
...Percayalah panggilan yang selama ini menjadi mimpi ternyata kini mampu kudengar secara langsung....
...~Guntur Syakir Alhusyn...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya setelah sekian lama, kini mata yang biasanya terbuka dengan banyak luka, masalah dan pikiran kini mampu terbuka dengan tenang. Setiap mimpi buruk yang selalu membayanginya, kejadian masa lalu yang selalu mengingatkannya seakan mendapatkan penawar obat yang mujarab.Â
Hari ini, dia bisa merentangkan kedua tangannya ke atas. Menggeliatkan tubuhnya seakan beban berat dalam dirinya sedikit terobati. Mendapatkan lampu hijau dari ayah kandung kesayangannya, mendapatkan kerja sama dari pria yang menjadi saingannya seperti moodboster dirinya yang terbaik.Â
Seakan pemicu semangat dalam dirinya semakin tinggi. Dia bahkan terlalu antusias sampai matahari yang belum muncul sudah membuatnya terbangun. Dengan semangat, Syakir lekas berjalan ke arah dapur setelah mencuci wajahnya.
Dia ingin membuat sarapan untuk putranya. Ya, pagi ini jadwalnya untuk mengantar Humaira ke kampus serta mengajak anak pertamanya itu bermain. Dengan semangat, Syakir yang terbiasa mandiri, hidup sendirian di rumahnya ini, dengan lihainya bergerak ke sana kemari.
Dia akan menyiapkan nasi goreng buatan khas kedua tangannya sendiri untuk Jay. Dia akan memasak spesial dengan seluruh cinta yang ia punya.
"Selesai," kata Syakir setelah menata nasi goreng dengan telur di dalam kotak makan yang sudah ia siapkan tuk dua kesayangannya.
Senyumannya tak henti bersinar saat makanan yang ia hias mengeluarkan aroma yang begitu wangi dan menggiurkan. Syakir berharap semoga Humaira dan Jay suka dengan masakannya.Â
"Lebih baik aku siap-siap sekarang!" ujar Syakir dengan semangat yang menggebu.
...🌴🌴🌴...
Jarum jam terus berputar sesuai porosnya. Sinar matahari tentu semakin keluar dan menghangatkan penduduk bumi. Seakan menyadarkan mereka bahwa saat ini bukan waktu untuk bermalas-malasan lagi.
Mereka kembali ke kegiatan sehari-hari. Bersekolah, kuliah, bekerja dan yang lain. Hal itu juga yang terjadi di rumah keluarga Papa Hermansyah.
Pagi ini, Humaira bangun kesiangan. Sepertinya efek minum obat dari dokter dan juga dirinya yang kelelahan membuatnya tak mendengar alarm yang sudah dia setel.
Dengan buru-buru, ibu satu anak itu turun dari ranjang. Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi dan dia memiliki jadwal kuliah jam setengah delapan kurang.
Benar-benar gila. Namun, bagaimanapun dia harus siap. Dengan segera, Humaira lekas keluar dari kamarnya. Dia ingin melihat putranya yang sudah tak ada di kamar.
Humai ingin memandikan putranya dulu sebelum dia bersiap ke kampus. Hal itulah yang menjadi salah satu kegiatan Humaira agar tak merepotkan orang tua atau pengasuh putranya.Â
Dia akan merawat anaknya sendiri, dari membangunkan Jay, memandikan dan memakaikan pakaiannya sebelum dia berangkat ke kampus jika jadwalnya pagi hari. Namun, sekarang masalahnya dia terlambat bangun.
Jadi mau tau mau, dia ingin mengecek anaknya dulu.Â
__ADS_1
"Jay…Jay!" panggil Humai dengan piyama dan rambutnya yang berantakan.
Humaira menatap sekeliling. Hingga suara cekikikan di teras membuatnya segera keluar.
"Ayo sini. Keluar!" kata Jay yang ternyata dia sedang bermain kucing dari Jeno. "Ibu!"Â
Jay beranjak dari duduknya. Dia berlari ke arah Humai dan memeluk kedua kakinya dengan erat. Tak ada perubahan dalam diri anaknya itu. Tak ada yang berubah dan berbeda.
Jay miliknya masih tetap sama. Ceria dan aktif. Bahkan menurut Humai, kali ini Jay lebih terlihat bersemangat.
"Kamu gak kuliah, Nak?" tanya Mama Emili yang ada disana.
"Kuliah, Ma. Maaf Humai bangun telat," kata Humai saat dia menyadari putranya sudah mandi dan berpakaian rapi.
"Gak papa. Jay juga bilang kamu tidurnya nyaman banget. Jadi Mama tadi yang mandiin Jay dulu," kata Mama Emili menjawab. "Kamu lebih baik sekarang mandi."Â
Humaira mengangguk. Perlahan dia menatap putranya yang mulai melepaskan pelukan di kedua kakinya itu.
"Mama mandi dulu yah?" pamit Humai pada Jay.
"Iya, Bu. Jay tunggu disini!"Â
Akhirnya Humaira lekas kembali masuk. Dirinya harus segera mandi dan bersiap sebelum dirinya telat.
...🌴🌴🌴...
Mobil yang membawakannya kantong mainan kemarin. Jantung anak itu terlihat berdetak kencang. Dia mendadak berdiri bak patung saat kendaraan itu berhenti tepat di depannya. Hanya berjarak beberapa meter dari dirinya berdiri sekarang.Â
Tak lama, muncullah sosok pria yang keluar dengan senyum hangatnya. Di tangannya juga menenteng sebuah paper bag berwarna coklat.
"Assalamualaikum," sapa Syakir sambil mencium punggung tangan ibu kandung mantan istrinya itu.
"Waalaikumsalam, Nak," sapa Mama Emili menatap Syakir dengan senyumnya yang ramah.
"Hai, Jagoan," sapa Syakir sambil mensejajarkan tubuhnya.
Ayah dan anak itu saling berhadapan. Ada tatapan kerinduan dalam mata Jay. Bocah kecil itu seakan ingin mengatakan sesuatu yang selama ini sudah disimpan dalam hatinya.Â
Syakir mengulurkan tangannya. Seakan ia mengajak Jay untuk bertos ria ala pria. Namun, bukannya menerima, Jay masih diam sambil memandangi wajah Syakir.Â
__ADS_1
Hal itu tentu membuat Syakir khawatir. Dia perlahan memberanikan diri menyentuh kepala putranya dan mengelusnya dengan lembut.Â
"Jay kenapa?" tanya Syakir dengan pelan.Â
Anak itu mencoba menerima elusan tangan yang terasa berbeda. Ada rasa ingin berlari memeluk Syakir. Ada perasaan segala hal yang membuncah dalam hatinya.Â
"Apa Jay sakit?"Â
"Ayah," lirih Jay untuk pertama kalinya.
Perkataan itu, perkataan yang selama ini menjadi mimpi sekarang nyata adanya. Bahkan tubuh Syakir sampai menegang.Â
Dia merasa seperti mimpi. Namun, ia yakin ini adalah nyata. Mata Syakir sampai menatap ke arah Jay. Dia sampai berkaca-kaca merasa terharus sekaligus bahagia.
"Katakan sekali lagi, Nak?" pinta Syakir setelah kesadarannya kembali.
"Ayah Syakir," panggil Jay lagi yang membuat Syakir tak bisa menahan air matanya lagi.
Dia tak peduli Jay tahu darimana tapi yang terpenting sekarang. Putranya tahu siapa sebenarnya dirinya.
"Ayah."Â
"Ya. Ini Ayah, Nak. Ini Ayah!" jawab Syakir lalu memeluk Jay dengan erat.
Tak ada yang mampu menahan kesedihan disana. Mama Emili yang menjadi saksi saja samoi menutup mulutnya menahan isak tangis yang kencang.
Dia tak menyangka akhirnya setelah sekian lama, anak dan ayah itu bisa saling menyapa. Saling mendekap, saling bertemu dan menatap. Sebuah takdir yang tak ada orang yang tahu akan akhirnya.
Semuanya seakan misteri. Namun, hal ini menjadi satu langkah pasti dari hubungan Syakir dan putranya.Â
"Ayah. Jay merindukan, Ayah," bisik Jay saat dia memeluk leher Syakir dengan erat.
Dua pria dengan wajah begitu kembar itu saling mencurahkan rasa rindu mereka. Keduanya begitu menikmati pelukan hangat ini sampai tak menyadari jika ada seorang wanita yang berdiri di dekat pintu menuju ke teras.Â
Wajahnya dipenuhi air mata. Seakan dia juga ikut merasakan kerinduan dan kebahagiaan ayah dan anak itu.
"Maafkan Ibu, Nak. Ibu janji gak bakal jauhin Jay dari Ayah tapi untuk masa lalu kami berdua. Semoga kamu gak pernah tahu dan tak akan pernah melihatnya."Â
~Bersambung
__ADS_1
Ah kan ikut netes juga huh.
Maaf baru update yah. Aku tadi sore malah ketiduran dari pulang kerja. jadi baru selesai ngetik