Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova

Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Syakir Jay Momen


__ADS_3

...Semuanya memang dimulai dari awal dan aku ingin mengisinya dengan hal baik di antara kita bertiga....


...~Guntur Syakir Alhusyn...


...🌴🌴🌴...


Pembicaraan itu berakhir bersamaan dengan Jay yang keluar dari dalam rumah. Wajahnya terlihat sangat bahagia dengan ponsel yang ada di tangannya. Dia berlari dengan melompat kecil kearah Humai dan Syakir.


"Ibu, Om Jeno bilang besok jemput Jay pagi-pagi," kata Jay dengan ekspresi yanga begitu antusias.


Humaira tersenyum. Jeno adalah pria yang berprinsip. Dia benar-benar membuktikan bahwa penolakan Humai tak mempengaruhi sikap Jeno pada putranya.


Semuanya akan tetap sama. Tak akan ada yang berubah sedikitpun kata dosen killernya itu.


"Memangnya kalian mau kemana?" tanya Humai dengan wajahnya yang ikut antusias.


Dia selalu seperti itu. Jika putranya bersemangat cerita padanya maka Humai juga akan semangat mendengarnya. Hal itu diterapkan dalam diri Humai untuk Jay akan putranya tau cara menghargai seseorang.


Mendengarkan orang bercerita, berbicara adalah hal yang langkah. Namun, sikap itu juga tindakan untuk menghargai lawan bicaranya. 


"Timezone. Om Jeno bilang Jay boleh main apa aja," ujar Jay mengulang cerita dari Jeno. "Boleh, 'kan, Bu?" 


"Ibu izinin. Tapi kalau Ayah…" jeda Humai menunjuk Syakir.


Saat ini Humai tak mau egois. Bagaimanapun di antara mereka berdua sudah ada Syakir. Ada sosok ayah yang menjadi pedoman Jay saat ini.


Biarpun keduanya bercerai. Humai ingin mengikutsertakan putranya dengan Syakir. Dia ingin Syakir tak merasa disisihkan 


"Ayah!" panggil Jay pada Syakir. "Boleh, 'kan, Jay main sama Om Jeno?" 


"Boleh. Apapun yang buat Jay senang, akan Ayah turuti," ucap Syakir dengan pandangannya yang serius.


Jay tersenyum. Tanpa aba-aba dia melingkarkan tangannya di leher Syakir dan membuat pria itu tersenyum bahagia.


"Jay sayang, Ayah," kata Jay yang membuat Syakir dibuag terkejut. 


Tanpa diduga, sebuah kecupan mendarat di kedua pipinya yang membuat Syakir semakin terpanah. Dia bahkan sampai menegang kaku tak menyangka jika putranya itu mengatakan hal yang membuat hatinya menjadi hangat. Membuat bayangan yang selama ini menjadi mimpi kini menjadi sebuah kenyataan. 


Tatapan mata pria itu langsung tertuju pada Jay. Air matanya tanpa sengaja sudah menumpuk menjadi satu. Dia menganggukkan kepalanya lalu memeluk Jay dengan erat.

__ADS_1


"Ayah juga sayang, Jay. Sangat sayang," lirihnya yang membuat Humaira ikut menangis.


Dia tak menyangka hanya melihat hal sederhana seperti ini mampu membuat air matanya menetes tanpa pamit. Membuat ayah dan anak itu kembali bertemu, saling memberi kasih dan sayang. Saling menjaga dan memahami adalah hal yang tak pernah ia duga selama ini.


Harapan yang dulu pernah ia pikirkan hanya mimpi. Bayangan ketika dia berharap apakah putranya bisa bertemu dengan ayah kandungnya. Ternyata telah Allah kabulkan. 


Allah sangat baik kepadanya. Segala harapannya ternyata diwujudkan. Putranya.bisa berkumpul bersama ayahnya. Bisa bersatu dan bermain bersama.


Perlahan pelukan Ayah dan anak itu terlepas. Keduanya saling tatap dan dengan pelan tangan kecil Jay menghapus air mata ayahnya. 


"Ayah jangan pergi lagi, 'yah! Jangan tinggalin Jay sama Ibu." 


Kepala Syakir mengangguk.


"Ayah gak bakal pergi. Ayah bakalan ada disini. Bersama Jay dan Ibu."


...🌴🌴🌴...


Tak terasa jarum jam terus beputar sesuai porosnya. Sore telah berganti malam. Langit yang cerah kini mulai terlihat gelap. Namun, hal itu tak menyurutkan kebahagiaan seorang anak laki-laki yang bahagia akan kebersamaannya dengan sang ayah.


Ya, Syakir belum kembali pulang. Dia tak diizinkan pulang oleh Jay. Dirinya sejak tadi bersama putranya itu. Bermain bersama, sepak bola bersama, berenang bersama sampai bermain kucing dan makan bersama. 


Dia bahkn membiarkan Jay bermain dengan Syakir. Dia tahu anaknya sudah menahan semuanya selama ini. Biarkan mereka menghabiskan waktu berdua. Menciptakan kenangan indah di antara mereka berdua. 


"Humai," panggil Papa Hermansyah yang mengejutkan Humaira.


Saat ini wanita itu berdiri di dekat jendela antara ruang tamu dengan taman samping rumah. Dia sejak tadi berdiri disini. Bukan untuk apa, melainkan untuk melihat putranya yang bermain bersama Syakir tanpa lelah. 


"Iya, Pa?" sahut Humai lalu manggandeng tangan papanya. 


"Kamu bahagia?" tanya Papa Hermansyah ambigu.


Kening Humai berkerut. Dia menatap papanya bingung.


"Maksud, Papa?" 


"Bagaimana perasaanmu melihat Jay dan Syakir sudah bersama, Nak?" jelas Papa Hermansyah yang membuat mata Humai berpaling menatap ke arah dua pria berbeda usia itu lagi.


"Humai senang, Pa. Humai bahagia melihat tawa Jay yang begitu puas dan tanpa beban," ujar Humai dengan ikut tersenyum.

__ADS_1


"Papa tanya perasaanmu, Sayang," kata Papa Hermansyah yang sangat tahu putrinya sedang berkilah akan pertanyaannya.


"Perasaan Humai?" jeda wanita itu dengan kembali menatap ke arah papanya. "Abu-abu, Pa." 


"Humai udah nolak Pak Jeno. Humai gak mau Pak Jeno semakin berharap sama Humai. Lalu soal Kak Syakir, Humai kasih kesempatan sampai bulan depan," kata Humai dengan matanya yang benar-benar penuh kebimbangan.


"Kamu jadi ke Korea?"


Kepala perempuan itu mengangguk. "Desainku sudah diterima, Pa. Dan mereka ingin bertemu denganku secara langsung." 


Papa Hermansyah menatap putrinya dengan bangga. Humai benar-benar pandai dan cerdas. Perempuan itu tumbuh dan berkembang dengan begitu pesat.


"Kamu mau nyusul Rein, yah?" 


Bibir Humai tersenyum. Sebenarnya itu adalah satu hal yang menjadi tujuannya. Dia rindu sosok adiknya itu. Sudah lama sekali Rein tak menghubunginya dan ia yakin jika anak itu sibuk akan tugas sekolahnya.


Rein selalu mengatakan bahwa ia ingin menjadi perenang handal. Dia ingin membawa pulang medali emas untuknya. Rein selalu bilang akan membanggakan kakak dan keluarganya yang sekarang dan membuatnya selalu berusaha belajar dan berlatih dengan rajin.


 "Iya, Pa. Rein juga bilang dia akan melakukan latihan renang dengan baik. Dia ingin ikut Kejuaraan Renang nantinya," kata Humai dengan begitu bangganya.


"Papa bangga sama kalian berdua. Kalian anak-anak Papa," kata Hermansyah yang membuat Humaira lekas memeluk papanya itu.


Humaira merasa terharu akan perkataan papanya. Hermansyah benar-benar menerima Rein dengan tulus. Menyekolahkan adiknya dan membuat Rein mengejar mimpinya yang tertunda. 


"Aku juga bangga punya, Papa. Papa adalah Papa terbaik yang Humai punya." 


Tanpa keduanya sadari, sejak tadi Syakir melihat apa yang dilakukan oleh mantan istri dan mantan mertuanya. Dia merasa ikut bahagia saat melihat bagaimana Humai yang begitu disayangi oleh Hermansyah.


Bagaimana Humai yang benar-benar terlihat begitu bahagia setelah menemukan keluarga kandungnya.


"Aku janji tak akan merusak bahagiamu yang sekarang dan aku akan berusaha membuktikan bahwa aku benar-benat menginginkanmu dan ingin kembali membangun tumah tangga bersamamu, Humairaku." 


~Bersambung


Ah Part Syakir Jay emang momen bikin nangis terus. Huhu.


Kalau soal anak dan ayah ini sensitif banget.


Tapi soal, Rein. Gimana kalau nanti aku bikin kisah Rein sendiri yah?

__ADS_1


__ADS_2