirkan bagaimana pertemuan itu terjadi, takdir macam apa yang telah Allah siapkan kepadanya dan tak pernah ada dalam hidupnya. 


Menikah di usia seperti ini, meninggalkan banyak cita-cita yang ia harapkan dulu ketika menuntut ilmu dan berakhir dengan dirinya yang harus kuat menjalani hidup karena sosok kecil di dalam perutnya.


Dia menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya meneliti bagaimana penampilannya dari atas sampai bawah. Sungguh sebuah penampilan yang sangat jauh berbeda dari Humaira biasanya.


Sebuah kebaya putih yang cantik menempel di tubuhnya yang mungil. Lalu wajahnya yang dipoles oleh seorang make up terkenal tentu membuatnya disulap bak putri raja. Lalu kulitnya yang eksotik semakin menambah kesan seksi dari setiap lihainya tangan yang meriasnya. 


Humaira bahkan sampai terpanah dengan penampilannya. Dia tak menyangka jika yang berdiri itu adalah pantulan dirinya sendiri. Sebuah pantulan yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya.


Hingga tanpa sengaja, matanya menatap perut yang masih rata tersebut. Ada sesuatu yang berdesir di hatinya setiap kali mengingat sosok yang sedang tumbuh di dalam dirinya tersebut.


Tangannya terangkat. Dia mengusap perutnya itu dengan tenang karena memang disana sudah tak ada siapapun. Di kamar itu hanya ada Humaira sendirian karena para make over disuruh keluar untuk menikmati makanan. 


"Ini untukmu, Nak," lirih Humai dengan perasaan sakit luar biasa. "Mama gak mau kamu terlahir berbeda dari yang lain. Kamu memiliki seorang ayah meski ayahmu sedang tak mau menyentuhmu." 


Jujur Humai hanyalah seorang wanita hamil biasa. Terkadang di hatinya dia berharap sekali saja, Syakir memegang perutnya. Menyapa anaknya yang sedang tumbuh disana, memberikan doa terbaik untuk anak mereka walau hanya sekali dalam hidupnya.


Anak ini tak bersalah. Dia hadir karena kesalahannya dan Syakir. Dia juga tak pernah meminta untuk dihadirkan di dunia. Dia juga tak akan tahu akan diletakkan di rahim siapa oleh Tuhan.


Tapi kenapa nasibnya sepahit ini?


Tapi kenapa dia yang menanggung semua kesalahan orang tuanya?

__ADS_1


"Suatu hari nanti, jika ayah tak pernah mengakuimu, kamu harus tahu. Masih ada Ibu yang akan jadi garda terdepan untukmu, Nak." 


Bersamaan dengan itu, sebuah suara pintu yang dibuka membuat Humai berbalik. Disana dia melihat calon ibu mertuanya berjalan ke arahnya dengan penampilan yang sama cantiknya.


"Masya allah. Kamu cantik, Sayang," puji Mama Ayna menatap hasil dari make over yang sangat luar biasa.


Dia sejak dulu sudah bisa menebak jika Humai memiliki inner beauty sendiri. Wajahnya yang berjerawat tapi dia memiliki kecantikan tersembunyi. Jika dipoles sedikit, diajarkan merawat wajahnya. Mama Ayna yakin Humai bisa seperti wanita diluar sana. 


Cantik, seksi, dan fashionable. Tapi sayangnya calon menantunya ini berbeda dengan wanita di luar sana. Humaira tak pernah memikirkan penampilannya. Hidupnya yang keras dan digunakan untuk belajar dan bekerja, membuatnya tak melakukan perawatan diri.


Apalagi Humai juga bisa menebak bakalan habis berapa banyak uang yang dikeluarkan untuk merawat dirinya. Dia tak mau menjadi boros hanya untuk dirinya sendiri. Banyak sekali kebutuhannya kali ini ditambah dia harus banyak menabung untuk persiapan si kecil dalam perutnya.


"Terima kasih, Ma. Mama juga cantik," balas Humai dengan malu.


Mama Ayna mengusap kepala Humai dengan lembut. Jujur dia sangat menyayangi gadis ini dengan tulus. Bukan perihal Humai mengandung calon keturunan putranya. Namun, kebaikan hatinya mampu membuat Mama Ayna sangat senang putranya menikah dengan Humai.


Dia bahkan mensyukuri kejadian jebakan itu karena dapat menolong putranya dari kehidupan jahat Rachel. Dia sendiri tak mau putranya semakin jatuh dalam pesona gadis matre itu. Mama Ayna hanya mampu berharap dan berdoa, semoga Syakir bisa melihat kebaikan Humai dan menemukan keburukan Rachel yang disembunyikan selama ini. 


"Boleh, Ma." 


"Apapun yang akan terjadi nanti. Tolong jujur sama Mama yah," pinta Ayna penuh harap.


"Maksud, Mama?" Jujur Humai masih bingung dengan permintaan apa yang diminta oleh calon mertuanya ini.


"Setelah menikah dengan putra Mama. Bagaimanapun sikap Syakir, tolong jujur sama Mama yah. Meski dia putra kandung Mama. Kalau Syakir salah, Mama akan menasehatinya," kata Mama Ayna dengan pelan. "Jadi jangan menutupi keburukan Syakir, Nak. Ceritakan semuanya pada Mama. Apalagi jika menyangkut bayi ini."


Humai menatap calon mertuanya dengan penuh haru. Ia tak menyangka jika Tuhan sebaik itu kepadanya. Ketika almarhum ibu kandungnya sendiri mendidiknya dengan seperti itu. Berbeda dengan Mama Ayna. 


Wanita paruh baya di depannya ini sangat baik kepadanya. Hatinya lembut dan tak pernah mengatakan hal yang mampu menyakiti hatinya. Dia benar-benar dipertemukan sosok pengganti ibu kandung oleh Tuhan.


Dulu dia ingin memiliki ibu yang baik, ibu yang lembut dan tulus kepadanya. Namun, ternyata Tuhan memberikan ibu yang lain kepadanya. Ibu yang akan menjadi nenek dari anak yang dikandung. Ibu dari pria yang mengambil kehormatannya. 

__ADS_1


"Aku akan berusaha, Ma. Doakan Humai yah. Doakan Humai bisa ngelewatin semuanya. Kalau Humai udah gak kuat, Humai bakalan cerita sama, Mama." 


Mama Ayna mengangguk. Dia lekas memeluk Humai dengan pelan. Mengusap punggungnya dengan perasaan sayang yang mendalam. Dia benar-benar memiliki harapan jika gadis yang mengandung cucunya ini bisa merubah takdir anaknya.


Bisa merubah Syakir menjadi sosok yang lebih baik. Bisa menuntun anaknya menjadi sosok yang lebih dewasa dan itu bisa terjadi dengan usaha dan restu Allah.


"Jangan menangis, Nak. Kita tinggal menunggu sedikit lagi Syakir mengucapkan kalimat sakral itu."


...🌴🌴🌴...


Berbeda dengan suasana di atas. Dibawah, Syakir sejak tadi hanya diam. Kepalanya menunduk menunggu bacaan ayat suci alquran yang sejak tadi dikumandangkan. 


Pria itu benar-benar merasa bosan duduk disini. Dia merasa tertekan sekaligus merasa malu jika semua orang yang menjadi saksi disini melihat wajah gadis cupu tersebut.


Syakir merasa akan dipermalukan sebentar lagi dan itu mampu mencoreng nama baiknya. 


"Sudah siap, Nak Syakir?" tanya Pak Penghulu yang akan menikahkan Syakir hari ini.


Syakir belum menjawab. Dia menatap ayahnya yang duduk di sampingnya. Sejak tadi ayahnya tak mau menatap wajahnya dan itu membuatnya merasa sakit.


"Siap, Pak," jawabnya dengan pelan.


Perlahan dua tangan itu mulai disatukan. Syakir menarik nafasnya begitu dalam, membayangkan jika sebentar lagi kehidupannya akan berbeda. Dari dirinya yang bebas, akan ada kekangan. Dari dirinya yang biasa bahagia dengan jalannya sendiri, kini mulai terindikasi dengan datangnya Humai dalam hidupnya.


Semuanya benar-benar akan hancur dan menjadi buruk, menurut Syakir. Hingga lamunan pria itu buyar saat penghulu memulai membaca kalimat ijab kabul yang sangat sakral tersebut. 


"Dibayar Tunai!" 


"Saya terima nikah dan kawinnya, Humaira Khema Shireen binti Seno Ibrahim, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" 


~Bersambung

__ADS_1


Akhirnya wey nikah. Jangan lupa kadonya yah biar authornya semangat ngetik. Yakali lagi khilaf ada adegan ehemnya hahaha.


__ADS_2