Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Humai Melawan


__ADS_3

...Ternyata memang mencintai dalam sepihak itu menyakitkan tapi permasalahan hati tak ada yang bisa mencegahnya. ...


...~Humaira Khema Shireen...


...🌴🌴🌴...


"Apa!" Syakir terbelalak tak percaya. 


Dia menatap Rachel dengan pandangan yang tak bisa diartikan. 


"Kenapa? Gak boleh? Kamu gak mau aku ada disini? Kamu mau berduaan sama istri kamu?" Sembur Rachel dengan tatapan marah. 


Syakir menggeleng. Dia hendak meraih tangan Rachel tapi ditepis kasar oleh wanita itu. 


"Jangan sentuh aku!" Serunya dengan air mata berkaca-kaca. "Kamu udah gak cinta sama aku, 'kan? Bilang sama aku!" 


"Bukan begitu, Sayang. Aku…" Syakir mencoba meraih tangan Rachel lagi tapi gadis itu menjauh. 


"Aku mau pulang!" seru Rachel lalu dia berbalik badan. 


Saat gadis itu hendak melangkah. Syakir lekas menarik lengannya dan memeluk kekasihnya itu dengan erat. Jujur bukan karena ia tak mencintai Rachel atau dia tak mau kekasihnya disini. Tapi rumah ini bagaimanapun rumah milik gadis cupu itu.


Syakir berfikir dia disini sama aja dengan menumpang. Maka dari itu jika Rachel tinggal disini ia takut Humai tak terima. 


"Bukan seperti itu, Sayang. Dengarkan aku!" kata Syakir memohon. 


Pria itu melepaskan pelukannya. Dia menangkup kedua sisi wajah Rachel hingga pandangan mereka bertatapan. 


"Ini rumah Humai, bukan rumahku. Aku takut dia mengusirmu, Sayang," ujar Syakir dengan hati-hati. 


"Biarkan aku yang mengatakan kepadanya bahwa aku mau tinggal disini!" 


"Sayang…" 


"Kalau kamu menolak, itu tandanya kamu gak mau bersamaku!" seru Rachel menunjuk wajah Syakir dengan tatapan marah. 


Akhirnya Syakir tak bisa melakukan apapun. Dia sangat tahu bagaimana sikap kekasihnya itu. Keras kepalanya Rachel hampir sama dengannya. Apa yang mereka inginkan harus segera tercapai. 


Dengan langkah pasti, kekasih Syakir itu berjalan menuju kamar dimana dia melihat dimana istri kekasihnya itu masuk. Rachel lekas mengetuk pintu kamar itu dengan tak sabaran. 


"Humai… Humai!" teriak Rachel dengan tangan tak henti mengetuk. 

__ADS_1


"Ya? Sebentar," sahut suara dari dalam dengan sedikit lemah. 


Rachel memundurkan langkahnya. Dia berdampingan dengan sang kekasih lalu menggaet lengan Syakir dengan manja. 


Tak lama suara pintu terbuka dan muncullah Humai yang menunduk saat melihat pasangan kekasih itu berdiri di depan kamarnya. Rachel bisa melihat wajah musuhnya itu basah dan lesu. 


Kau harus tahu, bahwa Syakir milikku, Bodoh! Biarpun kau istri sahnya, tetap aku pemenangnya, batin Rachel menjerit puas. 


"Ada apa? l" tanya Humai dengan tetap menunduk. 


"Apa sopan seorang wanita bertanya dengan kepala menatap ke lantai?" sindir Rachel dengan yang melingkar di lengan Syakir dan kepala diletakkan di lengan kekasihnya. 


Humai menarik nafasnya begitu dalam. Sepertinya ini ujian terberat untuknya. Namun, Humai tetaplah menahan semuanya. Dia menatap pemandangan menyakitkan di depannya ini dengan santai. 


"Ada apa?" 


"Aku ingin menginap disini. Boleh, 'kan?" tanya Rachel dengan wajahnya yang sok polos. 


Dia mengabaikan tatapan tak percaya dari Humai. Gadis bodoh itu menatap Rachel dan Syakir bergantian. 


"Boleh, 'kan, Mai? Aku menginap disini cuma satu minggu aja!" kata Rachel dengan sorot mata memohon. 


Namun, dibalik itu, Humai bisa melihat suatu tujuan dalam diri Rachel. Dia bisa melihat tatapan wanita itu seakan mengandung banyak rencana untuknya.


Di daerah Tumpang, tetap saja. Siapapun tamunya jika menginap dia harus melapor pada RT. 


"Gak perlu. Ngapain harus lapor segala sih!" dengus Rachel dengan kasar. "Intinya kamu kasih izin gak?"


Rachel terlihat tak sabaran. Wajahnya mulai menatap wajah Rachel dengan tatapan yang tak suka. 


"Tapi dia suamiku, Chel!" kata Humai memberanikan diri. "Kamu boleh tinggal disini tapi di kamar lain!" 


"Beraninya kau mengaturku!" semprot nya dengan marah. "Dia kekasihku dan aku berhak bersama siapapun." 


"Tapi dia suamiku. Suamiku yang sah dimata agama dan negara!" seru Humai tak mau kalah. 


"Kau memang sah tapi tak dianggap!" sindir Rachel dengan kejam. "Kau memang halal tapi dia tak mau menyentuhmu. Kau ingin tau kenapa?"


Rachel berbisik. Namun, suara disana yang sepi membuat Syakir bisa mendengar semua yang dibicarakan oleh keduanya. Dia tak mau ikut campur. Toh apa yang dikatakan oleh kekasihnya semuanya benar. 


"Karena dia tak menginginkanmu. Karena dia tak mencintaimu, Humai. Tak mencintaimu!" seru Rachel yang semakin menabur garam di atas luka yang semakin dalam. 

__ADS_1


Perih, sakit dan hancur bercampur menjadi satu. Namun, bukannya menangis. Humai malah tersenyum. Dia menatap pasangan kekasih di depannya ini dengan perasaan tenang. 


Humai mengingat nasehat Almeera. Kuatlah demi anak dan jangan sampai membuatnya tertekan. 


"Kamu salah!" kata Humai yang membuat Syakir dan Rachel menatap Humai tak percaya bahwa gadis itu masih tetap tenang. 


"Kak Syakir memang menginginkanmu, dia memang mencintaimu tapi sayangnya bagian dalam dirinya ada padaku. Bukan padamu!" 


Telak. 


Humai mengusap perutnya yang mulai membuncit. Dia tersenyum dengan tanpa rasa bersalah. Menurutnya perkataannya tak jahat karena sebenarnya dia yang berhak atas Syakir. Bukan wanita di depannya ini.


"Kau!" seru Humai yang hendak menampar Humai tapi ditahan oleh ibu hamil tersebut. 


"Kenapa? Kau merasa kalah?" kata Humai yang mulai memiliki keberanian. "Ingatlah, kau boleh menghinaku tapi kau harus ingat bahwa pria yang kau sebut pacarmu itu, dia adalah suamiku dan dia adalah ayah dari anak yang aku kandung." 


Setelah mengatakan itu, Humai melepaskan tangan Rachel dengan kasar. Lalu dia berbalik dan hendak masuk ke dalam kamar. Namun, sebelum dirinya benar-benar masuk. Humai menghentikan langkahnya. 


"Menginap lah disini sepuas yang kau mau! Tapi jangan salahkan aku, jika kalian melebihi batas maka aku akan melaporkan perbuatan kalian pada pihak yang berwajib atas dasar perselingkuhan! " 


Setelah mengatakan itu, Humai lekas menutup pintu kamarnya dengan kasar. Dia meninggalkan pasangan kekasih itu yang menatap kepergian Humai dengan pandangan tak percaya. 


Syakir benar-benar tak percaya jika gadis cupu itu mulai berubah. Dia tak mudah ditindas lagi oleh mereka. Entah apa yang merasuki Humai tapi Syakir melihat perbedaan dalam diri wanita itu. 


Sedangkan Rachel, wanita itu terkejut bukan main dengan wanita bodoh itu. Kedua tangannya terkepal kuat saat melihat dengan beraninya Humai menghinanya dengan percaya diri.


Dia tak menyangka jika Humai bisa melawan dirinya dan mengatakan perkataan itu. Sungguh sangat luar biasa keberaniannya dan Rachel tak terima. 


Dia akan balas dendam. Dia akan melawan gadis itu dan membuktikan bahwa Rachel bisa merebut Syakir kembali. 


"Lihat, Sayang. Dia dengan berani…" 


"Ustt!" Syakir menarik tangan Rachel. 


Dia mengajak kekasihnya ke ruang tamu dan duduk disana. Dirinya sudah mulai pusing memikirkan sikap Humai yang berbeda dan sekarang ia tak mau dibuat semakin gila dengan tingkah sang kekasih. 


"Dia berani menghinaku, Sayang!" 


"Tenanglah. Jangan dengarkan wanita itu lagi. Yang terpenting, aku tetap mencintaimu. " 


~Bersambung

__ADS_1


Iya makan tu cinta ye. Siapa yang seneng lihat Humai mulai berani hayo?


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.


__ADS_2