
...Percayalah terkadang kita harus mengalah untuk mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya. ...
...~JBlack...
...🌴🌴🌴...
"Cih! " Umpan Bara dan Syakir bersamaan.
"Awas saja Lo pamer! " Kata Bara dengan mendelikkan matanya kesal..
"Gue usir juga Lo! " Lanjut Syakir yang membuat Reno terkekeh.
Sebenarnya dirinya juga tak kalah bucin. Tingkah dia sebelas dua belas belas dengan kedua sahabatnya. Namun, entah kenapa saat melihat anak-anaknya, anak-anak Reno berkumpul disana dan melihat kemesraan mereka, membuat Reno takut jika mereka akan tercemar pikirannya.
"Udah udah, " Kata Humai melerai. "Ayo kita pulang! "
Semua orang akhirnya mengangguk. Mereka mulai membantu semua barang-barang keluarga Bara dan Reno dan memasukkan ke dalam bagasi mobil. Begitupun dengan Humai. Dia juga ikut membawa salah satu koper yang membuat Syakir menahan tangannya.
"Biarkan aku saja, Sayang. Kamu jalan saja dulu! " Ujar Syakir yang membuat Humai tersenyum.
"Gapapa, Kak. Ini cuma satu kok. Biar Humai yang bawa, " Kata Humai mencoba memegang koper itu lagi.
Namun, kepala Syakir menggeleng terlebih dahulu. Ya dirinya tak mau calon istrinya itu kelelahan. Dia tak mau Humai merasa capek karena membawa barang-barang berat ini ke mobil.
"Aku baik-baik saja, Sayang. "
"No! " Kata Syakir sambil mengusap pipi Humai dengan pelan. "Ayo! "
Akhirnya Humai tak membantah lagi. Dia membiarkan calon suaminya membawa koper yang hendak dibawa. Setelah itu mereka segera berjalan menuju mobil.
"Kalian bawa dua mobil? " Tanya Bara saya Humai membukakan pintu mobil yang lain yang berada tepat di mobil milik Syakir.
"Ya, Mas. Kalau cuma satu mana cukup, " Ujar Humai menjawab.
Perlahan semua barang mulai dimasukkan. Setelah itu mereka semua segera memasuki mobil dengan dibagi menjadi kelompok.
Keluarga Bara berada satu mobil dengan Humai dan Syakir. Sedangkan Keluarga Reno berada di mobil belakang. Perlahan dua kendaraan itu mulai meninggalkan pelataran bandara.
Mereka segera menuju ke Rumah Tumpang. Rumah dimana Humai dan Syakir pernah tinggal disana.
"Sefira kemana, Mai? " Tanya Almeera pada Humai yang duduk di samping kursi kemudi.
"Ada di rumahnya, Mbak. Dia lagi ngebucin sekarang, " Ujar Humai dengan terkekeh.
Membayangkan tingkah sahabatnya itu. Bagaimana sikapnya yang masih polos dan mendapatkan Jeno yang sangat amat penyayang dan tulus. Membuat Humai yakin jika keduanya adalah pasangan yang sama-sama bucin.
Dia yakin antara Jeno dan Sefira, keduanya sama-sama memiliki cinta yang besar. Melihat dari cara mereka bertatapan mata, bagaimana cara mereka bersikap, membuat Humai yakin jika dosen killer nya itu benar-benar mencintai sahabatnya.
__ADS_1
Humai hanya tak mau Sefira menjadi pelampiasan. Dia tak mau sahabatnya tersakiti terlalu dalam. Bagaimanapun Sefira tak memiliki pengalaman dalam sebuah hubungan percintaan. Dia adalah wanita yang benar-benar menjaga dirinya sejak masih remaja.
"Bucin sama siapa? "
"Sama dosenku, " Jawab Humai sambil menatap Almeera dengan menoleh ke belakang.
"Hah! " Almeera terbelalak. "Jangan bilang kalau…"
"Ya. Dia berhubungan sama dosen ku, Mbak. Tapi mereka telah mendapatkan restu Mama dan Papa. Jadi mereka juga mau menikah," sahut Humai menjelaskan.
"Kenapa gak bareng sama kalian aja? " Tanya Almeera dengan mengerutkan keningnya.
"Keluarga Jeno belum ketemu sama Mama dan Papa, " Sahut Syakir menambahkan. "Jadi menunggu mereka datang dan membahas tanggal pernikahan dulu, Ra. "
Almeera hanya mengangguk. Tak lama tak ada pembicaraan lagi di dalam mobil. Para anak kecil mulai memejamkan matanya karena lelah. Sedangkan Humai, dia menatap jalanan menuju rumah lamanya itu.
Bibirnya tersenyum kecil membayangkan jika sebentar lagi semua keinginannya akan kembali terwujud. Semua yang ingin diharapkan. Semua yang dia doakan ternyata Allah kabulkan di waktu yang tak terduga.
"Terima kasih, Tuhan. Semua yang kau berikan padaku sekarang, hanya bisa aku syukuri dan aku jaga dengan baik. "
...🌴🌴🌴...
Suasana Tumpang yang dingin, tentu membuat semua orang merasa tenang dan nyaman. Kedatangan Keluarga Reno dan Bara tentu membuat rumah lama Humaira terlihat ramai.
Semua orang merasa senang dan nyaman tinggal disana. Apalagi para anak kecil sudah berlarian kesana kemari. Menuruni tangga dan naik lagi tentu menjadi permainan baru untuk mereka.
Sepasang anak kembar yang sedang sangat aktif-aktifnya itu tentu segera menghentikan kegiatan mereka. Hari ini memang untuk pertama kalinya si kembar datang ke Kota Malang. Jadi kehebohan yang terjadi tentu sudah menjadi hal biasa untuk mereka.
"Tapi, Ma… "
"Harus hati-hati, Nak. Ingat gak ada Kak Bia disini, " Kata Almeera mengingatkan.
"Kak Bia kemana, Ma? "
"Ada di kamar sama Kakak, " Kata Almeera yang membuat dia anak kembar itu segera berlari ke lantai dua.
Almeera hanya geleng-geleng kepala melihat aksi anaknya dan itu tentu dilihat langsung oleh Humai. Ibu satu anak itu mendekat dan berdiri di samping Almeera.
"Gitu ya, Mbak. Kalau anak banyak? "
Almeera terkekeh. Dia langsung memeluk pundak Humai dan membawanya duduk di sofa yang ada di depan televisi.
"Ya. Tapi seru juga. Rumah gak sepi jadi ada temannya kita bermain. "
Humaira mengangguk. Apa yang dikatakan oleh Almeera memang benar. Banyak anak bukannya makin susah untuk orang yang sudah memikirkan resiko memiliki anak banyak.
Mereka yang sudah siap untuk memiliki banyak keturunan. Maka mereka juga sudah menyiapkan lahir dan batin untuk melalui semuanya. Memiliki seorang anak bukan hanya kebahagiaan sendiri. asal membuat dan menghadirkan anak tersebut.
__ADS_1
Namun, anak adalah pendidikan utama dan paling panjang untuk seorang orang tua. Anak bukan hanya mendapatkan kasih sayang tapi mereka juga membutuhkan pendidikan dan ilmu yang diajarkan oleh orang tuanya. Maka dari itu, sebelum memikirkan untuk menikah dan memiliki anak. Lebih baik mematangkan pikiran terlebih dahulu agar tak menyakiti hati anak suatu hari nanti.
"Deeva sini! " Panggil Almeera saat melihat Adeeva Baru saja turun dari lantai dua.
Istri Reno itu segera melangkahkan kakinya mendekat. Dia duduk tepat di samping sofa yang diduduki Humai dan Almeera.
"Ada apa, Ra? "
"Kalian belum kenalan loh. Ayo! "
Adeeva dan Humai mulai mengulurkan tangan mereka. Ya keduanya memang belum berkenalan sama sekali. Meski Humai tinggal di Jakarta. Ketika Adeeva bermain di rumah Almeera. Pasti saat calon istri Syakir tak ada.
"Humai."
"Adeeva."
"Dia ini sahabatku, Mai. Suaminya sahabat Mas Bara," Kata Almerra menjelaskan.
"Jadi… " Tebak Humaira yang baru saja paham.
"Ya. Suami kita itu sahabatan dan aku ingin kita sebagai istri mereka. Semoga menjalin hubungan yang erat sama dengan para suami kita, " Kata Almeera menjelaskan.
Humaira tersenyum dan mengangguk. Dia kembali dipertemukan oleh orang baik di sekelilingnya. Ternyata apa yang dia lakukan di masa lalu berbuah hasil yang baik di masa sekarang.
Humaira yakin akan satu hal. Jika dia ikhlas melakukan semua yang terjadi dalam hidupnya. Jika dia masih bersikap baik pada orang yang menyakitinya. Maka Allah pasti datangkan orang yang baik yang akan membantu kita disaat kesusahan ataupun senang.
Tak lama, saat Almeera dan Adeeva berbincang. Suara ponsel Humai yang berdering membuat ibu satu anak itu pamit menjauh.
Dia lekas menatap siapa yang menelponnya dan ternyata id nama papanya yang muncul.
"Assalamualaikum, Pa? "
"Waalaikumsalam, Nak," balas Papa Hermansyah yang terdengar sedikit berisik.
"Papa dimana? Ada apa? " Tanya Humai dengan tak sabaran.
"Papa sama Mama pamit ke rumah sakit yah. Papa lupa mau mengatakan padamu tadi, " Kata Papa Hermansyah berpamitan.
Humaira tersenyum. Dia menyadari jika papanya pasti khawatir dirinya memikirkan hal yang buruk. Dengan perhatian seperti ini saja, membuat Humai merasa bahagia.
Ternyata kehadirannya masih diharapkan dan dihargai oleh kedua orang tuanya.
"Bagaimana, Nak? "
"Iya, Pa. Humai baik-baik saja kok. Papa sama Mama hati-hati, okey. Kalau ada sesuatu kabarin Humai secepatnya. "
~Bersambung
__ADS_1
Lalala makin deket sama Bab nikah nih hehe. Yuhuu pradaaa, siapin poin ye biar aku bisa crazy update haha.